Dukung SayaDukung Pakde Noto di Trakteer

[Latest News][6]

abu nawas
abunawas
berbayar
Budaya
cerbung
cerkak
cerpen
digenjot
gay
hombreng
horor
hot
humor
informasi
LGBT
mesum
misteri
Novel
panas
puasa
sejarah
Terlarang
thriller

Labels

MAUT MALAM NATAL

Udara dingin menusuk tulang, membawa serta aroma pinus dan sedikit asap dari cerobong-cerobong rumah yang ada di kota kecil bernama Havenwood.  Salju tebal menutupi atap-atap rumah, membuat malam menjelang Natal terasa damai.

Di dalam Gereja St, Jude, paduan suara anak-anak sedang menyanyikan Malam Kudus, suara mereka yang jernih memantul di dinding Gereja.

Lilin-lilin berkedip lembut di sekeliling altar, menerangi lukisan-lukisan kaca patri yang menceritakan kisah Natal.

Sementara itu, di gudang penyimpanan Gereja yang jarang dipakai dan penuh barang-barang usang, percik api kecil mulai menari.

Elias, seorang remaja canggung yang bertugas membantu mendekorasi ruangan Gereja dalam menyambut Natal, mencoba menyalakan pemantik tua untuk menghangatkan tangannya yang beku akibat dingin salju. Ia baru saja selesai menata beberapa tumpukan jerami kering untuk adegan Kandang Natal ... tetapi Elias lupa membersihkan sisa-sisa jerami .

Klik ... klik ....

Pemantik itu menyala, mengeluarkan api kecil yang berkedip.

Elias menghela napas lega, mendekatkan tangannya pada nyala api. Tanpa disadarinya, sehelai jerami kering yang terselip di lengan jaketnya jatuh ke lantai, tepat di samping tumpukan jerami lainnya ... api dari pemantik Elias tidak sengaja menyentuh jerami yang jatuh itu.

Mulanya hanya asap tipis yang mengepul, hampir tak terlihat dalam kegelapan gudang. Namun, dalam hitungan detik digantikan oleh lidah api oranye yang menjalar cepat.

Wuush!

Api melahap jerami kering lalu memuntahkan asap tebal yang pedih.

Elias terkesiap, matanya membelalak ketakutan. Ia mencoba memadamkannya dengan kakinya.

Bleg! Bleg!

Dengan tangannya.

Blak! Blak!

Akan tetapi, api itu sudah terlalu besar! Rasa panik melanda Elias. "Tidak! Tidak!"

Api menjalar ke kotak-kotak kayu tua.

Gratak ... gratak ....

Ke kain-kain usang.

Gratak ... gratak ....

Naik ke langit-langit gudang.

Suara retakan kayu mulai terdengar, beradu dengan suara nyanyian anak-anak dari ruangan di sebelahnya.

Seketika aroma pinus digantikan oleh bau hangus yang menyengat.

Dalam keputusasaan, Elias menjatuhkan pemantik peraknya dan lari keluar gudang.

Elias berlari sekuat tenaga menembus salju, menjauh dari cahaya oranye yang mulai menerobos jendela-jendela kecil gudang.

Tak lama setelah itu teriakan pecah. Bukan lagi lagu Natal, melainkan jeritan kepanikan.

Kobaran api yang awalnya kecil kini menjulang tinggi, membelah malam yang tenang.

Menara lonceng Gereja Bethlehem, yang berdiri kokoh selama berabad-abad, mulai mengeluarkan asap dan anak-anak yang tadi bernyanyi, kini terperangkap dalam kepungan api.

Malam itu, St. Jude bukan lagi gereja, bukan lagi rumah Tuhan, melainkan tungku raksasa.

“Tolonggg!”

“Tolong buka pintunya!”

“Panas ... panas! Tolong kami!”

Buam!

Gratak ... gratak!

Api kian berkobar.

Gratak ... gratak!

“Tolonggg!”

“Tolong buka pintunya!”

“Siapa pun ... tolong kami!”

Dari kejauhan, di balik pohon pinus Elias berdiri mematung. Tangannya menggenggam pemantik perak yang masih panas. Dia melihat siluet tangan-tangan kecil yang menggedor jendela sebelum akhirnya kaca itu hancur dan suara jeritan tertelan gemuruh runtuhnya atap gereja. Malam Natal yang putih seketika berubah menjadi hitam legam oleh abu manusia.

 

****

INTRO DULU.

Pakde mengucapkan, ‘Selamat Natal dan Tahun Baru bagi yang merayakan. Semoga penuh damai dan sukacita.

“Gak boleh gitu, Pakde. Orang Muslim gak boleh mengucapkan selamat Natal. Haram loh!”

Halah. ‘Gorengan panas tahunan!’. Di lingkungan pakde banyak orang beda agama selain Islam ... ada Kristen, banyak juga orang Bali (Hindu).

Tiap merayakan lebaran mereka juga datang berkunjung untuk silaturahmi ke rumah pakde, lantas haram hukumnya kalau pakde mengucapkan selamat Natal sebagai bentuk toleransi beragama, ha?

Mengucapkan selamat Natal tidak mengurangi iman pakde. Sesama umat beragama sudah barang tentu pakde harus toleran kepada agama lain ... kalau kamu kekeh itu haram ... biar menjadi urusan pakde dengan Allah. Gak usah memasak menu tahunan dengan menggoreng bahan ‘mengucapkan selamat Natal adalah haram’.

Pakde di sini hidup berdampingan dengan agama lain. Banyak Pura dan canang, banyak tetangga tiap minggu pergi ibadah ke Gereja, dan pakde selalu berkunjung kala sahabat merayakan Galungan atau Natal ... sebagai bentuk kami saling toleransi dan menghargai.

Orang Kristen dan Hindu juga datang melayat kok saat ada orang Muslim meninggal ... tak lebih rasa saling menghargai.

“Pakde loh kalau dibilangin ngeyel!”

Tetap iman kok, gak akan masuk agama yang teman-teman pakde yakini, hanya saling toleran saja.

Wes gak usah dibahas lagi. Capek dibentur-benturkan soal agama.

Pakde itu selalu terharu saat tetangga ujung rumah merayakan Galungan, datang ke rumah membawa makanan dan buah-buahan. “Kang, ini daging sapi, bukan babi. Sengaja saya menyuruh orang Islam yang memasaknya, perabotnya juga sudah tentu juah dari najis ... agar Sampean dan teman-teman Muslim bisa ikut makan saat Galungan.” Demi apa coba? Demi sebuah toleransi sesama umat beragama. Terenyuh gak kalau sudah begitu, ha!

Astaga ... enteng sekali bibirmu bilang haram!

Pakde tidak ikut merayakan Galungan dengan memasang penjor, dan tak pernah menghias rumah dengan pohon Natal saat Natalan tiba, hanya turut mengucapkan sebagai bentuk toleransi kok.

“Iya, juga sih, De, tetapi ....”

We to, wes to! Gak usah digawe angel. Kalau kamu hidup di lingkungan yang seluruhnya Muslim gak apa-apa. Beda pakde yang hidup di desa dengan berdampingan agama Kristen dan Hindu serta adat-istiadatnya. Kalau pakde salah, pakde mohon maaf, ya.

Prinsip pakde tetap, ‘Bagimu agamamu, dan bagiku adalah agamaku. Titik!

“Pingin deh kayak Pakde, punya prinsip dan gak gampang kegoreng. Cerita apa ini, De. Tema Natal, ya?” (mendadak lunak karena ada maunya).

Ya, tema Natal ...!

“Dih, gak usah ketus juga kali, De!”

Siapa yang ketus!

“Ada plot twistnya gak?”
Ada.

“Asyik. Gas, ah, Pakde.”

Hem ....

“Yang tadi gak usah diambil hati. Cuma kata orang-orang begitu kok.”

Lalu?

“Ya, cuma gitu. Kok jadi sensi, sih! Lanjut gak ha ceritanya!”

Kok kamu yang galak!

“Ya, maaf yang tadi, ih!”

Salim dulu.

“Iya, iya, maaf.”

 

****

 


25 Desember 2025.

15 tahun berlalu sudah, Lur. Di kota kecil Havenwood yang selalu tertutup salju, malam Natal bukan hanya tentang kado, melainkan tentang lonceng yang terdengar saat pukul 00.00, tengah malam. Nah loh!

Rumornya, siapa pun yang mendengar lonceng Gereja tua berdentang tepat pada tengah malam, akan didatangi sosok yang sering disebut Sang Pemberi. Sosok yang datang bukan untuk memberikan kado, tetapi datang untuk kebenaran.

“Seharusnya ‘kan Sinterklas. Ya, ‘kan?”

Itu kalau di cerita tetangga sebelah, di sini beda, Neti. Beda!

“Iya, sih! Gak usah marah-marah napa, ih! Dah ah, lanjut!”

Semua orang di kota Havenwood tahu rumor ini, rumor tentang lonceng Gereja yang berdentang, padahal Gereja itu sudah kosong sejak kebakaran hebat lima belas tahun silam ... kebakaran yang menewaskan seluruh orang dan anak-anak di malam Natal ... yang ada di dalam Gereja St, Jude.

Masih ingat cerita pembuka tadi? Nah itu dia, tentang orang yang bernama Elias yang tak sengaja membakar Gereja itu loh, Lur. Paham kan alur ceritanya sampai sini? Masih awal loh ini. Mosok kamu gak paham.

Kalau sudah paham, mari kita lanjut!

Next!

 

****

Di tepi Kota Havenwood .

Elias duduk sendirian di depan perapiannya yang mulai meredup. Di pangkuannya ada sebuah kotak kayu kecil yang terkunci rapat.

Siapa yang tak tahu Elias, ha? Elias sekarang adalah pria paling dihormati di kota Havenwood, seorang dermawan yang membangun kembali Gereja St, Jude setelah tragedi kebakaran besar lima belas tahun silam. Iya, lah wajar. Kebakaran itu ‘kan karena kecerobohan Elias muda ... lima belas tahun lalu. Ya, to, Lur?

Di depan perapian, Elias duduk dengan tangan gemetar. Bukan tanpa sebab, Elias sudah 14 kali didatangi sosok Sang Pemberi ditambah jam di dinding menunjukkan pukul 23.58.

Satu menit  berlalu ... Elias ini masih duduk dengan terus memegang erat kotak kayu di pangkuannya, Lur.

 

****

Pukul 23.59.

Dada Elias kian berdegup, ia yakin akan mendengar suara lonceng itu lagi untuk ke lima belas kali ... tepat pada malam Natal tahun ini.

Tiba-tiba listrik di seluruh rumahnya padam.

Tep!

Elias tak bergeming, ia sudah hafal dengan tanda kalau Sang Pemberi akan segera datang menemuinya, Lur.

Kini yang ada hanya keheningan yang mencekam menyelimuti ruangan, menyisakan suara deru angin di balik jendela.

Hitungan detik ... menuju tepat tengah malam, Elias berjalan menuju jendela, menatap menara gereja tua yang menghitam di kejauhan.

Ketika jam di dinding menunjukkan tepat pukul 00.00 ... lonceng itu terdengar di telinganya.

Teng ... teng ... teng ...!

Elias menghitungnya dengan napas tersengal, “Satu ... dua ....”  Hingga ....  “Dua belas ....”

Mendadak pintu depannya terbuka perlahan tanpa suara kunci diputar.

Krek ....

Buru-buru Elias kembali duduk sambil terus memangku kotak kayu saat tiba-tiba muncul seorang pria jangkung tanpa wajah ... dengan jubah malaikat maut berwarna merah yang sangat kusam, hampir terlihat seperti warna darah kering. Dialah Sang Pemberi ... sosok yang datang tepat tengah malam, datang menemui siapa saja yang mendengar suara lonceng Gereja, Lur.

Kan Elias mendengar lonceng itu, otomatis Sang Pemberi menemuinya. Begitu ceritanya, Lur.

“Berarti di tempat lain ... kalau ada orang yang juga mendengar suara lonceng itu juga akan didatangi sosok Sang Pemberi, Pakde?”

Bodo!

“Dih, marah dia.”

Bisa gak fokus ke Elias saja, ha! Kayak petugas Sensus ya kamu ini lama-lama. Banyak tanya!

“Yaelah, De. Orang cuma tanya juga, ih!”

Lanjut gak , ha!

“Iya, iya, Lanjut! Dikit-dikit marah, heran juga sama aki-aki satu ini.”

Bisa tidak gak usah ngerecokin orang lagi cerita, ha! Kasihan yang lain, Neti!

“Iya, iya! (Bersedekap, cemberut).

Maaf ya, Lur, anak tetangga pakde yang satu ini memang ... ah, sudahlah!

Mari lanjut ke ceritanya Elias.

Sampai mana tadi ... ‘kan sampai lupa pakde.

Oh, iya. Sampai sosok yang disebut Sang Pemberi masuk dan menemui Elias yang duduk sambil memangku kotak kayu.

"Kau datang untuk mengambil kado ini?" ucap Elias seperti berbisik. "Aku sudah menyiapkannya selama lima belas tahun," imbuhnya.

Sang Pemberi tidak menjawab. Ia hanya menunjuk ke kotak kayu.

“Baik,” kata Elias seolah paham akan maksud Sang Pemberi.

Elias membukanya dengan tangan bergetar ... sangat perlahan-lahan loh, Lur.

Begitu kotak kayu terbuka ... hayo tebak apa isinya, Lur?

Benar sekali. Di dalamnya bukan emas atau permata, melainkan sebuah pemantik api perak dengan inisial nama yang sudah pudar.

Sebelum pakde lanjut, apakah kamu masih ingat benda pemantik? Yap! Fokuskan pada lima belas tahun silam, fokus pada Elias dan benda yang akhirnya menghanguskan Gereja dan anak-anak itu, Lur.

Tolong fokus ... fokus ... dan fokus. Bayangkan kejadian lima belas silam lalu. Ya, fokus. Dalam hitungan ketiga, kamu merasa seakan-akan .... (Pakde pakai baju Romy Rafael). 😁

“Ada kaitannya, De? Ah, jangan-jangan ini jebakan alias terasi busuk ... biar kami mencium aroma dan setelahnya pakde akan mengecoh kami di ending cerita ‘kan?”
He he he. Secara pakde ‘kan penulis thriller yang kuat akan plot twist. Saat kamu mulai bisa mengendus alur ceritanya, pakde bakal tikung!

Wes ayo, lanjut!

"Aku tidak sengaja malam itu," isak Elias tiba-tiba.

"Aku hanya melakukan pekerjaanku di Gereja. Tidak ada maksud untuk membakarnya.” Ada yang mengalir di kedua sudut mata Elias.

“Asal kamu tahu ... semua orang menganggap diriku pahlawan karena setelahnya kejadian lima belas tahun lalu ... aku menyumbangkan hartaku untuk membangun Gereja itu kembali, tetapi itu semua karena rasa bersalah," terang Elias mengakui dengan rasa bersalah.

Elias lantas berlutut, menangis tersedu-sedu. "Ambillah nyawaku sebagai ganti nyawa mereka yang hilang lima belas lalu. Aku sudah siap," ucap Elias lagi dengan isak yang tertahan

Sang Pemberi akhirnya melangkah maju ... berhenti tepat di hadapan Elias yang masih berlutut, Lur.

Elias mendongak, tetapi ia tidak melihat wajah malaikat maut atau sosok menyeramkan berjubah merah.

Sosok yang sudah empat belas kali Elias lihat tanpa wajah itu ... kali ini Elias bisa melihatnya. Wajah sosok Sang Pemberi adalah wajah Elias sendiri ... wajah lima belas tahun silam, terlihat lebih muda dengan bekas luka bakar di pipinya, Lur.

Sosok Sang Pemberi akhirnya berbicara dengan suara yang terdengar seperti gesekan kertas kering, "Aku tidak datang untuk nyawamu, Elias. Aku bukan Sang Pemberi yang kau sebut-sebut."

Sosok itu meletakkan sebuah cermin kecil di depan Elias. “Coba kamu lihat, Elias.”

Elias menatap cermin itu. Di dalam cermin, ia tidak melihat pantulan dirinya yang tua, melainkan sebuah ruangan rumah sakit jiwa.

"Elias, tidak ada kebakaran lima belas tahun lalu," kata sosok itu lembut.

"Tidak ada Gereja yang kau bangun dengan hartamu karena rasa bersalah. Kau adalah pasien di sini sejak kecelakaan malam Natal. Kau menciptakan cerita seorang dermawan yang bersalah, ini karena kau tidak sanggup menghadapi kenyataan bahwa kau adalah satu-satunya yang selamat tanpa bisa melakukan apa-apa, Elias."

Tiba-tiba, lampu ruangan menyala terang. Sosok berjubah merah itu kini berubah menjadi seorang dokter dengan snelli putih.

"Sudah waktunya minum obat, Elias. Selamat Natal," ucap dokter itu sambil mengambil pemantik api perak yang sebenarnya hanyalah sebuah botol plastik kosong dari tangan Elias.

Duar!

Bagaimana, he? Plot twist ‘kan? Ternyata adegan di awal-awal serta sosok Sang Pemberi adalah imajinasi Elias saja karena ia pasien rumah sakit jiwa, Lur.

Maafkan pakde yang telah membohongimu. 😁

“Kan gua bilang juga apa! Sudah lama juga jadi Penggemar Berat, masih aja kena prank! Ngerasa goblok gak sih.”

Ya, sudah. Pakde minta maaf. Kita lanjut lagi karena cerita belum usai, Lur.

Next!

 

****

Elias tertegun, menatap jendela yang ternyata hanyalah sebuah lukisan pemandangan salju di dinding beton rumah sakit.

“Lonceng yang Elias dengar, De?”

Itu hanyalah bunyi alarm pergantian sif perawat kok, Lur. Namanya juga orang yang ada di rumah sakit jiwa ... banyak berhalusinasi ya to?

“Sakit sih dibohongin dua kali gini! Pakdeeeee ...!”

Plot twist, Neti. Plot twist! Siapa juga yang membohongimu, ha!

“Terus yang katanya Elias masuk ke rumah sakit jiwa ini karena kecelakaan, De?”

Ya, pakde akan memberitahumu kenapa Elias selalu berhalusinasi karena kecerobohannya hingga membakar gereja, lalu berhalusinasi menjadi dermawan dan membangun kembali Gereja itu dengan hartanya.

Fokus, ya. Yup, lanjut!

Setelah perawat mengamankan botol plastik dari tangan Elias, pintu sel terbuka lebih lebar.

Masuklah seorang pria paruh baya dengan kacamata yang menggantung di lehernya, dia adalah Dokter Yohanes, kepala psikiatri yang telah menangani Elias selama lima belas tahun.

Dokter Yohanes menarik kursi plastik, duduk di depan Elias yang masih meringkuk gemetar.

"Elias ...." Suara Dokter Yohanes tenang, tetapi tegas.

"Mari kita bicarakan apa yang sebenarnya terjadi. Bukan cerita tentang api dan gereja yang selalu kau susun ulang setiap tahun, Elias."

“Kau masih ingat apa yang sebenarnya terjadi, Elias?”

Elias menggeleng.

Dokter Yohanes membuka map, memperlihatkan potongan koran tua yang sudah menguning. Di koran tidak ada berita tentang kebakaran Gereja St, Jude. Judul utamanya adalah, ‘TERAGEDI JEMBATAN MALAM NATAL’.

"Kau terus menghukum dirimu dengan ingatan tentang api, Elias.”

Dokter Yohanes melanjutkan, "Karena otakmu tidak sanggup menerima ingatan tentang air.”

“Air sungai yang sangat dingin saat kau melepaskan tangan putrimu karena tenagamu habis. Kau tidak membakarnya seperti halusinasimu itu, Elias. Kau hanya tidak bisa menariknya keluar."

Dokter Yohanes lantas menunjuk ke arah jendela kecil berjeruji. "Itu kan Gereja yang tak sengaja kau bakar dan menghanguskan banyak anak-anak? Gedung itu bukan Gereja, Elias.”

“Anak-anak yang terbakar di otakmu? Mereka sekarang sudah dewasa dan merayakan Natal bersama keluarga mereka di kota.”

“Satu-satunya rumah sunyi dengan perapian yang kau sebut-sebut saat sosok Sang Pemberi datang ... rumah itu di sini. Ya, rumah sunyi itu adalah bangsal ini, tempat kau mengurung dirimu sendiri selama lima belas tahun, Elias."

Dokter Yohanes menghela napas, “Ah.” Menatap Elias dengan rasa iba yang mendalam.

"Elias, dengar. Kau menciptakan narasi sebagai pembakar ... membakar orang dan anak-anak di Gereja St, Jude lima belas tahun silam.”

“Akan tetapi, kenyataannya jauh lebih menyakitkan, Elias. Kau hanyalah manusia biasa yang mengalami kecelakaan, dan kau membenci dirimu karena masih bernapas sementara anak dan istrimu tidak."

Dokter Yohanes berdiri, merapikan mapnya. "Berhentilah membakar Gereja di kepalamu, Elias. Api itu tidak akan pernah bisa menghangatkan air sungai yang menewaskan anak dan istrimu."

Saat pintu besi ditutup dan dikunci, Elias kembali dalam kegelapan.

Untuk pertama kalinya dalam lima belas tahun tahun, bau asap di hidungnya menghilang, digantikan oleh rasa dingin yang menusuk tulang ... rasa dingin dari air sungai yang menewaskan anak dan istrinya lima belas tahun silam.

“Sumpah nyesek gak sih dibohongin tiga kali gini, Gaes!”

Ya, maaf. Pakde jujur kali ini kalau sebenarnya Elias gila dan berhalusinasi karena trauma berat dan otaknya menolak kejadian kecelakaan di mana anak dan istrinya tidak selamat, Lur.

Bahasa gampangnya begini ... Elias mengalami kecelakaan mobil di malam Natal yang menewaskan anak dan istrinya. Namun, karena trauma dan membuatnya di rawat di rumah sakit jiwa selama lima belas tahun, Elias menciptakan cerita kebakaran Gereja. Itu yang ada di otaknya ... yang sudah kamu baca dari awal. Kamu membaca sudut pandang halusinasi Elias. 😄 (Kayang).

Biji mana, eh ... bagaimana? Pakde berhasil menikungmu to? Domongi kok! Pakde kok dilawan.

Elias lebih memilih merasa menjadi ‘penjahat besar yang tak sengaja membakar anak-anak’ daripada harus menerima kenyataan bahwa dia hanyalah seorang ayah yang gagal mengendalikan mobil dan kecelakaan itu terjadi. END


PAKDE NOTO

Baca juga cerita seru lainnya di Wattpad dan Follow akun Pakde Noto @Kuswanoto3.

No comments:

Post a Comment

Start typing and press Enter to search