TEKA-TEKI KEMATIAN JURAGAN SASTRO
Banyak yang
heran ketika Juragan Sastro mati. Ia ditemukan terkapar di gudang tembakau
miliknya, lehernya terjerat tali, kaki masih menapak tumpukan tembakau.
Kok bisa
orang nomor satu sekaligus juragan tembakau paling kondang di Desa Gedongrejo mati
di gudangnya sendiri?
****
Singkat
cerita ... pagi belum berlalu, tetapi beberapa warga, buruh, para abdi
berkumpul di depan gudang.
Ndoro Ratri,
istri Juragan Sastro terlihat terus menangis terisak-isak.
“Dobrak
pintunya!”
Wening anak
Juragan Sastro hanya terdiam saat satu lelaki bersiap-siap mendobrak pintu
gudang tembakau itu.
Pintu gudang
seketika didobrak sebab terkunci dari luar.
Brak!
Setelah
pintu berhasil dibuka paksa, kontan saja orang-orang yang berkumpul hanya
membicarakan satu nama, yaitu Pakde Karyo.
Siapa Pakde
Karyo? Dia adalah juru timbang tembakau yang bekerja pada Juragan Sastro.
Warga yang
sering menjual tembakau kepada Juragan Sastro tahu betul siapa Pakde Karyo,
juru timbang yang mahir tali menali saat menimbang tembakau atau menali karung.
Tak heran saat ditemukan tali di leher Juragan Sastro, semua mencurigai Pakde
Karyo.
Kenapa semua
orang menuduh Pakde Karyo pelakunya?
Semua orang
juga tahu kejadian sebelum Juragan Sastro meninggal, Pakde Karyo baru saja
dipukul oleh Juragan Sastro di depan buruh dan warga karena salah menimbang.
“Dasar
goblok!”
Plak!
“Kalau kamu
salah menimbang, bisa rugi aku, Goblok!”
Makin kuat
dugaan kalau Pakde Karyo adalah pelaku pembunuhan Juragan Sastro adalah ... ditambah
malam sebelum kematian, warga melihat mereka bertengkar hebat di beranda rumah
juragan tembakau itu perkara utang Pakde Karyo.
****
Orang-orang masih
berkumpul di depan gudang tembakau, datanglah Kades Jumakir ... ia datang setelah mendapat laporan dari
salah satu warga.
Singkat
cerita, Pakde Karyo yang tertuduh pun digelandang ramai-ramai ke balai desa,
bukan karena anggapan warga, tetapi ada bukti kuat kalau Pakde Karyo adalah
pembunuh juragannya, yaitu kunci gudang yang ada di saku celana.
“Mau ngelak,
ha! Ini apa ... ini buktinya kalau kamu yang bisa keluar masuk gudang!” Kades
Jumakir menunjukkan anak kunci yang ia dapat setelah menggeledah saku celana Pakde
Karyo.
“Tapi ...
tapi aku bukan pembunuh!” teriak Pakde Karyo membela diri.
“Lalu kunci
ini ….”
“Aku sendiri
tak tahu bagaimana bisa ada di sakuku,” balas Pakde Karyo dengan menggeleng. “Sungguh
aku tak tahu kunci ini ada di sakuku.”
Mendengar
itu, tak seorang pun percaya. “Siapa lagi coba yang membunuh Juragan Sastro
kalau bukan orang yang pegang kunci gudang ini. Lha wong mayatnya ada di dalam
kok.”
Singkatnya Pakde
Karyo terus diinterogasi dan disuruh mengakui perbuatannya.
“Kalau dalam
dua hari ke depan kamu tidak mau mengakui perbuatanmu, jangan salahkan aku
kalau datang aparat ke rumahmu, Pakde Karyo!” ancam Kades Jumakir.
****
POV 1
Perkenalkan,
aku Darmo, usia 28 tahun ... tugasku mencatat hasil panen ... sering berdiri di samping Pakde Karyo saat
menimbang tembakau.
Tali di
leher juragan terikat simpul ganda, rumit, bukan simpul biasa buruh tembakau, aku
tahu betul bagaimana Pakde Karyo mengikat, ia ahli dalam mengikat simpul ganda.
Saat aku ikut
masuk ke gudang tadi, tercium juga bau minyak kelapa.
Aku melihat arloji
kerepyak Juragan Sastro berhenti di pukul 19.25, padahal ia biasa makan malam
pukul segitu.
Semua
petunjuk menjerumus ke arah Pakde Karyo ... satu yang pasti, sebab ia sering
memperbaiki tali, tangannya paling lihai soal simpul di depan timbangan.
****
Dua hari
kemudian.
“Pakde Karyo
kendat! Pakde Karyo kendat!” teriak satu warga berlari memberitahu kami yang
ada di dalam gudang.
Buru-buru
aku berlari menuju rumah Pakde Karyo diikuti oleh warga dan anak buah Juragan
Sastro yang lain.
****
Saat aku
sampai, Pakde Karyo kami temukan mencoba
gantung diri di rumahnya. Namun, ia selamat karena kami berusaha cepat untuk menurunkannya.
Pakde Karyo berusaha mengakhiri hidupnya sebelum petugas datang dan akan
menjebloskannya ke penjara.
“Dukno, Wong!
Alon-alon!”
Pakde Karyo
berhasil kami selamatkan. Napasnya pendek-pendek seperti orang yang akan mati.
Akan tetapi, sebelum ia pingsan, Pakde Karyo sempat berbisik di telingaku, “Aku
memang membenci juragan, tapi malam itu aku pulang sebelum magrib. Tolong aku, Mo.”
****
Malam itu
juga.
Aku menemui Ndoro
Ratri di dapur. Aku sudah biasa ... kebiasaanku keluar masuk rumah ini, sebab
aku mendapat tugas mencatat hasil panen tembakau dan harus melaporkannya kepada
Juragan Sastro. Jadi, aku tak merasa canggung bila harus menemui Ndoro Ratri di
dapur untuk pamit pulang.
“Ndoro,”
ucapku saat Ndoro Ratri tak kulihat di sana, dapur itu begitu sunyi, suasana
berduka jelas menyelimuti tiap sudutnya.
“Ndoro?”
ulangku.
“Ndoro!” Ucapanku
terhenti saat Mbok Girah, abdi pawon muncul dengan gendul bening berisi ....
Mbok Girah
tersenyum kaku. “Eh, Kowe, Mo.”
Buru-buru
aku mempertanyakan apa isi botol yang ia pegang. “Nopo niku, Mbok?”
“Iki?”
tanyanya menunjukkan gendul.
“Nggeh,
Mbok. Nopo niku!” kejarku penasaran.
“Yo, iki
lengo kelentik to, Mo,” balasnya dengan mengerutkan dahi, heran.
“Perempuan
desa memang selalu menggoreng pakai ini. Piye to kowe iki, Mo.”
“Ono opo to,
Mo?”
“Mo?”
“Eh, mboten,
Mbok. Kulo bade pamit wangsul,” balasku lalu meninggalkan Mbok Girah di dapur.
****
Satu
minggu kemudian.
Tanganku
kembali bergetar saat membuka lemari pakaian. Di bawah tumpukan baju aku simpan
uang pemberian Ndoro Ratri.
“Tugasmu
hanya itu, Mo. Ini uang untukmu,” kata Ndoro Ratri malam itu.
Ah! Aku
seperti dikejar-kejar dosa. Bahkan aku tak sanggup lagi berbohong kalau ... aku
... akulah yang menyelipkan anak kunci di saku celana Pakde Karyo saat
orang-orang mulai berkumpul di depan pintu gudang tembakau.
Juragan
Sastro sudah mati sebelum digantung. Racun dari cairan itu bila dicampur kopi
panas bisa menghentikan jantung tanpa bekas, dan hanya satu orang yang membuat
kopi untuk Juragan Sastro setiap sore ... bukan Pakde Karyo, bukan Mbok Girah, bukan
aku, tetapi istrinya sendiri, yaitu Ndoro Ratri.
Ndoro Ratri
membunuh Juragan Sastro di dapur.
“Bantu aku, Mo!”
Aku menyeret
tubuh Juragan Sastro ke gudang, mengikat lehernya dengan tali dan menyiramkan minyak
kelapa di sudut ruangan, tujuannya untuk menyamarkan bau racun yang dicampur
kopi di mulut mayat Juragan Sastro.
Pakde Karyo
sempurna sebagai tersangka sebab ia mahir mengikat, terlibat pertengkaran
dengan Juragan Sastro, dipukul di gudang ... semua begitu sempurna ... terlebih
peranku yang menyelipkan anak kunci di sakunya, membuat orang-orang jelas akan
menuduhnya.
****
Ndoro Ratri
membunuh suaminya bukan karena cemburu oleh perempuan lain, bukan pula karena
uang, tetapi karena warisan dosa.
Tiga bulan
sebelum kematian itu, Wening ... anak semata wayang mereka pingsan di kebun
tembakau. Aku yang menolongnya mengira ia kelelahan membantu panen. Namun, Ndoro
Ratri menemukan kenyataan yang jauh lebih kejam.
Ndoro Ratri
menceritakan padaku kalau Wening ... Wening hamil.
Bapak dari
anak yang ada di kandungan Wening … adalah Juragan Sastro sendiri.
Juragan
Sastro sering menggarap Wening saat Ndoro Ratri pergi untuk satu urusan, atau kadang Juragan Sastro
menyalurkan hasrat kepada anak tirinya itu di kebun tembakau saat sepi.
Aku sudah
lama bekerja untuk keluarga Juragan Sastro yang kerap gonta-ganti istri, aku
juga tahu kalau Juragan Sastro menyimpan tradisi kotor ... menggauli anak
tirinya. Itu kenapa istri-istri terdahulu pergi meninggalkan Juragan Sastro.
Anak
perempuan buruh yang menunggak utang juga tak luput dari syahwat juragan
tembakau itu. Ia akan dipanggil malam-malam ke rumah Juragan Sastro dengan
dalih pencatatan ulang perkara utang orang tuanya.
Semua orang
tua yang anaknya dipanggil juga tahu apa yang terjadi setelahnya, tetapi mereka
tak berani bersuara dan jalan akhir ditempuh adalah menggugurkan janin anak
perempuannya yang dihamili Juragan Sastro.
Tak ada yang
berani melapor, siapa melawan, lahannya ditarik. Begitu berkuasanya Juragan
Sastro.
Wening
menjadi korban terakhir.
Ndoro Ratri
menemukan botol obat penggugur kandungan di bawah kasur kapuk anaknya.
Malam itu
Juragan Sastro duduk santai menunggu kopi seperti biasa. Aku bergegas pergi
saat Ndoro Ratri datang dengan segelas kopi di tatakan lepek beling ... kopi
yang sudah dicampur racun paling mematikan!
Akulah yang mengambil
racun itu dari rumah seorang Acaraki, pesanan Ndoro Ratri.
****
Juragan
Sastro bukan sekadar orang kaya, ia adalah pemberi utang, penentu siapa boleh
menanam tembakau, pemilik gudang, orang yang bisa menarik lahan siapa pun hanya
dengan satu tanda tangan.
Di Gedongrejo,
nama Juragan Sastro tetap tertulis di batu nisan sebagai tokoh pelopor
tembakau.
Maafkan aku
yang telah berbohong, aku harap Pakde Karyo segera ditangkap dan diadili supaya
posisiku dan Kades Jumakir yang juga menerima uang dari Ndoro Ratri aman.
Kalau kamu
tanya di mana Ndoro Ratri dan Wening kini ... kujawab kalau mereka sudah pergi
dari Gedongrejo dan menuju ke sebuah tempat yang tak mungkin aku sebut. END
Dukung Pakde Noto di Trakteer

No comments:
Post a Comment