FETIS bisa-bisanya gak ketahuan
Matanya merem melek. “Oh, Sri ....” Sambil menciumi sesuatu berwarna hijau.
Sarungnya bergerak-gerak ....
Lelaki itu sedang melakukan senam lima jari.
****
FETIS
Pagi itu,
Desa Bangorejo mendadak gempar. Bukan karena ada warga yang diarak karena
ketahuan mantap-mantap, bukan pula karena si Wowo datang berkunjung.
Penyebabnya, justru sesuatu yang membuat para lelaki memilih menunduk saat
berbicara karena malu, sementara para perempuan berbisik-bisik sambil menoleh
ke kanan dan kiri.
“Kok iso to ndekku
yo ilang. Cawetku kae lo wes bodol lo, Jum!” (Kok bisa punyaku juga hilang. Dalamanku
itu sebenarnya sudah lama loh, Jum!).
“Nggko gek
dinggo Pakde Jumiran, Mbokde?” (Jangan-jangan dipakai Pakde Jumiran, Mbokde?).
“Ealah. Yo,
ora to, Jum. Pakdemu lo nduwe sempak dewe.” (Ya tidak mungkin, Jum. Pakdemu itu
punya dalaman sendiri).
Benar!
Bangorejo geger karena seminggu ke belakang, tiap malam ada saja dalaman
perempuan yang hilang. Anehnya, yang hilang dalaman ibu-ibu.
Awalnya
hanya milik Sri, janda beranak satu yang dinikahi Pakde Suroto, tinggal di
ujung gang dekat musala.
Sri mengira
pakaian dalamnya terbawa angin sewaktu di jemuran. Namun, setelah memeriksa
halaman belakang, ia tidak menemukan apa pun.
****
Dua hari
kemudian, kejadian serupa menimpa Mbokde Sarni, istrinya Pakde Parno.
Mbokde Sarni
berlari sambil berteriak petang itu. “Pak! Cawetku lo ora enek neng jemuran!” (Pak!
Celana dalamku kok tidak ada di jemuran!). Berlari sambil berteriak petang itu.
“Seng ndi?” (Yang
mana?) balas Pakde Parno santai.
“Seng
Sampean tumbaske kae lo. Seng ngarepe gambar lumba-lumba.” (Yang Sampean
belikan itu lo. Yang depannya ada gambar lumba-lumba).
“Heleh! Ko
gek mbok kekno gendakanmu, Mak,” (Halah! Nanti kamu kasih ke selingkuhanmu,
Mak) sahut Pakde Porno asal.
“Piye to ki!
Iki gawat, Pak! Wediku dinggo seng ora-ora. Nek aku kepincut karo wong lanang
liyo mergo cawet kae piye, ha!” (Bagaimana to ini! Ini bahaya, Pak. Aku takut
dipakai buat yang tidak-tidak. Kalau aku kepincut lelaki lain gara-gara
dalamanku itu bagaimana, ha!).
“Yo, kono
to! Perkoro cawet ilang kok iso nganti kepincut lanangan liyo!” (Ya, silakan
saja! Masalah Dalaman hilang saja kok sampai perkara kepincut lelaki lain!).
“Yo, sopo
reti diumik-umik ... terus aku kintil. Piye?” (Ya, siapa tahu dimantra-mantra
... lalu aku kepincut. Bagimana?).
“Yo, ben.”
(Ya, biar).
“Kok ngono
to.” (Kok begitu).
“Nek kowe
kepincut lanangan liyo, aku yo rabi neh. Adil to?” (Kalau kamu kepincut lelaki
lain, aku menikah lagi. Adil kan?).
“Lah
mbohlah, Pak! Wes tuek tembanganmu roba-rabi ae. Koyok jek kuat-kuato. Lha wong
sedelo wes ndledek! Ngono ae kementus arep mbojo neh!” (Entahlah, Pak! Sudah
tua ucapanmu menikah terus. Seperti masih kuat saja. Kenyataannya hanya
sebentar saja sudah keluar. Begitu saja sok-sokan mau menikah lagi!).
****
Seminggu
berselang.
Giliran
celana dalam milik Rina, seorang guru sekolah dasar yang baru tiga bulan
tinggal di Bangorejo, raib dari jemuran belakang rumahnya.
Yang aneh,
pakaian lain tidak ada yang hilang. Baju, celana panjang, bahkan handuk yang
dijemur berdampingan dengan pakaian dalam itu tetap berada di tempatnya.
Pintu rumah
para korban juga tidak menunjukkan tanda-tanda dibobol. Tidak ada barang
berharga yang lenyap, hanya celana dalam!
Mula-mula
warga menganggapnya sebagai lelucon demi konten di FB. Namun, setelah jumlah
korban bertambah, tidak ada lagi yang merasa lucu, ini bukan lelucon.
****
Dalam dua
pekan, lima perempuan melapor kehilangan pakaian dalam.
Akhirnya pada
hari minggu, masalah itu dibawa ke pertemuan warga.
Pak Lurah
duduk di kursi depan bersama Pak Bayan, Pak
RT, dan beberapa tokoh masyarakat. Para warga memenuhi balai desa. Sebagian
perempuan duduk bergerombol di sisi kiri, sementara para lelaki memenuhi bangku
panjang di sisi kanan.
“Kalau
pencuri, mestinya mengambil barang berharga. Ya, to?” tanya Pak Lurah. “Kalau
orang iseng, ini sudah keterlaluan. Kita tidak bisa membiarkan warga merasa
tidak aman di rumah sendiri.”
“Leres, Pak,”
(Betul, Pak,) sahut Mbah Katmijan. “Kulo urun rembuk nek rundo ditingkataken
malih” (Saya usul ronda malam ditingkatkan).
“Ronda buat
apa?” tanya Paijo yang bertubuh ceking, pakai blangkon.
“Yo, ben
aman ko maling to, Jo, Paijo.” (Ya, biar aman dari maling to, Jo, Paijo).
“Lha wong
malingnya ada di Senayan. Buat apa ronda di desa-desa, Mbah. Percuma!”
“Sudah!
Sudah! Malah melebar ke mana-mana nanti!” lerai Pak Lurah.
“Rundo mawon
mboten cekap,” (Ronda saja tidak cukup), timpal yang lain.
“Pokoke dewe
kudu weroh sopo malinge!” (Kita harus tahu siapa pelakunya!), teriak Mbah Noto
yang berkumis tebal sambil mengangkat telunjuk tinggi-tinggi. “Nek minurut
kulo, malinge wong njobo deso. Iso ae mergo onok kesempatan.” (Menurut saya pelakunya
mungkin orang luar. Bisa jadi pencuri yang sedang mencari kesempatan).
“Kalau
mencari kesempatan, mengapa cuma celana dalam, Mbah?” tanya Pak Bayan.
Mbah Noto
seketika diam. Benar apa yang dikatakan oleh Pak Bayan.
“Nggeh
namine mawon tiyang aneh. Kados tiyang-tiyang teng FB niko. Lha kito sedoyo
mboten ngertos isi sirah tiyang lintune, Pak Bayan.” (Ya, namanya juga orang
aneh. Seperti orang-orang di FB itu. Kita tidak tahu isi kepala orang, Pak
Bayan).
Pak Lurah
ambil kendali situasi, “Kalau begitu begini saja .... “ Pak Lurah akhirnya
memutuskan membentuk kelompok ronda tambahan. Warga juga diminta segera melapor
jika melihat orang asing atau aktivitas mencurigakan. “Kalau ada yang
kehilangan lagi, jangan malu melapor. Kita harus terbuka supaya pelakunya cepat
tertangkap.”
****
Singkat
cerita ronda malam mulai diperketat.
Setiap
kelompok terdiri atas lima orang. Mereka berkeliling kampung dari pukul sepuluh
malam hingga menjelang subuh.
Senter
menyala di sepanjang gang, sesekali diselingi suara kentongan. Namun, selama
empat malam pertama, tidak ada hasil alias nihil!
****
Pada
malam kelima, malah celana dalam milik Mbokde Wati hilang.
Mbokde Wati
tinggal bersama Pakde Tresno, tetapi malam itu suaminya sedang bekerja di luar
kota. Pakaian dalam yang hilang baru saja dicuci dan dijemur di belakang rumah.
Ia baru menyadari kehilangan itu paginya.
Mbokde Wati
bergegas melapor ke Pak RT.
Pak RT
meneruskan laporan ke Pak Bayan.
“Sudah jelas
pelakunya mengawasi rumah korban,” ucap Pak RT yang menjadi koordinator ronda.
“Kenapa kamu
bilang begitu?” tanya Pak Bayan.
“Karena dia
tahu kapan rumah sepi. Kalau cuma pencuri iseng yang lewat, belum tentu berani
masuk ke rumah orang.”
“Bisa saja
dia sudah mengincar celana dalam korban sejak lama, Bisa jadi to?”
****
Beberapa
perempuan mulai khawatir. Mereka tidak lagi berani menjemur pakaian di halaman
belakang. Ada yang memindahkan jemuran ke dalam rumah.
Pak RT
sendiri mulai menyelidiki orang-orang yang dianggap mencurigakan. Salah satu
nama yang muncul adalah Joko, pemuda pengangguran yang suka nongkrong di
perempatan jalan.
Joko memang
pernah ditegur warga karena suka nongkrong hingga larut malam.
Ketika Pak RT
mendatanginya, Joko sedang duduk sambil memainkan telepon genggam.
“Ko, aku mau
tanya.”
“Tanya apa,
Pak RT?”
“Kamu pernah
lewat belakang rumah Mbokde Pariyem malam-malam?”
Joko
mengangkat kepala. “Pernah. Memangnya kenapa?”
“Waktu itu
kamu ngapain?”
“Pulang dari
warung.”
“Sendirian?”
“Iya.”
Pak RT
menyipitkan mata. “Kamu tahu soal celana dalam yang hilang?”
Joko tertawa
pendek, tetapi tawanya segera berhenti ... “Jangan macam-macam, Pak RT! Saya
memang pengangguran, tapi bukan berarti pencuri.”
“Tapi kalau
tidak salah, kamu juga pernah nongkrong dekat rumah Marni.”
“Warung Marni
memang dekat situ. Pak RT mau melarang saya lewat jalan umum, ha?”
Pak RT tidak
langsung menjawab. Ia tahu Joko bisa saja tersinggung karena dituduh. Namun,
sebagai koordinator ronda, ia harus memeriksa semua kemungkinan.
“Kalau kamu
tidak melakukannya, coba buktikan.”
“Loh! Bagaimana
caranya? Saya harus bersumpah di depan Pak Lurah gitu?”
“Cukup jawab
jujur.”
Joko berdiri
kontan. “Saya akan jawab jujur! Malam saat celana dalam Mbokde Wati hilang, saya
tidur di rumah Paklik Bagio. Tanya saja beliau. Saya memperbaiki motornya sejak
sore dan menginap di sana.”
Pak RT
terdiam.
****
Malam di
pos ronda.
Di dinding
pos ronda tertera nama-nama yang bertugas jaga malam ini, yaitu, Mbah Noto,
Sutrisno, Irawan, Sodik, dan Mbah Katmijan.
Walaupun
sepuh, Mbah Katmijan yang biasa jengkolan itu turut andil bela negara,
mengamankan lingkungannya. Ia juga menyarankan agar mencatat nama orang-orang
yang pulang larut, terutama mereka yang tidak memiliki pekerjaan tetap.
“Wong pengangguran
biosone keluyuran.” (Orang yang tidak punya kesibukan biasanya punya banyak
waktu untuk keluyuran) kata Mbah Katmijan.
Sodik yang
sedang duduk di sebelah Sutrisno menoleh. “Ah, tidak selalu begitu, Mbah.”
“Yo, iyo. Gak kabeh, tapi iso ae to.” (Memang. Saya
tidak bilang semua begitu. Tapi kita harus mempertimbangkan kemungkinan).
Mbah Noto
menuangkan kopi dari termos ke dalam gelas plastik. “Malinge ki duk wong adoh.
Wong adoh gak wani nyolong. Nek ketemu, tak tugel ngepok tenan manuke!” (Pencurinya
ini bukan orang jauh. Mana mungkin orang jauh berani mencuri. Kalau sampai
ketahuan, akan kupotong sampai habis burungnya!).
“Bisa jadi
dia memang mengincar barang itu,” jawab Sutrisno.
“Betul itu, No”
timpal Irawan.
Sutrisno
menyeruput kopi. “Kalau begitu, dia pasti punya alasan khusus.”
Mbah Noto
menoleh memperhatikan anak muda itu sejenak.
“Mbah To punya
dugaan siapa?” tanya Sutrisno.
Mbah Noto tertawa kecil. “Nek weroh, bakal tak seret
sampek balai deso.” (Kalau saya tahu, sudah saya seret ke balai desa).
Percakapan
itu tidak menimbulkan kecurigaan apa pun hingga akhirnya mereka memutuskan
untuk ronda keliling.
****
Pak RT
memutuskan mendatangi rumah semua korban. Ia tidak lagi berfokus pada
orang-orang yang suka berkeliaran malam hari. Kali ini, ia ingin mencari pola.
Di rumah Mbokde
Sulastri, ia bertanya tentang keadaan jemuran saat kehilangan terjadi. “Jemurannya
di mana, Mbakyu?”
“Pinggiran griyo.
Anding lawang pawon.” (Di halaman samping. Dekat pintu dapur).
“Pagar
samping dikunci?” tanya Pak RT lagi.
“Mboten. Nggeh
ngoten niku.” (Tidak. Biasanya memang begitu).
“Apakah ada
orang yang tahu Mbakyu menjemur pakaian di situ?”
Mbokde
Sulastri berpikir sejenak. “Nggeh tonggo-tonggo. Kulo pun taunan njemur teng
mriku.” (Ya, tetangga tentu tahu. Saya juga biasa menjemur di situ sejak
bertahun-tahun).
Pak RT lantas
mencatat beberapa hal.
****
Di rumah Mbokde
Marni, kondisinya hampir sama. Jemuran berada di halaman belakang yang
terlindung dari jalan.
Di rumah
Rina, pakaian dijemur di sisi rumah yang hanya bisa dijangkau melalui gang
sempit.
Rumah Mbokde
Wati berbeda. Halamannya lebih terbuka, tetapi pintu sampingnya tidak pernah
dikunci ketika siang hari.
Dari empat
lokasi, Pak RT menemukan satu kesamaan, pelaku kemungkinan mengenal lingkungan
desa dengan baik. Ia juga menyadari bahwa barang yang hilang tidak diambil
sekaligus. Pada beberapa rumah, pakaian lain tergantung berdekatan, tetapi
tidak disentuh.
****
Singkat
cerita.
Pak RT
sedang duduk di warung Yuyun bersama beberapa warga, termasuk Mbah Katmijan.
Mereka membicarakan kejadian memalukan yang terjadi akhir-akhir ini.
Tiba-tiba Mbokde
Sulastri datang ... membeli gula.
Sambil
menunggu pesanannya, Mbokde Sulastri bercerita bahwa ia sudah mengganti tempat
jemuran. Sekarang, pakaian dicuci dan dikeringkan di dalam rumah.
“Aku wes embit
je.” (Sudah kapok saya) katanya.
“Duk mergo regane.
Gur isin nek poro tonggo ngomongne iki terus.” (Bukan soal harga barangnya.
Saya malu kalau tetangga terus membicarakan masalah ini).
“Yang
penting Mbakyu merasa aman,” ujar Pak RT.
Mbokde
Sulastri mengangguk. “Lha kok untunge seng ilang gur siji ... jeroan seng
wernone ijo niku. Nek kabeh rak yo malah bingung to.” (Untungnya yang hilang
cuma satu ... celana dalam saya yang warna hijau itu. Kalau semua pakaian
diambil, mungkin saya lebih bingung lagi).
Mbah Katmijan
yang duduk di dekat pintu mendadak mengangkat wajah. “Seng ijo seng enek
ringik-ringike neng pinggirane to?” (Yang hijau dengan renda kecil di
pinggirnya itu?).
Suasana
warung tidak langsung berubah. Beberapa orang masih sibuk berbicara. Namun, Pak
RT berhenti mengaduk kopi. Ia menoleh perlahan kepada Mbah Katmijan.
Bu Sulastri
mengerutkan dahi. “Lho! Njenengan kok weroh to, Mbah?” (Loh! Mbah kok tahu?).
Mbah Katmijan
tampak terkejut oleh pertanyaan itu. “Eh ... maksudku, iku gur kiro-kiro.” (Eh
... maksud saya, mungkin yang itu).
“Bagaimana Njenengan
tahu ada renda kecilnya?” tanya Pak RT.
Mbah
Katmijan tertawa gugup. “Amung nate ningali. Pas lewat mawon.” (Ya, saya pernah
melihatnya. Mungkin waktu lewat).
“Pernah
melihat celana dalam yang hilang itu?” tanya Pak RT.
“Sanes kang
ilang niku. Maksud julo, ningali jemuran. Namine mawon tiyang lewat.” (Bukan
melihat yang hilang. Maksud saya, melihat jemuran. Namanya juga lewat).
Pak RT tidak
lagi bertanya. Ia hanya menatap Mbah Katmijan beberapa detik, lalu kembali
meminum kopinya.
****
Pak RT
memutuskan untuk berbicara dengan Pak Bayan.
“Saya punya
dugaan, Pak Bayan” katanya.
“Siapa
pelakunya?”
“Mbah
Katmijan,” jawab Pak RT.
Pak Bayan
langsung menggeleng. “Jangan sembarangan. Mbah Katmijan itu orang baik. Dia
membantu banyak warga.”
“Saya belum
menuduhnya. Saya hanya ingin memeriksa kemungkinan.”
“Dasarmu apa,
ha?”
Pak RT
menjelaskan kejadian di warung.
Pak Bayan
terdiam lama lalu ... “Kalau memang dia pelakunya, kita perlu bukti yang kuat.
Jangan sampai orang yang tidak bersalah dipermalukan.”
“Saya
setuju, Pak.”
“Jangan
bertindak sendiri. Kita cari bukti dengan cara yang benar.”
Pak RT
mengangguk.
****
Pak RT tidak
ingin menyebarkan kecurigaannya. Ia khawatir Mbah Katmijan akan mengetahui
bahwa dirinya sedang diselidiki, lalu menghilangkan bukti. Karena itu, ia
menyusun rencana sederhana bersama Pak Bayan.
Mereka
meminta Mbokde Sulastri berpura-pura bahwa ia kembali menjemur pakaian di
halaman samping.
Sebenarnya,
jemuran itu hanya berisi beberapa potong kain biasa. Pintu samping tetap
tertutup, tetapi tidak dikunci rapat.
Di dekat
gudang kecil, Pak RT menempatkan CCTV milik seorang warga yang biasa digunakan
untuk merekam pos ronda. CCTV itu diarahkan ke jalur masuk halaman.
Mereka tidak
tahu apakah Mbah Katmijan akan datang?
Mereka juga
tidak ingin memancingnya dengan cara yang membahayakan siapa pun.
Akan tetapi,
selama tiga malam direkam, tidak ada kejadian apa pun. Amsyong!
****
Pada
malam keempat.
CCTV merekam
seorang lelaki memasuki halaman melalui pintu samping.
Wajahnya
tidak terlihat jelas karena tertutup bayangan, tetapi bentuk tubuh dan cara
berjalan lelaki itu membuat Pak RT curiga.
Rekaman
menunjukkan lelaki tersebut berhenti dekat jemuran, memperhatikan sekeliling,
lalu berbalik ketika mendengar suara kendaraan di jalan.
Di rekaman,
lelaki itu tidak mengambil apa pun.
****
Keesokan
harinya.
Pak RT
memperlihatkan rekaman CCTV kepada Pak Bayan. Mereka tidak langsung
menyebarkannya kepada warga, takut viral di FB.
“Tapi ini
belum cukup untuk memastikan, Pak RT,” kata Pak Bayan.
“Betul.
Wajahnya juga tidak jelas, Pak.”
“Lalu
bagaimana?”
Pak RT
berpikir sejenak. “Kita hanya perlu tahu apakah dia menyimpan dalaman yang
hilang itu.”
Pak Bayan
menghela napas. “Itu berarti kita harus menghubungi pihak berwenang jika ada
dasar yang cukup. Jangan sampai kita menggeledah rumah orang seenaknya.”
Pak RT
setuju, “Baik, Pak.”
Mereka lantas
menemui Pak Lurah dan menyampaikan seluruh temuan.
****
Di sebuah
rumah.
Tampak
lelaki tua sedang berbaring di tempat tidur, bertelanjang dada, hanya memakai
sarung. Matanya merem melek.
“Oh, Lastri
....” Sambil menciumi sesuatu berwarna hijau.
Sarungnya
bergerak-gerak ....
Cok, cok,
cok!
Cok, cok,
cok!
Lelaki itu
sedang melakukan senam lima jari.
Aparat desa
serta petugas berwenang yang sejak dari tadi mengintai untuk melakukan penggeledahan
terhadap barang-barang yang berkaitan dengan laporan pencurian langsung
mendobrak pintu kamar setelah mendengar suara rintihan.
Brak!
Kontan
lelaki tua itu terkejut!
Pak Lurah,
Pak RT, Pak Bayan, serta beberapa petugas sungguh dibuat tidak percaya. Di hadapan
mereka Mbah Noto nyaris ... lalu buru-buru membetulkan sarungnya.
“Enten nopo
niki, ha!” (Ada apa ini, ha!).
“Mlebet griyaning
tiyang mboten amit niku lancang namine!” (Masuk rumah orang tidak permisi itu
lancang namanya!).
Pak Lurah
menjelaskan bahwa pemeriksaan dilakukan berdasarkan keterangan sejumlah warga
dan petunjuk yang telah dikumpulkan. Mbah Noto diminta bekerja sama agar
masalah segera jelas. “Paham, Mbah.”
Mbah Noto yang
kepergok bangkit dari tepi tempat tidur. “Niki fitnah! Kulo difitnah!” (Ini fitnah!
Saya difitnah!).
“Fitnah? Itu
yang Panjenengan pegang punya siapa, ha?”
Mbah Noto tidak
lagi bisa menjawab, semua orang tahu kalau desa sedang geger dengan hilangnya
banyak dalaman perempuan.
“Geledah
rumah ini!” perintah Pak Lurah.
Bergegas aparat
berpencar untuk mendapatkan barang bukti.
Di ruang
depan, tidak ada sesuatu yang mencurigakan. Hanya meja, kursi, lemari pakaian,
dan beberapa kardus berisi barang lama.
Ketika
petugas memeriksa lemari tua, Mbah Noto bangkit lalu mencegahnya,. “Lemari niku
isine amung barang-barang lawas!” (Lemari itu cuma berisi barang-barang lama!).
“Baik, Mbah.
Kalau begitu izinkan kami periksa,” jawab petugas.
Laci atas
berisi kartu KK dan beberapa kuitansi.
Laci tengah
menyimpan perkakas kecil.
Ketika laci
bawah dibuka, petugas menemukan sebuah kantong kain yang diikat rapat.
Mbah Noto
mendadak melangkah maju. “Ojo dibukak!” (Jangan dibuka!).
“Ada apa, Mbah?”
Mbah Noto
menelan ludah. “Gak opo-opo. Niku ... amung barang kulo pribadi.” (Tidak ada
apa-apa. Itu ... barang pribadi).
“Kalau
begitu, kami perlu mengetahui isinya karena berkaitan dengan laporan, Mbah.”
Mbah Noto
tidak menjawab saat kantong itu dibuka
dan ....
Di dalamnya
terdapat sejumlah pakaian dalam perempuan yang sudah dilipat dan dipisahkan
dalam beberapa bungkus kecil. Sebagian warnanya cocok dengan keterangan para
korban.
“Bawa dia ke
balai desa sekarang!”
****
Heboh penangkapan
Mbah Noto yang digiring membuat para warga ikut mengaraknya.
Sesampainya
di balai desa.
Pak RT
menatap Mbah Noto. “Panjenengan bisa jelaskan?”
Mbah Noto
berdiri kaku. Wajahnya pucat, sedangkan kedua tangannya gemetar. “ Kulo ...
kulo saget njelasaken.” (Saya ... bisa menjelaskan).
“Kalau
begitu, jelaskan sekarang!”
Mbah Noto
memandang satu per satu orang yang berada di balai desa. Tak satu pun dari
mereka tampak seperti orang yang sedang bercanda.
“Kulo mboten
nyade.” (Saya tidak menjualnya), kata Mbah Noto akhirnya.
“Tidak ada
yang bertanya soal itu, Mbah!” jawab Pak RT.
Mbah Noto
menunduk. “Kulo mboten mundut orto utawes lintune.” (Saya juga tidak mencuri
uang atau barang berharga).
“Mbah,” ujar
Pak Lurah, suaranya berat, “yang kami tanyakan adalah mengapa barang-barang ini
ada di rumah Panjenengan, ha?”
Mbah Noto
mengusap wajahnya lalu setelah beberapa saat yang terasa panjang, ia mulai
mengaku.
“Kenapa?”
tanya Pak Lurah.
“Kulo mboten
ngertos pripun njelasaken.” (Saya tidak tahu bagaimana menjelaskannya).
“Coba
jelaskan sejujurnya.”
Mbah Noto
tertunduk. Ia mengaku telah lama memiliki ketertarikan seksual yang menyimpang
terhadap pakaian dalam perempuan. Ia mengambil benda-benda itu bukan untuk
dijual atau digunakan sebagai bahan lelucon. Ia menyimpannya secara diam-diam
untuk memenuhi fantasi seksualnya.
Mbah Noto yang
hidup sebatang kara itu mengetahui siapa pemilik beberapa dalaman tersebut. Ia
membayangkan wajah para perempuan itu ketika sendirian, lalu menggunakan barang
curian itu untuk merangsang dirinya sendiri.
Semua yang
hadir tidak ada yang menyela.
“Kulo
ngertos kulo salah, nanging kulo mboten saget nglireni.” (Saya tahu saya salah,
tapi saya tidak bisa berhenti).
“Sejak kapan,
Mbah?” tanya Pak RT.
“Pun dangu.”
(Sudah lama).
“Semua
dalaman itu Panjenengan ambil sendiri?”
Mbah Noto
mengangguk sambil terus menunduk.
Mbah Noto
tidak mencari uang. Ia tidak mencari barang berharga, juga tidak mengambil
semua pakaian yang tergantung di jemuran, tetapi memilih benda tertentu karena
benda itu memiliki arti dalam fantasi seksualnya.
Warga yang
mendengar pengakuannya tidak percaya. Sebagian marah, sebagian jijik, dan
sebagian lain merasa malu mendengarnya.
Ternyata Mbah
Noto memiliki kelainan seksual yang selama bertahun-tahun disembunyikannya.
Mbah Noto
menyimpan ketertarikan seksual yang menyimpang terhadap celana dalam perempuan,
terutama ketika ia mengetahui siapa pemiliknya. Baginya, benda itu bukan
sekadar kain. Ia membayangkan dengan perempuan yang mengenakannya, lalu
membangun fantasi pribadi dengan membayangkan wajah sang pemilik. END
****
EPILOG.
“Oh, Sarni.
Enake, Sar.” Sambil membayangkan wajah Mbokde Sarni.
Bunyi becek
... cok, cok, cok!
Senam lima
jari itu mendadak terhenti saat terdengar suara, “Mbah! Mbah Katmijan!”
Pintu terus
diketuk.
Tok! Tok!
Tok!
“Mbah!
Orang-orang ke balai desa! Pencurinya sudah tertangkap, Mbah!”
Lelaki sepuh
yang ada di dalam kamar diam, menyisakan suasana hening.
Saat tidak
ada lagi suara, dia kembali melanjutkan senam lima jari demi kesehatan di masa
tuanya ... dengan terus menciumi benda
yang bagian depan bergambar lumba-lumba.
Dukung Pakde Noto di Trakteer

No comments:
Post a Comment