Dukung SayaDukung Pakde Noto di Trakteer

[Latest News][6]

abu nawas
abunawas
berbayar
Budaya
cerbung
cerkak
cerpen
digenjot
gay
hombreng
horor
hot
humor
informasi
LGBT
mesum
misteri
Novel
panas
puasa
sejarah
Terlarang
thriller

Labels

SENANDUNG DOSA

 “Aku ki meteng lo, Mas!” (Aku hamil, Mas!).


“La terus?”

“Yo, tanggung jawab. Piye to!” (Tanggung jawab. Bagaimana to!).

Darmin diam sejenak. Terbayang petang itu, saat hujan deras yang datang membuatnya menghentikan sepeda di gubuk tua yang ada di ujung jalan, sebelah deretan rumpun bambu. Sri bergegas turun untuk berteduh.

Angin dingin yang berembus membuat Darmin dan Sri terbuai bujuk setan. “Sri ....”
Darmin memegang tangan pujaan hatinya ... memeluk ... mudaratkan ciuman manis di bibir Sri.

Cup!

“Mas, ojo to.” (Mas, jangan). Sri sempat menepis tangan Darmin ketika mulai meraba paha.

Akan tetapi, hujan yang tak kunjung reda telah menjadi saksi ... Sri menyerahkan semuanya atas nama cinta.

“Mas, ohhhh.”

“Wenake, Sri. Ssttt.”

Seketika buyar lamunan Darmin saat Sri mencolek lengannya. “Mas, kok malah nglamun to. Iki piye?”

“Tenan po kowe meteng, Sri?” (Sungguh kamu hamil, Sri?).

“Nek seng Sampean tokne pas kae angin yo ra bakal meteng. Lha wes genah-genah crot. Kok jek takon. Iki anakmu lo, Mas!”(Waktu itu kalau yang Sampean keluarkan angin ya aku tidak bakal hamil. Ini jelas-jelas crot. Kok masih bertanya. Ini anakmu, loh, Mas).

“Duh! Piye yo, Sri?” (Duh! Bagaimana ya, Sri?).

“Opo tak cerito karo Simbok ae yo, Mas?” (Apa aku ceritakan saja dengan Simbok ya, Mas?) balas Sri balik tanya.

“Cerito piye, he?” (Cerita bagaimana, ha?).

“Yo, cerito nek aku meteng anake Sampean. Piye to, Mas? Mosok aku cerito meteng anake Pakde Noto tukang kredit panci kae.” (Ya, cerita kalau aku hamil anaknya Sampean. Bagaimana to, Mas? Masak aku hamil anaknya Pakde Noto si tukang kredit panci itu).

“Ojo sek! Pokoke iki rahasiane dewe. Ojo mbok cerita-ceritakne karo wong liyo sek.” (Jangan dulu! Pokoknya ini rahasia kita berdua. Jangan diceritakan dengan orang lain dulu).

“La njur piye?” (Lalu bagaimana?).

“Sek to tak mikir sek! Ndasku mumet nek wes ngeneki!” (Saya pikir dulu! Pusing kepalaku kalau sudah begini!).
 
****





Panggil aku Sri, umurku 25 tahun.

Kata Mbok Lanjar dukun pijat itu, usia kandunganku sekarang sudah  2 bulan.

Sebenarnya aku ingin cerita sama Simbok, tetapi aku takut, takut mencoreng wajah Simbok dengan aib.

“Nduk, gek ndang!” (Nduk, cepat!)

Itu suara Simbok. Buru-buru aku meratakan bedak di wajahku dengan tangan.

“Macak ket mau ra uwes-uwes to, Nduk.” (Berhias dari tadi belum selesai to, Nduk).

“Sek to, Mbok,” (Sebentar lagi, Mbok) balasku dengan terus meratakan bedak di depan cermin

“Dino iki pas geblake bapakmu.” (Hari ini hari meningalnya bapakmu) Kulihat Simbok berlalu dari ambang pintu.
 
****

Aku ke kompleks pemakaman dengan mengendarai pit ontel. Simbok duduk nyingklak di boncengan dengan membawa besek berisi bunga untuk nyekar.

Sudah tradisi bagi Simbok untuk nyekar ke makam, baik punggahan, lebaran, wetonnya, dan juga hari meninggalnya Bapak.

Simbok pernah cerita kalau ia sangat mencintai Bapak dan tidak berniat untuk mencari sosok pengganti. Buktinya, Simbok masih bertahan hidup menjanda sampai umurku sekarang.

Kata Simbok, dulu ada duda yang mau menikahinya, tetapi Simbok menolak. Bagi Simbok, Bapak tidak tergantikan di hatinya.

Bapak itu sosok pekerja keras, dia sering merantau, bisa tidak pulang berbulan-bulan, mencari nafkah, hingga akhirnya Simbok mendapat kabar kalau Bapak mengalami kecelakaan lalu meninggal.
Saat itu aku masih di dalam kandungan. Begitu cerita Simbok yang ia tuturkan kepadaku ketika aku bertanya di mana Bapak.

Simbok selalu menjaga hatinya, meski Bapak sudah meninggal.

Orang-orang kampung salut sama Simbok, bisa membesarkanku seorang diri, meski bekerja serabutan.

Bagi Simbok, kerja apa saja tidak masalah selagi ia sanggup melakukan, dan hasilnya halal.

Bagaimana mungkin aku mau mencoreng muka Simbok dan jujur mengatakan kalau aku telah hamil? Sungguh hati ini tidak sanggup, tetapi ....

“Menggok ngiwo,” (Belok kiri) kata Simbok mengingatkan saat di depan ada pertigaan.

Tak lama setelahnya aku melihat pagar pemakanan.
 
****
Pemakaman itu terlihat sunyi saat aku berjalan mengikuti langkah Simbok.

Aku berjalan di antara nisan lalu berhenti di depan makam sederhana, makam Bapak.

Aku melihat Simbok langsung memeluk nisan Bapak dengan nama Sutrisno. Simbok terlihat mengusap kedua matanya sambil terus memegang foto Bapak.
“Pak, aku teko karo anakmu.” (Pak, aku datang dengan anakmu).

Aku tertunduk.
Begitulah Simbok, ia selalu berbicara dengan nisan Bapak dan mengatakan datang denganku, seakan-akan Bapak masih hidup.

Aku jongkok di samping Simbok, mengelus-elus punggungnya.

“Sampun ngeh, Mbok. Bapak sampun tenang teng andinge Gusti Allah.” (Sudah ya, Mbok. Bapak sudah tenang di samping Tuhan).

Simbok kemudian mengangguk, membetulkan letak kerudungnya.

Simbok lantas menabur bunga yang ada di besek, aku ikut melakukannya.

“Itu kuburan suamiku! Kenapa kalian ada di sini, ha!”

Kontan aku dan Simbok terkejut lalu menoleh ke belakang.

Kulihat perempuan baya mengenakan batik kerawangan lengan panjang, bawahan jarit modang, rambunya disanggul, sungguh wajahnya tidak ramah.

Yang lebih mengejutkan, perempuan itu datang tidak sendiri, di sebelahnya ada seorang pemuda yang ....

“Ngapunten, Bu. Ini kuburan suami kulo,” kata Simbok.

“Jangan waton njeplak Sampean! Sudah jelas ini kuburan suamiku!” balas perempuan itu lalu melangkah mendekati Simbok. “Ini kuburan suamiku. Sampean itu salah kuburan!”

“Nyuwun agunging pangapunten, Bu. Saya tidak salah kuburan. Ini kuburan suami saya. Saya sering datang ke sini. Mana mungkin saya salah,” kata Simbok.

Perempuan itu lantas bersedekap, memperhatikan Simbok dari ujung kepala sampai kaki. “Siapa nama suamimu, he?” tanyanya.

“Sutrisno, Bu,” balas Simbok.

“Sutrisno itu suamiku. Dia meninggal karena kecelakaan. Memang suamimu meninggal karena apa, ha!”

“Kecelakaan, Bu,” jawab Simbok lagi..

“Kapan suamimu meninggal?”

“25 tahun yang lalu saat saya mengandung anak pertama, Bu.” Simbok menoleh ke arahku, aku menunduk.

“Gus, sini!” Perempuan itu melambaikan tangan kepada pemuda tadi.

Makin dalam aku tertunduk saat pemuda itu kemudian berdiri di samping perempuan yang ada di hadapan Simbok.

“Ini anak saya, anak satu-satunya. Bapaknya bernama Sutrisno, meninggal 24 tahun yang lalu saat aku sedang mengandungnya. Paham!”

“Kulo, Bu. Saya paham,” balas Simbok setengah menjura hormat.

“Benar ini kuburan suami Ibu?” tanya pemuda itu kepada Simbok dengan wajah tegang.

“Leres, Mas.” (Betul, Mas).

“Apa suami Ibu juga jarang pulang sewaktu Ibu sedang mengandung?” tanya pemuda itu lagi.

“Leres, Mas. Sejak saya mengandung, suami saya tak pernah pulang.” Simbok menjelaskan kepada pemuda itu.

“Saya selalu mencarinya. Setiap orang yang saya temui selalu menggeleng saat saya bertanya keberadaannya.”

“Lelah mencari ke sana-sini, saya berhenti di depan pemakaman ini.”

“Saat itu juru kunci pemakaman ini menghampiri dan menanyakan tujuan. Saya jawab sedang mencari suami saya yang bernama Sutrisno.”

“Juru kunci itu ternyata kenal dengan suami saya. Dia bilang kalau orang yang bernama Sutrisno sudah meninggal. Dia menunjukkan di mana kuburannya. Sejak saat itu, saya tahu kalau kuburan ini adalah makan suami saya.” Simbok menghentikan ceritanya.

Kulihat Simbok menyerahkan foto Bapak yang selalu ia bawa saat nyekar. Ya, Simbok selalu membawanya. Aku tidak pernah bertanya kenapa Simbok selalu membawa foto Bapak ke kuburan.

“Ini suami saya.” Simbok memberikannya kepada pemuda itu.

Aku melihat raut wajah pemuda itu tegang karena terkejut lalu menatapku.

Ditatap begitu, hatiku hancur. Mataku mulai berkaca-kaca.

Perempuan yang kutebak ibunya lalu menyambar foto Bapak yang ada di tangan pemuda itu. “Sini!”

Wajah perempuan itu tak kalah terkejut. “Ha!” Buru-buru dia membuka tas dan mengeluarkan sebuah foto.
“Kok fotonya sama!” katanya.

Kulihat tubuh Simbok mulai berguncang, aku mendengar isaknya.

Aku melangkah mendekati Simbok lalu memeluknya.

“Bapakmu, Nduk. Bapakmu ora tahu balek tibakno ... hu hu hu.” (Bapakmu, Nduk. Bapakmu tidak pernah kembali ternyata ... hu hu hu)

Simbok membenamkan wajahnya di pelukanku.

Kini aku tahu, cerita Simbok yang bilang kalau Bapak tak pernah kembali kepada Simbok ... ternyata sudah ....

“He, kamu! Kamu bukan istri sahnya, ‘kan? Aku ini istrinya!” Sikap perempuan itu masih saja kasar kepada Simbok.

“Ber ... berarti ini makam bapak kita,” ucap pemuda itu menatapku.

Air mataku deras mengalir, bukan karena Simbok yang terus menangis sesenggukan mengetahui fakta kalau suaminya tifak pernah kembali karena sudah menikah lagi. Namun, karena ucapan pemuda itu.

“Bapakmu, Nduk. Hu hu hu.”

Aku tahu, Simbok pasti kecewa mengetahui ini, mengetahui kalau Bapak ternyata diam-diam menikah lagi dan tidak pernah kembali untuk menemui Simbok.

Akan tetapi, aku lebih kecewa karena ternyata aku dan pemuda itu masih satu darah. Di tubuh kami mengalir darah lelaki yang telah menyia-nyiakan kesetiaan Simbok.

Pemuda itu meraih tanganku ... air mataku mengalir deras.
Aku langsung memeluknya, menumpahkan semua yang kurasakan. “Mas. Hu hu hu.”

“Lepas! Kamu anak dari perempuan yang telah mengambil suamiku!” Perempuan itu lantas melepas paksa pelukanku.

“Bu, ampun ngoten!” (Bu, jangan begitu!) bentak pemuda itu.

“O, sekarang kamu lebih memilih anak perempuan ndeso ini daripada ibumu sendiri. Iya!”

“Sanes ngoten, Bu. Nanging ....” (Bukan begitu, Bu. Akan tetapi ....).

Perempuan itu lalu menampar pemuda itu.

Plak!

“Ibu dari perempuan kampungan ini yang telah merebut bapakmu. Paham!”

“Tidak! Umurku 25 tahun dan anak Ibu umurnya 24. Artinya, Panjenengan yang sudah merebut Bapak dari Simbok!” Jujur aku marah karena perempuan yang sok semugeh itu terus-terus menghina Simbok.

“Saat Simbok mengandung saya, Bapak tidak pernah kembali karena sudah menikah dengan Panjenengan! Sekarang siapa yang merebut, ha!”

“Wes, Nduk. Uwes!” (Sudah, Nduk. Sudah!) Simbok menarik tanganku.

“Lancang kamu, ya! Berani-berani bilang seperti itu kepadaku, ha!” Perempuan itu mengangkat tangannya, berniat menamparku. Namun, diurungkan.

“Kenapa? Tampar! Tampar saja! Ayo, tampar!”

“Sudah cukup! Cukup!” bentak pemuda itu. Kulihat matanya juga sudah basah oleh air mata.

“Aku dan dia adalah anak Bapak, Bu!” tambahnya seraya menatap perempuan itu.

“Kita tidak bisa lari dari kenyataan. Ini kenyataannya, Bu. Kenyataan!” Pemuda itu lalu berlari meninggalkan kami semua.

“Mas!” Aku berusaha mengejarnya, tetapi Simbok meraih tanganku.

“Wes, Nduk. Uwes.” (Sudah, Nduk. Sudah!)

“Mas, tunggu aku, Mas!” Aku terus berteriak memanggilnya.

Ya, dia adalah Mas Darmin,  lengkapnya Bagus Darminto. Usianya 24 tahun. Sekarang yang kutahu bahwa dia ... dia adalah adik tiriku, sekaligus bapak dari anak yang ada di kandunganku.

Tubuhku luruh. Aku menangis di kaki Simbok sambil bersujud. “Mbok, ampuni kulo, Mbok. Hu hu hu.” END






 
 
 






PAKDE NOTO

Baca juga cerita seru lainnya di Wattpad dan Follow akun Pakde Noto @Kuswanoto3.

No comments:

Post a Comment

Start typing and press Enter to search