BOJO NDLOGOG
“Aku kenal
bapakmu, Le. Lha wong bapakmu itu dulunya doyan perempuan. Kamu harus
hati-hati, terlebih saat kamu bekerja. Di rumahmu hanya ada istri dan bapakmu
saja to?”
Aku terdiam,
jijik mendengarnya. Entah apa maksud Pakde Sukiran menyampaikan itu padaku.
“Itu ‘kan
dulu, Pakde. Sekarang Bapak sudah tua, mana mungkin begitu, apalagi dia sudah
punya mantu!” bantahku.
Jujur aku
malas mendengar orang-orang selalu menceritakan siapa Bapak ketika aku belum
lahir.
“Justru itu.
Istrimu itu yang pakde maksud. Dong po ra to kowe ki?”
Percakapan
dengan Pakde Sukiran siang tadi, sewaktu kami beristirahat makan siang di gubuk
sawah, masih terngiang di telingaku.
Aku
menggeleng kala itu. “Tidak mungkin, Pakde. Masak Bapak mau kurang ajar dengan
mantunya sendiri.”
“Pakde
bukannya menakut-nakutimu, tetapi pakde kenal siapa bapakmu sebab dulu semasa
muda kami berteman. Domongi kok ngiyil to kowe ki!”
Ah, masa
bodo! Aku ingin segera sampai di rumah. Persetan dengan ucapan Pakde Sukiran
yang terdengar menuduh Bapak. Mana mungkin Bapak mau merebut istriku? Sungguh
tidak masuk akal ... terlalu mengada-ada!
****
Aku
melangkah makin cepat, kulihat langit berubah pekat. Awan gelap menggulung, tak
lama lagi pasti turun hujan.
Sebagai
buruh cangkul di sawah Bendoro Jumakir, penghasilanku memang tidak seberapa.
Namun, aku bersyukur karena istriku sangat mengerti keadaanku, mengerti bahwa
aku sedang merintis hidup untuk membuatnya bahagia kelak.
Aku dan
istriku tidak lama berpacaran seperti orang-orang, tetapi Bapak yang
membawakannya untukku. Ya, Bapak yang mencarikan jodoh buatku.
Oh, iya. Namaku
Margono, umur 24. Aku menikah dengan Tari, 22 tahun, empat bulan lalu.
****
Sampai di
rumah.
“Dik!”
panggilku.
Kucari ke
dapur. “Dik?” Tidak ada istriku. Biasanya dia akan sibuk memasak untuk makan
malamku.
“Apa Tari
sakit?”
Segera aku
menuju kamar.
“Dik?”
Kelambu
kusibak. Tidak ada istriku.
“Dik, aku
sudah pulang!” teriakku seraya melangkah meninggalkan kamar, tetapi ....
Langkahku
tertahan, aku sepeti mencium bau lain di kamar ini. Segera aku mendekat ke
tempat tidur kami.
Kelambu
kusibak.
Sret!
Aku mencium
bau tembakau. Baunya tidak saja menusuk hidungku, tetapi terasa menempel di kelambu.
Aku coba
mengendusnya.
Tidak. Bau
itu bukan dari kelambu.
Aku
mendekatkan wajah ke seprai, mengendus baunya.
Jantungku
berdegup lebih keras.
“Rokok lintingan!”
Dengan perlahan,
aku meraih bantal yang biasa kupakai, mendekatkan wajah dan ....
“Bau rokoknya
Bapak!” batinku, sebab bau di bantal yang paling kuat.
Kulempar
bantal ke atas tempat tidur. Langkahku cepat menuju pintu belakang rumah.
Aku
berteriak memanggil istriku, “Dik!”
Tak lama
kemudian istriku muncul. Napasnya sedikit terengah-engah. Ada keringat di
pelipisnya, padahal udara sedang dingin.
“Mas, sudah
pulang?”
Mataku tidak
lepas dari wajahnya.
“Kenapa
kamar kita bau rokok Bapak?”
“Rokok
Bapak?”
“Iya! Sejak
kapan Bapak tidur di kamar kita, ha!” Sungguh aku geram, terlebih bila
kusangkutpautkan dengan omongan Pakde Sukiran.
“Oalah. Itu …
anu ... eh anu ... tadi Bapak numpang tiduran, Mas,” jawabnya sedikit gugup.
“Kata Bapak kepalanya pusing. Atap kamarnya bocor karena hujan. Apa aku salah?”
“Hujan?” Pandangan
mataku perlahan naik ke langit.
Awan gelap
masih mengantung dan hujan belum turun.
Aku langsung
meraih tangnya. “Apa kamu lihat kalau sekarang hujan?”
Istriku
tertunduk lalu menggeleng.
Aku
mengangkat dagunya. “Kamu membohongiku? Iya!”
Istriku
kembali menggeleng dengan menatap mataku.
“Bapak itu
orang tuamu, Mas. Tadi Bapak hanya numpang tiduran saja di kamar kita. Apa aku
harus melarangnya?”
Jawaban itu
terdengar polos di telingaku.
Istriku itu
perempuan yatim, tidak pernah aneh-aneh dan selalu bertanya ‘apa aku salah?’
kalau aku mulai terlihat marah dengannya.
“Ah,
sudahlah! Aku mau mandi.” Kulepas genggaman tanganku.
“Aku tadi
dari sumur, tidak tahu kalau Mas pulang. Apa aku salah?”
“Tidak. Kamu
tidak salah. Aku yang salah, Dik,” balasku yang sudah termakan omongan Pakde
Sukiran.
Aku tak mau
memperpanjang masalah bau rokok Bapak di kamar, aku tak mau curiga kepada
istriku. Selama ini aku tidak pernah melihatnya dekat begitu intim dengan
Bapak.
Ah! Kenapa
aku ini, mudah sekali terpengaruh omongan orang!
****
Keesokan
harinya.
Aku
menceritakan kepada Sutikno, teman kerjaku di sawah saat yang lain sedang mandi,
membersihkan lumpur sawah di anak sungai.
“Aku mencoba
mengabaikan semuanya, menganggap bau rokok di kamarku sekadar kebetulan saja.
Mungkin benar kata istriku, Bapak hanya numpang tiduran.”
“Cerita
bapak menyukai menantunya ada, ‘kan? Kamu pernah dengar, ‘kan?” tanya Sutikno.
Aku
mengangguk.
“Margono,
Margono. Sebagai suami, kamu harus peka terhadap hal-hal kecil yang
mencurigakan.”
“Maksudmu? Istriku
dan Bapak ....”
“Aku tidak
menuduh istrimu selingkuh dengan bapak mertuanya sendiri, tetapi sebagai suami,
kamu harus peka terhadap hal-hal yang tak umum, hal yang tak sepatutnya terjadi
di rumah tanggamu.”
“Apa aku
harus mencurigai bapakku sendiri?”
“Bukan
seperti itu juga, Margono. Aduh ... kenapa kamu ini, ha? Mikiro to mikir! Kamu
paham tidak dengan apa yang kuucapkan, he?”
“Maksudmu?”
Aku balik bertanya.
“Waspada!
Waspada, Margono. Waspada!” balas Sutikno.
Aku
tertunduk lesu mendengarnya.
“Bisa jadi
semua yang kukatakan tadi benar, apalagi di rumah ada bapakmu. Bisa jadi to?”
“Mungkin
Bapak hanya ingin lebih dekat dengan Tari,” kataku membela diri.
“Ealah,
Margono. Dekat? Tidak lantas tiduran di kamarmu juga kan?”
Aku makin
tersudut. Ada benarnya apa yang dikatakan Sutikno. Kalau Bapak ingin lebih
dekat dengan istriku, lalu kenapa lancang tiduran di kamarku?
“Sudahlah,
Margono. Tidak usah kamu pikir dalam-dalam ucapanku. Intinya, kamu harus
waspada, waspada terhadap hal-hal yang bisa menghancurkan rumah tanggamu.
Paham?”
“Tidak
mungkin, Tikno. Tidak mungkin Tari selingkuh di belakangku, apalagi dengan
bapakku sendiri.” Aku menampik ucapannya.
****
Pulang
bekerja.
Matahari
belum sepenuhnya tenggelam, langit masih jingga.
Setelah
meletakkan cangkul, aku langsung menuju dapur. Kali ini aku tak memanggil
istriku seperti biasa. Aku ingin membuktikan ucapan Sutikno, membuktikan kalau
omongannya salah!
Di dapur aku
tidak melihat istriku, tetapi aku mendengar derit kerekan sumur. Ya, istriku
pasti sedang menimba air untukku mandi.
Aku
melangkah ke kamar Bapak.
Pintu kamar
apak hanya ditutup gorden, setelah mengendap, aku menyibaknya sedikit.
Kulihat
Bapak sedang menyisir rambutnya di depan cermin yang ada di lemari kayu.
Tidak ada
yang aneh. Bapak biasa mandi menjelang petang seperti sekarang ini.
Ah ... lega
rasanya hatiku. Semua omongan yang kudengar ternyata tidak terbukti. Jelas saja
... tidak mungkin istriku selingkuh dengan Bapak. Titik!
Ah,
sudahlah! Membayangkannya saja aku merasa jijik.
Aku hanya
ingin mandi, biar tubuh dan otakku kembali segar, tidak mau membayankan hal
kotor antara Bapak dan istriku.
****
Aku
mengambil handuk di kamar lalu menggantungnya di leher.
Entah
mengapa hatiku merasa lega. Aku sudah melupakan bau rokok Bapak di kamar ini.
Aku menoleh
ke arah tempat tidur, tempat yang membuat pikiranku kotor gara-gara bau rokok
Bapak.
Baru saja
aku merasa lega ... astagfirullah!
Aku melihat
ada sarung kawung di atas tempat tidurku, itu bukan sarungku, tetapi sarung
Bapak!
Jantungku
mulai berdegup tak karuan. Aku mengenali sarung itu tanpa harus mendekat.
Sarung Bapak
terpelintir, tidak beraturan, seperti dilepas dengan terburu-buru.
Kakiku
bergetar, aku membayangkannya lebih dalam, membayangkan adegan di atas tempat
tidur antara istriku dan Bapak.
Astagfirullah!
“Tidak! Aku
tidak mau menyimpulkan apa yang ada di otakku. Tidak!” batinku.
Jujur aku
masih ragu dengan pikiranku sendiri.
Buru-buru
aku meninggalkan kamar.
****
“Kenapa
sarung Bapak ada di kamar kita, ha!” Aku tak mau lagi basa-basi kepada istriku.
“Sarung?”
balasnya.
Kutarik
tangan istriku dengan kasar saat ia sedang menarik tali timba.
“Kamu mau
membohongiku lagi, ha? Iya!”
Istriku
diam, seperti biasa tertunduk, tak mau menatap mataku saat marah begini.
“Kenapa
sarung Bapak ada di kamar! Jelaskan padaku!”
“Bapak tadi
kedinginan karena hujan, Mas,” jawabnya.
“Hujan?”
“Iya, Mas.
Tadi hujan. Kata Bapak dia kedinginan dan numpang tiduran di kamar kita. Apa
aku salah?”
“Jarak dari
sawah tempatku bekerja dan rumah kita tidak seperti Semarang-Banyuwangi, Dik!
Bahkan sejak pagi tidak ada mendung. Bagaimana mungkin hanya di rumah kita saja
yang hujan, ha? Astagfirullah Al Adzim!” Aku mengelus dada mendengarnya,
menahan kesal.
“Kenapa kamu
biarkan Bapak tiduran di kamar kita, he? Kamu bisa bilang kalau tidak enak bila
aku tahu, ‘kan?”
“Bapak ‘kan
orang tuamu, Mas. Kalau numpang tiduran di kamar kita apa nanti tidak ....”
“Nanti apa,
ha! Nanti apa!”
Malah
dijawab dengan tangisan. “ Hu hu hu. Apa aku salah?”
“Ya, kamu
salah!” balasku cepat.
“Sekarang
jujur padaku, apa yang kamu lakukan dengan Bapak di kamar!”
Istriku
mengusap air matanya. “Aku tidak melakukan apa-apa, Mas. Saat Bapak numpang
tiduran, aku di dapur agar saat Mas pulang tidak lapar menungguku masak. Apa
aku salah?”
“Sungguh?”
Istriku
mengangguk.
Jujur aku
tak tega melihatnya begini. Kecurigaanku sudah membuatnya menangis.
“Dik,
maafkan aku.”
Istriku melepaskan
tali timba lalu memelukku, kurasakan tubuhnya masih bergetar oleh tangis.
“Maafkan aku
karena telah berpikiran yang tidak-tidak, Dik.” Kubelai rambutnya, tetapi ...
aku mencium bau tembakau ... rokok Bapak!
Dukung Pakde Noto di Trakteer

No comments:
Post a Comment