BAKSO PAKDE SUWARNO
“Bakso!“
Terdengar
suara kentongan bakso yang dipukul dengan nada khas.
Ting!
Ting!
Ting!
“Bakso!”
Ting!
Ting!
Ting!
“Bakso!”
Semua orang
di desa itu sudah hafal bunyi seperti sendok yang dipukulkan pada mangkuk.
“Lastri, itu
Pakde Suwarno sudah datang! Katanya mau beli bakso,” kata Wati kepada Lastri.
Ya, Lastri
namanya ... cantik dengan kulit putih bersih. Wajahnya bulat dengan hidung
mancung bermata bening.
Ya, iyalah
... orang-orang akan menyangka Lastri adalah seorang bintang sinetron kalau
belum tahu. Rambutnya hitam legam sepunggung, dibiarkan selalu tergerai.
Kalau Lastri
berada di dekat temannya, dia akan menjadi sangat menonjol, apalagi dengan Wati
yang sekarang bersamanya, sangat jauh berbeda.
Untungnya
Lastri bukan tipe gadis yang sombong dan pilih-pilih teman, mungkin itu yang membuatnya
disukai.
“Mana toh?”
Lastri melongok ke arah suara berdenting.
Ting!
Ting!
Ting!
“Bakso!”
“Itu, Las.
Di ujung jalan.” Wati menjawab sambil menunjuk.
Tak lama
berselang sebuah gerobak bakso mendekat dari arah ujung jalan.
“Bakso!”
Ting!
Ting!
Ting!
“Bakso!”
“Eh, Nduk
Lastri.” Pakde Suwarno mengembangkan senyum.
“Eh, iya,
Pakde.” Lastri berusaha ramah dan membalas senyum Pakde Suwarno.
“Yang biasa,
Nduk?” tanya Pakde Suwarno dengan nada aneh, seperti ramah yang dipaksakan.
“Seperti
biasa saja, Pakde,” balas Lastri.
Dengan
gerakan terburu-buru Pakde Suwarno menyiapkan Bakso yang dipesan oleh Lastri.
“Kok nggak
kuliah to, Nduk?” tanya Pakde Suwarno di tengah kesibukannya meracik bakso.
“Memang
lagi libur
to?”
“Eh!” Lastri
terkaget sesaat. Dalam pikirannya dari mana Pakde Suwarno tahu kesibukannya.
“Iya, Pakde.
Lagi libur. Besok baru masuk lagi,” jawab Lastri.
“Biasanya
kalau libur ‘kan jalan-jalan sama ... sama
... sama
siapa yang sering ke sini pakai motor itu,
Nduk?” Pakde
Suwarno bertanya lagi.
Lastri
teringat ke Joko, pemuda yang sering mengunjunginya, meskipun bukan pacarnya, tetapi
Lastri memang suka padanya.
“Memangnya
Pakde kenal dia?” tanya Lastri sambil tersenyum.
“Ya, jelas kenal to, Nduk. Dia itu ‘kan juga sering beli bakso sama pakde juga.” Pakde Suwarno menjawab canggung kemudian menyerahkan semangkuk bakso
Tanpa
sengaja tangan Pakde Suwarno menyentuh tangan Lastri yang halus. Sesaat entah
kenapa badan Pakde Suwarno meremang, ia belum pernah merasakan kelembutan
tangan gadis secantik Lastri.
Kaget karena
ada yang meraba tangannya, secara refleks Lastri menarik tangan, membuat pegangannya
pada mangkuk bakso goyah.
Sebagian
kuah bakso yang panas tumpah menyiram tangan Pakde Suwarno dan itu membuatnya meringis
kesakitan sambil mengibas-ngibaskan tangannya.
“Aduh ...
aduh ... aduh!”
“Aduh maaf,
Pakde. Saya ... saya ... tidak sengaja, Pakde!” Lastri gugup setengah mati.
Kekagetan
Lastri saat tangannya diraba oleh Pakde Suwarno sekarang berubah menjadi
kepanikan kecil.
Dengan
spontan Lastri langsung menyerahkan mangkuk baksonya pada Wati lalu
mengeluarkan sapu tangan dari saku bajunya.
Dengan
cekatan Lastri mengelap tangan Pakde Suwarno yang tersiram kuah panas.
“Nggak
apa-apa kok, Pakde.” kata Lastri meyakinkan ... rasa paniknya berkurang dengan
sendirinya melihat tangan Pakde Suwarno tidak terluka atau melepuh.
Semula
Lastri takut Pakde Suwarno akan marah, tetapi ternyata tidak, Pakde Suwarno
hanya diam saja, bahkan tidak berkata apa-apa.
****
Bagi Lastri,
kejadian itu dengan mudah bisa dilupakannya, tetapi tidak bagi Pakde Suwarno
... kejadian itu sangat membekas di hatinya.
Selama
berhari-hari wajah Lastri selalu berada di dalam pikirannya.
Perlahan-lahan
segala pikiran itu berkembang menjadi sebuah perasaan aneh dalam diri Pakde Suwarno
... membuatnya ingin memiliki Lastri.
Perasaan itu
berkembang bagaikan makhluk buas yang mencabik-cabik dari dalam ... membuat
lupa pada keadaan dirinya, membuat lupa pada istri dan empat anaknya yang
ditinggal di kampung.
Bila sudah
tidak bisa lagi menahan hasratnya pada Lastri, Pakde Suwarno melampiaskannya
dengan onani di kamar ... membayangkan dirinya sedang menyetubuhi Lastri.
“Sst, oh,
Nduk. Ohh ... sst.”
Keinginan
Pakde Suwarno untuk memiliki Lastri makin kuat.
Pakde
Suwarno sudah salah mengartikan keramahan dan kebaikan Lastri selama ini
sebagai pelanggan baksonya.
****
Singkat
cerita ... Pakde Suwarno ini mendatangi seseorang dan meminta bantuan agar bisa
memiliki Lastri loh, Lur. Gila gak itu tukang bakso.
Malamnya
Pakde Suwarno melakukan sinduka sun kalantaka ... alhasil ia bisa menyalurkan
hasratnya lewat mimpi, tetapi anehnya ... Lastri juga merasakan mimpi yang
sama, yaitu digagahi Pakde Suwarno ... semua terasa nyata!
Lastri tak
sadar kalau dirinya terjerat dalam ... ah, pokoknya hanya menginginkan ‘pentolnya’
Pakde Suwarno gitulah, Lur.
Memadu kasih
dengan Pakde Suwarno adalah sebuah keinginan yang menggebu-gebu bagi Lastri dan
... cerita bisa kamu baca full di bawah ini:
JATUH CINTA DENGAN TUKANG BAKSO full story
Dukung Pakde Noto di Trakteer

No comments:
Post a Comment