SUMINTEN EDAN
Cerita diambil pada masa Majapahit saat diperintah oleh Prabu
Brawijaya. Jauh to?
Benar, Lur. Kamu pakde ajak ke masa silam lewat cerita ini.
Cerita ini dikemas dalam kemasan storytelling dan semoga kamu tidak bosan,
nggeh.
Sudah lama pakde tidak mendongeng di genre sejarah untukmu,
terakhir di cerita Sumelang Gandring, cerita tentang Keris Empu Gandring yang
merenggut 7 nyawa keturunan Ken Arok.
Cerita Sumelang Gandring sebenarnya sudah pakde tulis sampai meninggalnya
Gajah Mada yang misterius, penuh konspirasi, tetapi sudah mengendap di folder
dan ketumpuk dengan cerita-cerita yang pakde tulis.
Kini pakde come back menulis cerita sejarah lagi ... cerita
yang sudah tak asing bagimu, yang ringan-ringan saja biar kamu gak bosan.
Kamu sudah rebahan? Kalau sudah mari kita mulai! 30 cm ya
jarak layar dari mata, biar kamu gak kena penyakit mata ... mata duitan.
(Koprol).
****
Dalam suatu pisowanan Prabu Brawijaya mendapat laporan dari adipatinya.
“Hamba, Yang Mulia. Keamanan wilayah kita tengah terancam oleh sekelompok begal
yang dipimpin oleh Warok Suro Gento, anak dari orang sakti bernama Suro
Bangsat.”
“Rombongan begal ini bermarkas di Gunung Pegat. Warok Suro
Gento juga mulai menyebar beberapa anak buahnya ke sejumlah wilayah untuk
merampas harta benda para pedagang yang sedang melakukan perjalanan, Yang
Mulia.”
Sebagai pelindung rakyat, Prabu Brawijaya tanggap keadaan dan
cepat bertindak loh, Lur. “Laporanmu aku terima,” ucap Prabu Brawijaya.
Bangga pakde kalau punya raja model begini, cepat dan tanggap
terhadap sesuatu yang meresahkan, beda dengan pejabat Negeri Konoha, kalau gak
viral gak gerak!
Lanjut, Lur.
Singkat cerita, Adipati tersebut lantas surut undur setelah
menjura hormat di hadapan Prabu Brawijaya.
****
Setelah mendapat laporan dari beberapa adipati, melalui
seorang Gandeng, Prabu Brawijaya mengirim surat pada orang kepercayaannya yakni
Adipati Notokusumo, pemimpin Trenggalek untuk menyelesaikan permasalahan
tersebut.
Tahukah kamu apa itu Gandeng? Adalah seorang yang bertugas
mengantarkan surat dari sebuah kerajaan. Pak Pos kalau bahasamu, biar gampang.
“Antar layangku ini kepadanya.”
“Baik, Yang Mulia.”
Berangkatlah Gandeng ini membawa surat yang ditujukan kepada
Adipati Notokusumo, Lur.
****
Singkat cerita.
Usai menerima surat dari Prabu Brawijaya, Adipati Notokusumo
segera menyebarkan sayembara ke berbagai penjuru Trenggalek.
Adipati Notokusumo ini termasuk orang yang patuh terhadap
junjungannya, Lur. Tak heran ia segera bertindak sesuai isi surat, memintanya
untuk segera meredam kekacauan yang ditimbulkan oleh Warok Suro Gento and the
gank!
“Barang siapa saja yang bisa menaklukkan para begal Gunung
Pegat akan mendapat imbalan yang setimpal!” Begitu isi sayembara tersebut, Lur.
****
Begitu sayembara disebar, maka datanglah satu kontestan audisi
yang bernama Warok Guno Seco.
Setelah mengisi formulir pendaftaran di meja panitia,
bergegas ia menghadap Adipati Notokusumo.
“Silakan diperkenalkan dari mana dan siapa namamu?” ucap
Adipati Notokusumo.
“Hamba Guno Seco.”
“Mau nyanyi lagu apa, ha?”
Tidak, tidak, Lur. Itu tadi hanya guyon audisi sayembara
Trenggalek Idol. 😁
Yuk serius lagi. Tadi itu biar kamu tidak bosan karena
tulisan ini membutuhkan beberapa menit untuk kamu baca.
Pokoknya begitulah, Lur, Warok Guno Seco lantas menghadap
sang adipati.
“Seperti isi sayembara, hamba sanggup menyudahi keresahan
rakyat, sekaligus menangkap Warok Suro Gento!” ujar Warok Guni Seco jemawa.
“Ha ha ha. Yakin kamu, ha!” ejek Adipati Notokusumo kurang
yakin.
“Hamba yakin. Bila hamba berhasil menangkap Warok Guno Seco,
apa imbalan yang akan hamba terima?”
Adipati Notokusumo menjawab, “Siapa saja yang bisa menangkap
Warok Suro Gento and the gank, maka ia berhak atas hadiah yang telah aku
janjikan!”
Makin penasaran dong si Warok Guno Seco ini.
“Siapa saja yang bisa menangkap Warok Suro Gento maka anak
perempuannya akan aku nikahkan dengan anakku yang bernama Raden Subroto,” jelas
Adipati Notokusumo lagi.
Nah! Jelas ya, Lur. Kalau anak Adipati Notokusumo ini
laki-laki, bernama Raden Subroto. Yang tidak punya anak perempuan maka sia-sia
saja ikut sayembara ini. Ya, gak mungkinlah yang punya anak laki-laki ikut
sayembara, lha wong hadiahnya adalah anak lelaki juga, nanti kamu komen
eljibiti lagi.
Oh, iya, Lur. Awalnya pakde tertarik mau ikut sayembara ini,
tetapi kalau hadiahnya anak lelaki, pakde tidak ikut, Lur. Pakde kira hadiahnya
uang tunai dan voucher belanja, eh malah hadiahnya Raden Subroto. Apaan coba.
“Memang pakde bisa mengalahkan Warok Suro Gento and the gank?”
E, e, e. Jangan menghina to kamu ini, pakde juga punya
jurus-jurus ampuh untuk melawan Warok Suro Gento loh. Pak RT, secara orang
nomor satu di lingkungan pakde saja minggir dalam persaingan memperebutkan
janda kidul kali itu, apalagi hanya menghadapi begal. Beuh ... pakdemu kok
dilawan. 😁
Ah! sudahlah, Lur. Males bahas Pak RT, bawaannya pingin misuh
saja kalau ingat wajahnya! Mari kita lanjut ke ceritanya saja.
Mendengar kalau hadiah utama dari pemenang sayembara adalah
anak lelaki Adipati Notokusumo, otomatis Warok Guno Seco tersenyum culas!
“Aha! Ini kesempatan bagus! Bila aku bisa memenangkan
sayembara dan membawa Warok Suro Gento ke hadapan adipati, maka derajatku akan
naik. Aku ‘kan punya anak perempuan. Tentu aku akan menjadi besan sang adipati.
Ha ha ha,” batin Warok Guno Seco.
“Apa lagi yang kamu tunggu! Cepat bawa Warok Suro Gento
menghadapku!” bentak Adipati Notokusumo mengagetkan.
“Baik, Adipati. Hamba pamit dan secepatnya kembali dengan
membawa Warok Suro Gento, tetapi bolehkan hamba membawa beberapa prajurit milik
Adipati untuk mengepung Gunung Pegat?”
“Hem. Baik, tetapi buktikan omonganmu kalau kamu bisa membawa
Warok Suro Gento ke hadapanku!”
“Pasti hamba laksanakan!”
Keluarlah Warok Guno Seco dari ruang audisi dengan senyum
yang terus tersungging, Lur.
“Sebentar lagi aku akan menjadi besan sang adipati. Akan
kunikahkan anakku dengan Raden Subroto. Ha ha ha.” Begitulah mimpi-mimpi Warok
Guno Seco setelah meninggalkan ruang audisi.
Warok Guno Seco kian bersemangat untuk melaksanakan titah
Adipati Notokusumo, tentu saja karena ia akan segera menjadi besan penguasa
Trenggalek yang dicintai rakyatnya itu, Lur.
Bagaimana, Lur? Adil bukan? Kalau Adipati Notokusumo sangat
menginginkan begal yang meresahkan itu segera ditangkap, maka sah dong bila
Warok Guno Seco juga menginginkan derajat dengan menjadi besannya.
****
Sepeninggal Warok Guno Seco.
Adipati Notokusumo lantas memanggil kepala pasukan kadipaten
dan memerintahkannya untuk turut serta dalam penangkapan Warok Suro Gento yang
dipimpin oleh Warok Guno Seco.
“Pimpin pasukanmu, bergabunglah dengan Warok Guno Seco dan tolong
sampaikan pula pesanku kepada sang prabu kalau aku butuh bantuan prajurit
istana.”
“Sendiko, Adipati,” balas kepala pasukan menjura.
****
Beralih ke tempat lain.
Gunung Pegat bukan hanya dikenal sebagai hunian jin, peri,
pereyangan, eluk-eluk, dan Banaspati, tetapi sebagai sarang gerombolan begal yang
dipimpin oleh Warok Suro Gento, auranya begitu angker dan menakutkan loh, Lur.
Tahu tidak, Lur? Sejak Warok Suro Gento menguasai Gunung
Pegat, banyak orang tak berani melewati sejumlah jalan di kaki gunung itu, baik
siang maupun malam karena sangat ketakutan. Kebayang to bagaimana kejamnya
begal-begal yang menghuni gunung ini?
Orang-orang yang tinggal di sekitar Gunung Pegat bahkan
mengungsi ke tempat lain loh untuk mendapatkan kenyamanan dan keamanan dari
ulah Warok Suro Gento and the gank ini, Lur.
Pokoknya sebegitunyalah rombongan begal pimpinan Warok Suro
Gento, sudah kayak ormas yang meresahkan warga, gak guna. Ups!
Wes ayo next, Lur.
****
Siang itu Suro Gento sedang bersama dengan beberapa anak
buahnya. Mereka sedang menghitung penghasilan yang diperoleh dari usahanya
membegal, merampas, dan merampok.
“Dapat berapa hari ini, ha!” tanya Warok Suro Gento dengan
berkacak pinggang.
“Lumayanlah, Bos. Kali ini kita dapat banyak. Ha ha ha.”
“Gua tadi malak di warung Koh Bok An, Bos,” timpal satu anak
buahnya yang punya biji satu gede satu kecil.
“Aelah! Kayak gua dong! Gua malak pedagang-pedagang kaki
lima,” ucap yang lain dengan mengelus-elus jenggotnya.
Warok Suro Gento dan anak buahnya begitu senang karena jumlah
yang didapat semakin lama semakin banyak, Lur.
“Ha ha ha. Kerja bagus! Besok kita rampas semua harta benda
warga, dengan begitu kita akan kaya raya! Ha ha ha,” gelak tawa Warok Suro
Gento.
“Usul, Bos. Bagaimana kalau kita rampok warga dengan alasan
pajak. Pasti kita akan kaya raya, Bos. Ha ha ha.”
“Ha ha ha.”
Akan tetapi kesenangan mereka tiba-tiba rusak saat tiba-tiba
Warok Guno Seco ... “Hai, Gento! Menyerahlah. Tempat ini sudah kami kepung!”
“Weladalah! Sopo koe, ha! Berani sekali kamu menyuruhku!”
jawab Warok Suro Gento yang berperawakan tegap dengan pasang wajah garang.
“Aku datang dengan titah adipati kalau kau harus
menghadapnya. Kau telah membuat keonaran di wilayah Trenggalek!” balas Warok
Guno Seco.
“Menghadap adipati? Wani piro, ha? Ha ha ha.”
“Ikut denganku menghadap adipati atau tempat ini akan kami
ratakan dengan tanah, Suro Gento!”
“Heleh! Opo dikiro aku wedi, ha!” balas Warok Suro Gento.
“Kurang ajar!” geram Warok Guno Seco lantas memberi perintah
kepada prajurit sang adipati. “Tanggap begal-begal sialan itu!”
“Habisi mereka!” balas Warok Suro Gento tak mau kalah gertak,
Lur.
Dalam sekejap pasukan gabungan Majapahit dan Trenggalek
menyerbu. Suara senjata tajam berdenting saling adu.
Ting!
Teng!
Trak!
Dengan kekuatan seadanya Warok Suro Gento and the gank terus
memberikan perlawanan kepada pasukan gabungan yang dipimpin oleh Warok Guno
Seco.
“Hiat!”
Jleb!
“Ciattt!”
Tring!
“Gak kena. Wek!” ledek anak buah Warok Suro Gento.
“Kampret! Mati lu bego!” bentak prajurit pimpinan Warok Guno
Seco.
“Dih, maksa!”
“Bacot!” geram anak buah Warok Guno Seco. “Dalam sejarah lu
harus mati, Bloon!”
“Ya entar napa sih matinya! Perang dulu yuk, ah.”
“Hayuk! Maju lu!”
“Napa jadi gua. Lo duluan gih!”
Jual beli serangan kemudian terjadi, Lur.
Des!
“Ough!”
Kedua belah pihak sama-sama terlatih dalam olah kanuragan.
****
Pertarungan terus terjadi, kedua kubu sama-sama alot dalam
bertahan dan menyerang, Lur.
“Hiat!”
“Kena lo, ha!”
“Kagak. Wek!”
Pertarungan terus terjadi sampai matahari telah menggelincir,
sebagian anak buah Warok Suro Gento telah berjatuhan di tanah dengan raga tak
bernyawa.
Bruk!
“Apa kata gua. Mati kan lu? Ha ha ha.”
Sebagian anak buah Warok Suro Gento akhirnya berhasil
ditangkap oleh prajurit gabungan Majapahit dan Trenggalek, Lur.
****
Mari kita fokus pada pertarungan Warok Guno Seco vs Warok
Suro Gento.
Menyisakan pemimpin kedua belah pihak saling adu, Warok Suro
Gento melawan Warok Guno Seco.
Kira-kira kamu jagoin siapa, Lur?
“Hiat!”
Wuss!
Keduanya menggunakan usus-usus (tali kolor khas warok)
saktinya untuk melumpuhkan lawan loh, Lur.
Wuss!
“Kurang ajar!”
Eits! Warok Suro Gento dibuat pontang-panting menghindari
serangan Warok Guno Seco.
“Akan kubunuh dan tamatlah nyawamu Gento!” hardik Warok Guno
Seco.
“Lambe turah! Gak gampang koyok mlorotno kolor nek kate
mateni awakku, Seco!” balas Warok Suro Gento.
“Kau telah membuat resah rakyat dan sudah seharusnya sepak terjangmu
aku akhiri, Gento.”
“Cih!” balas Warok Suro Gento meludah. “Pemerintah iko seng
kudu awakmu obrak-abrik mergo kebijakane nyusahno rakyat! Dasar Buzer pemerintah!”
“Banyak bacot kau, Gento. Hiatttt!”
Jurus demi jurus mematikan terus dilancarkan oleh Warok Guno
Seco untuk melumpuhkan Warok Suro Gento, Lur.
“Hat!”
Kibasan usus-usus bak pedang bermata dua, menyasar ke segala
arah, Lur.
Ke arah kepala.
Wuss!
Ke arah dada.
Wuss!
Ke arah selangkangan.
Wuss!
Merasa belum bisa melumpuhkan Warok Suro Gento, jurus
pamungkas kini digunakan oleh Warok Guno Seco.
“Hiattttt!”
Warok Suro Gento kini mulai kerepotan, terlebih ketika
terkena sabetan di bagian kaki sehingga serasa lumpuh, Lur. Nah! Mampus ‘kan?
Wuss!
Bet!
“Akh!” Warok Suro Gento berteriak melengking.
Akibat terkena sabetan tali, Warok Suro Gento menjadi sulit
bergerak dengan lincah.
“Ha ha ha. Kau seperti anak tikus yang tak bisa ke mana-mana,
Gento!”
“Aku bersumpah akan membunuhmu, Seco!” balas Warok Suro Gento
dengan meringis kesakitan.
“Persetan! Mampus kau, Gento! Terimalah jurus pamungkasku.
Hiaaat!”
Kali ini Warok Guno Seco tak main-main, jurus andalan
disertai sabetan usus-usus terus menyerang Warok Suro Gento.
Wuss!
Des!
Membuat Warok Suro Gento akhirnya roboh!
Bruk!
Warok Suro Gento akhirnya harus mengakui kehebatan lawannya.
“Ikat dan bawa dia!” perintah Warok Guno Seco kepada prajurit
saat melihat Warok Suro Gento hanya merintih kesakitan tanpa bisa berdiri.
Begitulah, Lur. Akhirnya Warok Suro Gento dirangket dan
dibawa untuk dihadapkan pada Adipati Notokusumo.
****
Beralih ke pendopo Trenggalek.
Wajah Adipati Notokusumo tampak semringah begitu mengetahui
Warok Guno Seco berhasil merangket pimpinan Begal Gunung Pegat, siapa lagi coba
kalau bukan Warok Suro Gento.
“Penjarakan dia!” perintah Adipati Notokusumo tanpa mau
basa-basi lagi, Lur.
Apakah Trenggalek aman setelah Warok Suro Gento ditangkap dan
dijebloskan ke penjara, Lur?
Jangan ke mana-mana karena cerita akan pakde lanjutkan minggu
depan ... eh, tidak, Lur. Langsung pakde lanjut kok.
Bagaimana? Apakah kamu capek dan bosan membaca? Ini belum
seberapa loh, Lur. Pakde saja bisa membaca satu buku yang isinya ratusan
halaman tentang alat reproduksi. Eh, Loh kok. Aduh!
Kalau belum bosan ayo lanjut ke ceritanya lagi.
****
Setelah Warok Suro Gento dipenjara, Warok Guno Seco segera
menagih janji Adipati Notokusumo. Secara dulu pas audisi ‘kan dijanjikan
hadiahnya begitu. Masih ingat toh kamu, Lur?
“Tidak usah khawatir. Aku pasti akan menepati janjiku padamu,”
jawab Adipati Notokusumo.
Makin mengembang senyum Warok Guno Seco mendengarnya. “Yes!
Aku bakal jadi besan adipati bentar lagi. Ha ha ha.”
Akhirnya dengan disaksikan beberapa petinggi, Adipati
Notokusumo memberikan hadiah yang telah dijanjikannya kepada Warok Guno Seco,
orang yang telah memenangkan sayembara dengan berhasil menangkap Warok Suro
Gento, Lur.
Tahu tidak, Lur? Bukan hanya harta benda yang jumlahnya
melebihi ... pokoknya jumlahnya banyak dan grand prize pernikahan Raden Subroto
anak lelaki Adipati Notokusumo dengan anak perempuan Warok Guno Seco.
“Anakku akan aku nikahkan dengan anakmu, Guno Seco. Aku tak
mungkin ingkar janji,” kata Adipati Notokusumo.
“Terima kasih, Adipati,” balas Warok Guno Seco seraya
menyembah hormat.
Dengan begitu, apa yang diinginkan oleh Warok Guno Seco
segera terlaksana, Lur. Bila anak perempuannya menikah dengan anak lelaki
Adipati Notokusumo maka ia akan menjadi besan orang nomor satu di Kadipaten
Trenggalek. Otomatis derajat Warok Guno Seco terangkat. Iyo to, Lur. Cerdik
juga ya, ‘kan?
Gak usah heran, Lur. Zaman dulu memang anak perempuan itu
menderita, sering dijadikan hadiah.
Di kerajaan-kerajaan lain juga begitu kok, Lur. Kalau ada sayembara
pasti hadiahnya, “Kalau perempuan akan kujadikan istri, kalau laki-laki ...
istrinya akan aku jadikan istri.”
Bercanda kok, Lur. Kalau laki-laki bakal dijadikan saudara.
Sudah siap lanjut ke ceritanya?
Yuk kalau sudah siap.
****
Pokoknya selain memberikan hadiah kepada Warok Guno Seco
karena sudah memenangkan kontes ... eh, sayembara maksud pakde, Adipati
Notokusumo juga mengadili Warok Suro Gento si begal di persidangan kadipaten,
Lur.
Karena Suro Gento telah berjanji untuk tidak melakukan
perbuatan jahat lagi di wilayah Trenggalek dan sekitarnya bahkan seluruh
kekuasaan Majapahit, di persidangan Adipati Notokusumo memberikan pengampunan,
terlebih setelah mengetahui bahwa Warok Suro Gento ternyata adik seperguruan
Warok Guno Seco. Astaga! Plot twis apa ini, Woi. Jadi, memang begitu, Lur. Ternyata
Warok Suro Gento ini masih adik kelas Warok Guno Seco di perguruan. Bahasa gampangnya
begitu.
Loh! Apa-apaan ini! Tidak bisa, tidak bisa begitu. Pokoknya
pakde tidak setuju. Enak saja! Kok kayak di Negeri Konoha, asal berkelakuan
baik maka ringan hukumannya, apalagi masih bau-bau saudara. Tidak bisa!
Pokoknya tidak bisa! (Nangis guling-guling)
Akan tetapi, itu memang terjadi kok, Lur. Tidak Majapahit
tidak Negeri Konoha, pokoknya asal jujur dan berjanji tidak akan melakukan
kejahatan lagi maka dapat pengampunan. Ah, payah!
Wes ayo lanjut, Lur. Hukum memang selalu begitu sejak dulu
kala. Mengecewakan!
“Mengingat dan seterusnya ... menimbang dan seterusnya ....”
Singkatnya sidang pun dibubarkan setelah ketok palu.
Tok! Tok! Tok!
“Warok Suro Gento bebas tanpa syarat!”
****
Kita tinggalkan persidangan yang mengecewakan itu. Sejenak beralih
kepada Warok Guno Seco yang berhasil memenangkan sayembara.
Warok Guno Seco pulang untuk memberitahukan kabar bahagia
pada anaknya kalau ia akan segera dinikahkan dengan anak sang adipati yang
bernama Raden Subroto.
Siapa anak Warok Guno Seco, Lur. Tahu tidak? Hayo tahu tidak?
Anak perempuan Warok Guno Seco adalah ... eng, ing, eng.
Siapa coba?
Benar sekali, Lur. Anak Warok Guno Seco adalah Roro Suminten
atau yang kamu kenal dari film atau kisah-kisah populer dengan sebutan Suminten.
“Nduk! Nduk!” teriak Warok Guno Seco seraya melangkah masuk.
“Nduk!”
Tidak ada sahut jawab, suasana rumah terasa lengang.
“Nduk!”
Dari pintu belakang muncul Suminten, rambut dikepang dua.
“Nduk, ada kabar baik buatmu. Kamu akan bapak nikahkan dengan
Raden Subroto, anaknya Adipati Notokusumo dalam 40 hari ke depan,” kata Warok
Guno Seco kepada Suminten tiba-tiba.
Kamu tahu apa reaksi Suminten mendapat kabar begitu, Lur?
“Ha! Serius?” tanya Suminten mengernyitkan dahi.
“Ya, serius to, Nduk. Mau to kamu?”
“Tapi, Pak ...”
“Apa lagi yang membuatmu ragu, ha? Calon suamimu itu anaknya
adipati, ganteng, putih, dan punya tahi lalat di paha. Yang pasti bapaknya
punya jabatan dan banyak harta ... bukan mokondo.”
“Cepet amat, Pak. Suminten loh belum mengenalnya. Bukankah
cinta harus ....”
Dipotong lagi oleh Warok Guno Seco, “Halah! Cinta bisa tumbuh
setelah malam pertama!”
“Kok menjurus ke situ sih omongannya, Pak.”
“Lalu apa yang membuatmu ragu, he? Bapak sudah berjuang demi
masa depanmu, berjuang untuk ....”
Gantian dipotong oleh Suminten, “Bukankah dia yang harus
berjuang untuk mendapatkan cinta Suminten, Pak?”
“Kamu itu kalau bapak bilangin malah kayak Suprihatin yang belum
kawin. Mau kamu jadi perawan tua kayak dia, ha. Pokoknya dalam 40 hari ke depan
kamu bakal bapak nikahkan sama Raden
Subroto itu!”
“Suprihatin itu punya prinsip, belum mau nikah buru-buru, mengejar
karier. Lagian Suminten belum mengenal ... siapa sih ... oh, iya ... Mas Broto
itu, Pak. Mana mungkin Sumi ....”
“Pokoknya kamu harus menikah dengan Raden Subroto. Titik!” Warok
Guno Seco lantas meninggalkan Suminten yang kini mendadak dirundung dilema. BERSAMBUNG.
****
Itu tadi perkenalan singkat karena konflik baru saja dimulai
dengan tokoh utama kita, yaitu Suminten yang akan dinikahkan dengan Raden
Subroto, Lur.
Sudah tidak asing sekarang dengan lakon ini? Halah! Lakon ini
banyak dibawakan pada ketoprak dan ludruk kok, Lur. Pakde hanya kasih detail di
awal cerita biar kamu makin paham sejarah, bagaimana asal usul cerita Suminten
Edan yang populer itu.
Tenang, Lur. Pakde janji kamu gak bakal bosan dengan cerita
Suminten Edan karena pakde akan mengemasnya berbeda, tetapi tidak membelokkan
sejarah kok.
Minggu depan pakde hadir dan akan menggelar cerita
lanjutannya di mana kita akan fokus pada AADC antara Cinta dan Rangga ... eh, maksud
pakde Suminten dan Raden Subroto dalam Suminten Edan The Series Episode 2 dengan
judul: “Buruan Cium Gue”.
Tidak, Lur. Itu tadi hanya bercanda kok. He he he.
“Yah. Lama dong minggu depan, Pakde.”
Pakde butuh revisi cerita sebelum dihadirkan di postingan,
Lur. Mbok ya kamu ngertiin pakde dikit napa to? Pakde harus koreksi lagi alur,
ejaan, memasukkan jiwa pakde sebagai narator biar terkesan mendongeng untukmu,
biar kamu tidak merasa dicekoki sejarah, dan membosankan dalam membaca.
Wes ngono ae. Sampai jumpa di episode berikutnya ngeh, Lur.
Dukung Pakde Noto di Trakteer
.jpg)
No comments:
Post a Comment