Dukung SayaDukung Pakde Noto di Trakteer

[Latest News][6]

abu nawas
abunawas
berbayar
Budaya
cerbung
cerkak
cerpen
digenjot
gay
hombreng
horor
hot
humor
informasi
LGBT
mesum
misteri
Novel
panas
puasa
sejarah
Terlarang
thriller

Labels

MAIN DUKUN

 

Aku mendatangi dukun yang tersebar kabar ... katanya dukun mumpuni. 

Setelah memenuhi berbagai persyaratan, aku sampaikan niatku agar ia mau membantu menjadikan mantan suamiku itu dibenci oleh kaum hawa dan  tidak ada seorang pun mau dinikahinya!

 

"Bisa, 'kan, Mbah? Tolong saya, Mbah."

"Wes to. Tenango ae, Nduk. Perkoro asmoro, mbah iki ahline. He he he."

"Tapi syarate abot!" imbuhnya.

"Saya siap dengan segala risikonya, Mbah. Yang penting niat saya datang ke sini terkabul," balasku.

Dukun itu berdeham seraya memandangiku tajam. "Hem."

"Wes suwe awakmu dadi rondo, he?"

Aku menjadi canggung saat dukun itu menanyakannya.

Biar semuanya jelas, kemudian aku menceritakan semuanya di hadapan dukun itu.

 




****

 

Dulu ....

 

Perkenalanku dengan mantan suami bukan sesuatu yang kebetulan.

Kebiasaanku minum es degan di warung depan sebuah kampus membuat kami sering bertemu terutama saat jam istirahat.

Kebetulan juga kantor tempatku bekerja letaknya tidak jauh dari kampusnya.

Seringnya bertemu dan kesukaan pada menu minuman yang sama membuat kami sering bertegur sapa, bertukar cerita, hingga akhirnya suatu hari ia memberanikan diri ingin mengajakku nonton dan jalan-jalan.

Mendapat ajakan itu, rasanya aku seperti mendapat durian runtuh, bahkan mungkin lebih.

Saat itu aku merasa lebih gembira mendengar ajakannya daripada informasi kenaikan gaji dan bonus yang akan kuterima bulan depan.

Bagaimana tidak, gadis seusia diriku yang selama ini hanya bisa berkhayal mempunyai seorang kekasih dan belum apa-apa aku sudah membayangkan yang bukan-bukan, padahal ajakannya baru sebatas nonton, jalan-jalan dan ia belum menyatakan apa-apa.

Oh ... tidak!

AKu harus bisa mengendalikan diri. Meski tidak bisa kuungkiri bahwa dalam hati ini memendam harapan dan rasa cinta.

Aku jadi GR dan sering salah tingkah. Apakah itu yang namanya jatuh cinta?

Entah, aku tidak lagi memedulikannya.

Witing tresno jalaran soko kulino. Demikian teman-temanku yang dari Jawa sering bilang.

Yang kurasakan memang demikian.

Seiring dengan perjalanan waktu, ia pun menyatakan kata hatinya. Satu kata yang selama ini kutunggu-tunggu itu pun menjadi nyata.

“Aku cinta padamu,” katanya dengan tatapan mata yang lembut.

 

****

 

Setelah hampir 4 bulan.

Kami menyatakan resmi pacaran.

Rasa cintaku kian membuncah hingga sulit untuk tidak bertemu dengannya walau sehari. Sampai aku nekat mencari rumah kosnya bila sehari saja aku tidak mendengar suaranya.

Demi cinta, aku juga rela menyerahkan sebagian gajiku untuk keperluannya ketika orang tuanya menghentikan kiriman uang karena sudah tidak mampu dan sering sakit-sakitan.

Aku memberanikan diri menanggung semua keperluannya, meski untuk itu aku harus berbohong pada ibuku dan mulai jarang memberinya uang. Sepotong kue kesenangan ibu pun sudah jarang kubelikan.

Benar kata orang, kekuatan cinta terkadang mengalahkan segalanya.

Begitulah yang kualami, yang penting aku masih bisa berdampingan dengannya. Aku bersyukur, akhirnya usahaku tidak sia-sia.


****

 

Dua tahun kemudian ia lulus dan menyandang gelar sarjana. 

Sesuai kesepakatan yang telah kami buat, maka 3 bulan setelah wisuda, kami menikah.

Rencana pernikahan kami ditentang kakak-kakakku, hanya karena ia belum mempunyai penghasilan dan perbedaan usia kami.

Aku lebih tua 4 tahun darinya, tetapi aku tetap melenggang. The show must go on, begitu yang terlintas dalam benakku.

Ya, kami tetap memutuskan untuk menikah.

 

****

 

Seminggu kemudian.

Aku tetap bahagia dan kebahagiaanku semakin komplit manakala seminggu setelah pernikahan, ia diterima kerja di perusahaan kontraktor.

Gajinya memang belum begitu besar bila dibanding dengan gajiku, tetapi hal itu tidak menjadi masalah buatku.

Dengan kemampuan seadanya kami pun memilih mencari rumah kontrakan yang lebih baik. Namun, ternyata di sinilah awal mula bencana kekisruhan rumah tanggaku. Ia yang dulu romantis, penyayang dan sangat perhatian langsung berubah. Ia bagaikan serigala berbulu domba. Wataknya yang asli tak lagi dapat disembunyikannya.

Dulu, untuk berbicara saja suamiku sangat hati-hati, bahkan hampir dibilang tidak pernah berkata kasar. Namun, semuanya telah berbalik 180 derajat.

 

****

 

Pada bulan pertama usia pernikahan kami, kesalahpahaman mulai sering terjadi.

Dari yang paling kecil seperti urusan kebersihan rumah, setrikaan yang kurang rapi, menu makanan yang katanya monoton, hingga seabrek masalah yang ketika pacaran tidak pernah dipermasalahkan, kini sering dijadikan bahan perdebatan.

Pertengkaran pun sering terjadi. Bahkan ia mengumpat dengan kata-kata kotor yang tidak pernah kudengar ketika masa pacaran dulu.

Kalau sudah begitu, biasanya aku lebih banyak mengalah, bersabar dan berdoa. Semoga ini hanya ujian sementara yang akan segera berakhir.

Harapan hanya tinggal harapan. Kenyataannya yang kualami justru semakin parah.

 

****

 

Memasuki bulan kedua.

Suamiku mulai berani menghardik dan tega memukulku bila aku menjawab, meskipun hanya sekadar untuk membela diri. Akibatnya, aku sering melamun. Di tempat kerja pun aku sering menangis.

Aku tidak berani mengadukan masalah ini pada kakak-kakakku yang pernah menentang pernikahan kami ... karenanya aku sering sakit-sakitan.

Dalam kondisi seperti itu pun ia tidak memperhatikan kesehatanku.

Sebaliknya, ia sering tidak pulang ke rumah dengan alasan lembur kerja, meski sejujurnya aku juga bersyukur bila ia tidak di rumah karena setidaknya caci maki dan tamparan tidak kuterima, biasanya hampir setiap hari menderaku.

 

****

 

Memasuki bulan ketiga adalah puncak perlawananku.

Aku yang semula hanya menerima atas perlakuannya yang kasar sudah berani melawan. Akibatnya pertengkaran kami sering mengganggu tetangga. 

Bukan hanya sekadar suara bentakan, tetapi pecahan perabot rumah pun hampir selalu ada pada setiap pertengkaran.

Rumah tanggaku yang belum genap seumur jagung kurasakan bagai neraka saja. Terlebih ketika aku tahu ia menjalin cinta dengan wanita lain di tempat kerjanya.

Hatiku meradang ... emosiku semakin tidak terkendali. Jika semula ia yang memulai pertengkaran, justru kini akulah yang lebih sering menyerang dan memukulnya dengan apa saja yang ada di sekelilingku.

Aku sering mengamuk seperti orang kesurupan, hingga pada akhirnya suatu hari pukulan telaknya bersarang di dadaku. Aku terjerembap dan tak sadarkan diri.

 

****

 

Melalui proses yang agak rumit akhirnya gugatan perceraianku dikabulkan oleh KUA, meskipun sampai sekarang ia tidak mau menandatangani surat talaknya itu. 

Jadilah aku menyandang gelar janda. Saat itu aku merasa menjadi manusia yang merdeka.

Aku merasa telah terbebas dari sebuah impitan batu yang sangat berat, meskipun aku harus memulai hidup dengan kesendirian lagi.

Biarlah.  Toh aku masih muda dan masih bisa mencari pria lain, pikirku saat itu.

Pokoknya yang penting aku telah bebas dari cacian, makian, tamparan, dan berbagai pertengkaran dengan orang yang tidak tahu diuntung.

 

****

 

Sejalan dengan berlalunya waktu.

Ternyata aku tidak bisa melupakannya. Mungkin karena dia adalah lelaki pertama yang membuatku terpesona.

Kenangan indah itu tetap tidak bisa terhapus oleh perangainya yang kasar.

Jujur, bayangan wajahnya, senyumnya, candanya, sesekali melayang di ingatanku. Satu kenyataan yang membangkitkan rasa rindu.

Secara sembunyi-sembunyi, aku sering mencari informasi tentang dirinya.

Ketika aku mendengar ia akan menikah, entah mengapa dada ini rasanya sesak.

Aku sadar ia bukan suamiku lagi, tetapi kesan ia masih mencintaiku tidak bisa terhapus dari sorot matanya, saat ia menjengukku di rumah sakit. Satu hal yang membuatku masih sedikit berharap ia akan kembali ke pangkuanku. Namun, setelah mendengar berita rencana pernikahannya, tiba-tiba aku jadi dendam.

Amarah yang selama ini telah terkubur dalam-dalam bangkit, gentayangan dan siap membalas dendam.

 

****

 

"Begitulah awal mula kenapa saya mendatangi Panjenengan, Mbah," ucapku setelah menceritakan semua dari awal.

"Tapi, Mbah. Bisa, 'kan bantu saya?"

"Ngremehno! Wong kene kok diremehno! Okeh wong-wong njalok montro lan pingin mertombo kambek mbah! Ojo ngremehno po 'o!"

"Eh, maaf, Mbah. Maksud saya ...."

"Wes, ayo!"

Aku beranjak mengikuti dukun yang akan mengabulkan permintaanku untuk membalaskan rasa sakit hati ini.

 

****

 

Tak lama kemudian aku memasuki sebuah ruangan, tetapi semua dindingnya ditutupi kain hitam. Tidak ada perapen atau umbo rampe seperti bayanganku, tetapi hanya ada satu amben ... tempat tidur dengan satu bantal kapuk.

"Lungguh." Dukun itu memintaku untuk duduk di amben.

"Awakmu kudu manut, yo. Mbah akan mengalirkan energi kepadamu supaya maksud dan tujuanmu lekas tercapai."

Awalnya aku menolak karena aku mencium gelagat aneh saat dukun itu menyuruhku duduk dengan memegang kedua bahu serta wajahnya ia coba dekatkan ke arah dadaku, tetapi semua aku singkirkan, ini demi dendamku.

"Tapi, Mbah ...." Aku mulai takut kini.

Aku menjadi risi saat dukun itu mulai menghujani ciuman dengan kumis kasarnya yang menyasar di wajahku.

"Loro atimu luweh penting ketimbang iku. Rak yo wes gak perawan to?"

"Jangan, Mbah." Aku menepis tangannya yang mulai kurang ajar saat mencoba menyentuh bagian itu.

"Kalau kamu tidak mau yo, enggak opo-opo. Mbah gak mekso!"

Dukun itu menarik wajah dari leherku. Aku melihat wajahnya kesal.

Aku sejenak terdiam. Sakit hatiku kembali timbul bila mengingat mantan suamiku yang sebentar lagi akan menikah.

"Piye? La wong garek hok oh. Penak ... penak, Nduk. Awakmu rak yo wes suwe gak tau diambah bojomu to?"

"Piye?"

Aku mengangguk dan hanya pasrah saat dukun itu mulai melepas pakaianku satu demi satu.

"Modus!" batinku.

Dengan segera aku menutup tubuh dengan menyilang kedua tangan saat dukun itu kemudian melepas baju serta kolor hitam miliknya.

Aku seketika menggeleng. "Tapi, Mbah ...."

"Ladalah piye to ki! Iki lo deloken. Deloken! Wes tungul-tungul to?" Dukun itu menunjuk ‘jimat keramatnya’ sendiri.

"Awakmu kudu tak ritual ben kabeh kabul penjalokkanmu. Wes gek dicekel jimate! 

Aku seperti orang bodoh yang manut saja saat dukun itu menyuruh memegang jimat keramatnya yang hitam ... seperti melotot ke arahku. 

Mungkinkah dendamku akan terbalas ... suamiku tidak akan bisa menikah dengan perempuan lain ... atau aku yang justru terlibat masalah karena tidak bisa melupakan jimat keramat milik dukun cabul itu dan ....

Yah! Sayangnya cerita terhenti sampai di sini. Namun, jangan khawatir, kamu bisa baca full ceritanya di Trakteer. Iya, gak harus instal aplikasinya, cukup via web saja kok.

“Caranya bagaimana?”

Link cerita ada di sini 👉 MAIN DUKUN full cerita

PAKDE NOTO

Baca juga cerita seru lainnya di Wattpad dan Follow akun Pakde Noto @Kuswanoto3.

No comments:

Post a Comment

Start typing and press Enter to search