RANGKING DIHAPUS.
Selamat
datang di 'Meja Hijau Pendidikan.
Host: “Kita
akan membedah sebuah isu yang membelah ruang tamu di jutaan rumah di Indonesia ...
isu tahunan ,Dihapusnya Sistem Ranking di Sekolah’.”
“Sebuah
aturan yang katanya demi kesehatan mental, tetapi dituduh oleh sebagian orang
sebagai awal dari kehancuran daya saing bangsa.”
“Apakah kita
sedang memanusiakan siswa, atau justru sedang menciptakan generasi yang alergi
pada kompetisi?”
“Di meja
diskusi kita malam ini, telah hadir dua perspektif yang sangat kontras.”
“Ada Pakde
Noto (Kuswanoto). Beliau adalah seorang penulis lepas populer di jagat
Facebook, sekaligus pemenang berbagai kontes menulis. Beliau dikenal dengan
argumen-argumennya yang 'nggetir' dan kritis terhadap fenomena sosial.”
“Pakde Noto
hadir untuk mewakili suara mereka yang percaya bahwa tanpa kompetisi, kita
sedang menuju kiamat prestasi.”
“Perwakilan
Dinas Pendidikan Daerah, Beliau hadir sebagai garda depan kebijakan pemerintah
di daerah. Sosok yang akan menjelaskan mengapa ranking dianggap sebagai
peninggalan masa lalu yang harus dikubur demi masa depan yang lebih inklusif.”
“Siapkan
argumen Anda, karena Netizen Bersuara kali ini, kita tidak hanya bicara soal
angka di rapor, tapi soal masa depan anak cucu kita.”
Host: (Berjalan
ke meja Pakde Noto).
Host: “Pakde
Noto, saya mulai dari Anda.”
“Anda
menulis di media sosial bahwa kebijakan ini adalah karpet merah untuk kemalasan.
Kenapa Anda bisa sekeras itu?"
"Silakan,
Pakde Noto ...."
Pakde Noto:
"Langsung ae, yo. Saya melihat ini sebagai kebijakan yang salah arah.”
“Lapo saya
bilang salah arah? Pemerintah seolah-olah menciptakan zona nyaman yang
berlebihan. Alasan menghindari tekanan itu sebenarnya hanya bahasa halus untuk
melindungi mereka yang tidak berprestasi, dan taruhannya adalah mengorbankan
siswa yang pintar. Nggeh nopo mboten?”
Host:
"Tapi pemerintah berpendapat, bahwa prestasi itu luas, bukan cuma angka.
Mereka ingin mengapresiasi seni, olahraga, dan karakter, bukan hanya akademik
di dalam kelas. Bukankah itu bagus, Pakde?"
Pakde Noto:
"Garis besarnya, anak-anak itu belajar di dalam kelas to! Kenapa kita jadi
bicara prestasi di luar kelas kalau kita sedang membahas hasil belajar
akademik?”
“Coba pikir
... pikir! Sekolah itu institusi akademik. Kalau anak belajar keras di kelas,
mereka butuh apresiasi yang nyata. Ranking adalah bentuk apresiasi paling jujur
atas kerja keras tersebut."
Host: "Oke,
oke. Saya tangkap poinnya. Anda pernah menulis bahwa kebijakan ini menciptakan generasi
rapuh. Apa maksudnya?"
Pakde Noto:
"Dunia nyata itu penuh ranking, dunia nyata itu penuh kompetisi. Masuk
kerja, seleksi universitas, bisnis ... semuanya kompetisi. Ya, to?”
“Dengan
menghapus ranking, kita meninabobokan anak-anak. Kita membuat mereka tidak
punya daya juang!”
“Jika di
kelas yang berisi 40 anak saja mereka tidak berani bersaing, bagaimana mereka
mau bersaing di level global?”
“Kebijakan
ini seolah dibuat hanya untuk menyenangkan 37 siswa yang tidak masuk 3 besar,
tapi mengabaikan 3 siswa terbaik yang menjadi lokomotif prestasi."
Host:
"Jadi Anda melihat ada ketidakadilan di sini? Seolah-olah si pintar
dipaksa berhenti berlari agar si lambat tidak merasa tertinggal?"
Pakde Noto:
"Hanggih jelas to. Ini namanya standarisasi ke bawah.”
“Kalau tidak
ada papan skor, orang tidak akan serius bermain. Tanpa ranking, si pintar
kehilangan motivasi untuk melompat lebih tinggi, dan si malas merasa tidak ada
konsekuensi atas kemalasannya. Ini proteksionisme yang salah sasaran."
Host:
"Lalu, apa solusi Anda? Apakah kita harus kembali ke sistem lama yang
mungkin membuat anak-anak yang di bawah merasa minder?"
Pakde Noto:
"Tidak perlu kembali mentah-mentah ke sistem lama kalau memang itu
dianggap kejam.”
“Solusi saya
sederhana kok ... buat ranking per mata pelajaran. Jangan hanya satu ranking
umum yang menghakimi seluruh hidup anak."
Host: "Ini
menarik. Bagaimana cara kerjanya?"
Pakde Noto:
"Anak yang lemah di Matematika mungkin dia nomor 1di Sejarah atau Seni.”
“Dengan
ranking per mata pelajaran, kompetisi tetap ada, motivasi tetap terjaga, tapi
setiap anak punya peluang untuk jadi juara di bidang yang mereka kuasai. Ini
adil bagi si pintar di bidangnya masing-masing.”
Host:
"Sebuah solusi yang memadukan keadilan dan kompetisi ....”
Pakde Noto:
"Aiman, sejujurnya saya tidak habis pikir dengan logika di balik aturan
ini. Kita bicara seolah-olah kompetisi adalah racun, padahal kompetisi adalah
oksigen bagi kemajuan.”
“Kebijakan
ini, kalau boleh saya jujur ... terasa seperti dibuat untuk mengakomodasi
mereka yang tertinggal, tapi dengan cara memotong kaki mereka yang sudah bisa
berlari kencang."
Host:
"Wah, analogi yang cukup keras. Tapi bukankah tujuannya mulia? Kita ingin
menghilangkan stigma 'anak bodoh' yang selama ini menghantui peringkat bawah.
Pemerintah ingin setiap anak merasa punya potensi tanpa harus
dibanding-bandingkan. Bukankah itu manusiawi?"
Pakde Noto:
"Begini, prestasi itu butuh apresiasi, kan? Itu hukum alam. Kalau saya
belajar sampai jam 2 pagi dan teman saya hanya main game, lalu di akhir
semester tidak ada pembeda yang jelas siapa yang unggul, itu namanya
ketidakadilan sistemik.”
“Kita tidak
sedang memanusiakan siswa, kita sedang menipu mereka.”
“Kita
memberi mereka kenyamanan palsu di sekolah, padahal di luar sana, dunia tidak
pernah ramah pada mereka yang tidak punya daya saing."
Host:
"Pemerintah berargumen bahwa persaingan di kelas itu semu. Mereka lebih
ingin mendorong prestasi di luar kelas, seperti seni, olahraga, atau
organisasi. Jadi, panggung prestasinya dipindah, bukan dihilangkan. Bagaimana
menurut Anda?"
Pakde Noto:
"Heleh! Itu argumen yang melenceng.”
“Garis
besarnya, mereka itu datang ke sekolah untuk belajar di dalam kelas, to? Fokus
utamanya adalah literasi, numerasi, dan sains. Kenapa saat kita bicara hasil
belajar akademik di kelas, jawabannya malah prestasinya di bidang yang lain?
Gak nyambung to?”
“Ini
seolah-olah kita sedang mengalihkan isu karena gagal memotivasi anak secara
akademik.”
“Kalau semua
digiring ke bidang non-akademik, siapa nanti yang jadi ilmuwan, teknokrat, atau
pemikir hebat kita di masa depan? Coba pikir!
Host:
"Tapi ada kekhawatiran soal kesehatan mental. Banyak anak yang stres,
bahkan depresi karena ranking. Apakah kita harus mengorbankan mental mereka
demi sebuah peringkat?"
Pakde Noto:
"Justru di situ poinnya!”
“Ranking
adalah simulasi tekanan hidup. Dengan adanya ranking, anak belajar sejak dini
cara mengelola stres, cara bangkit dari kegagalan, dan cara mengatur strategi
untuk menang.”
“Kalau
mereka kita lindungi terus dari perasaan kalah di sekolah, kita sedang
menciptakan generasi rapuh.”
“Begitu
mereka masuk dunia kerja yang keras, mereka akan hancur pada kegagalan pertama
karena tidak pernah dilatih untuk bersaing."
Host:
"Anda juga menulis kalau kebijakan ini seolah melindungi si tolol dan
mengorbankan si pintar. Bukankah itu terlalu kasar?"
Pakde Noto:
"Kembali saya ulang, ya. Mungkin terdengar kasar, tapi mari kita lihat
faktanya.”
“Misal di
kelas ada 40 siswa. Yang berebut ranking 1, 2, dan 3 itu adalah mereka yang
paling ambisius.”
“Jadi,
kebijakan ini seolah dibuat hanya untuk menyenangkan 37 siswa lainnya agar
tidak merasa kalah.”
“Apa
akibatnya? 3 anak terbaik ini kehilangan bahan bakar untuk berlari. Mereka jadi
malas karena merasa kerja kerasnya tidak diakui secara khusus. Kita sedang
meratakan standar ke bawah demi kenyamanan kolektif.”
“Solusinya
bukan menghapus ranking, tapi memperluasnya. Buat saja Ranking Per Mata
Pelajaran. Ini jauh lebih adil.”
“Si anak
yang mungkin lemah di Matematika tidak perlu merasa 'tolol' secara total,
karena mungkin dia Rangking 1 di Sejarah atau Rangking 3 di Bahasa Inggris.”
“Dengan
begitu, setiap anak tetap punya medali di bidangnya masing-masing."
“Sama
seperti kontes menulis yang saya ikuti. Di sana banyak penulis, puluhan, bahkan
ratusan.”
“Sistemnya
sama ... pemenang berdasarkan genre cerita.”
“Saya menang
di genre horor. Ya, karena saya menguasai genre horor dan tak menulis genre
romance karena tahu kelemahan saya ada di genre percintaan itu.”
“Penulis
lain juga sama, mereka mengikuti kontes dengan memilih genre yang mereka
kuasai.”
Host:
"Ide yang menarik. Jadi, ranking tetap menjadi motivator, tapi tidak lagi
menjadi alat penghakiman tunggal?"
Pakde Noto:
"Betul. Kita tetap butuh lecutan.”
“Manusia itu
butuh alasan untuk bergerak maju. Jika pemerintah menghapus ranking dengan
alasan pemerataan, saya takut yang kita dapatkan bukan pemerataan kecerdasan,
tapi pemerataan mediokritas ... semuanya jadi rata-rata air, tanpa ada yang
menonjol."
Host: "
Sekarang, saya ingin tarik ke isu yang lebih besar, Daya Saing Bangsa. Jika di
level kelas saja kita takut berkompetisi, bagaimana nasib Indonesia di kancah
global? Apakah kita sedang menyiapkan jalan menuju kehancuran kualitas
SDM?"
Pakde Noto:
"Itulah yang paling saya khawatirkan. Kita ini sedang hidup di era
globalisasi yang kejam.”
“Anak-anak
kita nanti tidak cuma bersaing dengan teman sebangkunya, tapi dengan anak-anak
dari India, China, atau Vietnam yang dididik dengan sistem kompetisi yang
sangat ketat.”
“Kalau di
sekolah kita ajarkan bahwa semua orang itu sama tanpa ada apresiasi lebih bagi
yang unggul, kita sedang memotong urat nadi kemajuan bangsa ini."
Host:
"Tapi pemerintah sering membawa-bawa contoh negara maju seperti Finlandia.
Mereka tidak pakai ranking, tapi pendidikannya nomor satu di dunia. Kenapa kita
tidak bisa meniru mereka?"
Pakde Noto:
"Itu kesalahan logika yang fatal.”
“Finlandia
itu negara dengan penduduk sedikit dan standar ekonomi yang sudah sangat mapan.
Di sana, profesi guru sangat elit dan fasilitasnya merata sempurna. Di
Indonesia? Fasilitas sekolah kita masih njomplang. Budaya kita adalah budaya
juang. Bagi anak-anak dari keluarga sederhana, ranking adalah satu-satunya
tiket untuk mendapatkan beasiswa. Menghapus ranking sama saja dengan membuang
kompas perjuangan mereka!"
Host:
"Baik, kita sudah menerima beberapa pertanyaan dari audiens lewat media
sosial. Ini ada satu yang sangat tajam dari @Z-Generation. ‘Kenapa Pakde begitu
obsesif dengan ranking? Bukankah kreativitas lebih penting daripada sekadar
jadi nomor satu di kelas yang membosankan?' Bagaimana jawaban Anda?"
Pakde Noto:
"Dengar yo, Z-Generation. Kreativitas itu bagus, tapi kreativitas tanpa
disiplin dan standar itu nol besar.”
“Bagaimana
Anda mau kreatif membangun jembatan kalau Anda tidak kompeten di pelajaran menghitung?”
“Ranking
adalah indikator kompetensi. Jangan jadikan kreativitas sebagai alasan atau
tameng untuk menutupi kemalasan akademik. Justru kompetisi itu memicu
kreativitas untuk menemukan cara belajar yang lebih efektif agar bisa
menang."
Host:
"Ada lagi pertanyaan dari @OrangTuaCemas: 'Anak saya dulu sangat semangat
belajar karena ingin mempertahankan posisi 3 besar. Sejak ranking dihapus, dia
jadi santai dan sering bilang 'yang penting naik kelas. Apakah ini yang
diinginkan pemerintah?'"
Pakde Noto:
"Itulah bukti nyata dari apa yang saya sebut melindungi yang tertinggal
dengan mengorbankan yang pintar.”
“Anak Anda
sedang kehilangan orientasi. Pemerintah seolah-olah ingin semua anak merasa aman,
tapi mereka lupa bahwa rasa aman yang berlebihan akan menciptakan kebosanan dan
penurunan standar."
Host:
"Lalu bagaimana dengan usulan Anda tadi tentang Ranking Per Mata
Pelajaran? Apakah itu bisa menyelamatkan mental anak yang merasa tidak pintar
tadi?"
Pakde Noto:
"Sangat bisa! Bayangkan, si anak yang dituduh tidak berprestasi itu
ternyata setelah ada ranking per mata pelajaran, misal dia ada di peringkat 2
mata pelajaran Sejarah. Dia akan punya kepercayaan diri yang asli, bukan
kepercayaan diri palsu hasil dari perlindungan pemerintah. Dia akan merasa,
'Oke, saya lemah di Fisika, tapi saya jagoan di sini, saya harus asah ini.' Itu
jauh lebih sehat daripada menghapus semua indikator dan membiarkan mereka buta
akan kemampuan diri mereka sendiri."
Host:
"Jadi, Anda menegaskan bahwa ranking bukan alat untuk menghina, tapi alat
untuk memetakan kekuatan?"
Pakde Noto:
"Tepat! Ranking itu seperti GPS.”
“Kalau Anda
tidak tahu posisi Anda di mana, bagaimana Anda tahu harus melangkah ke mana?”
“Menghapus
ranking itu seperti mematikan GPS saat kita sedang tersesat di tengah hutan
persaingan dunia.”
“Kita
mungkin merasa nyaman karena tidak tahu kita sedang tertinggal, tapi tiba-tiba
saja kita sudah jadi bangsa tertinggal yang hanya bisa jadi penonton."
Host: "Sekarang
kita bicara soal Realitas Pasca-Sekolah. Dunia kerja tidak punya kurikulum Merdeka
yang melindungi perasaan pelamar kerja. Pakde, Anda menyebut kebijakan tanpa
ranking ini sebagai 'Bom Waktu'. Mengapa?"
Pakde Noto:
"Karena sekolah sedang mencetak lulusan yang mengidap God Complex palsu.
Mereka merasa dirinya hebat karena tidak pernah ada yang memberi tahu bahwa
mereka berada di peringkat buncit.”
“Begitu
mereka lulus dan masuk dunia kerja, mereka akan dihantam kenyataan bahwa
perusahaan hanya butuh yang terbaik, bukan yang semuanya unik. Iya, to?”
Host:
"Tapi bukankah perusahaan sekarang lebih mencari soft skills daripada
sekadar nilai atau peringkat?"
Pakde Noto:
"Itu mitos yang disalahpahami! Soft skills seperti kerja sama dan
kepemimpinan itu tumbuh paling subur dalam lingkungan kompetitif.”
“Bagaimana
Anda mau belajar negosiasi kalau Anda tidak pernah bersaing? Bagaimana Anda mau
belajar ketangguhan kalau Anda tidak pernah merasakan sakitnya dikalahkan oleh
teman sekelas, ha?”
Host:
"Anda terdengar sangat yakin bahwa ini adalah kesalahan fatal. Ada audiens
kita, @HRD_Manager, bertanya: 'Saya mulai melihat pelamar kerja yang tidak
tahan dikritik dan merasa prestasinya harus diakui padahal kerjanya biasa saja.
Apakah ini dampak dari sistem pendidikan tanpa kompetisi?'"
Pakde Noto:
"Persis! Itulah hasilnya. Ketika di sekolah semua dianggap juara, dianggap
sama, anak akan merasa bahwa kehadiran tiap hari di kelas saja sudah cukup
untuk naik kelas. Di dunia profesional, itu namanya bencana.”
“Pemerintah
seolah-olah sedang menghapus sistem seleksi alam di sekolah, padahal itu
penting untuk menyaring siapa yang benar-benar ahli dan siapa yang hanya
menumpang. Akibatnya, industri kita akan diisi oleh orang-orang yang standar
kerjanya asal jadi, karena sejak kecil mereka diajarkan bahwa tidak menjadi
yang terbaik itu tidak apa-apa."
Host:
"Tapi jika kita tetap pakai ranking, bukankah itu kejam bagi mereka yang
memang kapasitas otaknya terbatas?"
Pakde Noto:
"Yang jauh lebih kejam adalah membiarkan mereka percaya bahwa mereka itu hebat,
lalu membiarkan mereka hancur saat gagal seleksi kerja nanti. Maunya begitu
apa?”
“Jujur itu
memang pahit, tapi menyelamatkan.
“Ranking per
mata pelajaran yang saya usulkan tadi adalah bentuk kejujuran yang adil.”
“Jika Anda
bodoh di Matematika, Anda harus tahu itu agar Anda tidak bermimpi jadi insinyur
lalu gagal total. Carilah bidang lain di mana Anda bisa jadi Ranking 1. Itu
namanya mengarahkan potensi, bukan melindungi ketololan!"
Host:
(Berjalan ke meja sebelahnya).
Host: "
Kita beralih kepada pihak pemerintah. Di depan saya sudah ada perwakilan dari
kementerian terkait. Pakde Noto mengatakan bahwa kebijakan pemerintah mengenai
masalah rangking ini adalah pengkhianatan terhadap standar intelektual dan melindungi
ketololan. Apa tanggapan Anda?"
Kadin: “Saya
menghargai semangat Pakde Noto, tapi mari kita bicara dengan kepala dingin dan
data, bukan sekadar emosi atau nostalgia masa lalu.”
“Tuduhan
bahwa kami melindungi yang malas itu keliru besar. Justru, sistem ranking
lamalah yang selama ini meninabobokan kita dalam ilusi prestasi."
Host:
"Ilusi prestasi? Apa maksudnya? Bukankah Ranking 1 itu jelas-jelas bukti
prestasi?"
Dirjen:
"Tidak selalu. Di sistem lama, anak-anak kita dipaksa menjadi tukang hafal
demi mengejar angka. Mereka kompetitif di atas kertas, tapi tumpul dalam
kolaborasi.”
“Anda tahu
masalah terbesar industri kita sekarang? Bukan kekurangan orang pintar, tapi
kekurangan orang yang bisa bekerja sama.”
“Ranking
menciptakan mentalitas 'I win, you lose'. Di dunia modern, kalau Anda tidak
bisa berkolaborasi, kepintaran individu Anda tidak ada gunanya."
Host:
"Tapi Pakde Noto bilang, tanpa ranking, anak jadi santai dan tidak punya
daya juang. Anda tidak takut mencetak generasi yang lembek?"
Kadin:
"Daya juang itu tidak harus datang dari rasa takut dikalahkan teman
sendiri. Kita ingin membangun motivasi intrinsik.”
“Di
Kurikulum Merdeka, kita menggunakan standar pencapaian yang jelas. Jika seorang
anak belum mencapai standar, dia harus berjuang mencapainya, bukan sekadar
merasa aman karena sudah lebih baik dari teman sebangkunya.”
“Ranking itu
relatif. Menjadi yang terbaik di kelas yang kualitasnya rendah itu berbahaya,
karena anak merasa sudah hebat padahal secara standar nasional dia jauh
tertinggal."
Host:
"Bagaimana dengan argumen bahwa dunia kerja itu penuh persaingan? Bukankah
menghapus ranking itu menjauhkan mereka dari realitas?"
Kadin:
"Dunia kerja memang penuh persaingan, tapi persaingannya adalah berbasis
kompetensi, bukan berbasis urutan posisi di rapor. Perusahaan mencari orang
yang bisa menyelesaikan masalah.”
“Sistem
ranking kita dulu hanya melatih anak untuk menjawab soal pilihan ganda. Kami
menggantinya dengan portofolio dan proyek. Itu jauh lebih nyata bagi dunia
kerja daripada sekadar angka 1 atau 2 di bawah rapor."
Host: "Pakde
Noto juga mengusulkan jalan tengah, ranking per mata pelajaran. Kenapa
pemerintah tidak pakai itu saja daripada menghapus total?"
Kadin:
"Itu ide yang menarik secara teoretis, tapi secara psikologis tetap
membawa beban pelabelan. Tetap ada juara 1 di mata pelajaran khusus ‘kan?
Bagaimana dengan jara 10?”
“Kami ingin
fokus pada laporan deskriptif. Kami ingin orang tua tahu secara spesifik, anak
Anda sangat kuat di logika algoritma, tapi perlu bimbingan di ekspresi bahasa. Itu
jauh lebih berguna daripada sekadar tahu anak itu Rangking 5.”
“Angka
ranking itu buta, dia tidak menceritakan apa pun tentang bakat unik sang
anak."
Host:
"Lalu bagaimana Anda menjawab tuduhan bahwa ini melindungi si tolol?"
Kadin:
"Tidak ada anak yang tolol. Yang ada adalah anak yang gaya belajarnya
tidak cocok dengan sistem yang kaku.”
“Dengan
menghapus ranking, kita memberikan ruang bagi guru untuk memperhatikan setiap
anak secara personal.”
“Kita tidak
sedang menurunkan standar, kita sedang memperluas definisi keberhasilan. Kita
ingin anak-anak Indonesia punya mentalitas Growth Mindset ... bahwa mereka bisa
berkembang tanpa harus menginjak kepala orang lain untuk merasa unggul."
Host:
"Jadi, menurut pemerintah, sistem ini justru akan menciptakan generasi
yang lebih tangguh karena mereka bersaing dengan standar, bukan dengan
teman?"
Kadin:
"Betul. Kita ingin mereka bangga karena mereka mampu, bukan bangga karena
orang lain gagal. Itulah mentalitas bangsa maju.”
“Persaingan
sejati adalah di pasar global, dan senjata utamanya adalah kompetensi nyata,
bukan sekadar secarik kertas bertuliskan Juara Kelas.
Host: “Kita
masuk ke isu yang paling bikin orang tua murid ribut, Ranking dihapus. Pak Kadin,
kenapa peringkat kelas harus dihilangkan? Bukannya itu motivasi?"
Kadin: “Kita
harus paham. Melabeli anak dengan angka 1 sampai 40 itu mematikan potensi anak
yang lain.”
“Pendidikan
bukan balapan lari.”
“Kalau kita
kasih peringkat, anak yang ranking 40 akan merasa dirinya bodoh selamanya, padahal
mungkin dia berbakat di seni atau olahraga. Kita menghapus ranking untuk
menghilangkan stigma."
Pakde Noto: "Halah,
Pak Kadin! Menghilangkan stigma atau menciptakan generasi lembek, ha!”
“Bapak mau
dunia ini adem ayem tanpa kompetisi?”
“Nanti kalau
mereka lulus, cari kerja, perusahaan tetap tanya, 'Kamu jagonya di mana?'.”
“Di dunia
nyata itu ada ranking, Pak! Ada yang terbaik, ada yang biasa saja."
Kadin:
"Bukan begitu, Pakde. Kita ganti dengan rapor deskriptif. Kita jelaskan
kelebihan si anak secara personal, bukan dibanding-bandingkan dengan temannya.
Kita ingin kolaborasi, bukan kompetisi yang saling menjatuhkan."
Pakde Noto: "Kolaborasi
itu butuh standar! Kalau nggak ada ranking, anak-anak di kelas jadi kehilangan
semangat tempur. Sewaktu SD saya rangking 2 pengen ngejar ranking 1, saya
belajar gila-gilaan. Sekarang? Semua merasa ah yang penting naik kelas atau ... ah yang penting lulus, toh nggak ada juara.”
“Bapak
sedang membunuh mental juara anak-anak bangsa demi teori psikologi yang entah
cocok atau tidak di budaya kita!"
Kadin:
"Tapi Pakde, berapa banyak anak yang stres bahkan depresi karena dituntut
orang tuanya harus ranking 1.”
“Kita ingin
anak sekolah dengan bahagia, bukan dengan rasa takut kalah!"
Pakde Noto:
"Bahagia itu penting, tapi ketangguhan itu jauh lebih penting, Pak!”
“Hidup ini
keras. Kalau dari sekolah saja mereka tidak diajarkan bahwa ada orang yang
lebih hebat dari mereka, nanti pas mereka gagal di dunia kerja, mereka hancur
total karena nggak pernah ngerasa kalah di sekolah.”
“Bapak
jangan memanjakan mereka dengan sistem yang terlalu manis, tapi
menyesatkan."
Host: "Waduh!
Sistem yang manis tapi menyesatkan. Tajam sekali Pakde Noto.”
“Pak Kadin, apa memang sistem kita sekarang
terlalu fokus pada kesehatan mental sampai lupa soal kualitas kompetisi?”
“Kalau semua anak dianggap sama rata tanpa
peringkat, bagaimana cara kita membedakan mana anak yang benar-benar berjuang
dan mana yang santai-santai saja?"
Kadin: “Begini
Aiman, Pakde ... kita tidak menghilangkan standar, kita mengubah cara pandang.
Sekarang ada yang namanya capaian pembelajaran.”
“Jadi, yang
dikompetisikan bukan anak A lawan anak B, tapi anak A melawan kemampuannya
sendiri yang kemarin.”
“Kita mau
mereka berkembang secara organik, bukan karena takut melihat angka merah di
rapor."
Pakde Noto: "Halah!
Organik itu buat pupuk, Pak, bukan buat mental anak bangsa!”
“Bapak
bicara teori di ruangan ber-AC. Di lapangan, kalau nggak ada ranking, orang tua
itu bingung. Mereka nggak tahu anaknya itu diposisi mana. Akhirnya apa? Guru
yang diserbu, 'Anak saya pinter nggak, Bu?”
“Lalu guru
mau jawab apa? 'Anak Ibu berkembang secara organik gitu?”
Host: (Tertawa
geli) 😁
Kadin: "Itulah
tugas guru sebagai pendidik untuk mengedukasi orang tua! Jangan biarkan orang
tua hanya mengejar gengsi ranking.”
“Guru
harusnya bangga, sekarang guru punya ruang untuk melihat bakat unik setiap
siswa tanpa harus terpenjara oleh angka 1 sampai 10."
Pakde Noto: "Bapak
bilang guru punya ruang? Pak, administrasi guru makin menumpuk gara-gara
ranking dihapus! Sekarang guru harus nulis narasi panjang lebar untuk tiap
anak. Satu kelas 40 anak, Pak! Ini guru atau penulis novel?”
“Bapak
menghapus ranking katanya mau memudahkan, tapi malah bikin guru jadi kuli ketik
narasi yang ujung-ujungnya nggak dibaca orang tua!"
Kadin:
"Itu masalah adaptasi teknologi, Pakde. Kalau guru pakai sistem digital
yang kami siapkan..."
Pakde Noto: "Sistem
lagi! Aplikasi lagi! Bapak ini Kadin pendidikan atau Kadin aplikasi ...!”
“Kita bicara
soal manusia, Pak! Anak-anak itu butuh pengakuan. Ranking itu bentuk apresiasi
buat mereka yang sudah begadang belajar!”
“Sekarang
Bapak hapus itu semua atas nama kemerdekaan belajar, padahal Bapak sedang
merampas hak mereka untuk merasa bangga atas prestasinya!"
Host: "Oke,
oke ... tensinya makin tinggi. Pak Kadin, singkat saja, apakah ada kemungkinan
sistem ranking ini dikembalikan kalau terbukti kualitas kompetisi kita
menurun?"
Kadin: "Kita
akan evaluasi, tetapi untuk saat ini, kita tetap pada jalur memanusiakan
manusia, bukan memanusiakan angka."
Pakde Noto:
"Dan saya tetap pada jalur ... jangan sampai kita mencetak generasi yang
merasa sudah juara padahal belum lari sama sekali!"
“Host: “Oke,
Pemirsa. Kita akan kembali setelah jeda iklan berikut ini.”
Dukung Pakde Noto di Trakteer

No comments:
Post a Comment