DAGING KURBAN
“Menopo
wonten malih kang kedah kulo rampungaken, Juragan?” (Apakah ada lagi yang harus
saya selesaikan, Juragan?) tanyanya pelan.
Juragan Ngadiman
yang sejak tadi duduk di kursi rotan hanya menatap lelaki yang duduk di hadapannya
sambil mengisap kereteknya.
“Menawi
mboten, kulo matur pamit. Yogo kulo kiyambakan teng griyo.” (Kalau tidak ada
lagi yang harus saya kerjakan, saya pamit pulang. Anakku sendirian di rumah).
Juragan Ngadiman
tersenyum tipis. “Engko sek tah lah.” (Nanti dulu). Lalu mematikan rokoknya ke
asbak lempung.
Juragan Ngadiman
lantas berdiri di hadapan lelaki itu lalu berkata, “Aku iki wes apik kambek
awakmu. Wes pirang warso awakmu kerjo kambek aku, ha?” (Aku ini baik sama kamu.
Sudah berapa tahun kamu kerja denganku, ha?).
“Sampun sedoso
warso, Juragan.” (Sepuluh tahun, Juragan).
“Nate telat
mabyar awakmu?” (Aku pernah telat membayarmu?)
“Mboten,
Juragan.” (Tidak, Juragan).
“Nate gawe
awakmu susah?” (Aku pernah bikin kamu susah?).
Lelaki membalas
dengan menggeleng. Hatinya mulai merasa tidak nyaman dengan semua pertanyaan
itu. “Kulo ... kulo maturnuwun sanget kaleh Panjenengan,” (Saya ... saya
berterima kasih sama Juragan) jawabnya pelan.
“Nek ngono
... kudune awakmu ugo ngerti opo seng tak karepno!” (Kalau begitu … harusnya
kamu juga ngerti apa yang aku mau!), balas Juragan Ngadiman.
Lelaki itu
mengernyit pelan. “Masudipun dos pundi, Juragan?” (Maksudnya apa, Juragan?).
Juragan
bangkit dari kursinya lalu berjalan mendekat perlahan. “Aku ki kesepian, Suro! Awakmu
mudeng to opo penjalokanku?” (Aku kesepian, Suro! Kamu paham apa yang aku
maksud?).
****
****
DAGING KURBAN
Sejak pagi
buta, suara takbir menggema dari pengeras suara yang ada di bawah kubah masjid,
dekat jembatan bambu. Tak lama lagi
jalan yang mengarah ke masjid, tak jauh dari jembatan bambu ... biasanya sepi,
akan ramai oleh orang-orang yang berbondong-bondong untuk melaksanakan salat Id.
Akan tetapi,
ada satu hal yang paling ramai
dibicarakan oleh warga di tahun ini. Juragan Ngadiman menyembelih sapi kurban
besar untuk dibagikan ke seluruh warga kampung.
Kabar itu
terdengar sangat mengejutkan sebab selama ini Juragan Ngadiman dikenal bukan
sebagai orang yang suka berbagi.
Ia kaya raya?
Benar.
Pelit? Heleh.
Sudah pasti!
Sawahnya
setengah dari tanah desa, punya pabrik slepan gabah. Orang-orang datang ke
rumahnya hanya kalau terpaksa. Kalau butuh pekerjaan, terlilit utang, atau
kalau sedang tidak punya pilihan lain.
Ketika
terdengar kabar bahwa wong medit itu akan membagikan daging kurban untuk
seluruh warga, kampung langsung banjir pujian.
“Alhamdulillah.
Akhire juragan gelem adom aweh.” (Alhamdulillah. Akhirnya juragan mau berbagi
juga).
“Jare sapine
guwedii tenan.” (Katanya sapinya besar sekali).
“Ncen
rezekine wong kampung.” (Rezeki warga memang).
“Nembe iki
wonge ngeneki.” (Baru kali ini beliau begini).
****
Seusai
salat Id.
Halaman
rumah besar Juragan Ngadiman sudah dipenuhi orang-orang.
Ibu-ibu datang
untuk melihat proses penyembelihan. Para lelaki berdiri mengelilingi seekor
sapi besar yang diikat dekat kandang belakang.
Juragan Ngadiman
berdiri di teras. Senyum tipis terlihat di wajahnya. “Ogak usah rebutan. Kabeh komanan!”
(Tidak usah rebutan. Semua kebagian!) katanya lantang.
Warga
mengangguk hormat.
***
Tak lama
kemudian sapi besar itu disembelih di halaman belakang rumah. Lenguhnya terdengar
menyayat sesaat sebelum perlahan menghilang diikuti darah mengalir ke selokan
kecil dekat kandang.
Beberapa
lelaki sibuk membantu menguliti dan memotong daging di atas meja panjang. Yang
lain membungkusnya ke dalam plastik-plastik hitam lalu ....
“Ojo dibagekno
sek. Gowo mlebu!” (Jangan dibagikan dulu. Bawa ke dalam!) perintah Juragan
Ngadiman.
Beberapa
anak buahnya lantas membawa bungkusan yang sudah berisi daging kurban ke dalam
rumah.
“Kate tak
itung sek lan mastekno nek kabeh oman!” (Aku akan menghitungnya dan memastikan kalau
semua kebagian!).
Warga
mengangguk.
Ditambah uang,
ditambah dua canting beras ... semua membayangkan bukan hanya daging kurban, lalu
bungkusan akan dibagikan. Begitu dugaan warga.
Tak lama
kemudian bungkusan yang berisi daging kurban dikeluarkan dari dalam rumah, di
kumpulkan di teras.
“Bagekno
nggo sopo ae seng teko neng omahku,” (Bagikan kepada siapa saja yang datang ke
rumahku,) katanya kepada para anak buahnya.
****
Sementara
itu, di jalan ujung kampung.
Seorang
gadis remaja, rambut dikepang dua, bernama Sutasmi, justru terlihat cemas,
mencari bapaknya yang belum juga pulang selama dua hari, tidak ikut antre di
rumah Juragan Ngadiman.
Bapaknya bekerja
sebagai anak buah Juragan Ngadiman sejak bertahun-tahun lalu. Kadang menjaga
gudang, kadang mengurus ternak, kadang membantu pekerjaan di rumah besar itu
hingga larut malam.
“Bapak ki
jane neng ndi to lah!” (Di mana sih Bapak sebenarnya!) rutuk Sutasmi sambil
terus menyusuri jalan.
“Wes reti
riyayan kok malah ora balik!” (Sudah tahu hari raya kok tidak pulang!).
****
Menjelang
sore Sutasmi memberanikan diri datang ke rumah Juragan Ngadiman.
Halaman
rumah itu masih ramai oleh antrean warga.
Beberapa anak
buah Juragan Ngadiman terlihat sibuk membagikan daging kepada warga. Namun, Sutasmi
tidak melihat bapaknya ada di sana.
Suara warga
yang mulai khawatir tidak mendapat bungkusan riuh di antara rasa cemas Sutasmi
yang terus mencari keberadaan bapaknya.
Salah satu
anak buah Juragan Ngadiman melihatnya lalu mendekat “Kowe rak anake Pakde Suro
to?” (Kamu anak Pakde Noto, ‘kan?).
Sutasmi
mengangguk cepat. “Leres, Paklik. Bapak kulo onten?” (Betul, Paklik. Bapak saya
ada?).
Lelaki itu
diam sesaat sebelum akhirnya menjawab pelan, “Ora weroh ket wingi.” (Nggak
lihat dari kemarin).
“Bapak kulo
medamel teng mriki to, Paklik?” (Bapak saya kerja di sini ‘kan, Paklik?).
“Menowo jek
dikongkon jurgan golek opo to opo,” (Mungkin lagi disuruh cari apa sama juragan)
balas lelaki itu.
“Ning niki
sampun kaleh dinten loh, Paklik!” (Tapi sudah dua hari loh, Paklik!).
Lelaki itu
tak menjawab, justru mengambil berteriak kepada rekannya, “Gowo rene siji nggo
anake Pakde Suro!” (Satu untuk anaknya Pakde Suro!).
Tak lama
berselang satu anak buah Juragan Ngadiman datang dengan bungkusan plastik hitam
“Iki nggo
kowe, Nduk.” (Ini buat kamu, Nduk).
“Kulo niki
madosi Bapak, Paklik!” (Aku ini cari Bapak, Paklik!).
“Iyo, mengko
yo balik, Nduk.” (Iya, nanti juga pulang, Nduk).
“Ning, Pklik
....” (Tapi, Paklik ....).
“Wes!
Tomponen.” (Sudah! Ambil saja).
Sutasmi
menggeleng pelan. “Mboten usah, Paklik.” (Nggak usah, Paklik).
Lelaki itu
terlihat bingung, heran ada orang yang menolak pemberian daging kurban juragannya.
Sutasmi berniat
pergi meninggalkan halaman rumah tersebut. Namun, tanpa disadari Juragan Ngadiman
sudah berdiri di belakangnya. “Nek bapakmu balek,” (Kalau bapakmu pulang,)
katanya pelan, “kon mrene sesok isuk.” (suruh datang besok pagi).
Sutasmi
hanya mengangguk kecil lalu pergi.
****
Sore itu
kampung diselimuti rasa bahagia. Malam harinya, aroma masakan mulai tercium di
mana-mana.
“Daginge
empuk yo, Pak.” (Dagingnya empuk ya, Pak).
“Hoh oh,
ncen wenak nek disanteni.” (Iya, enak buat gulai).
“Juragan ncen
jek apik.” (Juragan memang lagi baik).
****
Akan tetapi,
tidak dengan Sutasmi, dia hanya duduk sendiri di ruang depan sambil memandangi
pintu rumah, berharap bapaknya pulang.
Sesekali Sutasmi
keluar rumah ketika mendengar suara langkah dari jalan. Namun, setiap kali
dilihat, ternyata hanya tetangga yang lewat sambil membawa piring, bukan
bapaknya.
“Bapak ki
neng ndi to jane, Pak?” (Bapak ada di mana, Pak?).
Dengan wajah
kesal Sutasmi menutup pintu, tetapi ....
Tok! Tok!
Tok.
Sutasmi
buru-buru membukanya. Namun, yang berdiri di depan rumah bukan bapaknya,
melainkan Pakde Warto, salah satu pekerja lama Juragan Ngadiman.
“Pakde?”
“Pakde oleh
mlebu, Nduk?” (Pakde boleh masuk sebentar, Nduk?).
Sutasmi
mengangguk cepat. “Monggo, Pakde.” (Silakan, Pakde).
Pakde Warto masuk
sambil berkali-kali menoleh ke belakang seperti takut diikuti seseorang.
Beliau duduk
di kursi bambu dekat pintu, tangannya terlihat gemetar.
“Lha opo
kowe jek nggoleki bapakmu?” (Kamu masih cari bapakmu?).
“Hanggih,
Pakde. Niki sampun kaleh dinten mboten wangsul.” (Iya, Pakde. Sudah dua hari
tidak pulang).
Pakde Warto
lalu berkata lirih, “Enek seng kudu kowe weroh.” (Ada sesuatu yang harus kamu
tahu).
Jantung Sutasmi
langsung berdegup keras. “Nopo, Pakde?” (Apa, Pakde?).
Pakde Warto meremas
tangannya sendiri lalu berkata pelan, “Bengi kae ... pakde dikongkon juragan
....” (Malam itu … pakde disuruh juragan ....).
Pintu rumah
mendadak terbuka.
Brak!
Pakde Warto langsung
diam saat Juragan Ngadiman berdiri bersama tiga anak buahnya.
“Ladalah,”
katanya pelan, “tibakno Pakde Warto neng kene.” (ternyata Pakde Warto di sini).
Pakde Warto langsung
menunduk pucat.
Juragan Ngadiman
melangkah masuk sambil membawa satu bungkusan plastik hitam. “Nduk,” katanya
lembut, “sepurone nek bapakmu gurung balek. Jek onok penggawean.” (maaf bapakmu
belum pulang. Masih ada kerjaan).
Sutasmi
tidak menjawab.
Juragan lalu
menyodorkan bungkusan itu padanya. “Iki nggo awakmu. Rezeki riyoyo.” (Ini buat kamu.
Rezeki hari raya).
Sutasmi kontan
mundur sedikit.
“Mboten
usah, Juragan.” (Tidak usah, Juragan).
“Loh
tompoen!” (Ambil saja!).
Dengan
tangan gemetar Sutasmi akhirnya menerima juga bungkusan tersebut.
“Aku mrene kate
ngeterno bagiane bapakmu,” (Aku ke sini hanya mau mengantar bagiannya bapakmu,)
ujar Juragan Ngadiman lalu memberi isyarat agar ketiga anak buahnya segera
angkat kaki. “Aku pamit.”
Sebelum
pergi, Juragan Ngadiman sempat menoleh pada Pakde Warto.
Tatapan
mereka bertemu beberapa detik. Wajah Pakde Warto langsung berubah semakin
pucat.
Juragan Ngadiman
lantas melangkah pergi.
“Nek ngono,
pakde pamit, Nduk.” (Kalau begitu, pakde pulang dulu, Nduk).
“Nanging,
Pakde. Wau Pakde nate ngendiko nopo?” (Tapi, Pakde. Tadi Pakde mau bilang apa?).
Pakde Warto diam
lalu menggeleng pelan. “Wes ra sido ....” (Sudahlah .…).
Pakde Warto
benar-benar pergi sebelum Sutasmi sempat bertanya lagi.
“Pakde!” panggil
Sutasmi mencoba menahan langkah Pakde Warto.
****
Keesokan
paginya kampung mendadak gempar.
“Woi, onok
seng kendat! Onok seng kendat!” (Woi, ada yang mati gantung diri! Ada yang
gantung diri).
Semua lantas
berlarian mengikuti lelaki yang memberi kabar duka.
“Sopo seng
kendat, ha?” (Siapa yang gantung diri, ha?) tanya satu warga kepada temannya.
Dib alas, “Halah,
emboh! Wes ayo mrono!” (Tidak tahu! Ayo, ke sana!).
Kabar tersebar
cepat. Warga langsung berbondong-bondong menuju ke sana.
Tak luput
juga, kabar itu sampai di telinga Sutasmi.
Pintu
digedor.
Dok! Dok!
Dok.
“Mi, Sutasmi!”
teriak satu perempuan yang mengendong bocah kecil.
Sutasmi bergegas
membuka pintu.
“Onten nopo,
Mbokde?” (Ada apa, Mbokde?).
“Jare enek
wong lanag seng kendat.” (Katanya ada lelaki yang gantung diri).
“Ha! Kendat,
Mbokde?” (Ha! Gantung diri, Mbokde?).
“Aku kok sumelang
nek iku ... iku ... iku bapakmu, Nduk!” (Aku khawatir kalau itu ... itu ... itu
bapakmu, Nduk!).
Mata Sutasmi
sontak berkaca-kaca, membayangkan kalau bapaknya ....
“Wes ayo, mrono!
Kowe kudu mastekno, Nduk!” (Sudah ayo, ke sana! Kamu harus pastikan, Nduk!”
Tanpa
menutup pintu, Sutasmi lantas berlari lebih dulu sambil berteriak, “Bapakkkkk!”
Yang ada di
pikiran Sutasmi adalah bapak nya yang sudah tidak pulang tiga hari ini ...
ternyata tewas gantung diri.
Perempuan
itu lantas mengejar Sutasmi. “Nduk!”
****
Tak jauh
dari jembatan bambu ada lelaki ditemukan tewas menggantung di pohon randu.
Tubuh lelaki
tua itu menggantung dengan tali melilit lehernya.
Beberapa perempuan
yang datang menutup mulut karena ngeri.
“Oalah,
Gusti.”
“Mambengi lo
jek ketemu. Ngopo kok ujug-ujug kendat?” (Semalam masih bertemu. Kenapa
mendadak bunuh diri?).
Sutasmi
datang langsung menerobos kerumunan orang-orang. “Bapakkkkk!” teriaknya.
Begitu
sampai di depan ... Sutasmi melihat sosok yang menggantung itu, mengenalnya,
bahkan semalam masih bertemu.
“Pakde
Warto,” ucapnya lirih lalu menutup mulut saking tidak percaya.
“Dukne
mayate!” (Turunkan mayatnya!).
“Ayo! Seng
liyone tolong ewangi ngedukne!” (Ayo! Yang lain tolong bantu turunkan!).
“Ayo!”
“Ayo ewangi!”
(Ayo kita bantu!).
Saat tubuh Pakde
Warto mulai diturunkan, Sutasmi melangkah mundur. Sungguh dia tidak tahan
melihatnya.
Perasaannya
campur aduk, antara lega dan sedih. Lega karena itu bukan bapaknya, sedih
karena Pakde Warto sudah seperti saudara baginya.
Pakde Warto
sering datang bersama bapaknya selepas pulang dari rumah Juragan Ngadiman ...
sama-sama bekerja di rumah wong sugeh ning medit itu.
Sutasmi
memutuskan meninggalkan kerumunan saat orang-orang mulai menggotong mayat Pakde
Warto pulang untuk dimakamkan secara layak. Namun, matanya melihat ada gumpalan
kertas putih di antara semak di ujung jembatan.
Sutasmi
mengambilnya ... selembar kertas kusut lalu membaca tulisan gedrik yang ditulis
tangan.
Tangannya
gemetar saat membaca. Tulisan itu ditujukan kepadanya.
‘Nduk, Sutasmi.
Kalau surat ini sampai ke tanganmu, kemungkinan pakde sudah mati.
Maafkan pakde,
Nduk. Bapakmu itu orang baik.
Juragan Ngadiman
menyukai bapakmu sejak lama, tetapi bapakmu menolak.
Malam itu
bapakmu menolak ajakan juragan ... juragan minta agar bapakmu mengeloninya. Bapakmu
menolak, Nduk.
Juragan
sakit hati. Kami disuruh menghabisi bapakmu. Pakde ikut membantu.
Setelah
itu, tubuh bapakmu dicampur bersama daging kurban untuk menghilangkan jejak.
Pakde
berdosa, Nduk. Berdosa! Maafkan pakde, Nduk’.
Surat itu jatuh dari tangan Sutasmi. Pandangannya mendadak gelap. Tubuhnya ambruk ke tanah. END
Dukung Pakde Noto di Trakteer

No comments:
Post a Comment