Dukung SayaDukung Pakde Noto di Trakteer

[Latest News][6]

abu nawas
abunawas
berbayar
Budaya
cerbung
cerkak
cerpen
digenjot
gay
hombreng
horor
hot
humor
informasi
LGBT
mesum
misteri
Novel
panas
puasa
sejarah
Terlarang
thriller

Labels

BESAN PART 2

 

Aku mencoba mendekat ke sisi tempat tidur untuk membantunya bersandar, tetapi dengan menggeliat aku melihat besanku itu menyingkap jarit yang ia kenakan hingga terlihat paha mulus yang seharusnya tak ilok kulihat.




“Kaang, ohhh.”

Entah apa yang ia lakukan, aku melihat ia melepas gulungan kecil jarit yang dipakai hingga terbuka.

Ah! Aku jadi salah tingkah dan tak tahu harus menolongnya bagaimana.

“Kang, ohhh.”

Tidak, tidak! Itu milik besanku dan aku tak mau lancang mengambil sesuatu yang bukan milikku.

Huh! Kenapa kini otakku mengajak untuk berpikir mesum.

Kuputuskan untuk keluar, tetapi bagaimana bila ada orang yang datang dan melihat besanku ada di kamar? Gawat ini tak boleh terjadi.

Baru juga sampai ambang pintu ... buru-buru aku masuk lagi, tetapi langkahku terhenti  saat melihat besanku itu sudah melepas semua pakaiannya.

“Kang, ohhh.”

Tidak boleh terjadi! Aku segera mendekatinya bermaksud agar ia segera mengenakan pakaiannya kembali. Sungguh aku tak mau terjadi gonjang-ganjing rumah tangga bila aku khilaf.

“Saya antar pulang mawon nggeh, Yu,” kataku begitu sampai di sampingnya. Ya, aku harus segera mengantarkan besanku ini pulang.

Dengan bermaksud untuk menutupi kembali tubuhnya dengan kain jarit, tiba saja tanganku ia tarik.

Tep!

Aku yang belum siap kontan hilang keseimbangan.

Tubuhku langsung jatuh di atas tubuh besanku yang dalam sekejap langsung memelukku.

“Surip!” Kontan aku menjingkat kaget saat di ambang pintu aku melihat Mbah Joyo, salah satu parewang Ndoro Kuswanoto.

“Mbah Joyo!” pekikku kaget.

“Waduh!” ucap Mbah Joyo melongo.



 

****

 

Setelah meminta besanku untuk pulang, kini hanya ada aku dan Mbah Joyo.

Intinya, Mbah Joyo akan mengadukan ini kepada Kang Dewo karena dianggap aku telah berbuat hal yang kurang ajar kepada besanku sendiri.

“Bakal tak laporne kelakuanmu iki, Surip!” (Bakal aku laporkan kelakuanmu ini, Surip!) ancam Mbah Joyo.

Pikiranku kalut! Aku terus memikirkan hal yang nyaris terjadi.

Wah! Ini gawat kalau dibiarkan.

Bagaimana mungkin tiba-tiba besanku menginginkan hal itu mengingat antara aku dan besan perempuanku tidak begitu dekat.

“Pokoknya Dewo kudu weroh kedadean iki mau!” (Pokoknya Dewo harus tahu kelakuanmu tadi!).

“Ampun dos ngoten, Mbah. Saya mohon jangan adukan masalah ini kepada Kang Dewo.” Aku merengek, memohon agar kesalahpahaman tadi tak dilaporkan ke besan lelakiku.

“Ora iso ngono, Rip ... yo tidak bisa begitu. Samiyem itu besanmu sendiri to? La iyo mosok kowe arep menyerobot ‘lahane’ Dewo. Ini tidak bisa, Rip. Ora iso, Rip. Kudu tak laporne!”

Sial! Aku yang belum makan nangkanya harus berusaha untuk membersihkan getahnya, terlebih Mbah Joyo tahu apa yang nyaris terjadi tadi. Sial memang!

“Aku merene mergo dikongkon karo Mandor Turaji, Rip.” (Aku ke sini karena disuruh Mandor Turaju, Rip).  Mbah Joyo menjelaskan seolah-olah bukan sengaja ia memergoki kejadian tadi.

Aku tertunduk lesu. Pasti mandorku itu akan mencak-mencak bila aku datang terlambat dan ini sudah terbukti kalau aku pasti akan datang telat, tetapi aku tak percaya dengan ucapan Mbah Joyo sebab beberapa kali bahkan sudah sering ia datang berkunjung ke rumahku dan memaksaku untuk melakukan hal yang terlintas saja tidak di kepalaku. Bisa jadi ia datang di saat yang tepat saja untuk meluluskan semua hajatnya yang tersumbat.

Dalam kebingungan aku mulai waswas bila Mbah Joyo benar-benar akan melaporkan ini kepada Kang Dewo.

“Wes to, Rip. Ora usah sumelang. Bukan Mbah Joyo namanya kalau tak punya jalan keluar. Iyo, opo iyo, he?”

Kemudian Mbah Joyo melangkah mendekat ... kemudian membisikkan sesuatu di telingaku, “*&^$@~”?/*(). Piye, he? A,am-aman, Rip.” (Bagaimana, he? Aman-aman, Rip).

Aku menggeleng. Jelas aku tak mengiyakan tawarannya.

“Yo, karepmu, Rip. Kamu pikir-pikir dulu sebelum semua menjadi. Nganti Dewo krungu ... hawat, Rip! Hawat uripmu!” Kembali ia menakut-nakutiku dengan ancamannya.

 

****

Sesaat setelah Mbah Joyo pulang.

Pit ontel batangan kukayuh cepat untuk sampai di rumah Yuk Samiyem. Aku harus membicarakan masalah ini dengannya, bermaksud jangan sampai hal yang belum terjadi itu sampai di telinga Kang Dewo atau pun istriku.

Urusan kerja, nanti akan aku mencari alasannya untuk menghadapi mandorku itu.

 

****

Jalan kerikil terus kulindas.

Satu tikungan lagi aku akan sampai di rumah besanku.

Nikmat yang bisa membuatku melek merem itu belum kurasakan, tetapi aku harus repot sekarang untuk menutupinya. Ketar-ketir kalau Kang Dewo akan marah setelah Mbah Joyo benar-benar menceritakannya. Bajingan memang orang sepuh itu!

 

****

Begitu sampai di halaman segera kusandarkan pit ontel lantas buru-buru kuketuk pintu.

Tok! Tok! Tok.

“Yu!”

Tok! Tok! Tok.

Yuk Samiyem!”

“Masuk, Kang!” Sahut suara dari dalam.

Setelah pintu kubuka aku melihat besanku itu duduk lesu bersandar pada lincak bambu.

“Maafkan aku, Kang,” katanya setelah mempersilakan duduk.

“Itu tidak penting, Yu. Sekarang bagaimana, ha! Lajeng pripun sakniki?”

Kulihat besanku menggeleng.

“Celaka kalau sampai Kang Dewo tahu, Yu. Bisa habis kita! Sampean itu kenapa toh? Kok bisa-bisanya kirim masalah ke rumahku, ha?” Aku yang kini mulai kalut.

Bukannya menjawab, tetapi aku melihat besanku malah menangis sesenggukan. “Ini semua gara-gara Yuk Girah.”

“Girah? Jadi, Sampean menuduh kalau istriku merebut Kang Dewo, he!” ucapku dingin.

“Saya ini istrinya, Kang. Akan tetapi, saya tak pernah dikeloni Kang Dewo sejak desas-desus itu!” bantahnya.

Ucapan serupa masih kudengar untuk menguatkan alasan kenapa besanku ini sampai ‘haus’ hingga memancingku untuk menggantikan posisi Kang Dewo.

“Jadi, sekarang bagaimana, ha? Mbah Joyo mengancam kalau ia akan menyampaikan hal ini kepada Kang Dewo,” tanyaku lesu.

Besanku menggeleng, sepertinya ia juga menemui jalan buntu.

“Saya mau minta cerai saja, Kang,” ujarnya kemudian.

“Pegatan?” (Bercerai?), tanyaku setengah kaget dengan keputusannya.”

“Iya, Kang.”

“Untuk hal yang belum terbukti?” tanyaku lagi.

“Saya tak sanggup kalau harus menderita batin begini. Saya ini perempuan yang juga harus dinafkahi batinnya, Kang. Hu hu hu.”

Aku tak bisa menimpali untuk masalah itu, tetapi setidaknya aku jadi mengerti kalau besanku ini datang karena kehausan sebab tak pernah mendapat nafkah batin dari Kang Dewo. Yakin masalahnya hanya urusan tempat tidur? Kok aku mulai ragu. Jangan-jangan ....

 

Kemudian aku menyampaikan maksud kedatanganku agar besanku ini bersama-sama menjaga rahasia, dan selebihnya aku harus menutup mulut Mbah Joyo ... maka semua selesai.

Yakin akan selesai? Entah ... sepertinya belum karena aku tahu watak lelaki sepuh yang doyan anunya lelaki itu. Dasar homo buwajingan! Masalahku sendiri saja belum selesai, ditambah lagi urusan dengan Mbah Joyo yang memergokiku ... aku tahu arah ancamannya akan ke mana ... minta aku keloni. Pasti itu! Bersambung ke Part 3


BESAN PART 1

 

PAKDE NOTO

Baca juga cerita seru lainnya di Wattpad dan Follow akun Pakde Noto @Kuswanoto3.

No comments:

Post a Comment

Start typing and press Enter to search