BESAN PART 1
“Saestu loh, Kang. La kulo ningali kiambak nek Yuk Girah
andum katresnan teng gubuk kaleh Kang Dewo.” (Sungguh loh, Kang. La wong saya
melihat sendiri kalau Yuk Girah memadu kasih di gubuk sawah dengan Kang Dewo).
Aku tak menimpali atau menanyakan kesungguhan kabar yang
disampaikan oleh Mas Bagio, salah satu teman kerja di sawah Ndoro Kuswanoto.
“Kang Dewo iku besanku loh, Kang. Yo, opo mungkin bojoku
....” (Kang Dewo itu besanku loh, Kang. Ya, apa mungkin istriku ....).
“Hialah, Kang, Kang. Mboten kulo iiambak ingkang ningali,
wonten Tumiji. Menawi Njenengan mboten percoyo, mang tanglet mawon kaleh
Tumiji.” (Oalah, Kang, Kang. Bukan saya saja yang melihatnya, ada Tumiji. Kalau
Anda tidak percaya silakan tanya saja dengan Tumiji).
Deg!
Hatiku bagai disiram api mendengarnya. Apa mungkin istriku
diam-diam berselingkuh dengan besan kami sendiri? Sulit aku mempercayainya,
tetapi aku tahu kalau Bagio tak mungkin akan membohongiku, apalagi ini urusan
rumah tangga.
Angin bagai berhenti berembus, bumi kurasa berhenti berputar.
Gulat batinku bertanya-tanya mungkinkah istriku telah selingkuh?
“Kang?”
Sejuta tanya merundung semesta batinku, aku mulai
mengingat-ingat kecurigaanku akan kedekatan istriku dengan Kang Dewo, tetapi
aku memang tak cukup awas untuk melihat hubungan gelap mereka.
“Kang, kok Njenegan lajeng ngalum to?” (Kang, Kok Anda malah
melamun toh?).
Bahkan sikap Kang Dewo biasa-biasa saja terhadapku dan juga
istriku, Ya, sikap yang ditunjukkan tak lebih dari seorang besan.
“Kang!”
“Eh, iyo, Kang. Piye?” (Eh, iya, Kang. Bagaimana?). Kontan
aku kaget saat Bagio menepuk pundakku.
“Njenengan ampun mendel mawon. Pokoke Njenengan kedah mados
bukti.” (Anda jangan diam saja, Pokoknya Anda harus mencari bukti).
Aku sungguh tak bisa berkata apa-apa, aku hanya bisa menatap
mata Bagio yang memancarkan semburat kejujuran di sana.
****
BESAN
Dua minggu kemudian.
“Ko endi kowe, Bu?” (Dari mana, Bu?).
“Ngopo? Cemburu neh?” (Kenapa? Cemburu lagi?). Malah dibalas
tanya oleh istriku.
“Wajar ora nek aku takon?” (Wajar ‘kan kalau aku bertanya?), balasku.
“Embohlah, Pak!” (Entahlah, Pak!).
“Bu!”
Segera aku mengikutinya menuju ruang tengah.
“Metu nemoni Kang Dewo neh?” (Keluar menemui Kang Dewo
lagi?), cecarku.
Istriku tak menjawab. Kulihat ia meletakkan bungkusan kelaras
pisang ke atas meja.
“Nemoni Kang Dewo?” (Menemui Kang Dewo?), tanyaku lagi dan
aku harap dugaanku salah.
“Pak, Kang Dewo kae besane dewe. Ngopo to Sampean kok
iso-isone cemburu,” (Pak, Kang Dewo itu besan kita. Kenapa toh Anda kok
bisa-bisanya cemburu), balas istriku.
“Yo, tapi iki wes gak lumrahe besan, Bu!” (Ya, tapi ini sudah
tidak lumrahnya sebagai besan, Bu!), bentakku akhirnya.
“La terus karepe Sampean piye, he! Dadi besan aku kudu piye!”
(Lalu mau Anda bagaimana, he! Jadi besan aku harus bagaimana!). Istriku malah
balik membentak.
“Aku digonceng Lek Parmo, Sampean cemburu! Ngobrol karo Kang
Dikum, Sampean cemburu! Terus aku kon piye, he? Kon piye!” (Aku dibonceng Lek
Parmo, Anda cemburu! Berbicara dengan Kang Dikum, Anda cemburu! Lalu aku harus
bagaimana, he! Bagaimana!).
Kini ia berkacak pinggang. “Sitik-sitik cemburu, sitik-sitik
nesu! Wong wes tuwek wae kok cemburuan!” (Sedikit-sedikit cemburu, Sedikit-sedikit
marah! Orang sudah tua saja kok cemburuan!).
Ia lantas meninggalkanku menuju kamar sambil merutuk.
Bila sudah begitu biasanya aku akan termenung sedih di bangku.
Jujur aku tak mau ribut dengan istriku, tetapi entah
akhir-akhir ini aku merasa cemburu dengan besanku sendiri.
Ah! Aku benci situasi ini, aku benci dengan diriku sendiri.
Bila sudah begini maka istriku jelas tak mau tidur denganku.
Buktinya aku mendengar ia masih merutuk dan menutup pintu kamar dengan keras.
Brak!
Ini bukan kali pertama dan situasi seperti ini kerap terjadi
sejak aku percaya omongan Bagio sepekan lalu. Bila istriku marah, maka jelas
jatahku tidur di luar.
Aku menoleh ke arah bungkusan yang ia bawa tadi.
Terusik hati ingin mengetahui apakah isinya iwel-iwel berisi
gula merah kesukaanku.
Begitu plastik kubuka, jelas isinya adalah ... benar saja itu
iwel-iwel.
“Ah!”
Yang menjadi masalah adalah bukan karena istriku peduli dan
selalu pulang dengan jajan kesukaanku, tetapi aku mencurigai kalau ia diam-diam
diantar oleh Kang Dewo.
Aku tidak selera menyentuhnya, pikiranku sedang kacau.
Kubiarkan iwel-iwel itu di atas meja dan memutuskan untuk keluar.
****
Hatiku gamang, sejenak aku mendongak menatap bulan separuh
sebagai hiasan malam yang digantung ditaburi kelip bintang-gemintang.
Bila pergi dengan orang lain aku tak begitu terbakar cemburu,
tetapi bila istriku pergi dengan Kang Dewo, hati ini bagai tersiram api.
Bukan karena Kang Dewo yang punya perawakan gagah dan suka
menggoda istriku, tetapi dugaanku ini kebalikannya.
Aku merasakan kalau diam-diam istriku itu suka dengan Kang
Dewo, orang yang menjadi besan kami.
Ingin sekali menyalahkan perasaan ini, tetapi semakin aku
berusaha untuk memadamkannya, semakin berkobar cemburu ini.
****
Tiga malam berikutnya.
“Kang, Surip. Ayo, bareng sisan.” Itu adalah Mas Warto, tetangga yang terpisah tujuh
rumah.
“Yuk Girah rewang to?” tanyanya setelah menghentikan kayuh
pit ontel batangan.
“Enjih e, Mas,” (Iya, Mas), jawabku.
“Wes kene tak gonceng.” (Sudah ayo saya bonceng).
“La nopo mboten ngrepoti?” (Apa tidak merepotkan?).
“Yo, ora to, Kang. Wes to, ayo!” (Ya, tidak to, Kang. Sudah,
ayo!).
Aku pikir lebih baik nunut Mas Warto saja untuk sampai di
rumah Kang Dewo yang malam ini menggelar acara selamatan untuk mendiang orang
tuanya.
Setelah membetulkan kupluk dan mencincing sarung, aku mbegagah
di boncengan belakang.
Sesaat kemudian sepeda mulai dikayuh.
Jalanan yang kami lalui memang gelap. Aku melihat kalau warga
sudah menutup pintu, mungkin karena malam ini semua berkumpul di rumah Kang
Dewo.
Tidak ada percakapan di antara kami dan itu melambungkan
anganku hingga rasa cemburu itu kembali menyala karena tidak seperti biasa
istriku begitu banyak membawa becekan ke rumah besanku. Apakah aku yang
berlebihan karena sudah terlanjur cemburu?
****
Pit ontel berhenti di halaman rumah besanku, halaman yang
dari dulu tak pernah berubah, hanya satu batang alpukat keju yang kian
menjulang di sisi kiri.
“Kulonuwun!” (Permisi!), salam Mas Warto.
Aku melihat Kang Dewo tersenyum semringah dengan membalasnya,
“Monggo, monggo.” (Silakan, silakan).
Setelah Mas Warto menjabat tangan, kini giliranku yang
menjabat tangan Kang Dewo.
Ingin sekali aku menampakkan sikap seperti dulu, sikap ramah
layaknya seorang besan, tetapi mulutku rasanya rapat terkatup.
****
Acara selamatan yang dihadiri kurang lebih 40 warga kampung
itu akhirnya selesai.
Aku memutuskan untuk pulang nanti saja bersama istriku yang
terlihat sibuk membantu di dapur, sementara Kang Dewo masih terdengar
bercakap-cakap dengan beberapa orang di halaman.
Rumah besanku ini masih sama, hanya perasaanku yang berubah.
Rasanya aku ingin cepat pulang saja, tetapi istriku belum juga muncul.
Anakku yang bernama Hermanto adalah menantu Kang Dewo.
Hermanto menikahi Sekar, putri Kang Dewo, dan selama itu hubunganku dengan
besan bisa dibilang baik-baik saja. Kami bahkan saling berkunjung.
Aku memang tak gagah seperti besanku itu, tubuhku sedikit
kurus, beda dengan Kang Dewo yang masih tegap dan gagah, wajahnya juga bisa
dibilang ganteng dibanding aku, terlebih bibirnya dihias kumis tebal, sangat
berbeda denganku.
Apakah itu yang membuat istriku akhirnya kepincut dengan
besannya sendiri? Untuk meyakinkan itu aku tidak punya bukti, semua masih
kecurigaanku saja.
Ingin sekali aku bertanya langsung dengan Kang Dewo, tetapi
dari mana aku harus memulainya? Aku takut kalau ia malah tersinggung.
****
Aku masih sabar menunggu istriku.
Kurang lebih sudah 10 menit aku duduk dan istriku pun tak
kunjung muncul.
Bosan menunggu, aku putuskan untuk keluar saja cari angin
dengan duduk di bangku kayu panjang yang ada teras.
Akan tetapi, ketika baru sampai di ambang pintu aku melihat
istriku dan Kang Dewo ada di samping rumah.
Sayup aku mendengar suara mereka seperti orang yang berbisik-bisik.
Kontan aku melangkah mundur untuk bersembunyi di sisi pintu
seraya mendengarkan apa yang mereka bicarakan.
“Lapo gak nginep kene ae lo, Yu.” (Kenapa tidak menginap saja
luh, Yu).
“Kapan-kapan mawon, Kang” (Kapan-kapan saja, Kang). Itu suara
istriku.
“La kate diterno ta piye?” (Mau diantar apa bagaimana?).
“Mboten usah. Kersane kulo wangsul kaleh Kang Surip.” (Tidak
usah. Biar saya pulang dengan Kang Surip).
“Mlaku?” (Jalan?).
“Hanggih to.” (Iya).
“Opo tak terno ae?” (Apa saya antar?).
“Mboten usah, Kang. Ajrih ngrepotaken Njenengan mangke.”
(Tidak usah, Kang. Takut merepotkan Anda nanti).
“Halah! Kok koyok kambek sopo ae, Yu.” (Halah! Kok seperti
dengan siapa saja, Yu).
Aku yang sudah curiga sebelumnya tak mendengar ada yang aneh.
“Pak! Pak!”
Aku segera keluar saat istriku memanggilku.
“Nginep kene ae lo, Kang. Sok isuk ae baleke,” (Menginap di
sini saja, Kang. Besok pagi saja pulangnya), kata Kang Dewo kepadaku.
Aku tahu itu sekadar basa-basi dan aku menolak halus untuk
segera pulang.
“Pamit, Kang!” (Permisi, Kang), ucapku ketus.
“Diterno kok gah.” (Diantar kok tidak mau).
“Kersane, Kang. Hangeh mboten tebeh kok,” (Biar, Kang. Tidak
jauh kok), balas istriku.
“Wes ayo, Bu!” (Sudah ayo, Bu!).Bergegas aku mengajak istriku
untuk segera pulang.
****
Sesampainya di rumah.
“Ngomong neng padangan iso to. Ngopo kudu neng petengan, he?”
(Bicara di tempat yang terang bisa ‘kan. Kenapa harus di tempat yang gelap,
he?).
“Ealah, Pak, Pak! Aku ki gur papasan karo Kang Dewo la terus
wonge ngewei duit wujud roso ternuwune mergo aku wes rong dino rewang. Terus
salahku neng ndi?” (Oalah, Pak, Pak! Aku ini hanya bertemu dengan Kang Dewo
lalu orangnya memberiku uang sebagai tanda rasa terima kasihnya sebab aku sudah
dua hari membantu masak. Lalu salahku di mana?).
“Ora lo. Rumangsaku Sampean iki cemburune pol karo Kang Dewo!”
(Tidak loh. Perasaan Anda ini terlalu cemburu dengan Kang Dewo!).
“Aku ki gur takon, Bu. Ora usah nyente-nyete.” (Aku ini hanya
bertanya, Bu. Tidak usah mencak-mencak).
“La terus saiki karepe Sampean iku piye, he? Sekirone nek wes
gak sanggup nafkahi neh yo, pegaten wae aku!” (Lalu sekarang maunya Anda
bagaimana, he? Kalau sudah tidak sanggup menafkahi ya, ceraikan saja aku!).
“Lo, lo, lo. Kok omonganmu malah mrono to, Bu!” (Loh, loh,
loh. Kok bicaramu malah menjurus ke sana toh, Bu!).
“Weslah, Pak! Aku kesel, aku wes moh nek terus-terusan mbok
curigai gendakan karo Kang Dewo. Aku ki ra ngopo-ngopo karo Kang Dewo!”
(Sudahlah, Pak! Aku lelah, aku sudah tidak mau terus-terusan dicurigai
selingkuh dengan Kang Dewo. Aku ini tidak ada apa-apa dengan Kang Dewo!).
“Wani opo!” (Sumpah demi apa!), tanyaku kesal.
“Saiki rungokno yo, Pak. Tak jalok mulai bengi iki Sampean
ora usah nyurigai aku terus. Aku ki gak bakal gendakan, po meneh ningalne
Sampean. Gelem tumindak ngono wes ket mbiyen Sampean tak tinggal. Ora
migunani!” (Sekarang dengar ya, Pak. Aku minta mulai malam ini Anda tidak usah
mencurigaiku terus. Aku ini tidak mungkin selingkuh, apalagi meninggalkan Anda.
Mau bertindak seperti itu sudah dari dulu Anda aku tinggal. Tidak ada
gunanya!).
Kontan aku terdiam. Kupikir-pikir ada benarnya ucapan
istriku, tetapi ....
Ah! Kenapa aku selalu cemburu dengan besanku itu! Sulit
sekali aku percaya dengan omongan istriku, sementara isi kepalaku selalu curiga
dan cemburu.
Aku kembali termenung bila mengingat perjalanan rumah
tanggaku sampai akhirnya kami kembali berdua saat anakku Hermanto pindah ke
Pulau Andalas bersama istrinya untuk mengubah nasib.
Aku menoleh ke arah kamar.
Brak!
Sesaat kemudian aku mendengar isak tangis istriku.
Berusaha untuk memperbaiki keadaan, aku langsung menyusulnya.
“Bu?”
Aku melihat istriku tengkurap dengan tubuh terguncang.
“Bu, aku njalok sepuro,” (Bu, aku minta maaf), ucapku seraya
duduk di tepi amben.
****
Hari pun berganti.
Aku berusaha untuk melewati hari seperti yang dulu, tanpa ada
beban, tanpa rasa cemburu. Bukankah semua belum terbukti?
Aku tak mau menyiksa batinku dengan prasangka, bahkan aku tak
menyelipkan selembar cemburu pun saat istriku tadi berpamitan akan ke rumah
Ndoro Kuswanoto. Tenaganya diperlukan untuk membantu masak bagi para pekerja di
rumah wong sugih itu, junjunganku, kawulo ageng yang terkenal tukang
gonta-ganti istri itu.
Baru saja aku selesai menyiapkan cangkul, tiba-tiba besanku
yang perempuan datang ke rumah.
“Eh, Yu. Ada perlu apa to. Kok ndengaren isuk-isuk wes
sambang mrene ?” tanyaku saat melihat ia sudah berdiri di ambang pintu dengan
rantang belirik di tangannya.
“Yu Girah ada, Kang?” tanyanya.
“Lo piye to. Sudah berangkat ke rumah Ndoro Kuswanoto, Yu. Onok
opo toh?” tanyaku sedikit heran.
“Ini loh, Kang. Saya datang mengantar lauk,” ucapnya kemudian.
Yu Samiyem adalah besan perempuanku, ia tidaklah begitu
cantik menurutku ... ya, seperti umumnya perempuan ndeso, bahkan cara
berpakaiannya hanya menggunakan kebaya lurik serta sewek jarit, jauh beda
dengan istriku yang kalau keluar selalu rapi dengan kerawangan yang ia sandang
serta rambut yang selalu digelung pucung tagel.
“Oh, iya, Yu.” Aku gugup sejenak.
Aku melangkah bermaksud untuk menerimanya.
“Kang, selain itu ... kedatangan saya juga ingin menanyakan
beberapa hal,” ujarnya kemudian.
“Perkara apa, nggeh?” Aku mengernyitkan dahi.
“Anu, Kang. Anu ... eh, sebenarnya saya sungkan untuk
menanyakan ini, tetapi bagaimana, ya ....”
“Ladalah. Memangnya ada masalah apa toh?” tanyaku lalu
meletakkan rantang belirik ke atas meja, sekalian mempersilakan Yuk Samiyem
untuk duduk. “Monggo, Yu.”
“Sebelumnya saya minta maaf, Kang.” Yuk Samiyem mulai dengan
maksudnya setelah duduk di bangku kayu.
Aku menyimak ucapannya, tetapi otakku berpikir kalau ini
adalah hal serius karena belum pernah besanku ini berbicara empat mata
denganku.
“Apakah Sampean melihat ada perubahan dengan Yuk Girah?”
“Perubahan? Perubahan dos pripun ... perubahan bagaimana
maksudnya?” tanyaku balik. Benar-benar aku heran dengan pertanyaannya.
“Apakah Sampean juga mendengar tentang desas-desus itu?”
ucapnya lagi yang membuat otakku berpikir kencang untuk menangkap apa maksud
sebenarnya.
“Ini masalah apa, nggeh?” Jujur aku tak tahu maksud
ucapannya.
“Kang Dewo dan Yu Girah, Kang.” Besanku itu lalu tertunduk.
Kontan aku bungkam. Aku tahu kini arah ucapannya.
“Kang Dewo selalu membanding-bandingkan saya dengan Yuk
Girah.”
“Sebagai istrinya saya ini cemburu dan selalu bertanya-tanya.
Ada apa sebenarnya hingga belakangan ini saya kerap dibanding-bandingkan dengan
Yuk Girah.”
“Ah.” Aku menghela napas panjang. Aku yang telah berjanji
akan melewati hari tanpa cemburu sepertinya akan berpikir ulang karena
pengakuan besanku ini.
“Bahkan sikap Kang Dewo begitu dingin di atas tempat tidur.”
Deg!
Ditambah dengan pengakuan ini, dadaku seketika bergemuruh.
“Akhir-akhir ini saya jarang disentuh.” Kali ini aku melihat
besanku itu mengembuskan napas berat.
“Setiap pulang, saya mencium bau pupur perempuan.”
Dadaku kian bergemuruh mendengar ceritanya. Aku hanya diam
menyimak.
“Apa mungkin Yuk Girah ada main dengan Kang Dewo?”
“Tidak. Tidak mungkin istriku bertingkah begitu,” tampikku seketika
sekadar untuk meyakinkan diriku sendiri kalau istriku tak mungkin selingkuh di
belakangku, apalagi dengan besannya sendiri.
“Tapi, Kang ....”
“Tidak mungkin. Bukankah kita besan?” Aku mencoba memberikan
fakta sebenarnya, meski hatiku mulai remuk mendengar cerita besanku itu.
“Saya juga berpikir seperti itu, Kang. Namun, sebagai istri,
hati ini tidak bisa dibohongi kalau Kang Dewo sikapnya banyak berubah.”
Aku melihat ia memasang wajah murung seraya memegangi kepala.
“Apa kata orang nanti kalau Kang Dewo selingkuh dengan Yuk
Girah, Kang.”
Aku tak bisa berucap apa-apa, mulutku katup karena isi
kepalaku terus berputar-putar ... kian menguatkan kecurigaanku.
Aku melihat seketika tubuh besanku itu limbung.
“Yu!”
“Yu Samiyem!”
Kontan aku menangkap tubuh besanku yang nyaris jatuh dari bangku.
“Yu!”
Dalam pelukan aku melihat besanku terus memegangi kepala.
“Aduh, Kang. Kepa ... kepalaku pusing.”
“Bangun, Yu.”
“Kepalaku pusing sekali, Kang.”
Panik meraja saat besanku belum juga kuat untuk menegakkan
kepala.
Dengan susah payah aku memapahnya untuk berbaring di kamar
saja, mengingat hanya ada satu kamar di rumahku.
“Palan-pelan, Yu. Pelan-pelan.” Aku mencoba membaringkan
besanku yang sepertinya memang lemas. Mungkinkah ia sudah tidak kuat menanggung
segala curiga terhadap suaminya, sama seperti aku yang mulai dibakar api
cemburu.
“Yu, Sampean tidak apa-apa to?” tanyaku untuk meyakinkan
keadaannya baik-baik saja.
“Oh, Kang. Kepalaku pusing sekali.”
Buru-buru aku ke dapur untuk mengambil minum.
****
Begitu sampai di dapur, cepat kutuang air dari ceret ke dalam
cangkir ... kemudian bergegas untuk kembali ke kamar.
“Yu, minum dulu, Yu.” Seraya menyodorkan cangkir.
“Kepalaku, Kang. Ohhh.”
Aku jadi ragu antara membantunya untuk bersandar, tapi bila
tidak kubantu, sampai kapan besanku bakal terus berada di kamarku. Bisa-bisa
istriku cemburu bila mendadak ia pulang dan mengetahui ini.
“Oh, Kang.”
Kulihat besanku meremas-remas kasur kapuk yang ia tiduri.
“Yu?”
Sepertinya ia sangat kesakitan sekali.
Buru-buru aku menaruh cangkir ke atas meja yang ada tak jauh
dari sampingku.
“Yu? Sampean tidak apa-apa to?” Kali ini aku melihat ia meremas jarit yang ia kenakan. Sungguh aku tak tahu harus berbuat apa. BERSAMBUNG KE PART 2
Dukung Pakde Noto di Trakteer

No comments:
Post a Comment