MAUT MALAM NATAL
Udara dingin
menusuk tulang, membawa serta aroma pinus dan sedikit asap dari
cerobong-cerobong rumah yang ada di kota kecil bernama Havenwood. Salju tebal menutupi atap-atap rumah, membuat
malam menjelang Natal terasa damai.
Di dalam
Gereja St, Jude, paduan suara anak-anak sedang menyanyikan Malam Kudus, suara
mereka yang jernih memantul di dinding Gereja.
Lilin-lilin
berkedip lembut di sekeliling altar, menerangi lukisan-lukisan kaca patri yang
menceritakan kisah Natal.
Sementara
itu, di gudang penyimpanan Gereja yang jarang dipakai dan penuh barang-barang
usang, percik api kecil mulai menari.
Elias,
seorang remaja canggung yang bertugas membantu mendekorasi ruangan Gereja dalam
menyambut Natal, mencoba menyalakan pemantik tua untuk menghangatkan tangannya
yang beku akibat dingin salju. Ia baru saja selesai menata beberapa tumpukan
jerami kering untuk adegan Kandang Natal ... tetapi Elias lupa membersihkan
sisa-sisa jerami .
Klik ...
klik ....
Pemantik itu
menyala, mengeluarkan api kecil yang berkedip.
Elias
menghela napas lega, mendekatkan tangannya pada nyala api. Tanpa disadarinya,
sehelai jerami kering yang terselip di lengan jaketnya jatuh ke lantai, tepat
di samping tumpukan jerami lainnya ... api dari pemantik Elias tidak sengaja
menyentuh jerami yang jatuh itu.
Mulanya
hanya asap tipis yang mengepul, hampir tak terlihat dalam kegelapan gudang.
Namun, dalam hitungan detik digantikan oleh lidah api oranye yang menjalar
cepat.
Wuush!
Api melahap
jerami kering lalu memuntahkan asap tebal yang pedih.
Elias
terkesiap, matanya membelalak ketakutan. Ia mencoba memadamkannya dengan
kakinya.
Bleg! Bleg!
Dengan
tangannya.
Blak! Blak!
Akan tetapi,
api itu sudah terlalu besar! Rasa panik melanda Elias. "Tidak!
Tidak!"
Api menjalar
ke kotak-kotak kayu tua.
Gratak ...
gratak ....
Ke kain-kain
usang.
Gratak ...
gratak ....
Naik ke
langit-langit gudang.
Suara
retakan kayu mulai terdengar, beradu dengan suara nyanyian anak-anak dari ruangan
di sebelahnya.
Seketika aroma
pinus digantikan oleh bau hangus yang menyengat.
Dalam
keputusasaan, Elias menjatuhkan pemantik peraknya dan lari keluar gudang.
Elias
berlari sekuat tenaga menembus salju, menjauh dari cahaya oranye yang mulai
menerobos jendela-jendela kecil gudang.
Tak lama
setelah itu teriakan pecah. Bukan lagi lagu Natal, melainkan jeritan kepanikan.
Kobaran api
yang awalnya kecil kini menjulang tinggi, membelah malam yang tenang.
Menara
lonceng Gereja Bethlehem, yang berdiri kokoh selama berabad-abad, mulai
mengeluarkan asap dan anak-anak yang tadi bernyanyi, kini terperangkap dalam
kepungan api.
Malam itu,
St. Jude bukan lagi gereja, bukan lagi rumah Tuhan, melainkan tungku raksasa.
“Tolonggg!”
“Tolong buka
pintunya!”
“Panas ...
panas! Tolong kami!”
Buam!
Gratak ...
gratak!
Api kian
berkobar.
Gratak ...
gratak!
“Tolonggg!”
“Tolong buka
pintunya!”
“Siapa pun
... tolong kami!”
Dari
kejauhan, di balik pohon pinus Elias berdiri mematung. Tangannya menggenggam
pemantik perak yang masih panas. Dia melihat siluet tangan-tangan kecil yang
menggedor jendela sebelum akhirnya kaca itu hancur dan suara jeritan tertelan
gemuruh runtuhnya atap gereja. Malam Natal yang putih seketika berubah menjadi
hitam legam oleh abu manusia.
****
INTRO DULU.
Pakde
mengucapkan, ‘Selamat Natal dan Tahun Baru bagi yang merayakan. Semoga penuh
damai dan sukacita.
“Gak boleh gitu,
Pakde. Orang Muslim gak boleh mengucapkan selamat Natal. Haram loh!”
Halah. ‘Gorengan
panas tahunan!’. Di lingkungan pakde banyak orang beda agama selain Islam ...
ada Kristen, banyak juga orang Bali (Hindu).
Tiap merayakan
lebaran mereka juga datang berkunjung untuk silaturahmi ke rumah pakde, lantas
haram hukumnya kalau pakde mengucapkan selamat Natal sebagai bentuk toleransi
beragama, ha?
Mengucapkan selamat
Natal tidak mengurangi iman pakde. Sesama umat beragama sudah barang tentu
pakde harus toleran kepada agama lain ... kalau kamu kekeh itu haram ... biar
menjadi urusan pakde dengan Allah. Gak usah memasak menu tahunan dengan
menggoreng bahan ‘mengucapkan selamat Natal adalah haram’.
Pakde di
sini hidup berdampingan dengan agama lain. Banyak Pura dan canang, banyak
tetangga tiap minggu pergi ibadah ke Gereja, dan pakde selalu berkunjung kala sahabat
merayakan Galungan atau Natal ... sebagai bentuk kami saling toleransi dan
menghargai.
Orang
Kristen dan Hindu juga datang melayat kok saat ada orang Muslim meninggal ...
tak lebih rasa saling menghargai.
“Pakde loh
kalau dibilangin ngeyel!”
Tetap iman
kok, gak akan masuk agama yang teman-teman pakde yakini, hanya saling toleran
saja.
Wes gak usah
dibahas lagi. Capek dibentur-benturkan soal agama.
Pakde itu selalu
terharu saat tetangga ujung rumah merayakan Galungan, datang ke rumah membawa
makanan dan buah-buahan. “Kang, ini daging sapi, bukan babi. Sengaja saya
menyuruh orang Islam yang memasaknya, perabotnya juga sudah tentu juah dari
najis ... agar Sampean dan teman-teman Muslim bisa ikut makan saat Galungan.” Demi
apa coba? Demi sebuah toleransi sesama umat beragama. Terenyuh gak kalau sudah
begitu, ha!
Astaga ... enteng
sekali bibirmu bilang haram!
Pakde tidak
ikut merayakan Galungan dengan memasang penjor, dan tak pernah menghias rumah
dengan pohon Natal saat Natalan tiba, hanya turut mengucapkan sebagai bentuk
toleransi kok.
“Iya, juga
sih, De, tetapi ....”
We to, wes
to! Gak usah digawe angel. Kalau kamu hidup di lingkungan yang seluruhnya
Muslim gak apa-apa. Beda pakde yang hidup di desa dengan berdampingan agama
Kristen dan Hindu serta adat-istiadatnya. Kalau pakde salah, pakde mohon maaf,
ya.
Prinsip
pakde tetap, ‘Bagimu agamamu, dan bagiku adalah agamaku. Titik!
“Pingin deh
kayak Pakde, punya prinsip dan gak gampang kegoreng. Cerita apa ini, De. Tema Natal,
ya?” (mendadak lunak karena ada maunya).
Ya, tema Natal
...!
“Dih, gak
usah ketus juga kali, De!”
Siapa yang ketus!
“Ada plot
twistnya gak?”
Ada.
“Asyik. Gas,
ah, Pakde.”
Hem ....
“Yang tadi
gak usah diambil hati. Cuma kata orang-orang begitu kok.”
Lalu?
“Ya, cuma gitu.
Kok jadi sensi, sih! Lanjut gak ha ceritanya!”
Kok kamu yang
galak!
“Ya, maaf
yang tadi, ih!”
Salim dulu.
“Iya, iya,
maaf.”
****
25
Desember 2025.
15 tahun
berlalu sudah, Lur. Di kota kecil Havenwood yang selalu tertutup salju, malam
Natal bukan hanya tentang kado, melainkan tentang lonceng yang terdengar saat pukul
00.00, tengah malam. Nah loh!
Rumornya,
siapa pun yang mendengar lonceng Gereja tua berdentang tepat pada tengah malam,
akan didatangi sosok yang sering disebut Sang Pemberi. Sosok yang datang bukan
untuk memberikan kado, tetapi datang untuk kebenaran.
“Seharusnya ‘kan
Sinterklas. Ya, ‘kan?”
Itu kalau di
cerita tetangga sebelah, di sini beda, Neti. Beda!
“Iya, sih!
Gak usah marah-marah napa, ih! Dah ah, lanjut!”
Semua orang di
kota Havenwood tahu rumor ini, rumor tentang lonceng Gereja yang berdentang, padahal
Gereja itu sudah kosong sejak kebakaran hebat lima belas tahun silam ...
kebakaran yang menewaskan seluruh orang dan anak-anak di malam Natal ... yang ada
di dalam Gereja St, Jude.
Masih ingat
cerita pembuka tadi? Nah itu dia, tentang orang yang bernama Elias yang tak
sengaja membakar Gereja itu loh, Lur. Paham kan alur ceritanya sampai sini?
Masih awal loh ini. Mosok kamu gak paham.
Kalau sudah
paham, mari kita lanjut!
Next!
****
Di tepi Kota
Havenwood .
Elias duduk
sendirian di depan perapiannya yang mulai meredup. Di pangkuannya ada sebuah
kotak kayu kecil yang terkunci rapat.
Siapa yang
tak tahu Elias, ha? Elias sekarang adalah pria paling dihormati di kota Havenwood,
seorang dermawan yang membangun kembali Gereja St, Jude setelah tragedi
kebakaran besar lima belas tahun silam. Iya, lah wajar. Kebakaran itu ‘kan
karena kecerobohan Elias muda ... lima belas tahun lalu. Ya, to, Lur?
Di depan
perapian, Elias duduk dengan tangan gemetar. Bukan tanpa sebab, Elias sudah 14
kali didatangi sosok Sang Pemberi ditambah jam di dinding menunjukkan pukul
23.58.
Satu menit berlalu ... Elias ini masih duduk dengan terus
memegang erat kotak kayu di pangkuannya, Lur.
****
Pukul 23.59.
Dada Elias
kian berdegup, ia yakin akan mendengar suara lonceng itu lagi untuk ke lima
belas kali ... tepat pada malam Natal tahun ini.
Tiba-tiba listrik
di seluruh rumahnya padam.
Tep!
Elias tak
bergeming, ia sudah hafal dengan tanda kalau Sang Pemberi akan segera datang
menemuinya, Lur.
Kini yang
ada hanya keheningan yang mencekam menyelimuti ruangan, menyisakan suara deru
angin di balik jendela.
Hitungan
detik ... menuju tepat tengah malam, Elias berjalan menuju jendela, menatap
menara gereja tua yang menghitam di kejauhan.
Ketika jam di
dinding menunjukkan tepat pukul 00.00 ... lonceng itu terdengar di telinganya.
Teng ... teng
... teng ...!
Elias
menghitungnya dengan napas tersengal, “Satu ... dua ....” Hingga .... “Dua belas ....”
Mendadak pintu
depannya terbuka perlahan tanpa suara kunci diputar.
Krek ....
Buru-buru
Elias kembali duduk sambil terus memangku kotak kayu saat tiba-tiba muncul seorang
pria jangkung tanpa wajah ... dengan jubah malaikat maut berwarna merah yang
sangat kusam, hampir terlihat seperti warna darah kering. Dialah Sang Pemberi
... sosok yang datang tepat tengah malam, datang menemui siapa saja yang
mendengar suara lonceng Gereja, Lur.
Kan Elias
mendengar lonceng itu, otomatis Sang Pemberi menemuinya. Begitu ceritanya, Lur.
“Berarti di
tempat lain ... kalau ada orang yang juga mendengar suara lonceng itu juga akan
didatangi sosok Sang Pemberi, Pakde?”
Bodo!
“Dih, marah
dia.”
Bisa gak
fokus ke Elias saja, ha! Kayak petugas Sensus ya kamu ini lama-lama. Banyak
tanya!
“Yaelah, De.
Orang cuma tanya juga, ih!”
Lanjut gak ,
ha!
“Iya, iya,
Lanjut! Dikit-dikit marah, heran juga sama aki-aki satu ini.”
Bisa tidak
gak usah ngerecokin orang lagi cerita, ha! Kasihan yang lain, Neti!
“Iya, iya! (Bersedekap,
cemberut).
Maaf ya,
Lur, anak tetangga pakde yang satu ini memang ... ah, sudahlah!
Mari lanjut
ke ceritanya Elias.
Sampai mana
tadi ... ‘kan sampai lupa pakde.
Oh, iya. Sampai
sosok yang disebut Sang Pemberi masuk dan menemui Elias yang duduk sambil memangku
kotak kayu.
"Kau
datang untuk mengambil kado ini?" ucap Elias seperti berbisik. "Aku
sudah menyiapkannya selama lima belas tahun," imbuhnya.
Sang Pemberi
tidak menjawab. Ia hanya menunjuk ke kotak kayu.
“Baik,” kata
Elias seolah paham akan maksud Sang Pemberi.
Elias
membukanya dengan tangan bergetar ... sangat perlahan-lahan loh, Lur.
Begitu kotak
kayu terbuka ... hayo tebak apa isinya, Lur?
Benar
sekali. Di dalamnya bukan emas atau permata, melainkan sebuah pemantik api
perak dengan inisial nama yang sudah pudar.
Sebelum pakde
lanjut, apakah kamu masih ingat benda pemantik? Yap! Fokuskan pada lima belas
tahun silam, fokus pada Elias dan benda yang akhirnya menghanguskan Gereja dan
anak-anak itu, Lur.
Tolong fokus
... fokus ... dan fokus. Bayangkan kejadian lima belas silam lalu. Ya, fokus. Dalam
hitungan ketiga, kamu merasa seakan-akan .... (Pakde pakai baju Romy Rafael). 😁
“Ada kaitannya,
De? Ah, jangan-jangan ini jebakan alias terasi busuk ... biar kami mencium
aroma dan setelahnya pakde akan mengecoh kami di ending cerita ‘kan?”
He he he. Secara pakde ‘kan penulis thriller yang kuat akan plot twist. Saat
kamu mulai bisa mengendus alur ceritanya, pakde bakal tikung!
Wes ayo,
lanjut!
"Aku
tidak sengaja malam itu," isak Elias tiba-tiba.
"Aku
hanya melakukan pekerjaanku di Gereja. Tidak ada maksud untuk membakarnya.” Ada
yang mengalir di kedua sudut mata Elias.
“Asal kamu
tahu ... semua orang menganggap diriku pahlawan karena setelahnya kejadian lima
belas tahun lalu ... aku menyumbangkan hartaku untuk membangun Gereja itu
kembali, tetapi itu semua karena rasa bersalah," terang Elias mengakui
dengan rasa bersalah.
Elias lantas
berlutut, menangis tersedu-sedu. "Ambillah nyawaku sebagai ganti nyawa
mereka yang hilang lima belas lalu. Aku sudah siap," ucap Elias lagi
dengan isak yang tertahan
Sang Pemberi
akhirnya melangkah maju ... berhenti tepat di hadapan Elias yang masih berlutut,
Lur.
Elias
mendongak, tetapi ia tidak melihat wajah malaikat maut atau sosok menyeramkan
berjubah merah.
Sosok yang
sudah empat belas kali Elias lihat tanpa wajah itu ... kali ini Elias bisa
melihatnya. Wajah sosok Sang Pemberi adalah wajah Elias sendiri ... wajah lima
belas tahun silam, terlihat lebih muda dengan bekas luka bakar di pipinya, Lur.
Sosok Sang Pemberi
akhirnya berbicara dengan suara yang terdengar seperti gesekan kertas kering,
"Aku tidak datang untuk nyawamu, Elias. Aku bukan Sang Pemberi yang kau
sebut-sebut."
Sosok itu
meletakkan sebuah cermin kecil di depan Elias. “Coba kamu lihat, Elias.”
Elias
menatap cermin itu. Di dalam cermin, ia tidak melihat pantulan dirinya yang
tua, melainkan sebuah ruangan rumah sakit jiwa.
"Elias,
tidak ada kebakaran lima belas tahun lalu," kata sosok itu lembut.
"Tidak
ada Gereja yang kau bangun dengan hartamu karena rasa bersalah. Kau adalah
pasien di sini sejak kecelakaan malam Natal. Kau menciptakan cerita seorang dermawan
yang bersalah, ini karena kau tidak sanggup menghadapi kenyataan bahwa kau
adalah satu-satunya yang selamat tanpa bisa melakukan apa-apa, Elias."
Tiba-tiba,
lampu ruangan menyala terang. Sosok berjubah merah itu kini berubah menjadi
seorang dokter dengan snelli putih.
"Sudah
waktunya minum obat, Elias. Selamat Natal," ucap dokter itu sambil
mengambil pemantik api perak yang sebenarnya hanyalah sebuah botol plastik
kosong dari tangan Elias.
Duar!
Bagaimana,
he? Plot twist ‘kan? Ternyata adegan di awal-awal serta sosok Sang Pemberi
adalah imajinasi Elias saja karena ia pasien rumah sakit jiwa, Lur.
Maafkan
pakde yang telah membohongimu. 😁
“Kan gua
bilang juga apa! Sudah lama juga jadi Penggemar Berat, masih aja kena prank! Ngerasa
goblok gak sih.”
Ya, sudah. Pakde
minta maaf. Kita lanjut lagi karena cerita belum usai, Lur.
Next!
****
Elias
tertegun, menatap jendela yang ternyata hanyalah sebuah lukisan pemandangan
salju di dinding beton rumah sakit.
“Lonceng
yang Elias dengar, De?”
Itu hanyalah
bunyi alarm pergantian sif perawat kok, Lur. Namanya juga orang yang ada di
rumah sakit jiwa ... banyak berhalusinasi ya to?
“Sakit sih dibohongin
dua kali gini! Pakdeeeee ...!”
Plot twist,
Neti. Plot twist! Siapa juga yang membohongimu, ha!
“Terus yang
katanya Elias masuk ke rumah sakit jiwa ini karena kecelakaan, De?”
Ya, pakde
akan memberitahumu kenapa Elias selalu berhalusinasi karena kecerobohannya
hingga membakar gereja, lalu berhalusinasi menjadi dermawan dan membangun
kembali Gereja itu dengan hartanya.
Fokus, ya.
Yup, lanjut!
Setelah
perawat mengamankan botol plastik dari tangan Elias, pintu sel terbuka lebih
lebar.
Masuklah
seorang pria paruh baya dengan kacamata yang menggantung di lehernya, dia
adalah Dokter Yohanes, kepala psikiatri yang telah menangani Elias selama lima
belas tahun.
Dokter
Yohanes menarik kursi plastik, duduk di depan Elias yang masih meringkuk
gemetar.
"Elias
...." Suara Dokter Yohanes tenang, tetapi tegas.
"Mari
kita bicarakan apa yang sebenarnya terjadi. Bukan cerita tentang api dan gereja
yang selalu kau susun ulang setiap tahun, Elias."
“Kau masih
ingat apa yang sebenarnya terjadi, Elias?”
Elias
menggeleng.
Dokter
Yohanes membuka map, memperlihatkan potongan koran tua yang sudah menguning. Di
koran tidak ada berita tentang kebakaran Gereja St, Jude. Judul utamanya adalah,
‘TERAGEDI JEMBATAN MALAM NATAL’.
"Kau
terus menghukum dirimu dengan ingatan tentang api, Elias.”
Dokter Yohanes
melanjutkan, "Karena otakmu tidak sanggup menerima ingatan tentang air.”
“Air sungai
yang sangat dingin saat kau melepaskan tangan putrimu karena tenagamu habis.
Kau tidak membakarnya seperti halusinasimu itu, Elias. Kau hanya tidak bisa
menariknya keluar."
Dokter Yohanes
lantas menunjuk ke arah jendela kecil berjeruji. "Itu kan Gereja yang tak
sengaja kau bakar dan menghanguskan banyak anak-anak? Gedung itu bukan Gereja,
Elias.”
“Anak-anak
yang terbakar di otakmu? Mereka sekarang sudah dewasa dan merayakan Natal
bersama keluarga mereka di kota.”
“Satu-satunya
rumah sunyi dengan perapian yang kau sebut-sebut saat sosok Sang Pemberi datang
... rumah itu di sini. Ya, rumah sunyi itu adalah bangsal ini, tempat kau
mengurung dirimu sendiri selama lima belas tahun, Elias."
Dokter Yohanes
menghela napas, “Ah.” Menatap Elias dengan rasa iba yang mendalam.
"Elias,
dengar. Kau menciptakan narasi sebagai pembakar ... membakar orang dan
anak-anak di Gereja St, Jude lima belas tahun silam.”
“Akan
tetapi, kenyataannya jauh lebih menyakitkan, Elias. Kau hanyalah manusia biasa
yang mengalami kecelakaan, dan kau membenci dirimu karena masih bernapas
sementara anak dan istrimu tidak."
Dokter Yohanes
berdiri, merapikan mapnya. "Berhentilah membakar Gereja di kepalamu,
Elias. Api itu tidak akan pernah bisa menghangatkan air sungai yang menewaskan
anak dan istrimu."
Saat pintu
besi ditutup dan dikunci, Elias kembali dalam kegelapan.
Untuk
pertama kalinya dalam lima belas tahun tahun, bau asap di hidungnya menghilang,
digantikan oleh rasa dingin yang menusuk tulang ... rasa dingin dari air sungai
yang menewaskan anak dan istrinya lima belas tahun silam.
“Sumpah
nyesek gak sih dibohongin tiga kali gini, Gaes!”
Ya, maaf.
Pakde jujur kali ini kalau sebenarnya Elias gila dan berhalusinasi karena trauma
berat dan otaknya menolak kejadian kecelakaan di mana anak dan istrinya tidak
selamat, Lur.
Bahasa
gampangnya begini ... Elias mengalami kecelakaan mobil di malam Natal yang
menewaskan anak dan istrinya. Namun, karena trauma dan membuatnya di rawat di
rumah sakit jiwa selama lima belas tahun, Elias menciptakan cerita kebakaran Gereja.
Itu yang ada di otaknya ... yang sudah kamu baca dari awal. Kamu membaca sudut
pandang halusinasi Elias. 😄 (Kayang).
Biji mana, eh
... bagaimana? Pakde berhasil menikungmu to? Domongi kok! Pakde kok dilawan.
Elias lebih
memilih merasa menjadi ‘penjahat besar yang tak sengaja membakar anak-anak’
daripada harus menerima kenyataan bahwa dia hanyalah seorang ayah yang gagal
mengendalikan mobil dan kecelakaan itu terjadi. END
Dukung Pakde Noto di Trakteer

No comments:
Post a Comment