Dukung SayaDukung Pakde Noto di Trakteer

[Latest News][6]

abu nawas
abunawas
berbayar
Budaya
cerbung
cerkak
cerpen
digenjot
gay
hombreng
horor
hot
humor
informasi
LGBT
mesum
misteri
Novel
panas
puasa
sejarah
Terlarang
thriller

Labels

HALAH GOMBAL

“Oh, Kang ....”

“Piye?” (Bagaimana?).

Perempuan itu mengangguk.

Setelahnya hanya suara berderit kayu. Lalu berhenti sejenak.

“Sudah, Kang?”

“Gurung.” (Belum).

 

 


HALAH, GOMBAL

Mbokde Murni, usianya 48 tahun, terbaring lemah di atas ranjang. Wajahnya pucat. “Buhuk ... buhuk ... buhuk!”

Bibirnya kering. Tubuhnya yang biasanya gesit kini hanya tertutup selimut sampai dada.

Sudah beberapa hari ia sakit. Awalnya hanya mengeluh pusing dan tidak enak badan. Namun, belakangan kondisinya semakin memburuk hingga harus lebih banyak berbaring.

Pakde Suroto, lelaki gaek 53 tahun, suaminya, tampak mondar-mandir di dalam kamar. Sesekali ia bertanya apakah istrinya membutuhkan sesuatu.

“Pak, aku haus,” kata Mbokde Murni lirih.

Pakde Suroto segera mengambilkan gelas yang ada di atas meja. “Ngombe sitik-sitik ae, Mak.” (Minum sedikit-sedikit, Mak).

Mbokde Nurni menyesap air dari gelas. “Sudah, Pak.” Kemudian memejamkan mata lagi.

Pakde Suroto memandang istrinya dengan wajah murung. Siapa sangka perempuan yang selama puluhan tahun menjadi teman hidupnya itu kini terbaring tak berdaya.

Tak lama berselang terdengar uluk salam dari pintu depan. “Kulonuwun!” (Permisi!).

Pakde Suroto bergegas keluar.

Ternyata Sri, tetangga mereka yang baik hati, rumah keduanya hanya terhalang dua petak tanah kavling kosong yang ditumbuhi belukar. Meski 43 tahun, bempernya masih berisi, kulitnya juga masih terawat.

Sri datang membawa rantang berisi bubur dan plastik yang berisi pisang. “Bagaimana keadaan Mbakyu Murni, Kang?” tanyanya.

“Jek lemes. Wes ayo, mlebu, Sri! Wonge pesti seneng nek onok seng ngancani ngobrol.” (Masih lemas. Silakan masuk, Sri! Dia pasti senang kalau ada yang menemani ngobrol).

Sri berjalan menuju kamar.

Begitu melihat Mbokde Murni terbaring, wajahnya berubah iba. Perlahan ia meletakkan rantang dan plastik yang dibawa. “Ya, Allah, Mbakyu. Kok sampai begini? Biasanya aku lewat depan rumah, Mbakyu masih sempat menyapaku dari teras.” Lalu duduk di kursi yang ada di samping tempat tidur.

Mbokde Murni membuka mata. Senyum tipis muncul di bibirnya.

“Sudah diperiksa dokter?”

“Sudah,” jawab Mbokde Murni lemah.

“Apa katanya?”

“Katanya harus banyak istirahat. Jangan terlalu banyak pikiran.”

Sri mengangguk. “Betul itu, Mbakyu. Jangan banyak pikiran. Nanti malah tambah sakit loh.”

Mendengar kalimat itu, Mbokde mendadak membuka mata lebar-lebar.  “Kalau gampang menghilangkan pikiran, aku tidak akan sampai begini, Sri.”

Sri menggeser kursinya lebih dekat. “Memangnya Mbakyu sedang memikirkan apa?”

Mbokde Murni menoleh ke arah pintu, memastikan suaminya tidak berada di dekat kamar.  Setelah merasa aman, ia berbisik. “Gara-gara suamiku sendiri.”

Sri mengerutkan kening. “Kang Suroto?”

“Sopo neh?” (Siapa lagi?).

“Lha ada masalah apa to, Mbakyu?”

Mbokde Murni terdiam beberapa saat. Kemudian, entah mengapa, wajahnya justru berubah seperti orang yang hendak menceritakan sesuatu.

“Kamu tahu tidak, Sri? Beberapa hari sebelum aku sakit begini, aku bertengkar dengan suamiku gara-gara urusan KB.”

Sri mengangkat alis. “KB, Mbakyu?”

“Iyo. Aku sudah capek selama ini harus memikirkan kontrasepsi. Jadi, aku bilang kepadanya, sekarang gantian dia yang KB. Kalau KB suntik, aku kurang cocok. Implan, badanku melar begini, Sri.”

“Memangnya Kang To mau KB?” tanya Sri.

“Jangankan mau. Mendengar namanya saja dia langsung memasang wajah kesal.”

“Kok bisa to, Mbakyu?”

“Awalnya dia bertanya, memangnya laki-laki ada KB. Aku jawab ada, namanya vasektomi.”

“Terus?”

“Dia bertanya lagi, vasektomi itu apa? Ya, aku jelaskan sebisaku. Saluran spermanya diputus atau ditutup supaya tidak bisa membuahi sel telur. Benar to, Sri?”

Sri mengangguk.

“Tapi namanya juga aku bukan dokter. Aku menjelaskannya pakai bahasa sederhana. Eh, entah kenapa aku malah menceletuk begini, nanti bijinya diplintir sedikit kok, Pak.”

“Mbakyu! Kok begitu menjelaskannya? Bijinya tidak dipelintir kok,” tampik Sri.

“Lha, waktu itu aku cuma bercanda, Sri! Suamiku langsung bilang tidak mau. Katanya dia masih sehat, masih waras, kok disuruh begitu.”

“Ya, mungkin takut, Mbakyu.”

“Awalnya aku juga berpikir begitu, tapi ternyata alasannya lebih panjang, Sri.”

Mbokde Murni menghela napas. “Dia bilang, kalau suatu hari aku meninggal, lalu dia ingin menikah lagi, bagaimana, ha? Kalau sudah vasektomi dan dipelintir bijinya, katanya, dia tidak bisa aceng lagi.”

Sri terdiam.

Mbokde Murni lalu memandang langit-langit kamar. “Bayangkan, Sri. Aku cuma mengajak dia bergantian KB. Belum juga aku mati, dia sudah memikirkan menikah lagi.”

“Ya, mungkin Kang To cuma memikirkan kemungkinan, Mbakyu.”

“Memang. Kita sama-sama perempuan to, Sri. Kadang satu kalimat bisa terus terngiang-ngiang, meskipun orang yang mengucapkannya mungkin sudah lupa.Tahu sendiri to yang namanya istri.”

Mbokde menoleh kepada Sri. “Sejak itu aku terus memikirkan ucapannya.”

“Yang mana?”

“Yang kalau aku mati, dia mau menikah lagi, Sri.”

Sri meremas jemari Mbokde. “Sudahlah. Jangan dipikirkan lagi.”

“Sulit, Sri. Sulit.”

“Kang To ‘kan masih sayang sama Mbakyu.”

“Selama usia pernikahan kami hingga dikarunia lima orang cucu, suamiku tidak pernah berkata sedikitpun akan menikah lagi.”

Sri diam mendengarkannya.

“Pernah kami membicarakan kematian kala itu. Aku bertanya, lebih baik aku atau dia dulu yang meninggal dunia? Dia jawab lebih baik dia dulu yang meninggal, bukan karena tak sanggup mengurus rumah sendirian atau masalah kesepian, tetapi dia ingin meninggal di atas pangkuanku.”

Sri tertunduk kini.

Mbokde Murni melanjutkan, “Dulu kalau kami bertengkar, dia tak pernah mengucap cerai atau mau menikah lagi.”

“Suamiku adalah sosok laki-laki yang bertanggung jawab. Tidak neko-neko.”

“Jika suratan tangan berkata lain ... andai aku meninggal lebih dulu, katanya dia akan bertahan melawan kesepian dan terus berdiri di atas kesetiaan hingga ajal menjemput untuk mempertemukan kami kembali di sana.”

“Sungguh aku perempuan yang paling beruntung di dunia ini punya suami dia, Sri.”

Mbokde Murni tersenyum tipis. “Katanya begitu.”

Mbokde Murni terdiam sejenak sebelum melanjutkan, “Tiga hari setelah pertengkaran masalah KB itu, aku mulai sakit kepala. Badanku tidak enak.”

“Lalu?”

“Aku bilang kepadanya, aku kepikiran omongannya,” jawab Mbokde Murni.

Sri menatap Mbokde Murni lekat-lekat. “Terus Kang To menjawab apa?”

Mbokde Murni menirukan suara suaminya. “Dia malah bertanya, omongan yang mana, ha!”

“Bayangkan, Sri! Dia sendiri yang ngomong, dia sendiri yang lupa!”

Mbokde Murni kembali murung. “Aku bilang, omongan tentang menikah lagi kalau aku meninggal.”

Mbokde Murni berhenti sejenak. “Lalu aku bilang, memang ada yang mau? Kalau ada perempuan atau janda yang mau, dia tidak akan terlalu larut dalam kesedihan karena kehilanganku.”

“Eh, dia malah panik. Katanya, kok aku percaya sama omongannya. Katanya, dia tidak pernah punya niat menikah lagi.”

“Terus dia bilang begini, kowe nginep neng omahe anakmu seng neng kuto  ae aku wes bingung dewean neng omah, opo meneh nek awakmu sedo, Mak. (Kamu menginap di rumah anakmu yang di kota saja aku sudah kelimpungan sendirian di rumah, apalagi kalau kamu meninggal, Mak). Begitu katanya.”

Mbokde Murni menatap Sri. “Menurutmu, itu tanda dia sayang kepadaku, atau dia hanya takut kehilangan orang yang selama ini mengurus rumahnya?”

Sri seperti hendak menjawab, tetapi urung. Ia hanya berkata pelan, “Jangan berpikir begitu, Mbakyu.”

Mbokde Murni memejamkan mata. “Entahlah, Sri. Aku sudah terlalu lelah.”

Beberapa saat kemudian, Pakde Suroto masuk membawa semangkuk bubur lalu meletakkannya di meja. “Bubur teko Sri.” (Bubur dari Sri).

“Ternuwun wes sambang, Sri. Mbakyumu kudu onok konco ngobrol ben gak bosen.” (Terima kasih sudah berkunjung, Sri. Mbakyumu memang perlu banyak teman bicara supaya tidak bosan).

Sri mengangguk.

Pakde Suroto kemudian duduk di tepi ranjang. “Mak, dipakani masio seitik. Ben onok tenogone.” (Mak, makan dulu sedikit. Biar ada tenaga).

Mbokde Murni membuka mata. “Tidak lapar.”

“Jajal sek tah sesendok ae.” (Coba beberapa sendok saja).

Mbokde Murni tetap menolak, “Nanti.”

Pakde Suroto menghela napas, lalu menoleh kepada Sri. “Yo ngono iku, Sri. Nek wes ngene, angel nek kon mangan.” (Begitulah, Sri. Kalau sudah begini, susah sekali disuruh makan).

Sri menatap Pakde Suroto lalu kembali memandang Mbokde Murni. “Mbakyu, makan sedikit saja. Biar cepat sehat, ya.”

Akhirnya Mbokde Murni mengangguk.

Pakde Suroto menyuapinya dengan hati-hati. Satu sendok, dua sendok, kemudian tiga sendok. Setelah itu Mbokde Murni menggeleng, tidak sanggup melanjutkan.

Pakde Suroto meletakkan mangkuk. “Yo, wes istirahat ae.” (Ya, sudah. Istirahat saja). Lalu mengusap dahi istrinya. “Ndang mari yo, Mak. Omah iki rosone sepi nek awakmu gak ngomel-ngomel.” (Cepat sembuh, ya, Mak. Rumah ini sepi kalau kamu tidak cerewet).

Mbokde Murni tersenyum tipis. “Katanya kalau aku meninggal, Njenengan mau menikah lagi.”

Pakde Suroto langsung menoleh kepada Sri. “Lho, kok dibahas neh?” (Lha kok dibahas lagi?).

Sri buru-buru berdiri, ada rasa tidak enak melihat keduanya mulai membahas itu lagi. “Maaf, saya mau numpang  ke kamar mandi dulu.”

Begitu Sri keluar, Pakde Suroto menggenggam tangan istrinya. “Mak, awakku njalok sepuro nek omonganku wektu iko nglarani atimu.” (Mak, aku minta maaf kalau omonganku waktu itu menyakitimu).

Mbokde Murni memandangnya lama. “Njenengan benar-benar tidak punya niat menikah lagi to?”

Pakde Suroto terdiam sesaat. Kemudian ia mengangguk. “Gak.” (Tidak).

Mbokde Murni lantas mengalihkan pandangan. “Kalau begitu, jangan bicarakan soal kematianku lagi.”

“Iyo.” (Iya).

“Dan jangan pikirkan menikah lagi.”

“Iyo, Mak.” (Iyo, Mak).

Pakde Suroto mencium punggung tangan istrinya. “Seng penting awakmu ndang mari.” (“Yang penting sekarang kamu sembuh).

Mbokde Murni memejamkan mata. Pakde Suroto duduk di sampingnya beberapa lama, sampai akhirnya sang istri tertidur.

Ia kemudian keluar kamar.

Di ruang tengah, Sri sedang merapikan bawahannya. “Mbakyu sudah tidur?” tanya Sri.

Pakde mengangguk. “Wes.” (Sudah).

Sri memandang pintu kamar, bermaksud berkata pelan, tapi ....

Pakde langsung menoleh ke kamar. “Wonge wes turu.” Orangnya sudah tidur).

“Ternuwun wes sambang rene.” (Terima kasih sudah berkunjung ke sini).

Sri terdiam.  Setelah beberapa saat, ia pamit pulang.

Pakde Suroto mengantarnya sampai pintu.

Setelah Sri pulang, Pakde Suroto kembali ke kamar dan duduk di samping istrinya. Wajahnya muram.

 

****

Hari-hari berikutnya berlalu dengan lambat.

Kondisi Mbokde Murni semakin lemah. Ia lebih sering tertidur dan semakin jarang berbicara. Pakde Suroto beberapa kali membawanya ke rumah sakit. Dokter melakukan pemeriksaan dan memberikan penanganan sesuai kondisinya, tetapi tubuh Mbokde Murni tak kunjung pulih.

Pada suatu malam, Mbokde Murni terbangun ketika suaminya sedang duduk di samping ranjang. “Pak.”

Pakde Suroto segera mendekat. “Iyo, Mak.” (Iya, Mak).

“Kalau aku benar-benar meninggal, Njenengan jangan sedih terlalu lama.”

Pakde Suroto menggeleng keras. “Ojo ngomong koyok ngono tah lah.” (Jangan bicara begitu).

“Aku serius, Pak.”

“Wes aku gah ngrungokno.” (Aku tidak mau mendengarnya).

Mbokde Murni tersenyum lemah. “Njenengan masih bisa hidup, masih bisa bekerja, masih bisa bertemu orang-orang. Jangan sampai hidup Njenengan berhenti hanya karena aku tidak ada, Pak.”

Pakde Suroto menggenggam tangannya. “Wes to, Mak Seng wingi iko gur cangkemku. Awakku gak bakal rabi meneh, Mak.” (Sudahlah, Mak. Yang kemarin hanya mulutku saja. Aki tidak akan menikah lagi, Mak).

Mbokde Murni menatap suaminya lama sekali. “Njenengan janji?”

Pakde Suroto tidak segera menjawab. Akhirnya ia mengangguk. “Iyo. Awakku janji.” (Iya. Aku janji).

Mbokde Murni memejamkan mata.

Malam itu, Pakde Suroto tidak meninggalkan kamar. Ia duduk di kursi sambil sesekali memeriksa keadaan istrinya.

 

****

Menjelang subuh, napas Mbokde Murni semakin lemah.

Pakde Suroto memanggil bantuan. Namun, sebelum pertolongan datang, Mbokde Murni sudah mengembuskan napas terakhirnya.

“Mak.” Pakde Suroto memeluk tubuh istrinya sambil menangis. “Mak ... tangio, Mak. Ojo koyok ngene tah lah. Gur guyon to iki, Mak? Hu hu hu. Tangi, Mak. Tangi. Hu hu hu.” (Mak ... bangun, Mak. Jangan begini. Ini hanya bercanda ‘kan, Mak? Hu hu hu. Bangun, Mak. Bangun. Hu hu hu).

Akan tetapi, Mbokde Murni tidak pernah menjawab lagi.

“Makkkk! Hu hu hu.”

 

****

Kabar meninggalnya Mbokde Murni menyebar ke seluruh kampung melalui pengeras masjid.

“Inalillahi waina ilaihai roziun. Telah meninggal saudara, teman, tetangga kita, Murniyati Bin Sentono Wirdjo ....”

Tetangga pun berdatangan untuk membantu mengurus pemakaman.

Sri juga datang, mengenakan pakaian hitam sederhana. Ia menangis di dekat jenazah Mbokde Murni. “Mbakyu ... kenapa secepat ini? Hu hu hu.”

Beberapa perempuan menepuk bahunya, Sri begitu kehilangan sahabat, tetangga yang sudah ia anggap mbakyunya sendiri.

Pakde Suroto sendiri tampak sangat terpukul. Sepanjang pemakaman, ia lebih banyak diam.

Ketika jenazah istrinya diturunkan ke liang lahat, air matanya mengalir tanpa henti.

 

****

 

Seusai pemakaman, para pelayat kembali ke rumah masing-masing.

Sri masih tinggal untuk membantu membereskan rumah mendiang Mbokde Murni.

Menjelang sore, ketika rumah sudah sepi, Sri melangkah ke ruang tengah sambil membawa segelas teh manis untuk Pakde Suroto yang masih terlihat sangat terpukul atas berpulang istrinya.

Tidak ada lagi suara Mbokde Murni yang biasanya mengomel karena Pakde Suroto menaruh handuk di atas tempat tidur, tidak ada lagi tawa dari dapur, rumah itu terasa begitu asing kini.

Sri menyodorkan segelas teh. “Kang, diminum dulu.”

Pakde Suroto menerimanya dengan diam.

Lantas keduanya terdiam cukup lama. Akhirnya Sri berkata, “Sekarang semuanya sudah berbeda, Kang.”

Pakde Suroto memandangnya.

Sri menggenggam tangan Pakde Suroto.

“Lalu bagaimana dengan janji Panjenengan, Kang?”

Pakde Suroto meletakkan gelas. “Janji seng ndi?” (Janji yang mana?).

Sri menatap Pakde Suroto, lekat-lekat. “Njenengan pasti tahu maksudku.”

Pakde Suroto menghela napas panjang. “Awaku jek kelangan, Sri.” (Aku masih berduka, Sri).

“Aku tahu, Kang. Tapi kita sudah membicarakan ini ‘kan?”

Pakde Suroto menoleh ke arah pintu kamar yang tertutup.

Sri tersenyum. “Sekarang tidak ada lagi yang akan mendengar kita, Kang?”

Pakde Suroto terdiam.

Sri melanjutkan dengan suara pelan. “Mbakyu sudah tidak ada. Kita tidak perlu berpura-pura lagi, Kang.” Kalimat itu membuat Pakde Suroto menunduk.

Sri memberikan sebuah amplop putih. “Ini.”

Pakde Suroto mengambilnya. “Opo iki?” (Apa ini?).

“Buka saja, Kang.”

Pakde Suroto membuka amplop. Di dalamnya terdapat selembar kertas. “Opo iki, Sri?” (Apa ini, Sri?).

Sri menghela napas. “Itu hasil tes kehamilan, Kang. Aku tidak mau jadi omongan orang. Aku janda. Janin yang ada di kandungan ini menagih janjimu, Kang.”

Pakde Suroto memejamkan mata.

“Sebelum meninggal, mbakyu pernah bercerita kepadaku tentang percakapan kalian soal vasektomi.”

Pakde Suroto masih diam.

Sri melanjutkan, “Mbakyu Murni takut kehilangan Njenengan. Namun, aku juga takut kehilangan Panjenengan, Kang.”

Pakde Suroto menunduk.

 

****

Malam itu, Pakde duduk di tepi ranjang yang kini kosong.

Di atas meja, masih ada sisir milik mendiang Mbokde Murni, botol minyak kayu putih, dan kacamata yang biasa dipakainya untuk membaca.

Pakde Suroto mengambil kacamata itu. Air matanya kembali mengalir. Ia teringat ucapan istrinya beberapa malam sebelum meninggal.

“Njenengan janji?”

Saat itu Pakde Suroto berjanji tidak akan bersedih terlalu lama, tetapi janji itu ternyata lebih mudah diucapkan daripada dijalankan.

Pandangannya kemudian jatuh pada amplop pemberian Sri, ada di meja.

Bayangan pernikahan itu perlahan menjelma di pelupuk matanya, menikah dengan janda pujaan hatinya.

Pernikahan itu memang sudah direncanakan jauh sebelum Mbokde Murni jatuh sakit, jauh sebelum percakapan tentang vasektomi, jauh sebelum Mbokde Murni mulai memikirkan kemungkinan suaminya menikah lagi, bahkan, jauh sebelum Mbokde Murni menyadari bahwa perempuan yang sering datang menjenguknya itu bukan sekadar tetangga yang baik hati, tetapi Sri adalah perempuan yang selama ini menjadi selingkuhan Pakde Suroto.

Pakde Suroto menghela napas panjang, menatap foto pernikahannya dengan Mbokde Murni yang tergantung di dinding. Dalam foto itu, mereka tampak bahagia. Mbokde Murni tersenyum lebar, sementara Pakde Suroto merangkul bahunya. Ia teringat semua tahun yang telah mereka lalui bersama ... lalu menoleh ke arah pintu. Di luar, suara azan terdengar dari kejauhan. END

 

****

 

 

EPILOG

Belum genap empat puluh hari dari meninggalnya Mbokde Murni.

“Saya terima nikahnya Sri Handayani dengan emas kawin seperangkat alat salat dan uang tunai sebesar seratus ribu rupiah, dibayar tunai!”

“Bagaimana, Saksi?”

“Sah!”

“Sah!”

“Alhamdulillah.”

 

****

 

Malamnya.

“Kang?”

“Hem.”

“Pelan-pelan, ya. Ada isinya.”

“Iyo, iyo. Bapake lo gur kate endang-endang, Sri.” (Iya, iya. Bapak loh hanya mau menjenguk, Sri).

“Ah, Kang. Tak cubit loh nanti.”

“Wes gek mapano.” (Cepat berbaring).

 

 


PAKDE NOTO

Baca juga cerita seru lainnya di Wattpad dan Follow akun Pakde Noto @Kuswanoto3.

No comments:

Post a Comment

Start typing and press Enter to search