Dukung SayaDukung Pakde Noto di Trakteer

[Latest News][6]

abu nawas
abunawas
berbayar
Budaya
cerbung
cerkak
cerpen
digenjot
gay
hombreng
horor
hot
humor
informasi
LGBT
mesum
misteri
Novel
panas
puasa
sejarah
Terlarang
thriller

Labels

BESAN PART 1


“Saestu loh, Kang. La kulo ningali kiambak nek Yuk Girah andum katresnan teng gubuk kaleh Kang Dewo.” (Sungguh loh, Kang. La wong saya melihat sendiri kalau Yuk Girah memadu kasih di gubuk sawah dengan Kang Dewo).




Aku tak menimpali atau menanyakan kesungguhan kabar yang disampaikan oleh Mas Bagio, salah satu teman kerja di sawah Ndoro Kuswanoto.

“Kang Dewo iku besanku loh, Kang. Yo, opo mungkin bojoku ....” (Kang Dewo itu besanku loh, Kang. Ya, apa mungkin istriku ....).

“Hialah, Kang, Kang. Mboten kulo iiambak ingkang ningali, wonten Tumiji. Menawi Njenengan mboten percoyo, mang tanglet mawon kaleh Tumiji.” (Oalah, Kang, Kang. Bukan saya saja yang melihatnya, ada Tumiji. Kalau Anda tidak percaya silakan tanya saja dengan Tumiji).

Deg!

Hatiku bagai disiram api mendengarnya. Apa mungkin istriku diam-diam berselingkuh dengan besan kami sendiri? Sulit aku mempercayainya, tetapi aku tahu kalau Bagio tak mungkin akan membohongiku, apalagi ini urusan rumah tangga.

Angin bagai berhenti berembus, bumi kurasa berhenti berputar. Gulat batinku bertanya-tanya mungkinkah istriku telah selingkuh?

“Kang?”

Sejuta tanya merundung semesta batinku, aku mulai mengingat-ingat kecurigaanku akan kedekatan istriku dengan Kang Dewo, tetapi aku memang tak cukup awas untuk melihat hubungan gelap mereka.

“Kang, kok Njenegan lajeng ngalum to?” (Kang, Kok Anda malah melamun toh?).

Bahkan sikap Kang Dewo biasa-biasa saja terhadapku dan juga istriku, Ya, sikap yang ditunjukkan tak lebih dari seorang besan.

“Kang!”

“Eh, iyo, Kang. Piye?” (Eh, iya, Kang. Bagaimana?). Kontan aku kaget saat Bagio menepuk pundakku.

“Njenengan ampun mendel mawon. Pokoke Njenengan kedah mados bukti.” (Anda jangan diam saja, Pokoknya Anda harus mencari bukti).

Aku sungguh tak bisa berkata apa-apa, aku hanya bisa menatap mata Bagio yang memancarkan semburat kejujuran di sana.

 

****

 

BESAN 

 

Dua minggu kemudian.

“Ko endi kowe, Bu?”  (Dari mana, Bu?).

“Ngopo? Cemburu neh?” (Kenapa? Cemburu lagi?). Malah dibalas tanya oleh istriku.

“Wajar ora nek aku takon?”  (Wajar ‘kan kalau aku bertanya?), balasku.

“Embohlah, Pak!” (Entahlah, Pak!).

“Bu!”

Segera aku mengikutinya menuju ruang tengah.

“Metu nemoni Kang Dewo neh?” (Keluar menemui Kang Dewo lagi?), cecarku.

Istriku tak menjawab. Kulihat ia meletakkan bungkusan kelaras pisang ke atas meja.

“Nemoni Kang Dewo?” (Menemui Kang Dewo?), tanyaku lagi dan aku harap dugaanku salah.

“Pak, Kang Dewo kae besane dewe. Ngopo to Sampean kok iso-isone cemburu,” (Pak, Kang Dewo itu besan kita. Kenapa toh Anda kok bisa-bisanya cemburu), balas istriku.

“Yo, tapi iki wes gak lumrahe besan, Bu!” (Ya, tapi ini sudah tidak lumrahnya sebagai besan, Bu!), bentakku akhirnya.

“La terus karepe Sampean piye, he! Dadi besan aku kudu piye!” (Lalu mau Anda bagaimana, he! Jadi besan aku harus bagaimana!). Istriku malah balik membentak.

“Aku digonceng Lek Parmo, Sampean cemburu! Ngobrol karo Kang Dikum, Sampean cemburu! Terus aku kon piye, he? Kon piye!” (Aku dibonceng Lek Parmo, Anda cemburu! Berbicara dengan Kang Dikum, Anda cemburu! Lalu aku harus bagaimana, he! Bagaimana!).

Kini ia berkacak pinggang. “Sitik-sitik cemburu, sitik-sitik nesu! Wong wes tuwek wae kok cemburuan!” (Sedikit-sedikit cemburu, Sedikit-sedikit marah! Orang sudah tua saja kok cemburuan!).

Ia lantas meninggalkanku menuju kamar sambil merutuk.

Bila sudah begitu biasanya aku akan termenung sedih di bangku.

Jujur aku tak mau ribut dengan istriku, tetapi entah akhir-akhir ini aku merasa cemburu dengan besanku sendiri.

Ah! Aku benci situasi ini, aku benci dengan diriku sendiri.

Bila sudah begini maka istriku jelas tak mau tidur denganku. Buktinya aku mendengar ia masih merutuk dan menutup pintu kamar dengan keras.

Brak!

Ini bukan kali pertama dan situasi seperti ini kerap terjadi sejak aku percaya omongan Bagio sepekan lalu. Bila istriku marah, maka jelas jatahku tidur di luar.

Aku menoleh ke arah bungkusan yang ia bawa tadi.

Terusik hati ingin mengetahui apakah isinya iwel-iwel berisi gula merah kesukaanku.

Begitu plastik kubuka, jelas isinya adalah ... benar saja itu iwel-iwel.

“Ah!”

Yang menjadi masalah adalah bukan karena istriku peduli dan selalu pulang dengan jajan kesukaanku, tetapi aku mencurigai kalau ia diam-diam diantar oleh Kang Dewo.

Aku tidak selera menyentuhnya, pikiranku sedang kacau. Kubiarkan iwel-iwel itu di atas meja dan memutuskan untuk keluar.

 

****

Hatiku gamang, sejenak aku mendongak menatap bulan separuh sebagai hiasan malam yang digantung ditaburi kelip bintang-gemintang.

Bila pergi dengan orang lain aku tak begitu terbakar cemburu, tetapi bila istriku pergi dengan Kang Dewo, hati ini bagai tersiram api.

Bukan karena Kang Dewo yang punya perawakan gagah dan suka menggoda istriku, tetapi dugaanku ini kebalikannya.

Aku merasakan kalau diam-diam istriku itu suka dengan Kang Dewo, orang yang menjadi besan kami.

Ingin sekali menyalahkan perasaan ini, tetapi semakin aku berusaha untuk memadamkannya, semakin berkobar cemburu ini.

 

****

 

Tiga malam berikutnya.

“Kang, Surip. Ayo, bareng sisan.” Itu adalah  Mas Warto, tetangga yang terpisah tujuh rumah.

“Yuk Girah rewang to?” tanyanya setelah menghentikan kayuh pit ontel batangan.

“Enjih e, Mas,” (Iya, Mas), jawabku.

“Wes kene tak gonceng.” (Sudah ayo saya bonceng).

“La nopo mboten ngrepoti?” (Apa tidak merepotkan?).

“Yo, ora to, Kang. Wes to, ayo!” (Ya, tidak to, Kang. Sudah, ayo!).

Aku pikir lebih baik nunut Mas Warto saja untuk sampai di rumah Kang Dewo yang malam ini menggelar acara selamatan untuk mendiang orang tuanya.

Setelah membetulkan kupluk dan mencincing sarung, aku mbegagah di boncengan belakang.

Sesaat kemudian sepeda mulai dikayuh.

Jalanan yang kami lalui memang gelap. Aku melihat kalau warga sudah menutup pintu, mungkin karena malam ini semua berkumpul di rumah Kang Dewo.

Tidak ada percakapan di antara kami dan itu melambungkan anganku hingga rasa cemburu itu kembali menyala karena tidak seperti biasa istriku begitu banyak membawa becekan ke rumah besanku. Apakah aku yang berlebihan karena sudah terlanjur cemburu?

 

****

 

Pit ontel berhenti di halaman rumah besanku, halaman yang dari dulu tak pernah berubah, hanya satu batang alpukat keju yang kian menjulang di sisi kiri.

“Kulonuwun!” (Permisi!), salam Mas Warto.

Aku melihat Kang Dewo tersenyum semringah dengan membalasnya, “Monggo, monggo.” (Silakan, silakan).

Setelah Mas Warto menjabat tangan, kini giliranku yang menjabat tangan Kang Dewo.

Ingin sekali aku menampakkan sikap seperti dulu, sikap ramah layaknya seorang besan, tetapi mulutku rasanya rapat terkatup.

****

Acara selamatan yang dihadiri kurang lebih 40 warga kampung itu akhirnya selesai.

Aku memutuskan untuk pulang nanti saja bersama istriku yang terlihat sibuk membantu di dapur, sementara Kang Dewo masih terdengar bercakap-cakap dengan beberapa orang di halaman.

Rumah besanku ini masih sama, hanya perasaanku yang berubah. Rasanya aku ingin cepat pulang saja, tetapi istriku belum juga muncul.

Anakku yang bernama Hermanto adalah menantu Kang Dewo. Hermanto menikahi Sekar, putri Kang Dewo, dan selama itu hubunganku dengan besan bisa dibilang baik-baik saja. Kami bahkan saling berkunjung.

Aku memang tak gagah seperti besanku itu, tubuhku sedikit kurus, beda dengan Kang Dewo yang masih tegap dan gagah, wajahnya juga bisa dibilang ganteng dibanding aku, terlebih bibirnya dihias kumis tebal, sangat berbeda denganku.

Apakah itu yang membuat istriku akhirnya kepincut dengan besannya sendiri? Untuk meyakinkan itu aku tidak punya bukti, semua masih kecurigaanku saja.

Ingin sekali aku bertanya langsung dengan Kang Dewo, tetapi dari mana aku harus memulainya? Aku takut kalau ia malah tersinggung.

****

Aku masih sabar menunggu istriku.

Kurang lebih sudah 10 menit aku duduk dan istriku pun tak kunjung muncul.

Bosan menunggu, aku putuskan untuk keluar saja cari angin dengan duduk di bangku kayu panjang yang ada teras.

Akan tetapi, ketika baru sampai di ambang pintu aku melihat istriku dan Kang Dewo ada di samping rumah.

Sayup aku mendengar suara mereka seperti orang yang berbisik-bisik.

Kontan aku melangkah mundur untuk bersembunyi di sisi pintu seraya mendengarkan apa yang mereka bicarakan.

“Lapo gak nginep kene ae lo, Yu.” (Kenapa tidak menginap saja luh, Yu).

“Kapan-kapan mawon, Kang” (Kapan-kapan saja, Kang). Itu suara istriku.

“La kate diterno ta piye?” (Mau diantar apa bagaimana?).

“Mboten usah. Kersane kulo wangsul kaleh Kang Surip.” (Tidak usah. Biar saya pulang dengan Kang Surip).

“Mlaku?” (Jalan?).

“Hanggih to.” (Iya).

“Opo tak terno ae?” (Apa saya antar?).

“Mboten usah, Kang. Ajrih ngrepotaken Njenengan mangke.” (Tidak usah, Kang. Takut merepotkan Anda nanti).

“Halah! Kok koyok kambek sopo ae, Yu.” (Halah! Kok seperti dengan siapa saja, Yu).

Aku yang sudah curiga sebelumnya tak mendengar ada yang aneh.

“Pak! Pak!”

Aku segera keluar saat istriku memanggilku.

“Nginep kene ae lo, Kang. Sok isuk ae baleke,” (Menginap di sini saja, Kang. Besok pagi saja pulangnya), kata Kang Dewo kepadaku.

Aku tahu itu sekadar basa-basi dan aku menolak halus untuk segera pulang.

“Pamit, Kang!” (Permisi, Kang), ucapku ketus.

“Diterno kok gah.” (Diantar kok tidak mau).

“Kersane, Kang. Hangeh mboten tebeh kok,” (Biar, Kang. Tidak jauh kok), balas istriku.

“Wes ayo, Bu!” (Sudah ayo, Bu!).Bergegas aku mengajak istriku untuk segera pulang.

 

****

 

Sesampainya di rumah.

“Ngomong neng padangan iso to. Ngopo kudu neng petengan, he?” (Bicara di tempat yang terang bisa ‘kan. Kenapa harus di tempat yang gelap, he?).

“Ealah, Pak, Pak! Aku ki gur papasan karo Kang Dewo la terus wonge ngewei duit wujud roso ternuwune mergo aku wes rong dino rewang. Terus salahku neng ndi?” (Oalah, Pak, Pak! Aku ini hanya bertemu dengan Kang Dewo lalu orangnya memberiku uang sebagai tanda rasa terima kasihnya sebab aku sudah dua hari membantu masak. Lalu salahku di mana?).

“Ora lo. Rumangsaku Sampean iki cemburune pol karo Kang Dewo!” (Tidak loh. Perasaan Anda ini terlalu cemburu dengan Kang Dewo!).

“Aku ki gur takon, Bu. Ora usah nyente-nyete.” (Aku ini hanya bertanya, Bu. Tidak usah mencak-mencak).

“La terus saiki karepe Sampean iku piye, he? Sekirone nek wes gak sanggup nafkahi neh yo, pegaten wae aku!” (Lalu sekarang maunya Anda bagaimana, he? Kalau sudah tidak sanggup menafkahi ya, ceraikan saja aku!).

“Lo, lo, lo. Kok omonganmu malah mrono to, Bu!” (Loh, loh, loh. Kok bicaramu malah menjurus ke sana toh, Bu!).

“Weslah, Pak! Aku kesel, aku wes moh nek terus-terusan mbok curigai gendakan karo Kang Dewo. Aku ki ra ngopo-ngopo karo Kang Dewo!” (Sudahlah, Pak! Aku lelah, aku sudah tidak mau terus-terusan dicurigai selingkuh dengan Kang Dewo. Aku ini tidak ada apa-apa dengan Kang Dewo!).

“Wani opo!” (Sumpah demi apa!), tanyaku kesal.

“Saiki rungokno yo, Pak. Tak jalok mulai bengi iki Sampean ora usah nyurigai aku terus. Aku ki gak bakal gendakan, po meneh ningalne Sampean. Gelem tumindak ngono wes ket mbiyen Sampean tak tinggal. Ora migunani!” (Sekarang dengar ya, Pak. Aku minta mulai malam ini Anda tidak usah mencurigaiku terus. Aku ini tidak mungkin selingkuh, apalagi meninggalkan Anda. Mau bertindak seperti itu sudah dari dulu Anda aku tinggal. Tidak ada gunanya!).

Kontan aku terdiam. Kupikir-pikir ada benarnya ucapan istriku, tetapi ....

Ah! Kenapa aku selalu cemburu dengan besanku itu! Sulit sekali aku percaya dengan omongan istriku, sementara isi kepalaku selalu curiga dan cemburu.

Aku kembali termenung bila mengingat perjalanan rumah tanggaku sampai akhirnya kami kembali berdua saat anakku Hermanto pindah ke Pulau Andalas bersama istrinya untuk mengubah nasib.

Aku menoleh ke arah kamar.

Brak!

Sesaat kemudian aku mendengar isak tangis istriku.

Berusaha untuk memperbaiki keadaan, aku langsung menyusulnya.

“Bu?”

Aku melihat istriku tengkurap dengan tubuh terguncang.

“Bu, aku njalok sepuro,” (Bu, aku minta maaf), ucapku seraya duduk di tepi amben.

 

****

Hari pun berganti.

Aku berusaha untuk melewati hari seperti yang dulu, tanpa ada beban, tanpa rasa cemburu. Bukankah semua belum terbukti?

Aku tak mau menyiksa batinku dengan prasangka, bahkan aku tak menyelipkan selembar cemburu pun saat istriku tadi berpamitan akan ke rumah Ndoro Kuswanoto. Tenaganya diperlukan untuk membantu masak bagi para pekerja di rumah wong sugih itu, junjunganku, kawulo ageng yang terkenal tukang gonta-ganti istri itu.

Baru saja aku selesai menyiapkan cangkul, tiba-tiba besanku yang perempuan datang ke rumah.

“Eh, Yu. Ada perlu apa to. Kok ndengaren isuk-isuk wes sambang mrene ?” tanyaku saat melihat ia sudah berdiri di ambang pintu dengan rantang belirik di tangannya.

“Yu Girah ada, Kang?” tanyanya.

“Lo piye to. Sudah berangkat ke rumah Ndoro Kuswanoto, Yu. Onok opo toh?” tanyaku sedikit heran.

“Ini loh, Kang. Saya datang mengantar lauk,” ucapnya kemudian.

Yu Samiyem adalah besan perempuanku, ia tidaklah begitu cantik menurutku ... ya, seperti umumnya perempuan ndeso, bahkan cara berpakaiannya hanya menggunakan kebaya lurik serta sewek jarit, jauh beda dengan istriku yang kalau keluar selalu rapi dengan kerawangan yang ia sandang serta rambut yang selalu digelung pucung tagel.

“Oh, iya, Yu.” Aku gugup sejenak.

Aku melangkah bermaksud untuk menerimanya.

“Kang, selain itu ... kedatangan saya juga ingin menanyakan beberapa hal,” ujarnya kemudian.

“Perkara apa, nggeh?” Aku mengernyitkan dahi.

“Anu, Kang. Anu ... eh, sebenarnya saya sungkan untuk menanyakan ini, tetapi bagaimana, ya ....”

“Ladalah. Memangnya ada masalah apa toh?” tanyaku lalu meletakkan rantang belirik ke atas meja, sekalian mempersilakan Yuk Samiyem untuk duduk. “Monggo, Yu.”

“Sebelumnya saya minta maaf, Kang.” Yuk Samiyem mulai dengan maksudnya setelah duduk di bangku kayu.

Aku menyimak ucapannya, tetapi otakku berpikir kalau ini adalah hal serius karena belum pernah besanku ini berbicara empat mata denganku.

“Apakah Sampean melihat ada perubahan dengan Yuk Girah?”

“Perubahan? Perubahan dos pripun ... perubahan bagaimana maksudnya?” tanyaku balik. Benar-benar aku heran dengan pertanyaannya.

“Apakah Sampean juga mendengar tentang desas-desus itu?” ucapnya lagi yang membuat otakku berpikir kencang untuk menangkap apa maksud sebenarnya.

“Ini masalah apa, nggeh?” Jujur aku tak tahu maksud ucapannya.

“Kang Dewo dan Yu Girah, Kang.” Besanku itu lalu tertunduk.

Kontan aku bungkam. Aku tahu kini arah ucapannya.

“Kang Dewo selalu membanding-bandingkan saya dengan Yuk Girah.”

“Sebagai istrinya saya ini cemburu dan selalu bertanya-tanya. Ada apa sebenarnya hingga belakangan ini saya kerap dibanding-bandingkan dengan Yuk Girah.”

“Ah.” Aku menghela napas panjang. Aku yang telah berjanji akan melewati hari tanpa cemburu sepertinya akan berpikir ulang karena pengakuan besanku ini.

“Bahkan sikap Kang Dewo begitu dingin di atas tempat tidur.”

Deg!

Ditambah dengan pengakuan ini, dadaku seketika bergemuruh.

“Akhir-akhir ini saya jarang disentuh.” Kali ini aku melihat besanku itu mengembuskan napas berat.

“Setiap pulang, saya mencium bau pupur perempuan.”

Dadaku kian bergemuruh mendengar ceritanya. Aku hanya diam menyimak.

“Apa mungkin Yuk Girah ada main dengan Kang Dewo?”

“Tidak. Tidak mungkin istriku bertingkah begitu,” tampikku seketika sekadar untuk meyakinkan diriku sendiri kalau istriku tak mungkin selingkuh di belakangku, apalagi dengan besannya sendiri.

“Tapi, Kang ....”

“Tidak mungkin. Bukankah kita besan?” Aku mencoba memberikan fakta sebenarnya, meski hatiku mulai remuk mendengar cerita besanku itu.

“Saya juga berpikir seperti itu, Kang. Namun, sebagai istri, hati ini tidak bisa dibohongi kalau Kang Dewo sikapnya banyak berubah.”

Aku melihat ia memasang wajah murung seraya memegangi kepala.

“Apa kata orang nanti kalau Kang Dewo selingkuh dengan Yuk Girah, Kang.”

Aku tak bisa berucap apa-apa, mulutku katup karena isi kepalaku terus berputar-putar ... kian menguatkan kecurigaanku.

Aku melihat seketika tubuh besanku itu limbung.

“Yu!”

“Yu Samiyem!”

Kontan aku menangkap tubuh besanku yang nyaris jatuh dari bangku.

“Yu!”

Dalam pelukan aku melihat besanku terus memegangi kepala. “Aduh, Kang. Kepa ... kepalaku pusing.”

“Bangun, Yu.”

“Kepalaku pusing sekali, Kang.”

Panik meraja saat besanku belum juga kuat untuk menegakkan kepala.

Dengan susah payah aku memapahnya untuk berbaring di kamar saja, mengingat hanya ada satu kamar di rumahku.

“Palan-pelan, Yu. Pelan-pelan.” Aku mencoba membaringkan besanku yang sepertinya memang lemas. Mungkinkah ia sudah tidak kuat menanggung segala curiga terhadap suaminya, sama seperti aku yang mulai dibakar api cemburu.

“Yu, Sampean tidak apa-apa to?” tanyaku untuk meyakinkan keadaannya baik-baik saja.

“Oh, Kang. Kepalaku pusing sekali.”

Buru-buru aku ke dapur untuk mengambil minum.

 

****

Begitu sampai di dapur, cepat kutuang air dari ceret ke dalam cangkir ... kemudian bergegas untuk kembali ke kamar.

“Yu, minum dulu, Yu.” Seraya menyodorkan cangkir.

“Kepalaku, Kang. Ohhh.”

Aku jadi ragu antara membantunya untuk bersandar, tapi bila tidak kubantu, sampai kapan besanku bakal terus berada di kamarku. Bisa-bisa istriku cemburu bila mendadak ia pulang dan mengetahui ini.

“Oh, Kang.”

Kulihat besanku meremas-remas kasur kapuk yang ia tiduri.

“Yu?”

Sepertinya ia sangat kesakitan sekali.

Buru-buru aku menaruh cangkir ke atas meja yang ada tak jauh dari sampingku.

“Yu? Sampean tidak apa-apa to?” Kali ini aku melihat ia meremas jarit yang ia kenakan. Sungguh aku tak tahu harus berbuat apa. BERSAMBUNG KE PART 2

PAKDE NOTO

Baca juga cerita seru lainnya di Wattpad dan Follow akun Pakde Noto @Kuswanoto3.

No comments:

Post a Comment

Start typing and press Enter to search