Dukung SayaDukung Pakde Noto di Trakteer

[Latest News][6]

abu nawas
abunawas
berbayar
Budaya
cerbung
cerkak
cerpen
digenjot
gay
hombreng
horor
hot
humor
informasi
LGBT
mesum
misteri
Novel
panas
puasa
sejarah
Terlarang
thriller

Labels

WIFI berbagi jaringan

Aku ditinggal ibu saat usia 2 tahun dan hari ini tepat sebulan kematian bapak.

Bapak meninggal di rumah sakit dan dikuburkan di kampung ibu. Kuburan mereka berdekatan.

 


****

Sabtu sore aku berangkat bersama anakku dan memutuskan untuk menginap di rumah masa kecilku dulu, rumah bapak.

“Mas, boleh ‘kan kalau aku menginap di rumah bapak?” izinku saat itu.

“Pulangnya minggu siang, ‘kan?” balasnya.

Aku pun mengangguk.

 

****

Di rumah ini, yang aku ingat hanya wajah bapak, lelaki sekaligus menjadi ibu bagiku.

Bapak itu orangnya tidak banyak bicara. Sepulang kerja biasanya dia duduk diam di teras belakang sambil menyalakan sebatang keretek. Entah apa yang sedang dia pikirkan. Yang pasti, dia tidak pernah mengeluh atau bercerita apa yang terjadi hari itu kepadaku.

Seingatku, aku belum pernah mendengar bapak mengeluh saat aku mau ini, mau itu ... bayar ini, bayar itu. Dia akan selalu mewujudkan sebisanya. Mungkin karena aku anak perempuan satu-satunya.

Kini bapak telah berpulang. Sedih rasanya hatiku.

 

****

Kenalkan, namaku Sinta Ayuningtyas, sebuah nama paling indah pemberian mendiang bapakku. Umurku 35 tahun.

Suamiku bernama Yudistira. Kalau kamu bertanya suamiku kerja apa, maka kujawab ia bekerja di sebuah showroom otomotif ... berangkat pagi pulang sore, kadang-kadang pulang malam kalau ada lembur.

Oh, iya. Sejak menikah ... kurang lebih sebelas tahun sudah ... aku memilih tinggal di rumah sederhana di tepi kota, rumah yang dibeli oleh suamiku ... meninggalkan bapak yang ada di kampung. Hanya kalau suamiku libur biasanya kami berkunjung ke sana.

 

****

Pukul 07.00

Hari ini hari minggu, ‘kan? Satu hal yang akan aku lakukan, yaitu menghentikan pembayaran wifi karena percuma ... bapak sudah meninggal.

Akan tetapi, aku urungkan. Kupikir jangan dulu. Mungkin aku masih perlu saat menginap di rumah ini. Masalah pembayaran biar aku yang meneruskannya.

 

****

“Akhirnya,” kataku. Aku baru saja mengubah sandi wifi di rumah bapak. Kupikir ... ah, sudah seharusnya sandi aku ganti karena seingatku dari pasang belum pernah ganti. Ya, jaga-jaga saja kalau ada orang yang tahu sandi wifi di rumah ini.

Kurang lebih sepuluh menit berselang, terdengar pintu depan diketuk.

Tok, tok, tok!

“Siapa!” sahutku dari dalam.

“Kulo!”

Bergegas aku melangkah menuju pintu depan.

Pintu kubuka dan kulihat lelaki sepuh itu berdiri di depan pintu.

“Ada apa, Mbah?”

Eh, dia balik bertanya, “Bapakmu ada?”

“Memangnya ada perlu apa, Mbah?” tanyaku lagi.

“Kamu anaknya?”

“Iya,” jawabku.

“Duh, maaf, Nduk. Kenapa HP-ku tidak ada jaringannya, ya.”

Aku mengernyitkan dahi. “Jaringan, Mbah?”

Dia mengangguk.

Kuperhatikan lelaki sepuh itu. Usianya kutaksir sekitar 82 tahun “Nanti habis paket datanya barangkali, Mbah?” ucapku.

Dia menjawab ragu sambil tertunduk, “Maksud simbah, jaringan wifinya kok tidak ada.”

“Wifi?” tanyaku heran.

Kemudian dia mulai menceritakan kisahnya kepadaku.

Dari ceritanya, aku akhirnya tahu, namanya Mbah Harto. Dia hidup berdua dengan istrinya yang juga sudah sepuh, tinggal tak jauh dari rumah bapak, hanya terhalang rimbun pohon pisang.

Mereka dikarunia seorang putri dan sudah menikah 3 tahun lalu. Sama denganku, putri Mbah Harto adalah anak satu-satunya ... dan katanya, penyandang tunarungu dan juga tunawicara.

“Setiap minggu pagi, istriku selalu video call dengan putri kami yang kini hidup di Jakarta, Nduk.”

Mbah Harto juga bercerita ... hanya setiap minggu istrinya video call dengan putrinya melalui bahasa isyarat. Itu kenapa hari minggu adalah janji yang paling dinantikan istrinya selama sepekan.

Aku masih belum mengerti arahnya ke mana, sebab apa hubungannya denganku. Ya, ‘kan?

“Simbah sudah lama nyambung wifi dengan bapakmu.”

Oalah mak jan. Aku baru tahu kenapa Mbah Harto mempertanyakan jaringan wifinya. Ini semua ulahku, karena aku baru saja mengganti sandinya.

“Sejujurnya  simbah malu, Nduk.”

“Loh kenapa malu, Mbah?”

“Simbah nyambung wifi di rumahmu sudah lama. Awalnya simbah bercerita dengan bapakmu dan bapakmu mengizinkan simbah dengan memberikan kata sandi wifinya.”

“Karena tidak enak, simbah pernah kasih uang. Hitung-hitung simbah bayar separuh dari tagihan, tetapi bapakmu menolak.”

“Saat itu bapakmu berbicara kalau dia tidak mau melihat simbah memikirkan uang saat video call dengan putri kami, Nduk.”

Kontan aku mengelus dada. Jujur aku bari tahu ini kalau bapak ternyata berbagi jaringan wifi dengan tetangga.

Aku tahu bagaimana bapakku, dia orangnya pendiam, dan hanya menghormati orang yang menghormatinya. Namun, aku baru tahu  kalau bapak berbagi jaringan wifi dengan tetangga sebelah rumah kami.

Mbah Harto kemudian melanjutkan, “Bapakmu yang memindahkan alatnya agar kami dapat sinyal bagus dan itu bukan hanya sekali.”

“Router?” tanyaku saat menangkap alat yang Mbah Harto maksud.

Mbah Harto mengangguk.

Astagfirullah al azim! Aku baru ingat pesan bapak untuk tidak mengunduh, atau menonton video di jam tujuh pagi. Apakah ini maksudnya?

“Pokoke liren ndisek. Gak usah nonton video. Geletakno HP-mu sek sejam.”(Pokoknya berhenti sejenak. Tidak usah menonton video. Taruh HP-mu selama satu jam).

Ya, heran saja saat kami menginap ... pada hari minggu pukul tujuh pagi sampai pukul delapan, aku tidak boleh online.

Aku sempat kesal dengan aturan bapak kala itu. Aku pikir wifi ini ‘kan wifi bapaku juga? Kenapa aku harus dibatasi pemakaiannya ... hanya pukul tujuh sampai delapan pagi.

Kini aku baru tahu kenapa bapak melarangku saat itu. Ternyata bapak tidak mau mengganggu istrinya Mbah Harto yang sedang video call dengan putrinya. Mereka sama-sama difable.

Ah, sebegitu pedulinya bapak dengan tetangga kami.

“Bagaimana, Nduk?” tanya Mbah Harto menyadarkanku dari lamunan.

“Duh maaf, Mbah. Kalau begitu saya aktifkan lagi koneksinya.”

“Weh! Terima kasih loh, Nduk.”

 

****

 

Bersama Mbah Harto, kuputuskan untuk ke rumahnya.

“Assalamualaikum, Mbah,” sapaku kepada istri Mbah Harto yang duduk memegang HP.

Buru-buru perempuan sepuh itu berdiri lalu dengan bahasa isyarat, dia menyuruhku duduk.  “Tan ... ud ... uk.”

Aku pun duduk di kursi rotan yang ada di sebelahnya, sementara istrinya terus berbicara dengan bahasa isyarat.

Jujur aku bingung, tidak tahu apa artinya.

“Dia bilang, sampaikan terima kasih kepada bapakmu,” kata Mbah Harto setelah menerjemahkannya untukku.

Aku menundukkan kepala. Mungkinkah mereka tidak tahu kalau bapak sudah meninggal sebulan lalu? Ya, wajar saja kupikir  sebab bapak meninggal di rumah sakit setelah di rawat hampir sebulan akibat gula darahnya tinggi. Dikuburkan juga di kampung ibu atas permintaannya.

“Kami berterima kasih kepada bapakmu atas sesuatu yang telah dia lakukan selama bertahun-tahun untuk kami, Nduk. Hampir sebulan ini, kami tidak pernah melihat bapakmu. Bapakmu sehat to, Nduk?”

Aku terdiam saat menatap Mbah Harto.

Tanpa menjawabkannya, aku meminta HP yang dipegang oleh istrinya, memasukkan kata sandi baru, dan jaringan pun terkoneksi. “Sudah, Mbah,” kataku.

Aku masih duduk di tempatku saat istrinya segera menelepon putrinya.

Pada saat wajah putrinya muncul di layar, ekspresi wajah istrinya itu berubah sepenuhnya. Dia tersenyum, dan tangannya mulai bergerak dengan isyarat.

Hatiku rasanya teriris saat melihat istri Mbah Harto dan putrinya tertawa dan berbicara dalam bahasa isyarat, seolah-olah tidak ada lagi jarak antara Jakarta-Semarang.

“Kalau begitu saya permisi, Mbah.”

“Oh, iya, Mbah. Ada nomor yang bisa dihubungi?”

“Sekali lagi, terima kasih ya, Nduk. Ini nomor Whatsapp simbah.” balas Mbah Harto.

Aku pun memasukkannya ke dalam kontak telepon.

 

****

Di rumah.

Kulihat anakku masih menonton film kartun kesuakaannya di televisi. Buru-buru aku ke kamar bapak.

Kulihat router itu berada di samping jendela ... jendela yang menghadap ke rumah Mbah Harto.

Mataku mulai berkaca-kaca. Inikah jawabannya kenapa router itu dibiarkan berada di samping jendela? Bukankah seharusnya berada di ruang keluarga atau di dalam ruangan yang tertutup?

Sekarang aku mengerti. Tempat itu adalah yang terbaik agar sinyal bisa mencapai rumah Mbah Harto, tetangga bapak.

Aku mengeluarkan HP lalu mengirimkan sebuah pesan kepada Mbah Harto. Kupikir dia akan membaca pesanku seusai video call-an dengan putrinya. “Mbah, terus gunakan jaringan seperti biasa. Jika kata sandi berubah lagi, saya yang akan memberitahu.”

Tak kusangka, pesanku pun dibalas.

“Terima kasih ya, Nduk. Terima kasih karena bapakmu telah membantu kami lagi, melalui kamu.”

Kubaca pesannya ... air mataku tiba-tiba menetes.

Sejak bapak meninggal, kupikir aku tahu segalanya tentang dia ... siapa yang dia bantu, untuk siapa dia menyumbangkan waktunya, dan berapa banyak kebaikan kecil yang dia lakukan dengan diam-diam tanpa memberi tahu siapa pun.

Sungguh aku sebagai anaknya tidak tahu. Apakah setiap bapak akan begitu? Menyimpan semua cerita kebaikan hanya untuk dirinya sendiri? Apakah aku anaknya tidak berhak tahu?

Sungguh aku menyesal! Dulu setiap minggu waktuku terganggu dengan aturan bapak yang tidak mengizinkan memakai wifi selama sejam, padahal bapak hanya merelakan satu jam saja untuk seorang ibu agar bisa tertawa bersama putrinya melalaui video call.

Air mataku jatuh kian berderai. Ternyata hal terindah yang ditinggalkan bapak bukanlah rumah dan kenangan di mana aku tumbuh bersamanya, tetapi sebuah kebaikan yang tidak dia ceritakan kepada siapa pun.

 

 


PAKDE NOTO

Baca juga cerita seru lainnya di Wattpad dan Follow akun Pakde Noto @Kuswanoto3.

No comments:

Post a Comment

Start typing and press Enter to search