Dukung SayaDukung Pakde Noto di Trakteer

[Latest News][6]

abu nawas
abunawas
berbayar
Budaya
cerbung
cerkak
cerpen
digenjot
gay
hombreng
horor
hot
humor
informasi
LGBT
mesum
misteri
Novel
panas
puasa
sejarah
Terlarang
thriller

Labels

DAGING KURBAN

 

“Menopo wonten malih kang kedah kulo rampungaken, Juragan?” (Apakah ada lagi yang harus saya selesaikan, Juragan?) tanyanya pelan.

Juragan Ngadiman yang sejak tadi duduk di kursi rotan hanya menatap lelaki yang duduk di hadapannya sambil mengisap kereteknya.

“Menawi mboten, kulo matur pamit. Yogo kulo kiyambakan teng griyo.” (Kalau tidak ada lagi yang harus saya kerjakan, saya pamit  pulang. Anakku sendirian di rumah).

Juragan Ngadiman tersenyum tipis. “Engko sek tah lah.” (Nanti dulu). Lalu mematikan rokoknya ke asbak lempung.

Juragan Ngadiman lantas berdiri di hadapan lelaki itu lalu berkata, “Aku iki wes apik kambek awakmu. Wes pirang warso awakmu kerjo kambek aku, ha?” (Aku ini baik sama kamu. Sudah berapa tahun kamu kerja denganku, ha?).

“Sampun sedoso warso, Juragan.” (Sepuluh tahun, Juragan).

“Nate telat mabyar awakmu?” (Aku pernah telat membayarmu?)

“Mboten, Juragan.” (Tidak, Juragan).

“Nate gawe awakmu susah?” (Aku pernah bikin kamu susah?).

Lelaki membalas dengan menggeleng. Hatinya mulai merasa tidak nyaman dengan semua pertanyaan itu. “Kulo ... kulo maturnuwun sanget kaleh Panjenengan,” (Saya ... saya berterima kasih sama Juragan) jawabnya pelan.

“Nek ngono ... kudune awakmu ugo ngerti opo seng tak karepno!” (Kalau begitu … harusnya kamu juga ngerti apa yang aku mau!), balas Juragan Ngadiman.

Lelaki itu mengernyit pelan. “Masudipun dos pundi, Juragan?” (Maksudnya apa, Juragan?).

Juragan bangkit dari kursinya lalu berjalan mendekat perlahan. “Aku ki kesepian, Suro! Awakmu mudeng to opo penjalokanku?” (Aku kesepian, Suro! Kamu paham apa yang aku maksud?).

****


****



DAGING KURBAN

Sejak pagi buta, suara takbir menggema dari pengeras suara yang ada di bawah kubah masjid, dekat jembatan bambu.  Tak lama lagi jalan yang mengarah ke masjid, tak jauh dari jembatan bambu ... biasanya sepi, akan ramai oleh orang-orang yang berbondong-bondong untuk melaksanakan salat Id.

Akan tetapi,  ada satu hal yang paling ramai dibicarakan oleh warga di tahun ini. Juragan Ngadiman menyembelih sapi kurban besar untuk dibagikan ke seluruh warga kampung.

 

Kabar itu terdengar sangat mengejutkan sebab selama ini Juragan Ngadiman dikenal bukan sebagai orang yang suka berbagi.

Ia kaya raya? Benar.

Pelit? Heleh. Sudah pasti!

Sawahnya setengah dari tanah desa, punya pabrik slepan gabah. Orang-orang datang ke rumahnya hanya kalau terpaksa. Kalau butuh pekerjaan, terlilit utang, atau kalau sedang tidak punya pilihan lain.

Ketika terdengar kabar bahwa wong medit itu akan membagikan daging kurban untuk seluruh warga, kampung langsung banjir pujian.

“Alhamdulillah. Akhire juragan gelem adom aweh.” (Alhamdulillah. Akhirnya juragan mau berbagi juga).

“Jare sapine guwedii tenan.” (Katanya sapinya besar sekali).

“Ncen rezekine wong kampung.” (Rezeki warga memang).

“Nembe iki wonge ngeneki.” (Baru kali ini beliau begini).

 

****

 

Seusai salat Id.

Halaman rumah besar Juragan Ngadiman sudah dipenuhi orang-orang.

Ibu-ibu datang untuk melihat proses penyembelihan. Para lelaki berdiri mengelilingi seekor sapi besar yang diikat dekat kandang belakang.

Juragan Ngadiman berdiri di teras. Senyum tipis terlihat di wajahnya. “Ogak usah rebutan. Kabeh komanan!” (Tidak usah rebutan. Semua kebagian!) katanya lantang.

Warga mengangguk hormat.

 

***

Tak lama kemudian sapi besar itu disembelih di halaman belakang rumah. Lenguhnya terdengar menyayat sesaat sebelum perlahan menghilang diikuti darah mengalir ke selokan kecil dekat kandang.

Beberapa lelaki sibuk membantu menguliti dan memotong daging di atas meja panjang. Yang lain membungkusnya ke dalam plastik-plastik hitam lalu ....

“Ojo dibagekno sek. Gowo mlebu!” (Jangan dibagikan dulu. Bawa ke dalam!) perintah Juragan Ngadiman.

Beberapa anak buahnya lantas membawa bungkusan yang sudah berisi daging kurban ke dalam rumah.

“Kate tak itung sek lan mastekno nek kabeh oman!” (Aku akan menghitungnya dan memastikan kalau semua kebagian!).

Warga mengangguk.

Ditambah uang, ditambah dua canting beras ... semua membayangkan bukan hanya daging kurban, lalu bungkusan akan dibagikan. Begitu dugaan warga.

Tak lama kemudian bungkusan yang berisi daging kurban dikeluarkan dari dalam rumah, di kumpulkan di teras.

“Bagekno nggo sopo ae seng teko neng omahku,” (Bagikan kepada siapa saja yang datang ke rumahku,) katanya kepada para anak buahnya.

 

****

Sementara itu, di jalan ujung kampung.

Seorang gadis remaja, rambut dikepang dua, bernama Sutasmi, justru terlihat cemas, mencari bapaknya yang belum juga pulang selama dua hari, tidak ikut antre di rumah Juragan Ngadiman.

Bapaknya bekerja sebagai anak buah Juragan Ngadiman sejak bertahun-tahun lalu. Kadang menjaga gudang, kadang mengurus ternak, kadang membantu pekerjaan di rumah besar itu hingga larut malam.

“Bapak ki jane neng ndi to lah!” (Di mana sih Bapak sebenarnya!) rutuk Sutasmi sambil terus menyusuri jalan.

“Wes reti riyayan kok malah ora balik!” (Sudah tahu hari raya kok tidak pulang!).

 

****

 

Menjelang sore Sutasmi memberanikan diri datang ke rumah Juragan Ngadiman.

Halaman rumah itu masih ramai oleh antrean warga.

Beberapa anak buah Juragan Ngadiman terlihat sibuk membagikan daging kepada warga. Namun, Sutasmi tidak melihat bapaknya ada di sana.

Suara warga yang mulai khawatir tidak mendapat bungkusan riuh di antara rasa cemas Sutasmi yang terus mencari keberadaan bapaknya.

Salah satu anak buah Juragan Ngadiman melihatnya lalu mendekat “Kowe rak anake Pakde Suro to?” (Kamu anak Pakde Noto, ‘kan?).

Sutasmi mengangguk cepat. “Leres, Paklik. Bapak kulo onten?” (Betul, Paklik. Bapak saya ada?).

Lelaki itu diam sesaat sebelum akhirnya menjawab pelan, “Ora weroh ket wingi.” (Nggak lihat dari kemarin).

“Bapak kulo medamel teng mriki to, Paklik?” (Bapak saya kerja di sini ‘kan, Paklik?).

“Menowo jek dikongkon jurgan golek opo to opo,” (Mungkin lagi disuruh cari apa sama juragan) balas lelaki itu.

“Ning niki sampun kaleh dinten loh, Paklik!” (Tapi sudah dua hari loh, Paklik!).

Lelaki itu tak menjawab, justru mengambil berteriak kepada rekannya, “Gowo rene siji nggo anake Pakde Suro!” (Satu untuk anaknya Pakde Suro!).

Tak lama berselang satu anak buah Juragan Ngadiman datang dengan bungkusan plastik hitam

“Iki nggo kowe, Nduk.” (Ini buat kamu, Nduk).

“Kulo niki madosi Bapak, Paklik!” (Aku ini cari Bapak, Paklik!).

 

“Iyo, mengko yo balik, Nduk.” (Iya, nanti juga pulang, Nduk).

“Ning, Pklik ....” (Tapi, Paklik ....).

“Wes! Tomponen.” (Sudah! Ambil saja).

Sutasmi menggeleng pelan. “Mboten usah, Paklik.” (Nggak usah, Paklik).

Lelaki itu terlihat bingung, heran ada orang yang menolak pemberian daging kurban juragannya.

Sutasmi berniat pergi meninggalkan halaman rumah tersebut. Namun, tanpa disadari Juragan Ngadiman sudah berdiri di belakangnya. “Nek bapakmu balek,” (Kalau bapakmu pulang,) katanya pelan, “kon mrene sesok isuk.” (suruh datang besok pagi).

Sutasmi hanya mengangguk kecil lalu pergi.

 

****

Sore itu kampung diselimuti rasa bahagia. Malam harinya, aroma masakan mulai tercium di mana-mana.

“Daginge empuk yo, Pak.” (Dagingnya empuk ya, Pak).

“Hoh oh, ncen wenak nek disanteni.” (Iya, enak buat gulai).

“Juragan ncen jek apik.” (Juragan memang lagi baik).

 

****

Akan tetapi, tidak dengan Sutasmi, dia hanya duduk sendiri di ruang depan sambil memandangi pintu rumah, berharap bapaknya pulang.

Sesekali Sutasmi keluar rumah ketika mendengar suara langkah dari jalan. Namun, setiap kali dilihat, ternyata hanya tetangga yang lewat sambil membawa piring, bukan bapaknya.

“Bapak ki neng ndi to jane, Pak?” (Bapak ada di mana, Pak?).

Dengan wajah kesal Sutasmi menutup pintu, tetapi ....

Tok! Tok! Tok.

Sutasmi buru-buru membukanya. Namun, yang berdiri di depan rumah bukan bapaknya, melainkan Pakde Warto, salah satu pekerja lama Juragan Ngadiman.

“Pakde?”

“Pakde oleh mlebu, Nduk?” (Pakde boleh masuk sebentar, Nduk?).

Sutasmi mengangguk cepat. “Monggo, Pakde.” (Silakan, Pakde).

Pakde Warto masuk sambil berkali-kali menoleh ke belakang seperti takut diikuti seseorang.

Beliau duduk di kursi bambu dekat pintu, tangannya terlihat gemetar.

“Lha opo kowe jek nggoleki bapakmu?” (Kamu masih cari bapakmu?).

“Hanggih, Pakde. Niki sampun kaleh dinten mboten wangsul.” (Iya, Pakde. Sudah dua hari tidak pulang).

Pakde Warto lalu berkata lirih, “Enek seng kudu kowe weroh.” (Ada sesuatu yang harus kamu tahu).

Jantung Sutasmi langsung berdegup keras. “Nopo, Pakde?” (Apa, Pakde?).

Pakde Warto meremas tangannya sendiri lalu berkata pelan, “Bengi kae ... pakde dikongkon juragan ....” (Malam itu … pakde disuruh juragan ....).

Pintu rumah mendadak terbuka.

Brak!

Pakde Warto langsung diam saat Juragan Ngadiman berdiri bersama tiga anak buahnya.

“Ladalah,” katanya pelan, “tibakno Pakde Warto neng kene.” (ternyata Pakde Warto di sini).

 

Pakde Warto langsung menunduk pucat.

Juragan Ngadiman melangkah masuk sambil membawa satu bungkusan plastik hitam. “Nduk,” katanya lembut, “sepurone nek bapakmu gurung balek. Jek onok penggawean.” (maaf bapakmu belum pulang. Masih ada kerjaan).

Sutasmi tidak menjawab.

Juragan lalu menyodorkan bungkusan itu padanya. “Iki nggo awakmu. Rezeki riyoyo.” (Ini buat kamu. Rezeki hari raya).

Sutasmi kontan mundur sedikit.

 

“Mboten usah, Juragan.” (Tidak usah, Juragan).

 

“Loh tompoen!” (Ambil saja!).

Dengan tangan gemetar Sutasmi akhirnya menerima juga bungkusan tersebut.

“Aku mrene kate ngeterno bagiane bapakmu,” (Aku ke sini hanya mau mengantar bagiannya bapakmu,) ujar Juragan Ngadiman lalu memberi isyarat agar ketiga anak buahnya segera angkat kaki. “Aku pamit.”

Sebelum pergi, Juragan Ngadiman sempat menoleh pada Pakde Warto.

Tatapan mereka bertemu beberapa detik. Wajah Pakde Warto langsung berubah semakin pucat.

Juragan Ngadiman lantas melangkah pergi.

“Nek ngono, pakde pamit, Nduk.” (Kalau begitu, pakde pulang dulu, Nduk).

“Nanging, Pakde. Wau Pakde nate ngendiko nopo?” (Tapi, Pakde. Tadi Pakde mau bilang apa?).

Pakde Warto diam lalu menggeleng pelan. “Wes ra sido ....” (Sudahlah .…).

Pakde Warto benar-benar pergi sebelum Sutasmi sempat bertanya lagi.

“Pakde!” panggil Sutasmi mencoba menahan langkah Pakde Warto.

 

****

 

Keesokan paginya kampung mendadak gempar.

“Woi, onok seng kendat! Onok seng kendat!” (Woi, ada yang mati gantung diri! Ada yang gantung diri).

Semua lantas berlarian mengikuti lelaki yang memberi kabar duka.

“Sopo seng kendat, ha?” (Siapa yang gantung diri, ha?) tanya satu warga kepada temannya.

Dib alas, “Halah, emboh! Wes ayo mrono!” (Tidak tahu! Ayo, ke sana!).

Kabar tersebar cepat. Warga langsung berbondong-bondong menuju ke sana.

Tak luput juga, kabar itu sampai di telinga Sutasmi.

Pintu digedor.

Dok! Dok! Dok.

“Mi, Sutasmi!” teriak satu perempuan yang mengendong bocah kecil.

Sutasmi bergegas membuka pintu.

“Onten nopo, Mbokde?” (Ada apa, Mbokde?).

“Jare enek wong lanag seng kendat.” (Katanya ada lelaki yang gantung diri).

“Ha! Kendat, Mbokde?” (Ha! Gantung diri, Mbokde?).

“Aku kok sumelang nek iku ... iku ... iku bapakmu, Nduk!” (Aku khawatir kalau itu ... itu ... itu bapakmu, Nduk!).

Mata Sutasmi sontak berkaca-kaca, membayangkan kalau bapaknya ....

“Wes ayo, mrono! Kowe kudu mastekno, Nduk!” (Sudah ayo, ke sana! Kamu harus pastikan, Nduk!”

Tanpa menutup pintu, Sutasmi lantas berlari lebih dulu sambil berteriak, “Bapakkkkk!”

Yang ada di pikiran Sutasmi adalah bapak nya yang sudah tidak pulang tiga hari ini ... ternyata tewas gantung diri.

Perempuan itu lantas mengejar Sutasmi. “Nduk!”

 

****

Tak jauh dari jembatan bambu ada lelaki ditemukan tewas menggantung di pohon randu.

Tubuh lelaki tua itu menggantung dengan tali melilit lehernya.

Beberapa perempuan yang datang menutup mulut karena ngeri.

“Oalah, Gusti.”

“Mambengi lo jek ketemu. Ngopo kok ujug-ujug kendat?” (Semalam masih bertemu. Kenapa mendadak bunuh diri?).

Sutasmi datang langsung menerobos kerumunan orang-orang. “Bapakkkkk!” teriaknya.

Begitu sampai di depan ... Sutasmi melihat sosok yang menggantung itu, mengenalnya, bahkan semalam masih bertemu.

“Pakde Warto,” ucapnya lirih lalu menutup mulut saking tidak percaya.

“Dukne mayate!” (Turunkan mayatnya!).

“Ayo! Seng liyone tolong ewangi ngedukne!” (Ayo! Yang lain tolong bantu turunkan!).

“Ayo!”

“Ayo ewangi!” (Ayo kita bantu!).

Saat tubuh Pakde Warto mulai diturunkan, Sutasmi melangkah mundur. Sungguh dia tidak tahan melihatnya.

Perasaannya campur aduk, antara lega dan sedih. Lega karena itu bukan bapaknya, sedih karena Pakde Warto sudah seperti saudara baginya.

Pakde Warto sering datang bersama bapaknya selepas pulang dari rumah Juragan Ngadiman ... sama-sama bekerja di rumah wong sugeh ning medit itu.

Sutasmi memutuskan meninggalkan kerumunan saat orang-orang mulai menggotong mayat Pakde Warto pulang untuk dimakamkan secara layak. Namun, matanya melihat ada gumpalan kertas putih di antara semak di ujung jembatan.

Sutasmi mengambilnya ... selembar kertas kusut lalu membaca tulisan gedrik yang ditulis tangan.

Tangannya gemetar saat membaca. Tulisan itu ditujukan kepadanya.

‘Nduk, Sutasmi. Kalau surat ini sampai ke tanganmu, kemungkinan pakde sudah mati.

Maafkan pakde, Nduk. Bapakmu itu orang baik.

Juragan Ngadiman menyukai bapakmu sejak lama, tetapi bapakmu menolak.

Malam itu bapakmu menolak ajakan juragan ... juragan minta agar bapakmu mengeloninya. Bapakmu menolak, Nduk.

Juragan sakit hati. Kami disuruh menghabisi bapakmu. Pakde ikut membantu.

Setelah itu, tubuh bapakmu dicampur bersama daging kurban untuk menghilangkan jejak.

Pakde berdosa, Nduk. Berdosa! Maafkan pakde, Nduk’.

Surat itu jatuh dari tangan Sutasmi. Pandangannya mendadak gelap. Tubuhnya ambruk ke tanah. END

 

 

 

PAKDE NOTO

Baca juga cerita seru lainnya di Wattpad dan Follow akun Pakde Noto @Kuswanoto3.

No comments:

Post a Comment

Start typing and press Enter to search