WIFI berbagi jaringan
Aku
ditinggal ibu saat usia 2 tahun dan hari ini tepat sebulan kematian bapak.
Bapak meninggal
di rumah sakit dan dikuburkan di kampung ibu. Kuburan mereka berdekatan.
****
Sabtu sore
aku berangkat bersama anakku dan memutuskan untuk menginap di rumah masa
kecilku dulu, rumah bapak.
“Mas, boleh ‘kan
kalau aku menginap di rumah bapak?” izinku saat itu.
“Pulangnya
minggu siang, ‘kan?” balasnya.
Aku pun mengangguk.
****
Di rumah
ini, yang aku ingat hanya wajah bapak, lelaki sekaligus menjadi ibu bagiku.
Bapak itu
orangnya tidak banyak bicara. Sepulang kerja biasanya dia duduk diam di teras belakang
sambil menyalakan sebatang keretek. Entah apa yang sedang dia pikirkan. Yang
pasti, dia tidak pernah mengeluh atau bercerita apa yang terjadi hari itu
kepadaku.
Seingatku,
aku belum pernah mendengar bapak mengeluh saat aku mau ini, mau itu ... bayar
ini, bayar itu. Dia akan selalu mewujudkan sebisanya. Mungkin karena aku anak
perempuan satu-satunya.
Kini bapak telah berpulang. Sedih rasanya hatiku.
****
Kenalkan,
namaku Sinta Ayuningtyas, sebuah nama paling indah pemberian mendiang bapakku. Umurku
35 tahun.
Suamiku
bernama Yudistira. Kalau kamu bertanya suamiku kerja apa, maka kujawab ia
bekerja di sebuah showroom otomotif ... berangkat pagi pulang sore,
kadang-kadang pulang malam kalau ada lembur.
Oh, iya. Sejak
menikah ... kurang lebih sebelas tahun sudah ... aku memilih tinggal di rumah
sederhana di tepi kota, rumah yang dibeli oleh suamiku ... meninggalkan bapak
yang ada di kampung. Hanya kalau suamiku libur biasanya kami berkunjung ke
sana.
****
Pukul
07.00
Hari ini
hari minggu, ‘kan? Satu hal yang akan aku lakukan, yaitu menghentikan
pembayaran wifi karena percuma ... bapak sudah meninggal.
Akan tetapi,
aku urungkan. Kupikir jangan dulu. Mungkin aku masih perlu saat menginap di
rumah ini. Masalah pembayaran biar aku yang meneruskannya.
****
“Akhirnya,”
kataku. Aku baru saja mengubah sandi wifi di rumah bapak. Kupikir ... ah, sudah
seharusnya sandi aku ganti karena seingatku dari pasang belum pernah ganti. Ya,
jaga-jaga saja kalau ada orang yang tahu sandi wifi di rumah ini.
Kurang lebih
sepuluh menit berselang, terdengar pintu depan diketuk.
Tok, tok,
tok!
“Siapa!”
sahutku dari dalam.
“Kulo!”
Bergegas aku
melangkah menuju pintu depan.
Pintu kubuka
dan kulihat lelaki sepuh itu berdiri di depan pintu.
“Ada apa,
Mbah?”
Eh, dia
balik bertanya, “Bapakmu ada?”
“Memangnya
ada perlu apa, Mbah?” tanyaku lagi.
“Kamu
anaknya?”
“Iya,” jawabku.
“Duh, maaf,
Nduk. Kenapa HP-ku tidak ada jaringannya, ya.”
Aku
mengernyitkan dahi. “Jaringan, Mbah?”
Dia
mengangguk.
Kuperhatikan
lelaki sepuh itu. Usianya kutaksir sekitar 82 tahun “Nanti habis paket datanya
barangkali, Mbah?” ucapku.
Dia menjawab
ragu sambil tertunduk, “Maksud simbah, jaringan wifinya kok tidak ada.”
“Wifi?”
tanyaku heran.
Kemudian dia
mulai menceritakan kisahnya kepadaku.
Dari
ceritanya, aku akhirnya tahu, namanya Mbah Harto. Dia hidup berdua dengan
istrinya yang juga sudah sepuh, tinggal tak jauh dari rumah bapak, hanya
terhalang rimbun pohon pisang.
Mereka dikarunia
seorang putri dan sudah menikah 3 tahun lalu. Sama denganku, putri Mbah Harto
adalah anak satu-satunya ... dan katanya, penyandang tunarungu dan juga tunawicara.
“Setiap
minggu pagi, istriku selalu video call dengan putri kami yang kini hidup di Jakarta,
Nduk.”
Mbah Harto
juga bercerita ... hanya setiap minggu istrinya video call dengan putrinya
melalui bahasa isyarat. Itu kenapa hari minggu adalah janji yang paling
dinantikan istrinya selama sepekan.
Aku masih
belum mengerti arahnya ke mana, sebab apa hubungannya denganku. Ya, ‘kan?
“Simbah sudah
lama nyambung wifi dengan bapakmu.”
Oalah mak
jan. Aku baru tahu kenapa Mbah Harto mempertanyakan jaringan wifinya. Ini semua
ulahku, karena aku baru saja mengganti sandinya.
“Sejujurnya simbah malu, Nduk.”
“Loh kenapa
malu, Mbah?”
“Simbah
nyambung wifi di rumahmu sudah lama. Awalnya simbah bercerita dengan bapakmu
dan bapakmu mengizinkan simbah dengan memberikan kata sandi wifinya.”
“Karena
tidak enak, simbah pernah kasih uang. Hitung-hitung simbah bayar separuh dari
tagihan, tetapi bapakmu menolak.”
“Saat itu
bapakmu berbicara kalau dia tidak mau melihat simbah memikirkan uang saat video
call dengan putri kami, Nduk.”
Kontan aku
mengelus dada. Jujur aku bari tahu ini kalau bapak ternyata berbagi jaringan
wifi dengan tetangga.
Aku tahu
bagaimana bapakku, dia orangnya pendiam, dan hanya menghormati orang yang
menghormatinya. Namun, aku baru tahu
kalau bapak berbagi jaringan wifi dengan tetangga sebelah rumah kami.
Mbah Harto
kemudian melanjutkan, “Bapakmu yang memindahkan alatnya agar kami dapat sinyal
bagus dan itu bukan hanya sekali.”
“Router?”
tanyaku saat menangkap alat yang Mbah Harto maksud.
Mbah Harto
mengangguk.
Astagfirullah
al azim! Aku baru ingat pesan bapak untuk tidak mengunduh, atau menonton video
di jam tujuh pagi. Apakah ini maksudnya?
“Pokoke
liren ndisek. Gak usah nonton video. Geletakno HP-mu sek sejam.”(Pokoknya
berhenti sejenak. Tidak usah menonton video. Taruh HP-mu selama satu jam).
Ya, heran
saja saat kami menginap ... pada hari minggu pukul tujuh pagi sampai pukul
delapan, aku tidak boleh online.
Aku sempat
kesal dengan aturan bapak kala itu. Aku pikir wifi ini ‘kan wifi bapaku juga?
Kenapa aku harus dibatasi pemakaiannya ... hanya pukul tujuh sampai delapan
pagi.
Kini aku
baru tahu kenapa bapak melarangku saat itu. Ternyata bapak tidak mau mengganggu
istrinya Mbah Harto yang sedang video call dengan putrinya. Mereka sama-sama difable.
Ah, sebegitu
pedulinya bapak dengan tetangga kami.
“Bagaimana,
Nduk?” tanya Mbah Harto menyadarkanku dari lamunan.
“Duh maaf,
Mbah. Kalau begitu saya aktifkan lagi koneksinya.”
“Weh! Terima
kasih loh, Nduk.”
****
Bersama
Mbah Harto, kuputuskan untuk ke rumahnya.
“Assalamualaikum,
Mbah,” sapaku kepada istri Mbah Harto yang duduk memegang HP.
Buru-buru perempuan
sepuh itu berdiri lalu dengan bahasa isyarat, dia menyuruhku duduk. “Tan ... ud ... uk.”
Aku pun
duduk di kursi rotan yang ada di sebelahnya, sementara istrinya terus berbicara
dengan bahasa isyarat.
Jujur aku
bingung, tidak tahu apa artinya.
“Dia bilang,
sampaikan terima kasih kepada bapakmu,” kata Mbah Harto setelah menerjemahkannya
untukku.
Aku
menundukkan kepala. Mungkinkah mereka tidak tahu kalau bapak sudah meninggal
sebulan lalu? Ya, wajar saja kupikir sebab bapak meninggal di rumah sakit setelah
di rawat hampir sebulan akibat gula darahnya tinggi. Dikuburkan juga di kampung
ibu atas permintaannya.
“Kami
berterima kasih kepada bapakmu atas sesuatu yang telah dia lakukan selama
bertahun-tahun untuk kami, Nduk. Hampir sebulan ini, kami tidak pernah melihat
bapakmu. Bapakmu sehat to, Nduk?”
Aku terdiam
saat menatap Mbah Harto.
Tanpa menjawabkannya,
aku meminta HP yang dipegang oleh istrinya, memasukkan kata sandi baru, dan
jaringan pun terkoneksi. “Sudah, Mbah,” kataku.
Aku masih
duduk di tempatku saat istrinya segera menelepon putrinya.
Pada saat
wajah putrinya muncul di layar, ekspresi wajah istrinya itu berubah sepenuhnya.
Dia tersenyum, dan tangannya mulai bergerak dengan isyarat.
Hatiku rasanya
teriris saat melihat istri Mbah Harto dan putrinya tertawa dan berbicara dalam
bahasa isyarat, seolah-olah tidak ada lagi jarak antara Jakarta-Semarang.
“Kalau
begitu saya permisi, Mbah.”
“Oh, iya,
Mbah. Ada nomor yang bisa dihubungi?”
“Sekali
lagi, terima kasih ya, Nduk. Ini nomor Whatsapp simbah.” balas Mbah Harto.
Aku pun
memasukkannya ke dalam kontak telepon.
****
Di rumah.
Kulihat
anakku masih menonton film kartun kesuakaannya di televisi. Buru-buru aku ke
kamar bapak.
Kulihat
router itu berada di samping jendela ... jendela yang menghadap ke rumah Mbah
Harto.
Mataku mulai
berkaca-kaca. Inikah jawabannya kenapa router itu dibiarkan berada di samping
jendela? Bukankah seharusnya berada di ruang keluarga atau di dalam ruangan
yang tertutup?
Sekarang aku
mengerti. Tempat itu adalah yang terbaik agar sinyal bisa mencapai rumah Mbah
Harto, tetangga bapak.
Aku
mengeluarkan HP lalu mengirimkan sebuah pesan kepada Mbah Harto. Kupikir dia
akan membaca pesanku seusai video call-an dengan putrinya. “Mbah, terus gunakan
jaringan seperti biasa. Jika kata sandi berubah lagi, saya yang akan
memberitahu.”
Tak
kusangka, pesanku pun dibalas.
“Terima
kasih ya, Nduk. Terima kasih karena bapakmu telah membantu kami lagi, melalui
kamu.”
Kubaca
pesannya ... air mataku tiba-tiba menetes.
Sejak bapak meninggal,
kupikir aku tahu segalanya tentang dia ... siapa yang dia bantu, untuk siapa
dia menyumbangkan waktunya, dan berapa banyak kebaikan kecil yang dia lakukan
dengan diam-diam tanpa memberi tahu siapa pun.
Sungguh aku
sebagai anaknya tidak tahu. Apakah setiap bapak akan begitu? Menyimpan semua
cerita kebaikan hanya untuk dirinya sendiri? Apakah aku anaknya tidak berhak
tahu?
Sungguh aku
menyesal! Dulu setiap minggu waktuku terganggu dengan aturan bapak yang tidak
mengizinkan memakai wifi selama sejam, padahal bapak hanya merelakan satu jam
saja untuk seorang ibu agar bisa tertawa bersama putrinya melalaui video call.
Air mataku
jatuh kian berderai. Ternyata hal terindah yang ditinggalkan bapak bukanlah
rumah dan kenangan di mana aku tumbuh bersamanya, tetapi sebuah kebaikan yang
tidak dia ceritakan kepada siapa pun.
Dukung Pakde Noto di Trakteer

No comments:
Post a Comment