Dukung SayaDukung Pakde Noto di Trakteer

[Latest News][6]

abu nawas
abunawas
berbayar
Budaya
cerbung
cerkak
cerpen
digenjot
gay
hombreng
horor
hot
humor
informasi
LGBT
mesum
misteri
Novel
panas
puasa
sejarah
Terlarang
thriller

Labels

BAKSO PAKDE SUWARNO

 

Bakso!“

Terdengar suara kentongan bakso yang dipukul dengan nada khas.

Ting!

Ting!

Ting!

“Bakso!”

Ting!

Ting!

Ting!

“Bakso!


Semua orang di desa itu sudah hafal bunyi seperti sendok yang dipukulkan pada mangkuk.

Lastri, itu Pakde Suwarno sudah datang! Katanya mau beli bakso,” kata Wati kepada Lastri.

Ya, Lastri namanya ... cantik dengan kulit putih bersih. Wajahnya bulat dengan hidung mancung bermata bening.

Ya, iyalah ... orang-orang akan menyangka Lastri adalah seorang bintang sinetron kalau belum tahu. Rambutnya hitam legam sepunggung, dibiarkan selalu tergerai.

Kalau Lastri berada di dekat temannya, dia akan menjadi sangat menonjol, apalagi dengan Wati yang sekarang bersamanya, sangat jauh berbeda.

Untungnya Lastri bukan tipe gadis yang sombong dan pilih-pilih teman, mungkin itu yang membuatnya disukai.

“Mana toh?” Lastri melongok ke arah suara berdenting.

Ting!

Ting!

Ting!

“Bakso!”

“Itu, Las. Di ujung jalan.” Wati menjawab sambil menunjuk.

Tak lama berselang sebuah gerobak bakso mendekat dari arah ujung jalan.

“Bakso!”

Ting!

Ting!

Ting!

“Bakso!”

“Eh, Nduk Lastri.” Pakde Suwarno mengembangkan senyum.

“Eh, iya, Pakde.” Lastri berusaha ramah dan membalas senyum Pakde Suwarno.

“Yang biasa, Nduk?” tanya Pakde Suwarno dengan nada aneh, seperti ramah yang dipaksakan.

“Seperti biasa saja, Pakde,” balas Lastri.

Dengan gerakan terburu-buru Pakde Suwarno menyiapkan Bakso yang dipesan oleh Lastri.

“Kok nggak kuliah to, Nduk?” tanya Pakde Suwarno di tengah kesibukannya meracik bakso. “Memang

lagi libur to?”

“Eh!” Lastri terkaget sesaat. Dalam pikirannya dari mana Pakde Suwarno tahu kesibukannya.

“Iya, Pakde. Lagi libur. Besok baru masuk lagi,” jawab Lastri.

“Biasanya kalau libur ‘kan jalan-jalan sama ... sama

... sama siapa yang sering ke sini pakai motor itu,

Nduk?” Pakde Suwarno bertanya lagi.

Lastri teringat ke Joko, pemuda yang sering mengunjunginya, meskipun bukan pacarnya, tetapi  Lastri memang suka padanya.

“Memangnya Pakde kenal dia?” tanya Lastri sambil tersenyum.

“Ya, jelas kenal to, Nduk. Dia itu ‘kan juga sering beli bakso sama pakde juga.” Pakde Suwarno menjawab canggung kemudian menyerahkan semangkuk bakso

Tanpa sengaja tangan Pakde Suwarno menyentuh tangan Lastri yang halus. Sesaat entah kenapa badan Pakde Suwarno meremang, ia belum pernah merasakan kelembutan tangan gadis secantik Lastri.

Kaget karena ada yang meraba tangannya, secara refleks Lastri menarik tangan, membuat pegangannya pada mangkuk bakso goyah.

Sebagian kuah bakso yang panas tumpah menyiram tangan Pakde Suwarno dan itu membuatnya meringis kesakitan sambil mengibas-ngibaskan tangannya.

“Aduh ... aduh ... aduh!”

“Aduh maaf, Pakde. Saya ... saya ... tidak sengaja, Pakde!” Lastri gugup setengah mati.

Kekagetan Lastri saat tangannya diraba oleh Pakde Suwarno sekarang berubah menjadi kepanikan kecil.

Dengan spontan Lastri langsung menyerahkan mangkuk baksonya pada Wati lalu mengeluarkan sapu tangan dari saku bajunya.

Dengan cekatan Lastri mengelap tangan Pakde Suwarno yang tersiram kuah panas.

“Nggak apa-apa kok, Pakde.” kata Lastri meyakinkan ... rasa paniknya berkurang dengan sendirinya melihat tangan Pakde Suwarno tidak terluka atau melepuh.

Semula Lastri takut Pakde Suwarno akan marah, tetapi ternyata tidak, Pakde Suwarno hanya diam saja, bahkan tidak berkata apa-apa.

 

****

Bagi Lastri, kejadian itu dengan mudah bisa dilupakannya, tetapi tidak bagi Pakde Suwarno ... kejadian itu sangat membekas di hatinya.

Selama berhari-hari wajah Lastri selalu berada di dalam pikirannya.

Perlahan-lahan segala pikiran itu berkembang menjadi sebuah perasaan aneh dalam diri Pakde Suwarno ... membuatnya ingin memiliki Lastri.

Perasaan itu berkembang bagaikan makhluk buas yang mencabik-cabik dari dalam ... membuat lupa pada keadaan dirinya, membuat lupa pada istri dan empat anaknya yang ditinggal di kampung.

Bila sudah tidak bisa lagi menahan hasratnya pada Lastri, Pakde Suwarno melampiaskannya dengan onani di kamar ... membayangkan dirinya sedang menyetubuhi Lastri.

“Sst, oh, Nduk. Ohh ... sst.”

Keinginan Pakde Suwarno untuk memiliki Lastri makin kuat.

Pakde Suwarno sudah salah mengartikan keramahan dan kebaikan Lastri selama ini sebagai pelanggan baksonya.

 

****

Singkat cerita ... Pakde Suwarno ini mendatangi seseorang dan meminta bantuan agar bisa memiliki Lastri loh, Lur. Gila gak itu tukang bakso.

Malamnya Pakde Suwarno melakukan sinduka sun kalantaka ... alhasil ia bisa menyalurkan hasratnya lewat mimpi, tetapi anehnya ... Lastri juga merasakan mimpi yang sama, yaitu digagahi Pakde Suwarno ... semua terasa nyata!

Lastri tak sadar kalau dirinya terjerat dalam ... ah, pokoknya hanya menginginkan ‘pentolnya’ Pakde Suwarno gitulah, Lur.

Memadu kasih dengan Pakde Suwarno adalah sebuah keinginan yang menggebu-gebu bagi Lastri dan ... cerita bisa kamu baca full di bawah ini:

JATUH CINTA DENGAN TUKANG BAKSO full story


PAKDE NOTO

Baca juga cerita seru lainnya di Wattpad dan Follow akun Pakde Noto @Kuswanoto3.

No comments:

Post a Comment

Start typing and press Enter to search