TEMPE BOSOK (CERPEN)
Sejak Ibu
meninggal, aku hidup dengan Bapak. Namun, dia bukan bapak kandung, melainkan
bapak tiri.
Kata orang
kampung, dulu bapakku adalah orang kaya. Kekayaannya diwariskan kepada Ibu
tetapi kini Ibu sudah tenang dan berkumpul dengan Bapak di sana.
Karena
menikah lagi dengan Wagiman, namaku di surat wasiat sebagai ahli penerima
warisan telah berubah. Warisan Ibu jatuh kepada ... orang-orang kampung menyebut
bapak tiriku dengan sebutan Bendoro Wagiman, orang kaya yang tanahnya ada di
mana-mana.
Akan tetapi,
yang aku tahu ... bapak tiriku itu tidak layak jadi bendoro. Sejak Ibu
meninggal, Bendoro Wagiman sering main perempuan untuk melampiaskan hasrat yang
tersumbat. Dasar ngacengan!
****
Saat petang
datang, ketika orang-orang mulai pulang, aku sering duduk di bangku kayu dekat warung
kopi, tidak jauh dari pasar desa. Di situlah aku mengenal Sumi.
Aku muak di
rumah. Muak dengan tingkah laku Bendoro Sugiman!
Umur Sumi
sekarang 35 tahun, walaupun lebih tua, aku menemukan kebahagiaan saat
bersamanya.
Aku tidak
tahu banyak tentang pujaan hatiku itu. Sumi juga tidak banyak bercerita tentang
hidupnya. Namun, bagiku itu tidak penting, yang penting aku bahagia saat
bersamanya.
Namaku Sapar,
umur 23 tahun.
Meski beda
usia, aku dan Sumi sudah pacaran 4 bulan lalu.
****
Aku melihat
Sumi datang, mengenakan pakaian sopan, dan memakai kerudung. Dia langsung
menghampiriku.
“Kok
cembetut ngono iku to?” (Kok cemberut begitu) tanyaku ketika Sumi duduk di
sampingku.
“Aku pingin
urep bioso, Mas,” (Aku pengin hidup biasa, Mas) balasnya.
“Bioso
kepiye?” (Biasa bagaimana) tanyaku bingung.
“Yo, pingin duwe omah, duwe keluargo. Ora terus-terusan
ndelik-ndelik ngeneki.” (Ya, punya rumah, punya keluarga. Tidak perlu
sembunyi-sembunyi lagi).
Aku tidak
mengerti maksudnya, tetapi aku mengangguk. Aku membayangkannya, aku juga ingin punya
rumah sendiri, punya anak, dan selalu ada untuknya sebagai suami.
“Nek ngono,
aku gelem ngrabi awakmu,” (Kalau begitu, aku akan menikahimu) ucapku.
Sumi terdiam.
“Gelem to?”
(Mau ‘kan?).
Dibalas Sumi
dengan menggeleng.
“Ora iso,
Mas. Aku ra iso.” (Aku tidak bisa, Mas).
Dadaku
langsung sesak. “La ngopo?” (Kenapa?).
Dia
menatapku, lalu berkata pelan, “Wes enek wong ... enek wong seng arep ngrabi
aku ndisek.” (Ada orang … yang mau menikahiku lebih dulu).
Kini aku
yang terdiam.
“Sopo wonge?”
(Siapa lelaki itu?).
Sumi tidak
mau menjelaskan.
“Awakmu wes
nglarani atiku, Sum. Ajur rasane ati iki!” (Kamu mengabaikan perasaanku, Sum.
Hancur hatiku!). Aku bergegas pergi meninggalkannya dengan perasaan marah, benci,
dan kecewa.
****
Petang
berikutnya.
Seperti
biasa, aku duduk menunggunya.
Kepalaku mulai
dipenuhi oleh pikiranku sendiri. Tentang seseorang yang mengambil Sumi dariku,
tentang sakit hati, tentang kehilangan.
Sumi datang
lalu duduk di sampingku. “Wes ket mau, Mas?” (Sudah lama, Mas?).
“Ah, gurung,”
(Ah, belum) balasku.
Aku dan Sumi
tak pernah sekalipun membuat janji, tetapi kami akan selalu bertemu ketika
petang.
“Kapan
awakmu kate rabi?” (Kapan kamu akan menikah?).
Sumi
tertunduk.
Kuberanikan
untuk menggenggam tangannya. “Gak opo-opo nek dewe gung jejodoan, ning oleh gak
nek aku ....” (Tidak apa-apa kalau kita belum berjodoh, tetapi bolehkah aku
....).
Sumi menatap
mataku, seperti menunggu lanjutan kata-kataku.
“Oleh opo
to, Mas?” (Boleh apa, Mas?).
“Oleh to nek
pisan ae awakku ngrasakne ngonoan?” (Bolehkah sekali ini saja aku merasakan
yang namanya begituan?).
“Ngko gek
kuciwo, Mas.” (Apa Mas tidak akan kecewa nantinya.) Sumi seakan-akan tahu
maksud ucapanku.
Aku balik
bertanya, “Kuciwo piyw?” (Maksudmu kecewa?).
“Mas lo jek
perjoko, la aku iki wes ....” (Mas masih perjaka, sementara aku sudah ....).
“Gak urusan,
Sum. Oleh to nek aku pisan ae ... iku bukti tresnoku.” (Aku tidak peduli, Sum.
Izinkan aku sekali ini ... bukti cintaku padamu).
“Ora neng
kene to?” (Tidak di sini ‘kan?).
“Edan po,
Sum. Yo gak to. Sesok aku ngenteni awakmu neng kene. Piye?” (Gila, Sum. Ya
tidak. Besok aku akan menunggumu di sini. Bagaimana?).
Sumi
mengangguk.
****
“Dari mana
kamu, Le! Sebagai anak Bendoro, tidak ilok keluyuran malam-malam!” Seperti
biasa, Bendoro Sugiman sudah menungguku di ambang pintu.
Aku tak
peduli. Dia bukan bapakku!
Bergegas aku
masuk tanpa menjawab pertanyaannya.
“Arek
semprul! Dulu begitu cara orang tuamu mendidikmu, ha! Gak duwe unggah-ungguh!”
Kontan aku
membalikkan badan saat dia menyebut-nyebut orang tuaku yang sudah tiada.
“Unggah-ungguh?
Kalau orang punya unggah-ungguh, tidak seharusnya namaku diganti sebagai penerima
warisan Ibu!” jawabku ketus lantas meninggalkannya pergi.
“Bapak kate
ngomong, Le!” (Bapak ingin bicara, Le!).
Terserah! Aku sudah tidak peduli.
****
Aku
menemui Pakde Noto, lelaki baya yang menjadi abdi di rumah ini.
“Ngopo neh,
he? Padu neh kambek Bendoro?” (Kenapa lagi, he? Bertengkar lagi dengan bapakmu?).
“Dia bukan
bapakku, Pakde.”
“Gak oleh
ngono, Le. Bendoro Wagiman iku tetap dadi bapakmu masio kualon.” (Tidak boleh
begitu, Le. Bagaimanapun Bendoro Wagiman adalah bapakmu, meskipun statusnya tiri).”
“Kersanelah,
Pakde. Kulo mboten bade mbahas Perkawes Bendoro Wagiman. “(Sudahlah, Pakde.
Saya tidak mau membahas perkara Bendoro Wagiman)..”
“La, terus?”
Aku diam sejenak. Pakde Noto sudah seperti bapak buatku, aku sering cerita
kepadanya ... masalah apa pun. Ya, aku lebih dekat dengan Pakde Noto daripada bapak
tiriku itu.
“Ladalah. Kok
malah nglamun. Eneng opo to jane, Le?” (Kok malah melamun. Memangnya ada apa,
Le?).
Aku lantas membisikkan kalimat tanya ke telinganya, “X-:Ydr^%!** Tittttt.” (Sensor).
“Ha! tenane,
Le?” (Ha! Serius, Le?).
“Nggeh,
Pakde. (Iya, Pakde).
“Coro ngono
iku gak pareng, Le.” (Cara seperti itu tidak boleh, Le).
“Atiku loro,
Pakde. Kulo kedah mbales loro ati niki.” (Hatiku sakit, Pakde. Aku harus
membalaskan sakit hati ini).
“Gak kudu
nganggo coro ngono iku lo, Le. Mbahayani!” (Tidak dengan cara begitu loh, Le.
Itu bahaya!).
“Pakde
ngertos corone nopo mboten!” (Pakde tahu caranya apa tidak!) todongku langsung
saja ketika Pakde Noto sepertinya enggan memberitahu hal yang kutanyakan.
Pakde Noto mengangguk.
“Iyo. Pakde roh corone, Le.” (Iya, pakde tahu caranya, Le).
****
Keesokan
harinya.
Aku melihat
Pakde Noto sedang membersihkan kursi di ruang tamu. Sebagai abdi di rumah ini, tugas
Pakde Noto adalah membersihkan rumah.
“Nopo wonten
tiyang medayoh maleh, Pakde?” (Mau ada tamu datang lagi, Pakde?).
“Gak, Le.
Bendoro gak nompo dayoh dino iki,” (Tidak, Le. Bendoro sedang tidak menerima
tamu hari ini) jawabnya.
Tak lama
kemudian kulihat Bendoro Wagiman masuk, tetapi yang membuatku tercengang tak
percaya, yaitu ....
Bendoro
Wagiman melangkah masuk dengan menggandeng tangan seorang perempuan dan
perempuan itu adalah ....
“Sumi,’
kataku lirih tanpa sadar, menyebut namanya.
Kami semua
terdiam.
“Ngapunten,
Ndoro. Kulo bade teng wingking riyen,” (Ndoro, saya ke belakang dulu) kata
Pakde Noto memecah suasana yang kurasakan tegang.
“Bapak mau
menikahinya,” kata Bendoro Wagiman santai.
Aku hanya
bisa diam. Inikah orangnya yang Sumi ceritakan? Orang itu adalah Bendoro
Wagiman, bapak tiriku sendiri!
****
Seminggu kemudian.
“Bendoro
Wagiman teng pundi, Pakde?” (Bendoro Wagiman ke mana, Pakde?) tanyaku kepada
Pakde Noto yang sedang membersihkan kamar.
“Bendoro neg
kuto, Le” (Bendoro ke kota, Le) jawabnya.
Ya, sudah. Aku
lantas berbalik badan meninggalkan Pakde Noto.
“Ngeterno
Sumi.” (Mengantar Sumi) tambahnya.
“Ha!” Aku
menghentikan langkah. “Sumi, gerah?” (Sumi sakit?) tanyaku.
Pakde Noto
mengangguk.
“Bongko! Ben
awakmu ngrasakno loro ati iku kepiye!” (Mampus! Biar kamu merasakan rasanya
sakit hati itu bagaimana!) batinku lalu tertawa penuh kemenangan, “Ha ha ha.”
“Ojo
nggowo-nggowo pakde nek onok opo-opo kambek Sumi, Le.” (Jangan bawa-bawa pakde
kalau terjadi apa-apa dengan Sumi, Le).
“Tenang mawon,
Pakde,” balasku lalu melangkah dengan tawa bahagia, “Ha ha ha.”
****
Malam
harinya.
Bendoro
Wagiman memanggilku.
“Duduk!”
perintahnya.
Aku duduk
berseberang meja dengannya.
“Kamu orang
terakhir yang menikmati tubuh Sumi. Iya!”
Aku tidak
bisa bohong lagi. Kini Bendoro Wagiman sudah tahu.
“Sumi sudah menceritakan
semuanya, tentang malam itu, tentang apa yang kalian berdua lakukan di rumah
kosong belakang pasar!”
“Aku tahu
kamu bawa sesuatu,” imbuhnya. Nada suara dan sikap Bendoro Wagiman mendadak
berubah menjadi tenang.
“Kamu telah
mengoleskan telur busuk, ‘kan?”
Aku diam, tidak
bisa menyangkal karena Sumi mungkin telah menceritakan semua kepadanya.
Ya, berkat
bantuan Pakde Noto aku sudah membalaskan sakit hatiku kepada Sumi. Dia lebih
memilih menikah dengan lelaki lain, dan aku baru tahu kalau lelaki itu adalah bapak
tiriku.
Waktu aku
menemui Pakde Noto, aku membisikkan sesuatu kalau aku mau membuat Sumi merasakan
betapa hancurnya hatiku. Kalau Sumi tidak bisa kumiliki, maka siapa pun
orangnya, tidak bakal bisa memilikinya.
Aku mau Sumi
menderita. Pakde Noto menyarankan agar aku mengoleskan telur busuk di ‘burungku’
lalu membenamkannya ke ‘tempenya’ Sumi
Petang itu,
ketika aku meminta izin untuk sekali saja ... Sumi menerimanya.
Di belakang
pasar, di rumah kosong aku menggarap Sumi. Semua begitu indah karena pertama
kali aku baru merasakan surga dunia.
Masalah
telur busuk? Pakde Noto yang menyarankan agar aku memakai wewangian untuk
menyamarkan baunya, dan itu berhasil. Buktinya Sumi tak menyadari kalau aku
telah mengoleskan cairan busuk menjijikkan dan bau itu ke burungku.
Kuakui,
saran Pakde Noto memang cespleng! Aku hutang budi kepadanya.
“Sumi
terkena sifilis,” kata Bendoro Wagiman membuyarkan lamunanku.
Aku tak
merasa kaget, sebab itu tujuanku dengan meminta bantuan Pakde Noto.
Aku mau ‘tempenya’
Sumi membusuk!
“Akan
tetapi, kamu salah,” imbuh Bendoro Wagiman.
Kontan mimik
wajahku berubah, dahiku berkernyit. “Salah?” tanyaku.
Bendoro
Wagiman menjawab, “Kalau kamu pikir telur busuk yang kamu oleskan telah membuat
Sumi terkena Sifilis!”
Aku menatapnya,
mata Bendoro Wagiman kini tajam menghunjam jantungku.
“Sumi sudah terena
sifilis … jauh sebelum kamu melakukannya di belakang pasar desa.”
Dunia seakan-akan
runtuh, jantungku mulai dag,dig, dug mendengarnya.
“Bapak yang
menularkannya,” katanya lagi, terdengar tanpa penyesalan.
“Ha!” Kali
ini aku sungguh dibuat terkejut.
“Sumi sudah terkena
sifilis sewaktu bilang mau berhenti menjual diri,” lanjutnya.
“Bapak sudah
menularkannya. Sebagai penebus rasa bersalah, bapak akan menikahinya.”
Kini anganku
mengingat pertemuanku dengan Sumi, tentang matanya, tentang kelelahan di
wajahnya, tentang cerita yang tidak bisa kupahami.
Ternyata
Sumi lonte, tuna susila, dan Bendoro Wagiman yang doyan main perempuan sering
memakai jasanya.
Pantas saja
aku hanya bertemu Sumi ketika petang. Apakah malamnya dia ...? Ah! Bangsat!
Ternyata Sumi menjajakan dirinya saat malam!
“Jadi, apa
... apa yang harus ... harus kulakukan?” tanyaku gugup. Sungguh aku takut kini.
Bendoro
Wagiman berdiri lalu menepuk pundakku. “Tidak ada yang harus kamu lakukan, Le. Kamu
hanya terlambat.”
Bendoro
Wagiman pergi meninggalkanku sendiri, tetapi aku melihat kalau dia tersenyum,
senyum yang sulit kuartikan.
****
Enam
malam berikutnya
Aku tidak
bisa tidur, bukan karena suara, bukan karena pikiran yang tak menentu, tetapi malam
ini kurasakan ada yang berbeda, burungku terasa perih.
Bergegas aku
bangkit, aku harus menemui Pakde Noto dan bertanya kenapa burungku terasa
perih! Apakah aku telah tertular sifilis dari Sumi? Celaka!
****
Aku mengetuk
pintu rumah para abdi yang ada di belakang, rumah Pakde Noto.
Tok! Tok!
Tok!
Sungguh aku
khawatir, takut kalau aku benar-benar telah ....
“Madosi
sinten, Le?” (Mencari siapa, Le?” tanya Mbah Dikum.
“Pakde Noto
wonten, Mbah?” (Pakde Noto ada, Mbah?)
“Ealah. Noto
wes ora kerjo neng kene neh.” (Noto tidak lagi bekerja di rumah ini).
“Ha! Awit
kapan, Mbah?” (Sejak kapan, Mbah?”
“Mau isuk
sandangane wes dikukuti.” (Tadi pagi semua pakaiannya sudah diberesi).
Kaki lemas,
jatuh berlutut di depan pintu rumah Pakde Noto. “Hu hu hu.” Air mataku jatuh. END
Dukung Pakde Noto di Trakteer

No comments:
Post a Comment