BUKAN CERITA KARANGAN
‘Bruno, pembunuh yang telah menghilangkan nyawa puluhan anak dari sebuah web, 10 tahun belum tertangkap’.
Lelaki itu tak tertarik dengan isi koran yang memuat kejadian
sepuluh tahun silam itu ... lalu meletakkan koran sore di atas meja.
Perhatiannya kini teralih kepada anaknya yang sedang asyik chating
dari fitur yang ada di sebuah geme online.
Sama kayak Facebook, game online ini juga ada fitur chating
buat user atau penggunanya, biar lebih akrab satu sama lain. Paham kan sampai
sini ya, Lur?
Jadi, ceritanya gini ... di sebuah rumah yang ada di
pinggiran kota, hiduplah seorang ayah dan satu anaknya.
“Ibunya kok gak disebut sih, De?”
Gak punya ibu! Dengerin dulu pakde cerita napa, ha! Tanya
mulu dah, ah!
Lanjut gak, he?
“Oke, De. Lanjut!”
Si ayah ini orang tua tunggal ya, Lur.
“Cerai gitu, De?”
Entah. Pakde belum tanya apa penyebabnya. Bisa diem gak, ha!
Ribet tanya mulu! Pakde lempar sendal beneran nih, ya! Orang pakde lagi fokus
cerita juga!
“Dih, marah! Orang cuma tanya juga!”
Lanjut gak?
“Iya, iya. Lanjut!”
Kan tadi ayahnya meletakkan koran sore ... sempat ia baca
judul tentang pembunuh yang sudah puluhan tahun belum tertangkap ... kini
perhatiannya tertuju kepada anaknya yang asyik chating dengan user atau pemain
game lain ... anaknya laki-laki berumur 10 tahun.
Si ayah tahu kalau anaknya kini sudah kecanduan internet,
bukan hanya game online, chating, bahkan anaknya juga sudah berselancar dari
situs satu ke situs lainnya. Paham ‘kan sampai sini?
“Nak, sepertinya kita perlu bicara soal bahaya berinternet,”
kata sang ayah lalu perlahan-lahan duduk di sebelah anaknya yang tetap fokus pada
layar HP ... mengabaikan.
Tidak digubris, menoleh pun tidak.
“Nak, bisakah kau meletakkan HP-mu sebentar? Ini penting,”
imbuh ayahnya saat tak dihiraukan.
Sang anak dengan enggan keluar dari chating, meletakkan HP,
kemudian menatap ayahnya.
"Ayah, apakah kau
ingin menakut-nakutiku lagi dengan cerita karanganmu?”
"Apa?" Si ayah pura-pura sakit hati sejenak, lalu
menyeringai pada anaknya, "Cerita ayah asli semua tahu."
Asal kamu tahu ya, Lur. Si anak ini tumbuh besar dengan
mendengarkan cerita-cerita dari ayahnya loh. Cerita tentang anak-anak yang
bertemu penyihir, hantu, manusia serigala, dan pembunuh yang baik hati.
Seperti banyak generasi orang tua dulu, si ayah menggunakan
cerita menakutkan untuk memperkuat moral dan mengajarkan pelajaran tentang
keselamatan bagi si anak.
Eh, kalau kamu sering diceritakan tentang apa sama orang
tuamu? Tidak boleh keluar rumah sewaktu magrib, tentang gerhana bulan yang
konon dimakan oleh Batara Kala, atau cerita apa? Tulis di komen coba, pakde mau
tahu cerita masa kecil apa yang membekas di ingatanmu.
Waktu kecil sering banget ya kita diceritakan tentang
kisah-kisah legenda dan cerita pantangan, gak boleh gini, gak boleh lewat jalan
itu, kencing harus permisi, gak boleh menunjuk kuburan, dan masih banyak lagi
seabrek alasan kenapa kita gak boleh melakukannya. Masih ingat gak kamu, Lur?
Kenapa orang tua kita selalu bercerita? Pakde jadi tahu kini
bahwa mereka sedang menggunakan metode pengasuhan yang kreatif, ada nilai moral
yang ditanamkan kepada kita lewat cerita mereka loh.
Lewat cerita kita jadi tahu kenapa namanya Banyuwangi, ya ada
kisahnya. Kenapa Gunung Tangkupan Perahu, ya ada kisahnya. Kenapa pakde kalau tulis
di FB panjang, ya karena ada cuannya. Hiks. 😁 (Kayang).
Sudah, ah! Lanjut! Malah melebar ke mana-mana nanti.
Kan sampai lupa jadinya.
Pokoknya gitulah, Lur. Si anak menyangkal kalau cerita
ayahnya hanya karangan semua ... isinya hanya untuk menakut-nakuti.
Si anak mengernyitkan
wajahnya sedikit saat ayahnya bilang kalau cerita-cerita yang sering
disampaikan itu asli. "Cerita-cerita Ayah berhasil membuatku takut untuk
melakukan banyak hal ketika aku berusia 6 tahun. Akan tetapi, setelah aku
bertambah dewasa, cerita itu tidak membuatku takut lagi. Bahkan itu konyol jika
Ayah ingin membual tentang bahaya internet ... agar aku takut bermain game
online ‘kan? Ayah harus membuat cerita yang benar-benar menakutkan agar aku tak
lagi main internet," ucap si anak panjang lebar dengan hati sedikit kesal.
Si ayah menyipitkan mata padanya dengan raut meremehkan. “Heh
... sombong sekali.”
Si anak lantas melipat
tangannya, wajah merengut. "Ayah, aku berusia 10 tahun dan aku yakin
cerita Ayah tidak bisa lagi mempengaruhiku.”
"Hem ... oke ... kalau begitu. Ayah akan menceritakan
satu kisah yang berhubungan dengan internet ...."
Ngerasa gak sih kalau hubungan keduanya ini terasa hangat,
Lur? Seneng ya punya ayah yang suka bercerita.
Beda sama mendiang bapak pakde, “Jadi gemblaknya Warok Mangun
Dirjo itu enak loh, Le! Derajatmu bisa naik!”
Lupakan kalimat terakhir. Mari lanjut saat ayahnya memulai
cerita.😁
Eh, bingung gak kamu kalau pakde bercerita banyak layer
begini, he?
Kadang pakde bosan menulis yang begitu-begitu saja, pingin
inovasi sedikit biar tetap terjaga mood saat menulis. Perkara sampai di
imajinasimu atau tidak ... ya, tergantung seberapa tajam imajinasimu
membayangkan cerita yang pakde bawakan.
Maafkan pakde kalau egois, tetapi jujur pakde nyaman saat
menulis dengan gaya storytelling begini. Gampangnya kamu menonton video
storyteller kayak di Youtube ....
Yuk, lanjut!
****
Ayahnya mulai bercerita.
⚠Mohon
fokus pada bagian ini, Lur. Biar kamu gak bingung ... cerita ini diakhiri plot
twist yang membuatmu berpikir sedikit. Ya,
iyalah! Mosok maunya disuapin terus, dijelaskan secara rinci. Bukannya pintar
yang ada kamu malah manja dan males berpikir.
Mari kita mulai ...!
“Dahulu kala, ada seorang anak laki-laki bernama Colby ….” Si
ayah bercerita dengan wajah serius, ada goresan yang samar di pipinya ... kayak
bekas sayatan gitu.
Ekspresi anaknya menunjukkan bahwa ia tidak terkesan dengan
perkenalan tokoh Colby itu. Ia mendesah dalam-dalam dan mulai mendengarkan
secara malas salah satu cerita murahan dari ayahnya.
Si ayah melanjutkan ....
“Ketika Colby sedang berinternet, dia secara tidak sengaja
bergabung dengan salah satu situs khusus anak-anak pemain game online. Setelah
beberapa saat, ia mulai bertukar pesan dengan anak-anak lain yang tergabung di game
online lewat fitur chat. Ia berteman dengan anak laki-laki berusia 10 tahun dengan
nama user: @Helper23.”
Selanjutnya pakde tulis Helper23 ya, Lur. Nanti takutnya banyak
ngetag pengguna yang kebetulan sama. Paham ‘kan?
Si ayah jeda sebentar ... ada keseriusan di wajahnya lalu
melanjutkan cerita, “Singkat waktu ... Colby dan Helper23 menyukai game online
dan tontonan yang sama.”
“Mereka menertawakan lelucon satu sama lain ... berdua menjelajahi
game-game baru bersama-sama.”
“Setelah beberapa bulan berteman, mereka seperti sahabat di
dunia nyata. Colby pernah memberi Helper23 sejumlah uang di game dalam beberapa
permainan yang mereka mainkan.”
Tetap jaga fokusnya, Lur. Pakde juga sudah serius ini narasinya.
Fokus pada dialog atau cerita si ayah.
Sst ....! Lanjut. (Dengan nada pelan).
“Memberikan uang game adalah hadiah yang sangat murah hati.”
Si ayah melanjutkan. Ada kesedihan yang tergambar kini, Lur.
“Ketika ulang tahun Colby semakin dekat, Helper23 ingin mengirimkan
hadiah keren di dunia nyata.”
“Colby merasa tidak ada salahnya memberikan alamat rumahnya selama
helper23 berjanji untuk tidak memberitahukannya kepada orang asing atau orang
dewasa.”
“Helper23 bersumpah ia tidak akan memberi tahu siapa pun,
bahkan orang tuanya sendiri, dan dia pun mulai mengirimkan paket itu kepada
Colby sesuai alamat yang diberikan.”
Si ayah menghentikan cerita itu dan bertanya kepada anaknya,
"Memberi alamat kepada orang di internet ... apakah menurutmu itu ide yang
bagus?”
"Tidak!" jawab si anak sambil menggelengkan kepala
kuat-kuat. Tanpa disadarinya, ia mulai menyelami ceritanya.
Ayah yang baik ini lalu melanjutkan ceritanya, Lur. “Ya, itu tidak
bagus. Colby merasa bersalah karena telah membocorkan alamat rumahnya kepada
Helper23 ... dan rasa takut mulai tumbuh.”
Kamu jangan pernah sekali-kali memberikan informasi apa pun
kepada orang di sosmed ya, Lur. Bahaya, apalagi tidak kamu kenal di dunia
nyata! Bisa-bisa kejadiannya sama kayak di cerita ini. Nah loh!
“Loh kok? Emang kenapa, De?”
Sst ...! Jangan berisik! Lagi fokus!
Si Ayah melanjutkan cerita, “Malam harinya saat Colby
mengenakan piama, rasa bersalah dan ketakutannya tumbuh lebih besar daripada
apa pun dalam hidupnya. Itulah kenapa malam itu Colby memutuskan hendak mengaku
kepada orang tuanya karena telah memberikan alamat rumah kepada Helper23.”
“Hukumannya akan berat tentu, tetapi itu sepadan untuk
membuat hati Colby lega atas kesalahannya.”
“Colby menggeliat di tempat tidur sambil menunggu orang
tuanya datang untuk menidurkannya, sekaligus ingin berterus terang kalau ia
sudah memberikan alamat rumah kepada teman game online yang ia kenal lewat
internet.”
Si Ayah menghentikan sejenak cerita, sepertinya anaknya tahu
bagian yang menakutkan akan segera datang, meskipun dia sempat berkata sombong
tadi.
Kini si anak mencondongkan tubuh ke depan dengan mata
terbelalak setelah mendengar cerita.
Nah si ayah lalu melanjutkan ceritanya lagi, Lur. “Colby
mendengar semua suara di rumah malam itu. Mesin cuci memantul di ruang cuci.
Cabang-cabang pohon menggesek bata di luar kamarnya. Adik laki-lakinya yang
masih bayi menangis di kamar bayi.”
Si ayah melanjutkan ceritanya, "Tak lama setelah itu
Colby mendengar suara langkah di lorong kamarnya. Buru-buru ia menoleh ke arah
pintu.”
“Pintu kamar terbuka, kepala ayahnya Colby menjulur.”
"Ayah, ada yang ingin kukatakan padamu. Kata Colby saat
kepala ayahnya menjulur di pintu yang terbuka sedikit itu."
“Ayahnya menjulurkan kepalanya ke ambang pintu dengan sudut
yang aneh. Dalam kegelapan, mulutnya tampak tidak bergerak dan matanya tidak
fokus.”
"Ya, Nak.”
"Ayah baik-baik saja?”
“Colby merasa ada yang aneh dengan ayahnya, ia berbicara,
tetapi mulutnya tetap tidak bergerak.”
"Uh, uh. Jawab sang ayah dengan suaranya yang aneh.”
“Colby kemudian menarik selimutnya untuk menutup diri dan
bertanya ... ibu ada di mana.”
"Aku di sini, Nak! Kepala ibunya juga menyembul di
ambang pintu di bawah milik sang Ayah. Suaranya terdengar seperti falsetto yang
tidak wajar.”
"Apakah kau akan memberi tahu kami bahwa kau telah
memberikan alamat rumah kita kepada Helper23? Kau seharusnya tidak melakukan
itu! Kami sudah bilang jangan pernah memberikan informasi pribadi di internet!
Ibu Colby tampak marah.”
Duar!
Kenapa ibunya Colby bicara seperti itu ya Lur, padahal Colby
baru akan mengaku, tetapi kok ibunya sudah tahu? Ada yang aneh gak menurutmu?
Ditambah ayah dan ibunya Colby hanya menjulurkan kepala.
“Kayak orang yang ngelongok gitu gak sih, De?”
Ya, kayak orang yang melongok tanpa menampakkan tubuhnya. Itu
kamu paham.
Bagaimana? Masih fokus to? Berlayer ‘kan ceritanya? Kamu akan
pakde bawa pada suasana ayah yang bercerita kepada anaknya ... lalu pakde paksa
kamu masuk ke dalam cerita ayahnya, membenamkanmu ke dalam cerita si Colby, dan
tentu juga pakde yang tak hilang di sampingmu. He he he.
Orang yang kurang bisa berimajinasi karena kurang membaca
pasti akan skip di sini. Serius kata pakde mah!
Ya, udah. Kalau gak kuat kamu cukup melambaikan tangan ke kamera.
Hiks.😁
Yang masih bertahan ... kamu semakin dekat dengan kejutan!
Gas lagi yuk! Kembali fokus pada cerita ayahnya si anak ... dua
tokoh yang ada di awal cerita, ya. Biar kamu gak bingung.
"Dia bukan anak kecil! Dia hanya berpura-pura menjadi
anak kecil. Tahukah kau apa yang dilakukannya? Dia datang ke rumah ini,
membobol rumah, dan membunuh kami berdua agar dia bisa menghabiskan waktu
bersamamu!"
“Begitu kata ibunya Colby seakan-akan bicara kepada suaminya.”
Si ayah melanjutkan cerita, “Lalu seorang pria gemuk berjaket
basah ... bersimbah ... muncul di ambang pintu kamar Colby sambil memegang dua
kepala yang terpenggal.”
“Colby menjerit dan tersentak saat pria itu menjatuhkan
kepala-kepala itu ke lantai ... kepala ibu dan ayahnya!”
“Pria gemuk itu memperlihatkan goloknya yang berdarah,
sebelum kemudian masuk ke ruangan untuk menghabisi nyawa Colby.”
Si ayah menjerit, “Hua!”
Anaknya yang sudah larut ke dalam cerita jadi kaget dan ikut
menjerit pula, “Akh!” Sambil menutup wajah untuk menyembunyikan rasa takutnya.
Namun, cerita ayahnya bahkan belum selesai, maka si ayah pun melanjutkan ....
“Setelah menghabisi nyawa Colby pembunuh itu menyadari ada tangisan
bayi di ruangan lain lalu mencabut pisaunya dari tubuh Colby.”
“Oek, oek, oek.”
“Pembunuh berpikir kalau ini adalah previlege karena selama
ini ia belum pernah membunuh bayi ... dan sangat gembira dengan kemungkinan
itu.”
Si ayah lalu melanjutkan ceritanya ....
“Pembunuh meninggalkan jasad Colby ... melangkah dan
mengikuti tangisan bayi itu ke seluruh rumah seperti suar pelacak.”
“Sesampainya di sebuah kamar ... kamar bayi, pembunuh itu
berjalan ke tempat tidur, mengangkat bayi itu, dan menggendongnya.”
“Pembunuh itu bergerak menuju meja ganti dan meletakkan bayi
itu ... bayi itu pun menangis lagi. Namun, saat dia menggendong bayi itu,
tangisannya mereda.”
“Bayi itu mendongak dan tersenyum.”
“Pembunuh itu belum pernah menggendong bayi, tetapi dengan
lembut menggendongnya seperti seorang profesional.”
“Pembunuh menyeka tangannya yang berdarah di selimut supaya dia
bisa membelai pipi bayi itu.”
"Hai, Anak kecil yang manis."
“Amarah sadisme yang indah mencair menjadi sesuatu yang lebih
hangat dan lembut dari ucapannya tadi.”
“Pembunuh itu berjalan keluar dari kamar bayi, membawa bayi
itu pulang, menamainya William, dan membesarkannya seperti anaknya sendiri.”
Si ayah lalu berkata, “Tamat!”
Setelah si ayah selesai bercerita, anaknya tampak terguncang.
Di antara napasnya yang tersengal-sengal, ia tergagap, "Tapi, Ayah. Namaku
William."
Si ayah mengedipkan mata khas lalu mengacak-acak rambutnya.
"Tentu saja, Nak."
William berlari menaiki tangga menuju kamar tidurnya sambil
menangis tersedu-sedu. Namun, jauh di lubuk hatinya, Bruno tahu anaknya akan
menyukai cerita itu ....
Pernyataan: Cerita ini bersumber dari web Unsolved yang pakde
narasikan guna kebutuhan cerita tanpa mengubah benang merahnya.
Tentang berita koran sore di pembuka cerita, apakah cerita si ayah karangan, siapakah si ayah, apakah kamu tahu? Lalu siapa anak yang bernama William? Tahukah kamu siapa sesungguhnya Helper23, apakah kamu juga ingin berkomentar? END
Dukung Pakde Noto di Trakteer

No comments:
Post a Comment