BOJO NDLOGOG Episode #2
Baru saja
aku merasa lega ... astagfirullah!
Aku melihat
ada sarung kawung di atas tempat tidurku, itu bukan sarungku, tetapi sarung
Bapak!
Jantungku
mulai berdegup tak karuan. Aku mengenali sarung itu tanpa harus mendekat.
Sarung Bapak
terpelintir, tidak beraturan, seperti dilepas dengan terburu-buru.
Kakiku
bergetar, aku membayangkannya lebih dalam, membayangkan adegan di atas tempat
tidur antara istriku dan Bapak.
Astagfirullah!
“Tidak! Aku
tidak mau menyimpulkan apa yang ada di otakku. Tidak!” batinku.
Jujur aku
masih ragu dengan pikiranku sendiri.
Buru-buru
aku meninggalkan kamar.
****
BOJO NDOLOGOG Episode 2
Petang
baru saja bergeser.
Lampu minyak
yang tergantung di atas meja berpendar.
Kami biasa
makan malam bersama, termasuk Bapak.
Entah kenapa
selera makanku hilang, meski di depanku kulihat Bapak makan dengan tenang, seperti
biasa, tidak tergesa-gesa, bahkan tidak gugup sama sekali.
“La kok gak
ndang madang to, Le?” (Kok tidak segera makan, Le?) kata Bapak seraya
memandangku.
Aku diam.
Kepalaku rasanya berisi bara saat istriku menambahkan lauk ikan rebus ke piring
Bapak.
“Mas, kok
tidak dimakan to? Nanti keburu dingin lo?” ucap istriku.
Entah
mengapa aku merasa menjadi tamu di rumahku sendiri. Istriku dengan telaten
mengambilkan lauk buat Bapak. Di mataku, aku melihatnya kalau Bapak seperti
suaminya.
“Mas?”
Kenapa sekarang aku cemburu kepada mereka?
Masalah bau
rokok, sarung di kamar ... sebenarnya aku sudah berdamai dengan diri sendiri,
mungkin benar kata istriku kalau semua hanya kebetulan, tetapi kali ini ... aku
melihat kalau mereka punya kedekatan.
“Mas, kok
melamun to?”
Aku menatap
mata istriku.
“Mau kuambilkan
tempe gembusnya sekalian?” tawar istriku.
Aku
menggeleng. “Aku tidak lapar.”
“Tidak
lapar? Mas loh kerja seharian. Masak tidak lapar?”
Kulihat
istriku bangkit lalu menuju ke tempatku.
“Kenapa to,
Mas? Biasanya loh Mas makan dengan lahap?”
Tiba-tiba
emosiku meninggi. “Aku bilang kalau aku tidak lapar, Dik!”
“Le,”
katanya Bapak tiba-tiba. “Gak apik mbentak-mbentak wong wedok ngono iku!”
(Tidak baik membentak-bentak perempuan seperti itu!).
Aku bangkit
lalu menggebrak meja.
Brak!
“Tari itu
istriku, Pak! Menantunya Njenengan!”
“Iki masale
opo to, Le? Kok malah muring to,” (Ini masalahnya apa, Le? Kok malah
marah-marah,) kata Bapak tetap tenang.
“Onok opo
to, Nduk?” (Ada apa toh, Nduk?) tanya Bapak kepada istriku.
Kulihat
istriku menggeleng lalu tertunduk.
“Masalae ki
lo opo, he? Nek jek warek, yo gak usah muring. Gak ilok, Le!” (Masalahnya apa,
he? Kalau masih kenyang, ya tidak usah marah-marah. Tidak baik, Le!).
“Ini masalah
Tari dengan Njenengan, Pak. Bapak sudah melakukan apa selama saya kerja, ha?”
tanyaku langsung saja tanpa tedeng aling-aling. Aku mau masalah ini gamblang,
tidak ada lagi yang ditutup-tutupi. Makin tersiksa aku dengan rasa curiga,
terlebih tadi aku melihat kalau istriku lebih melayani Bapak dibanding aku
sebagai suaminya.
“Masalah sarung?”
tanyanya Bapak.
Aku diam.
Jujur aku malu mendengarnya, terlebih membayangkan kalau Bapak dengan Tari
sudah melakukan ....
Ah! Otakku
selalu mencari kebenaran yang mereka sembunyikan selama aku bekerja.
“Sarunge bapak keri neng kamarmu. Wes bapak jikok.”
(Sarungnya bapak ketinggalan di kamarmu. Sudah bapak ambil).
“Tari wes
cerito kabeh. Awakmu nuduh bapak ndemeni Tari to?” (Tari sudah menceritakan
semua. Kamu menuduh bapak berselingkuh dengan Tari, ‘kan?).
Entah kenapa
aku seperti anak kecil, mulutku tak kuasa untuk berbicara apa yang kurasakan.
Aku hanya
bisa menatap Bapak dengan gejolak amarah.
“Kenapa
sarung Bapak ada di kamar kami?” tanyaku akhirnya.
“Bapak ki
gur ndandani engsel jendelo kamarmu, Le. Nek keterak angin, jendelo kamarmu
muni.” (Bapak ini hanya membetulkan engsel jendela kamarmu, Le. Kalau diterpa
angin, jendela kamarmu berbunyi).
Aku menahan
napas. Engsel jendela?
Seketika aku
membayangkan letaknya. Jendela kamarku berada di samping lemari, tidak dekat dengan
tempat tidur. Lalu kenapa sarung Bapak bisa ada di atas tempat tidur dengan
posisi seperti dibuka buru-buru.
Sebenarnya aku
ingin bertanya kepada istriku sebab alasan Bapak berbeda dengan apa yang
diucapkan oleh istriku, katanya Bapak kedinginan? Namun, Bapak bilang
membetulkan engsel jendela. Mana yang benar, Buwajingan!
Kembali aku
menatap mata Bapak. Lelaki yang membesarkanku itu masih duduk tenang seolah ia
tahu aku tidak akan berani melawan ucapannya.
Bergegas aku
meninggalkan mereka berdua, menuju kamar.
Entah kenapa
aku merasa gerah membayangkan kalau mereka telah memadu kasih di atas tempat
tidurku. Selera makanku benar-benar sudah hilang!
****
Malam
kian merangkak jauh.
Aku masih
belum bisa memejamkan mata, hanya pura-pura tidur saat istriku mencoba
membangunkanku untuk segera makan.
“Mas. Makan
dulu to?” Sambil mengguncang-guncang tubuhku.
Jujur
perutku lapar dan tidak bisa tidur. Setiap kali memejamkan mata, bayangan Bapak
melepas sarungnya lalu ....
Diancok!
Bayangan itu muncul lagi! Sungguh aku tidak bisa tidur. Ingin sekali aku
mengucap istigfar, tetapi entah kenapa aku melampiaskannya dengan misuh.
****
Udara malam
tak lagi kurasakan dingin, tetapi makin gerah oleh pikiranku sendiri.
Aku bangkit,
duduk di tepi tempat tidur.
Kulihat
istriku sudah terlelap tanpa dosa, tidak memikirkan perasaanku yang dipenuhi
curiga.
Aku
beranjak. Kuputuskan untuk memakai kaus kutang saja. Terlalu gerah!
Aku membuka
lemari lalu mencari kaus kutang di antara tumpukan baju.
Aku terus
mencarinya. Kaus kutangku pasti ada di antara tumpukan baju kami. Namun, aku
hanya menemukan daster istriku, jarit, selendang, dan ....
Lalu
tanganku berhenti. Aku merasakan ada kain kecil yang ... sepertinya
disembunyikan di antara tumpukan baju kami.
Aku
menariknya keluar perlahan dan ....
Dadaku
seperti dipukul. Di tanganku ada sempak berwarna cokelat dengan merek RicSony.
Ini jelas
bukan celana dalamku. Ini celana dalam Bapak!
“Kenapa
sempak Bapak ada di sini?” gulat batinku.
Aku menoleh
ke arah istriku. Urung aku membangunkannya.
Akan tetapi,
kenapa sempak Bapak terselip rapi di antara tumpukan baju kami, ha?
Otakku
langsung menyimpulkan kalau ....
“Apa iya
Tari sengaja menyimpannya?”
Ini tidak
bisa dibiarkan! Aku mau dengar penjelasan dari mulut istriku kenapa sempak Bapak
terselip di antara tumpukan baju!
Bergegas aku
membangunkan istriku. “Dik, bangun!”
“Dik!”
ulangku sambil mengguncang-guncang tubuhnya.
“Dik,
bangun!”
Tubuh
istriku menggeliat, perlahan ia membuka mata.
“Ada apa to,
Mas?” tanyanya langsung terbangun dari tidur.
Kulihat dia
mengamatiku dari atas sampai bawah.
“Anunya Mas
sudah ngacung, ya? Aku sudah siap kalau Mas mau,” ucapnya.
Kulihat
istriku mulai melepas bajunya.
“Aku ini
tidak minta kamu layani!” bentakku.
“Ha?
Bukankah biasanya Mas membangunku malam-malam untuk itu. Apa aku salah?”
Aku tak mau
lagi basa-basi. “Ini kenapa ada di dalam lemari, ha!” bentakku sambil menunjukkan
sempak Bapak.
Istriku
diam. Malah menatapku dengan wajah takut.
“Sempak ini …
kenapa ada di dalam lemari kita, ha? Jawab, Dik. Jawab!”
“Aku kira
Mas sedang pingin,” celetuknya lalu tertunduk.
Aku yang
kesal lantas mencekik lehernya!
“Eghkk. Mas
... egkhhh.”
“Aku sedang
tidak mau bercanda. Jawab! Kenapa sempak Bapak ada di antara tumpukan baju
kita!”
“Eghkk. Mas
... egkhhh.”
Wajah
istriku berubah merah, napasnya tersengal-sengal. Segera aku melepas cekikan di
lehernya.
“Aku sudah
tidak tahan lagi dengan semua rahasia yang kalian sembunyikan! Jawab, Dik!”
“Itu …
sempak itu ....” Istriku masih kesulitan bernapas.
“Iya! Jawab
kenapa sempak Bapak ada di dalam lemari kita!”
“Aku ... aku
salah ambil jemuran, Mas,” jawabnya kemudian.
“Apa! Salah
ambil jemuran?”
Malah
dibalas tanya oleh istriku, “Apa aku salah?”
Ingin sekali
aku menamparnya. Istriku sungguh tak tahu bagaimana darahku sudah mendidih
membayangkan kalau ia dan Bapak telah ....
“Salah ambil
katamu, ha?” tanyaku.
Kulihat
istriku mengangguk.
“Salah ambil
jemuran sampai masuk lemari?” cecarku lagi.
“Aku memang
salah mengambil, Mas. Aku pikir itu ....
“Sampai
terselip di bawah pakaian kita?” potongku tak peduli apa alasannya.
“Apa aku
salah?” tanyanya lalu tertunduk.
Langsung aku
angkat dagunya. Wajah istriku pucat, pucat karena ketakutan melihat aku marah,
atau pucat karena ketahuan telah sengaja menyimpan sempak Bapak.? Aku sulit
menduganya.
“Kamu mau
membohongiku lagi, ha? Kemarin Bapak tiduran di kamar kita lalu besoknya
sarungnya tertinggal di kamar, sekarang sempaknya ada di lemari. Kamu pikir ...
kamu mengira kalau aku akan menduga semua ini kebetulan, ha!”
Kucampakkan
wajahnya. Istriku menangis.
“Kalau kamu
sudah tidak mencintaiku dan lebih mencintai bapakku, aku siap untuk
menceraikanmu!”
“Mas tega
menuduhku!” balasnya. Kulihat air matanya jatuh berlinang.
Entah
kenapa, tangisannya menghantamku jiwaku.
Aku diam, aku
merasa bersalah karena telah berucap demikian.
“Kalau
begitu ... akan kupanggil Bapak untuk menjelaskan semua ini,” kataku pelan.
“Jangan,
Mas. Jangan!” cegah istriku.
“Jadi, aku
harus percaya dengan omonganmu kalau kamu salah ambil jemuran, ha?”
“Aku yang
salah, Mas. Aku yang salah! Aku tak sengaja mengambil sempak Bapak lalu
meletakkannya di antara baju-baju kita.”
Tangis
istriku selalu berhasil meredam amarahku. “Yakin?” tanyaku.
Kubanting
sempak itu ke lantai. Sungguh aku kecewa, kecewa dengan diriku sendiri.
Pikiranku selalu menggiring untuk terus curiga, padahal kedua mataku belum
pernah memergoki kalau istriku bercumbu dengan Bapak.
“Ah. Kenapa
aku ini,” ucapku lirih lalu mengusap
muka.
“Dik.”
Kupegang tangan istriku. “Aku ini sangat mencintaimu. Aku tidak mau ada prahara
di rumah tangga kita. Kamu paham maksudku?”
Istriku
mengangguk sambil mengusap air matanya. “Apa aku salah?”
“Tidak. Aku
yang salah ... salah karena sering menuduhmu, salah karena pikiranku selalu
berkata kalau kamu dan Bapak ....” Aku tak sanggup melanjutkannya, pikiranku
terlalu kotor.
****
Pagi
harinya.
“Ngopo
meneh? Kamu kenapa lagi, ha? Kenapa hari ini kamu loyo sekali, Margono?” tanya
Pakde Sukiran saat melihatku hanya duduk di galangan sawah.
Aku
mendongak lalu menatapnya.
“Cerita saja
kalau ada masalah. Siapa tahu pakde ini bisa membantumu. Cerito ae. Ra popo.”
“Tidak,
Pakde,” balasku.
“Pakde ini
sudah beristri empat kali, Margono. Yang membuat lelaki murung itu bukan uang,
tetapi istri. Benar to?”
Bodohnya aku
mengangguk, mengiyakan ucapannya.
“Ginio, No. Kenapa?”
tanyanya lalu duduk di sampingku, seolah-olah siap mendengar semua
keluh-kesahku.
“Masalah
yang tempo hari?” kejarnya.
Aku lantas
menceritakan semua kepada Pakde Sukiran. Sungguh aku butuh seseorang yang mau
mendengarkan ... mendengarkan kebisingan kepalaku. “Begitu ceritanya, Pakde.”
“Oalah,
Margono, Margono. Lha itu tandanya istrimu telah selingkuh dengan bapakmu
sendiri, No.”
“Dulu,
Sutikno juga bercerita ... dia bilang kalau kamu curiga dengan istrimu to?”
“Tidak,
Pakde. Saya belum melihatnya secara langsung!” bantahku.
“Margono,
dengar!” Pakde Sukiran menepuk punggungku. “Apa kedua matamu harus melihatnya
dulu baru kamu percaya, ha? Sebagai suami, kamu harus peka kalau ada yang aneh
terhadap istrimu, Margono.”
“Tetapi,
Pakde ....”
“Pertama,
bau rokok di kamar kalian. Kedua, sarung bapakmu ada di kamarmu, lalu tadi kamu
cerita kalau ada sempak bapakmu di antara tumpukan baju kalian. Itu sudah
jelas, Margono.”
“Tidak
mungkin, Pakde.”
“Percaya
sama pakde. Itu adalah pertanda buruk untuk rumah tanggamu, Margono.”
“Sudah jelas
kalau duri di dalam rumah tangga kalian itu adalah bapakmu sendiri,” imbuhnya.
“Mana ada
seorang bapak mau menghancurkan rumah tangga anaknya sendiri, Pakde.”
“Banyak!
Banyak, Margono. Kamu jangan buta karena dia bapakmu. Perselingkuhan antara
bapak dan menantu sudah banyak ... banyak terjadi di dunia yang makin gila ini,”
balasnya.
“Seorang
istri tidak mungkin salah ambil jemuran, apalagi itu barang yang sifatnya
pribadi ... sempake bapakmu, No.”
“Istriku
bilang kalau ....”
“Itu
alasannya saja, Margono. Istrimu itu dengan sengaja menyimpan sempak bapakmu.
Di selipan baju to?”
Aku
mengangguk lesu. Sungguh jiwaku seperti tidak lagi melekat di raga, lemas aku
mendengarnya.
“Bila iya,
lalu buat apa?” tanyaku.
“Ya, mana
pakde tahu. Pokonya kamu harus desak istrimu agar mau mengaku,” jawabnya.
“Jangan
sampai kedua matamu sendiri melihat ... sakit rasanya, Margono. Sakit kalau
melihat istri digagahi oleh orang lain. Titik terendah sebagai suami adalah
saat melihat istrinya ditiduri oleh lelaki lain, apalagi ditiduri bapakmu
sendiri.”
Ada benarnya
apa yang dikatakan oleh Pakde Sukiran. Sekarang saja hatiku sakit, apalagi
sampai melihat sendiri kalau ....
“Bila benar,
apa yang dicari oleh istriku?” tanyaku jujur.
“Istri
selingkuh itu hanya ada dua perkara ... masalah belanja rutin atau nafkah
batin,” balasnya.
“Bila dengan
Bapak?” Entah apa yang aku tanyakan, aku bingung menyusun kata-katanya, tetapi
itu yang kurasakan sekarang.
“Berarti,
bapakmu yang bisa memuaskan istrimu, Margono.”
Aku menunduk
kian dalam.
Mungkinkah
benar apa yang dikatakan oleh Pakde Sukiran? Bersambung.
Dukung Pakde Noto di Trakteer

No comments:
Post a Comment