BESAN PART 2
Aku mencoba mendekat ke sisi tempat tidur untuk membantunya
bersandar, tetapi dengan menggeliat aku melihat besanku itu menyingkap jarit
yang ia kenakan hingga terlihat paha mulus yang seharusnya tak ilok kulihat.
“Kaang, ohhh.”
Entah apa yang ia lakukan, aku melihat ia melepas gulungan
kecil jarit yang dipakai hingga terbuka.
Ah! Aku jadi salah tingkah dan tak tahu harus menolongnya
bagaimana.
“Kang, ohhh.”
Tidak, tidak! Itu milik besanku dan aku tak mau lancang
mengambil sesuatu yang bukan milikku.
Huh! Kenapa kini otakku mengajak untuk berpikir mesum.
Kuputuskan untuk keluar, tetapi bagaimana bila ada orang yang
datang dan melihat besanku ada di kamar? Gawat ini tak boleh terjadi.
Baru juga sampai ambang pintu ... buru-buru aku masuk lagi,
tetapi langkahku terhenti saat melihat
besanku itu sudah melepas semua pakaiannya.
“Kang, ohhh.”
Tidak boleh terjadi! Aku segera mendekatinya bermaksud agar
ia segera mengenakan pakaiannya kembali. Sungguh aku tak mau terjadi
gonjang-ganjing rumah tangga bila aku khilaf.
“Saya antar pulang mawon nggeh, Yu,” kataku begitu sampai di
sampingnya. Ya, aku harus segera mengantarkan besanku ini pulang.
Dengan bermaksud untuk menutupi kembali tubuhnya dengan kain
jarit, tiba saja tanganku ia tarik.
Tep!
Aku yang belum siap kontan hilang keseimbangan.
Tubuhku langsung jatuh di atas tubuh besanku yang dalam
sekejap langsung memelukku.
“Surip!” Kontan aku menjingkat kaget saat di ambang pintu aku
melihat Mbah Joyo, salah satu parewang Ndoro Kuswanoto.
“Mbah Joyo!” pekikku kaget.
“Waduh!” ucap Mbah Joyo melongo.
****
Setelah meminta besanku untuk pulang, kini hanya ada aku dan
Mbah Joyo.
Intinya, Mbah Joyo akan mengadukan ini kepada Kang Dewo
karena dianggap aku telah berbuat hal yang kurang ajar kepada besanku sendiri.
“Bakal tak laporne kelakuanmu iki, Surip!” (Bakal aku
laporkan kelakuanmu ini, Surip!) ancam Mbah Joyo.
Pikiranku kalut! Aku terus memikirkan hal yang nyaris
terjadi.
Wah! Ini gawat kalau dibiarkan.
Bagaimana mungkin tiba-tiba besanku menginginkan hal itu
mengingat antara aku dan besan perempuanku tidak begitu dekat.
“Pokoknya Dewo kudu weroh kedadean iki mau!” (Pokoknya Dewo
harus tahu kelakuanmu tadi!).
“Ampun dos ngoten, Mbah. Saya mohon jangan adukan masalah ini
kepada Kang Dewo.” Aku merengek, memohon agar kesalahpahaman tadi tak
dilaporkan ke besan lelakiku.
“Ora iso ngono, Rip ... yo tidak bisa begitu. Samiyem itu
besanmu sendiri to? La iyo mosok kowe arep menyerobot ‘lahane’ Dewo. Ini tidak
bisa, Rip. Ora iso, Rip. Kudu tak laporne!”
Sial! Aku yang belum makan nangkanya harus berusaha untuk
membersihkan getahnya, terlebih Mbah Joyo tahu apa yang nyaris terjadi tadi.
Sial memang!
“Aku merene mergo dikongkon karo Mandor Turaji, Rip.” (Aku ke
sini karena disuruh Mandor Turaju, Rip). Mbah Joyo menjelaskan seolah-olah bukan
sengaja ia memergoki kejadian tadi.
Aku tertunduk lesu. Pasti mandorku itu akan mencak-mencak
bila aku datang terlambat dan ini sudah terbukti kalau aku pasti akan datang
telat, tetapi aku tak percaya dengan ucapan Mbah Joyo sebab beberapa kali
bahkan sudah sering ia datang berkunjung ke rumahku dan memaksaku untuk
melakukan hal yang terlintas saja tidak di kepalaku. Bisa jadi ia datang di
saat yang tepat saja untuk meluluskan semua hajatnya yang tersumbat.
Dalam kebingungan aku mulai waswas bila Mbah Joyo benar-benar
akan melaporkan ini kepada Kang Dewo.
“Wes to, Rip. Ora usah sumelang. Bukan Mbah Joyo namanya
kalau tak punya jalan keluar. Iyo, opo iyo, he?”
Kemudian Mbah Joyo melangkah mendekat ... kemudian membisikkan
sesuatu di telingaku, “*&^$@~”?/*(). Piye, he? A,am-aman, Rip.” (Bagaimana,
he? Aman-aman, Rip).
Aku menggeleng. Jelas aku tak mengiyakan tawarannya.
“Yo, karepmu, Rip. Kamu pikir-pikir dulu sebelum semua
menjadi. Nganti Dewo krungu ... hawat, Rip! Hawat uripmu!” Kembali ia menakut-nakutiku
dengan ancamannya.
****
Sesaat setelah Mbah Joyo pulang.
Pit ontel batangan kukayuh cepat untuk sampai di rumah Yuk
Samiyem. Aku harus membicarakan masalah ini dengannya, bermaksud jangan sampai
hal yang belum terjadi itu sampai di telinga Kang Dewo atau pun istriku.
Urusan kerja, nanti akan aku mencari alasannya untuk
menghadapi mandorku itu.
****
Jalan kerikil terus kulindas.
Satu tikungan lagi aku akan sampai di rumah besanku.
Nikmat yang bisa membuatku melek merem itu belum kurasakan,
tetapi aku harus repot sekarang untuk menutupinya. Ketar-ketir kalau Kang Dewo
akan marah setelah Mbah Joyo benar-benar menceritakannya. Bajingan memang orang
sepuh itu!
****
Begitu sampai di halaman segera kusandarkan pit ontel lantas
buru-buru kuketuk pintu.
Tok! Tok! Tok.
“Yu!”
Tok! Tok! Tok.
“Yuk Samiyem!”
“Masuk, Kang!” Sahut suara dari dalam.
Setelah pintu kubuka aku melihat besanku itu duduk lesu
bersandar pada lincak bambu.
“Maafkan aku, Kang,” katanya setelah mempersilakan duduk.
“Itu tidak penting, Yu. Sekarang bagaimana, ha! Lajeng pripun
sakniki?”
Kulihat besanku menggeleng.
“Celaka kalau sampai Kang Dewo tahu, Yu. Bisa habis kita! Sampean
itu kenapa toh? Kok bisa-bisanya kirim masalah ke rumahku, ha?” Aku yang kini
mulai kalut.
Bukannya menjawab, tetapi aku melihat besanku malah menangis
sesenggukan. “Ini semua gara-gara Yuk Girah.”
“Girah? Jadi, Sampean menuduh kalau istriku merebut Kang Dewo,
he!” ucapku dingin.
“Saya ini istrinya, Kang. Akan tetapi, saya tak pernah
dikeloni Kang Dewo sejak desas-desus itu!” bantahnya.
Ucapan serupa masih kudengar untuk menguatkan alasan kenapa
besanku ini sampai ‘haus’ hingga memancingku untuk menggantikan posisi Kang
Dewo.
“Jadi, sekarang bagaimana, ha? Mbah Joyo mengancam kalau ia
akan menyampaikan hal ini kepada Kang Dewo,” tanyaku lesu.
Besanku menggeleng, sepertinya ia juga menemui jalan buntu.
“Saya mau minta cerai saja, Kang,” ujarnya kemudian.
“Pegatan?” (Bercerai?), tanyaku setengah kaget dengan
keputusannya.”
“Iya, Kang.”
“Untuk hal yang belum terbukti?” tanyaku lagi.
“Saya tak sanggup kalau harus menderita batin begini. Saya
ini perempuan yang juga harus dinafkahi batinnya, Kang. Hu hu hu.”
Aku tak bisa menimpali untuk masalah itu, tetapi setidaknya
aku jadi mengerti kalau besanku ini datang karena kehausan sebab tak pernah
mendapat nafkah batin dari Kang Dewo. Yakin masalahnya hanya urusan tempat
tidur? Kok aku mulai ragu. Jangan-jangan ....
Kemudian aku menyampaikan maksud kedatanganku agar besanku
ini bersama-sama menjaga rahasia, dan selebihnya aku harus menutup mulut Mbah
Joyo ... maka semua selesai.
Yakin akan selesai? Entah ... sepertinya belum karena aku tahu watak lelaki sepuh yang doyan anunya lelaki itu. Dasar homo buwajingan! Masalahku sendiri saja belum selesai, ditambah lagi urusan dengan Mbah Joyo yang memergokiku ... aku tahu arah ancamannya akan ke mana ... minta aku keloni. Pasti itu! Bersambung ke Part 3
Dukung Pakde Noto di Trakteer

No comments:
Post a Comment