Dukung SayaDukung Pakde Noto di Trakteer

[Latest News][6]

abu nawas
abunawas
berbayar
Budaya
cerbung
cerkak
cerpen
digenjot
gay
hombreng
horor
hot
humor
informasi
LGBT
mesum
misteri
Novel
panas
puasa
sejarah
Terlarang
thriller

Labels

BUKAN CERITA KARANGAN

Bruno, pembunuh yang telah menghilangkan nyawa puluhan anak dari sebuah web, 10 tahun belum tertangkap’.



Lelaki itu tak tertarik dengan isi koran yang memuat kejadian sepuluh tahun silam itu ... lalu meletakkan koran sore di atas meja.

Perhatiannya kini teralih kepada anaknya yang sedang asyik chating dari fitur yang ada di sebuah geme online.

Sama kayak Facebook, game online ini juga ada fitur chating buat user atau penggunanya, biar lebih akrab satu sama lain. Paham kan sampai sini ya, Lur?




Jadi, ceritanya gini ... di sebuah rumah yang ada di pinggiran kota, hiduplah seorang ayah dan satu anaknya.

“Ibunya kok gak disebut sih, De?”

Gak punya ibu! Dengerin dulu pakde cerita napa, ha! Tanya mulu dah, ah!

Lanjut gak, he?

“Oke, De. Lanjut!”

Si ayah ini orang tua tunggal ya, Lur.

“Cerai gitu, De?”

Entah. Pakde belum tanya apa penyebabnya. Bisa diem gak, ha! Ribet tanya mulu! Pakde lempar sendal beneran nih, ya! Orang pakde lagi fokus cerita juga!

“Dih, marah! Orang cuma tanya juga!”

Lanjut gak?

“Iya, iya. Lanjut!”

Kan tadi ayahnya meletakkan koran sore ... sempat ia baca judul tentang pembunuh yang sudah puluhan tahun belum tertangkap ... kini perhatiannya tertuju kepada anaknya yang asyik chating dengan user atau pemain game lain ... anaknya laki-laki berumur 10 tahun.

Si ayah tahu kalau anaknya kini sudah kecanduan internet, bukan hanya game online, chating, bahkan anaknya juga sudah berselancar dari situs satu ke situs lainnya. Paham ‘kan sampai sini?

“Nak, sepertinya kita perlu bicara soal bahaya berinternet,” kata sang ayah lalu perlahan-lahan duduk di sebelah anaknya yang tetap fokus pada layar HP ... mengabaikan.

Tidak digubris, menoleh pun tidak.

“Nak, bisakah kau meletakkan HP-mu sebentar? Ini penting,” imbuh ayahnya saat tak dihiraukan.

Sang anak dengan enggan keluar dari chating, meletakkan HP, kemudian menatap ayahnya.

 "Ayah, apakah kau ingin menakut-nakutiku lagi dengan cerita karanganmu?”

"Apa?" Si ayah pura-pura sakit hati sejenak, lalu menyeringai pada anaknya, "Cerita ayah asli semua tahu."

Asal kamu tahu ya, Lur. Si anak ini tumbuh besar dengan mendengarkan cerita-cerita dari ayahnya loh. Cerita tentang anak-anak yang bertemu penyihir, hantu, manusia serigala, dan pembunuh yang baik hati.

Seperti banyak generasi orang tua dulu, si ayah menggunakan cerita menakutkan untuk memperkuat moral dan mengajarkan pelajaran tentang keselamatan bagi si anak.

Eh, kalau kamu sering diceritakan tentang apa sama orang tuamu? Tidak boleh keluar rumah sewaktu magrib, tentang gerhana bulan yang konon dimakan oleh Batara Kala, atau cerita apa? Tulis di komen coba, pakde mau tahu cerita masa kecil apa yang membekas di ingatanmu.




Waktu kecil sering banget ya kita diceritakan tentang kisah-kisah legenda dan cerita pantangan, gak boleh gini, gak boleh lewat jalan itu, kencing harus permisi, gak boleh menunjuk kuburan, dan masih banyak lagi seabrek alasan kenapa kita gak boleh melakukannya. Masih ingat gak kamu, Lur?

Kenapa orang tua kita selalu bercerita? Pakde jadi tahu kini bahwa mereka sedang menggunakan metode pengasuhan yang kreatif, ada nilai moral yang ditanamkan kepada kita lewat cerita mereka loh.

Lewat cerita kita jadi tahu kenapa namanya Banyuwangi, ya ada kisahnya. Kenapa Gunung Tangkupan Perahu, ya ada kisahnya. Kenapa pakde kalau tulis di FB panjang, ya karena ada cuannya. Hiks. 😁 (Kayang).



Sudah, ah! Lanjut! Malah melebar ke mana-mana nanti.

Kan sampai lupa jadinya.

Pokoknya gitulah, Lur. Si anak menyangkal kalau cerita ayahnya hanya karangan semua ... isinya hanya untuk menakut-nakuti.

Si anak  mengernyitkan wajahnya sedikit saat ayahnya bilang kalau cerita-cerita yang sering disampaikan itu asli. "Cerita-cerita Ayah berhasil membuatku takut untuk melakukan banyak hal ketika aku berusia 6 tahun. Akan tetapi, setelah aku bertambah dewasa, cerita itu tidak membuatku takut lagi. Bahkan itu konyol jika Ayah ingin membual tentang bahaya internet ... agar aku takut bermain game online ‘kan? Ayah harus membuat cerita yang benar-benar menakutkan agar aku tak lagi main internet," ucap si anak panjang lebar dengan hati sedikit kesal.

Si ayah menyipitkan mata padanya dengan raut meremehkan. “Heh ... sombong sekali.”

Si anak lantas  melipat tangannya, wajah merengut. "Ayah, aku berusia 10 tahun dan aku yakin cerita Ayah tidak bisa lagi mempengaruhiku.”

"Hem ... oke ... kalau begitu. Ayah akan menceritakan satu kisah yang berhubungan dengan internet ...."

Ngerasa gak sih kalau hubungan keduanya ini terasa hangat, Lur? Seneng ya punya ayah yang suka bercerita.

Beda sama mendiang bapak pakde, “Jadi gemblaknya Warok Mangun Dirjo itu enak loh, Le! Derajatmu bisa naik!”

Lupakan kalimat terakhir. Mari lanjut saat ayahnya memulai cerita.😁

Eh, bingung gak kamu kalau pakde bercerita banyak layer begini, he?

Kadang pakde bosan menulis yang begitu-begitu saja, pingin inovasi sedikit biar tetap terjaga mood saat menulis. Perkara sampai di imajinasimu atau tidak ... ya, tergantung seberapa tajam imajinasimu membayangkan cerita yang pakde bawakan.

Maafkan pakde kalau egois, tetapi jujur pakde nyaman saat menulis dengan gaya storytelling begini. Gampangnya kamu menonton video storyteller kayak di Youtube ....

Yuk, lanjut!

 

****

 Ayahnya mulai bercerita.

Mohon fokus pada bagian ini, Lur. Biar kamu gak bingung ... cerita ini diakhiri plot twist yang membuatmu berpikir sedikit.  Ya, iyalah! Mosok maunya disuapin terus, dijelaskan secara rinci. Bukannya pintar yang ada kamu malah manja dan males berpikir.

Mari kita mulai ...!

“Dahulu kala, ada seorang anak laki-laki bernama Colby ….” Si ayah bercerita dengan wajah serius, ada goresan yang samar di pipinya ... kayak bekas sayatan gitu.

Ekspresi anaknya menunjukkan bahwa ia tidak terkesan dengan perkenalan tokoh Colby itu. Ia mendesah dalam-dalam dan mulai mendengarkan secara malas salah satu cerita murahan dari ayahnya.

Si ayah melanjutkan ....

“Ketika Colby sedang berinternet, dia secara tidak sengaja bergabung dengan salah satu situs khusus anak-anak pemain game online. Setelah beberapa saat, ia mulai bertukar pesan dengan anak-anak lain yang tergabung di game online lewat fitur chat. Ia berteman dengan anak laki-laki berusia 10 tahun dengan nama user: @Helper23.”

Selanjutnya pakde tulis Helper23 ya, Lur. Nanti takutnya banyak ngetag pengguna yang kebetulan sama. Paham ‘kan?

Si ayah jeda sebentar ... ada keseriusan di wajahnya lalu melanjutkan cerita, “Singkat waktu ... Colby dan Helper23 menyukai game online dan tontonan yang sama.”

“Mereka menertawakan lelucon satu sama lain ... berdua menjelajahi game-game baru bersama-sama.”

“Setelah beberapa bulan berteman, mereka seperti sahabat di dunia nyata. Colby pernah memberi Helper23 sejumlah uang di game dalam beberapa permainan yang mereka mainkan.”

Tetap jaga fokusnya, Lur. Pakde juga sudah serius ini narasinya. Fokus pada dialog atau cerita si ayah.

Sst ....! Lanjut. (Dengan nada pelan).

“Memberikan uang game adalah hadiah yang sangat murah hati.” Si ayah melanjutkan. Ada kesedihan yang tergambar kini, Lur.

“Ketika ulang tahun Colby semakin dekat, Helper23 ingin mengirimkan hadiah keren di dunia nyata.”

“Colby merasa tidak ada salahnya memberikan alamat rumahnya selama helper23 berjanji untuk tidak memberitahukannya kepada orang asing atau orang dewasa.”

“Helper23 bersumpah ia tidak akan memberi tahu siapa pun, bahkan orang tuanya sendiri, dan dia pun mulai mengirimkan paket itu kepada Colby sesuai alamat yang diberikan.”

Si ayah menghentikan cerita itu dan bertanya kepada anaknya, "Memberi alamat kepada orang di internet ... apakah menurutmu itu ide yang bagus?”

"Tidak!" jawab si anak sambil menggelengkan kepala kuat-kuat. Tanpa disadarinya, ia mulai menyelami ceritanya.

Ayah yang baik ini lalu melanjutkan ceritanya, Lur. “Ya, itu tidak bagus. Colby merasa bersalah karena telah membocorkan alamat rumahnya kepada Helper23 ... dan rasa takut mulai tumbuh.”

Kamu jangan pernah sekali-kali memberikan informasi apa pun kepada orang di sosmed ya, Lur. Bahaya, apalagi tidak kamu kenal di dunia nyata! Bisa-bisa kejadiannya sama kayak di cerita ini. Nah loh!

“Loh kok? Emang kenapa, De?”

Sst ...! Jangan berisik! Lagi fokus!

Si Ayah melanjutkan cerita, “Malam harinya saat Colby mengenakan piama, rasa bersalah dan ketakutannya tumbuh lebih besar daripada apa pun dalam hidupnya. Itulah kenapa malam itu Colby memutuskan hendak mengaku kepada orang tuanya karena telah memberikan alamat rumah kepada Helper23.”

“Hukumannya akan berat tentu, tetapi itu sepadan untuk membuat hati Colby lega atas kesalahannya.”

“Colby menggeliat di tempat tidur sambil menunggu orang tuanya datang untuk menidurkannya, sekaligus ingin berterus terang kalau ia sudah memberikan alamat rumah kepada teman game online yang ia kenal lewat internet.”

Si Ayah menghentikan sejenak cerita, sepertinya anaknya tahu bagian yang menakutkan akan segera datang, meskipun dia sempat berkata sombong tadi.

Kini si anak mencondongkan tubuh ke depan dengan mata terbelalak setelah mendengar cerita.

Nah si ayah lalu melanjutkan ceritanya lagi, Lur. “Colby mendengar semua suara di rumah malam itu. Mesin cuci memantul di ruang cuci. Cabang-cabang pohon menggesek bata di luar kamarnya. Adik laki-lakinya yang masih bayi menangis di kamar bayi.”

 

Si ayah melanjutkan ceritanya, "Tak lama setelah itu Colby mendengar suara langkah di lorong kamarnya. Buru-buru ia menoleh ke arah pintu.”

“Pintu kamar terbuka, kepala ayahnya Colby menjulur.”

"Ayah, ada yang ingin kukatakan padamu. Kata Colby saat kepala ayahnya menjulur di pintu yang terbuka sedikit itu."

“Ayahnya menjulurkan kepalanya ke ambang pintu dengan sudut yang aneh. Dalam kegelapan, mulutnya tampak tidak bergerak dan matanya tidak fokus.”

"Ya, Nak.”

"Ayah baik-baik saja?”

“Colby merasa ada yang aneh dengan ayahnya, ia berbicara, tetapi mulutnya tetap tidak bergerak.”

"Uh, uh. Jawab sang ayah dengan suaranya yang aneh.”

“Colby kemudian menarik selimutnya untuk menutup diri dan bertanya ... ibu ada di mana.”

"Aku di sini, Nak! Kepala ibunya juga menyembul di ambang pintu di bawah milik sang Ayah. Suaranya terdengar seperti falsetto yang tidak wajar.”

"Apakah kau akan memberi tahu kami bahwa kau telah memberikan alamat rumah kita kepada Helper23? Kau seharusnya tidak melakukan itu! Kami sudah bilang jangan pernah memberikan informasi pribadi di internet! Ibu Colby tampak marah.”

Duar!

Kenapa ibunya Colby bicara seperti itu ya Lur, padahal Colby baru akan mengaku, tetapi kok ibunya sudah tahu? Ada yang aneh gak menurutmu? Ditambah ayah dan ibunya Colby hanya menjulurkan kepala.

“Kayak orang yang ngelongok gitu gak sih, De?”

Ya, kayak orang yang melongok tanpa menampakkan tubuhnya. Itu kamu paham.

Bagaimana? Masih fokus to? Berlayer ‘kan ceritanya? Kamu akan pakde bawa pada suasana ayah yang bercerita kepada anaknya ... lalu pakde paksa kamu masuk ke dalam cerita ayahnya, membenamkanmu ke dalam cerita si Colby, dan tentu juga pakde yang tak hilang di sampingmu. He he he.

Orang yang kurang bisa berimajinasi karena kurang membaca pasti akan skip di sini. Serius kata pakde mah!

Ya, udah. Kalau gak kuat kamu cukup melambaikan tangan ke kamera. Hiks.😁

Yang masih bertahan ... kamu semakin dekat dengan kejutan!

Gas lagi yuk! Kembali fokus pada cerita ayahnya si anak ... dua tokoh yang ada di awal cerita, ya. Biar kamu gak bingung.

"Dia bukan anak kecil! Dia hanya berpura-pura menjadi anak kecil. Tahukah kau apa yang dilakukannya? Dia datang ke rumah ini, membobol rumah, dan membunuh kami berdua agar dia bisa menghabiskan waktu bersamamu!"

“Begitu kata ibunya Colby seakan-akan bicara kepada suaminya.”

Si ayah melanjutkan cerita, “Lalu seorang pria gemuk berjaket basah ... bersimbah ... muncul di ambang pintu kamar Colby sambil memegang dua kepala yang terpenggal.”

“Colby menjerit dan tersentak saat pria itu menjatuhkan kepala-kepala itu ke lantai ... kepala ibu dan ayahnya!”

“Pria gemuk itu memperlihatkan goloknya yang berdarah, sebelum kemudian masuk ke ruangan untuk menghabisi nyawa Colby.”

Si ayah menjerit, “Hua!”

Anaknya yang sudah larut ke dalam cerita jadi kaget dan ikut menjerit pula, “Akh!” Sambil menutup wajah untuk menyembunyikan rasa takutnya. Namun, cerita ayahnya bahkan belum selesai, maka si ayah pun melanjutkan ....

“Setelah menghabisi nyawa Colby pembunuh itu menyadari ada tangisan bayi di ruangan lain lalu mencabut pisaunya dari tubuh Colby.”

“Oek, oek, oek.”

“Pembunuh berpikir kalau ini adalah previlege karena selama ini ia belum pernah membunuh bayi ... dan sangat gembira dengan kemungkinan itu.”

Si ayah lalu melanjutkan ceritanya ....

“Pembunuh meninggalkan jasad Colby ... melangkah dan mengikuti tangisan bayi itu ke seluruh rumah seperti suar pelacak.”

“Sesampainya di sebuah kamar ... kamar bayi, pembunuh itu berjalan ke tempat tidur, mengangkat bayi itu, dan menggendongnya.”

“Pembunuh itu bergerak menuju meja ganti dan meletakkan bayi itu ... bayi itu pun menangis lagi. Namun, saat dia menggendong bayi itu, tangisannya mereda.”

“Bayi itu mendongak dan tersenyum.”

“Pembunuh itu belum pernah menggendong bayi, tetapi dengan lembut menggendongnya seperti seorang profesional.”

“Pembunuh menyeka tangannya yang berdarah di selimut supaya dia bisa membelai pipi bayi itu.”

"Hai, Anak kecil yang manis."

“Amarah sadisme yang indah mencair menjadi sesuatu yang lebih hangat dan lembut dari ucapannya tadi.”

“Pembunuh itu berjalan keluar dari kamar bayi, membawa bayi itu pulang, menamainya William, dan membesarkannya seperti anaknya sendiri.”

Si ayah lalu berkata, “Tamat!”

Setelah si ayah selesai bercerita, anaknya tampak terguncang. Di antara napasnya yang tersengal-sengal, ia tergagap, "Tapi, Ayah. Namaku William."

Si ayah mengedipkan mata khas lalu mengacak-acak rambutnya. "Tentu saja, Nak."

William berlari menaiki tangga menuju kamar tidurnya sambil menangis tersedu-sedu. Namun, jauh di lubuk hatinya, Bruno tahu anaknya akan menyukai cerita itu ....

Pernyataan: Cerita ini bersumber dari web Unsolved yang pakde narasikan guna kebutuhan cerita tanpa mengubah benang merahnya.

Tentang berita koran sore di pembuka cerita, apakah cerita si ayah karangan, siapakah si ayah, apakah kamu tahu? Lalu siapa anak yang bernama William? Tahukah kamu siapa sesungguhnya Helper23, apakah kamu juga ingin berkomentar? END

 

 


PAKDE NOTO

Baca juga cerita seru lainnya di Wattpad dan Follow akun Pakde Noto @Kuswanoto3.

No comments:

Post a Comment

Start typing and press Enter to search