HALAH GOMBAL
“Oh, Kang
....”
“Piye?”
(Bagaimana?).
Perempuan
itu mengangguk.
Setelahnya hanya
suara berderit kayu. Lalu berhenti sejenak.
“Sudah,
Kang?”
“Gurung.”
(Belum).
HALAH, GOMBAL
Mbokde Murni,
usianya 48 tahun, terbaring lemah di atas ranjang. Wajahnya pucat. “Buhuk ...
buhuk ... buhuk!”
Bibirnya
kering. Tubuhnya yang biasanya gesit kini hanya tertutup selimut sampai dada.
Sudah
beberapa hari ia sakit. Awalnya hanya mengeluh pusing dan tidak enak badan.
Namun, belakangan kondisinya semakin memburuk hingga harus lebih banyak
berbaring.
Pakde Suroto,
lelaki gaek 53 tahun, suaminya, tampak mondar-mandir di dalam kamar. Sesekali
ia bertanya apakah istrinya membutuhkan sesuatu.
“Pak, aku
haus,” kata Mbokde Murni lirih.
Pakde Suroto
segera mengambilkan gelas yang ada di atas meja. “Ngombe sitik-sitik ae, Mak.”
(Minum sedikit-sedikit, Mak).
Mbokde Nurni
menyesap air dari gelas. “Sudah, Pak.” Kemudian memejamkan mata lagi.
Pakde Suroto
memandang istrinya dengan wajah murung. Siapa sangka perempuan yang selama
puluhan tahun menjadi teman hidupnya itu kini terbaring tak berdaya.
Tak lama
berselang terdengar uluk salam dari pintu depan. “Kulonuwun!” (Permisi!).
Pakde Suroto
bergegas keluar.
Ternyata
Sri, tetangga mereka yang baik hati, rumah keduanya hanya terhalang dua petak
tanah kavling kosong yang ditumbuhi belukar. Meski 43 tahun, bempernya masih
berisi, kulitnya juga masih terawat.
Sri datang
membawa rantang berisi bubur dan plastik yang berisi pisang. “Bagaimana keadaan
Mbakyu Murni, Kang?” tanyanya.
“Jek lemes.
Wes ayo, mlebu, Sri! Wonge pesti seneng nek onok seng ngancani ngobrol.” (Masih
lemas. Silakan masuk, Sri! Dia pasti senang kalau ada yang menemani ngobrol).
Sri berjalan
menuju kamar.
Begitu
melihat Mbokde Murni terbaring, wajahnya berubah iba. Perlahan ia meletakkan
rantang dan plastik yang dibawa. “Ya, Allah, Mbakyu. Kok sampai begini?
Biasanya aku lewat depan rumah, Mbakyu masih sempat menyapaku dari teras.” Lalu
duduk di kursi yang ada di samping tempat tidur.
Mbokde Murni
membuka mata. Senyum tipis muncul di bibirnya.
“Sudah
diperiksa dokter?”
“Sudah,”
jawab Mbokde Murni lemah.
“Apa katanya?”
“Katanya
harus banyak istirahat. Jangan terlalu banyak pikiran.”
Sri
mengangguk. “Betul itu, Mbakyu. Jangan banyak pikiran. Nanti malah tambah sakit
loh.”
Mendengar
kalimat itu, Mbokde mendadak membuka mata lebar-lebar. “Kalau gampang menghilangkan pikiran, aku
tidak akan sampai begini, Sri.”
Sri
menggeser kursinya lebih dekat. “Memangnya Mbakyu sedang memikirkan apa?”
Mbokde Murni
menoleh ke arah pintu, memastikan suaminya tidak berada di dekat kamar. Setelah merasa aman, ia berbisik. “Gara-gara
suamiku sendiri.”
Sri
mengerutkan kening. “Kang Suroto?”
“Sopo neh?”
(Siapa lagi?).
“Lha ada
masalah apa to, Mbakyu?”
Mbokde Murni
terdiam beberapa saat. Kemudian, entah mengapa, wajahnya justru berubah seperti
orang yang hendak menceritakan sesuatu.
“Kamu tahu
tidak, Sri? Beberapa hari sebelum aku sakit begini, aku bertengkar dengan suamiku
gara-gara urusan KB.”
Sri
mengangkat alis. “KB, Mbakyu?”
“Iyo. Aku
sudah capek selama ini harus memikirkan kontrasepsi. Jadi, aku bilang
kepadanya, sekarang gantian dia yang KB. Kalau KB suntik, aku kurang cocok.
Implan, badanku melar begini, Sri.”
“Memangnya Kang
To mau KB?” tanya Sri.
“Jangankan
mau. Mendengar namanya saja dia langsung memasang wajah kesal.”
“Kok bisa
to, Mbakyu?”
“Awalnya dia
bertanya, memangnya laki-laki ada KB. Aku jawab ada, namanya vasektomi.”
“Terus?”
“Dia
bertanya lagi, vasektomi itu apa? Ya, aku jelaskan sebisaku. Saluran spermanya
diputus atau ditutup supaya tidak bisa membuahi sel telur. Benar to, Sri?”
Sri
mengangguk.
“Tapi
namanya juga aku bukan dokter. Aku menjelaskannya pakai bahasa sederhana. Eh,
entah kenapa aku malah menceletuk begini, nanti bijinya diplintir sedikit kok,
Pak.”
“Mbakyu! Kok
begitu menjelaskannya? Bijinya tidak dipelintir kok,” tampik Sri.
“Lha, waktu
itu aku cuma bercanda, Sri! Suamiku langsung bilang tidak mau. Katanya dia
masih sehat, masih waras, kok disuruh begitu.”
“Ya, mungkin
takut, Mbakyu.”
“Awalnya aku
juga berpikir begitu, tapi ternyata alasannya lebih panjang, Sri.”
Mbokde Murni
menghela napas. “Dia bilang, kalau suatu hari aku meninggal, lalu dia ingin
menikah lagi, bagaimana, ha? Kalau sudah vasektomi dan dipelintir bijinya,
katanya, dia tidak bisa aceng lagi.”
Sri terdiam.
Mbokde Murni
lalu memandang langit-langit kamar. “Bayangkan, Sri. Aku cuma mengajak dia
bergantian KB. Belum juga aku mati, dia sudah memikirkan menikah lagi.”
“Ya, mungkin
Kang To cuma memikirkan kemungkinan, Mbakyu.”
“Memang. Kita
sama-sama perempuan to, Sri. Kadang satu kalimat bisa terus terngiang-ngiang,
meskipun orang yang mengucapkannya mungkin sudah lupa.Tahu sendiri to yang
namanya istri.”
Mbokde
menoleh kepada Sri. “Sejak itu aku terus memikirkan ucapannya.”
“Yang mana?”
“Yang kalau
aku mati, dia mau menikah lagi, Sri.”
Sri meremas
jemari Mbokde. “Sudahlah. Jangan dipikirkan lagi.”
“Sulit, Sri.
Sulit.”
“Kang To ‘kan
masih sayang sama Mbakyu.”
“Selama usia
pernikahan kami hingga dikarunia lima orang cucu, suamiku tidak pernah berkata sedikitpun
akan menikah lagi.”
Sri diam
mendengarkannya.
“Pernah kami
membicarakan kematian kala itu. Aku bertanya, lebih baik aku atau dia dulu yang
meninggal dunia? Dia jawab lebih baik dia dulu yang meninggal, bukan karena tak
sanggup mengurus rumah sendirian atau masalah kesepian, tetapi dia ingin
meninggal di atas pangkuanku.”
Sri
tertunduk kini.
Mbokde Murni
melanjutkan, “Dulu kalau kami bertengkar, dia tak pernah mengucap cerai atau
mau menikah lagi.”
“Suamiku
adalah sosok laki-laki yang bertanggung jawab. Tidak neko-neko.”
“Jika suratan
tangan berkata lain ... andai aku meninggal lebih dulu, katanya dia akan
bertahan melawan kesepian dan terus berdiri di atas kesetiaan hingga ajal
menjemput untuk mempertemukan kami kembali di sana.”
“Sungguh aku
perempuan yang paling beruntung di dunia ini punya suami dia, Sri.”
Mbokde Murni
tersenyum tipis. “Katanya begitu.”
Mbokde Murni
terdiam sejenak sebelum melanjutkan, “Tiga hari setelah pertengkaran masalah KB
itu, aku mulai sakit kepala. Badanku tidak enak.”
“Lalu?”
“Aku bilang
kepadanya, aku kepikiran omongannya,” jawab Mbokde Murni.
Sri menatap
Mbokde Murni lekat-lekat. “Terus Kang To menjawab apa?”
Mbokde Murni
menirukan suara suaminya. “Dia malah bertanya, omongan yang mana, ha!”
“Bayangkan,
Sri! Dia sendiri yang ngomong, dia sendiri yang lupa!”
Mbokde Murni
kembali murung. “Aku bilang, omongan tentang menikah lagi kalau aku meninggal.”
Mbokde Murni
berhenti sejenak. “Lalu aku bilang, memang ada yang mau? Kalau ada perempuan
atau janda yang mau, dia tidak akan terlalu larut dalam kesedihan karena
kehilanganku.”
“Eh, dia
malah panik. Katanya, kok aku percaya sama omongannya. Katanya, dia tidak
pernah punya niat menikah lagi.”
“Terus dia
bilang begini, kowe nginep neng omahe anakmu seng neng kuto ae aku wes bingung dewean neng omah, opo
meneh nek awakmu sedo, Mak. (Kamu menginap di rumah anakmu yang di kota saja aku
sudah kelimpungan sendirian di rumah, apalagi kalau kamu meninggal, Mak).
Begitu katanya.”
Mbokde Murni
menatap Sri. “Menurutmu, itu tanda dia sayang kepadaku, atau dia hanya takut
kehilangan orang yang selama ini mengurus rumahnya?”
Sri seperti
hendak menjawab, tetapi urung. Ia hanya berkata pelan, “Jangan berpikir begitu,
Mbakyu.”
Mbokde Murni
memejamkan mata. “Entahlah, Sri. Aku sudah terlalu lelah.”
Beberapa
saat kemudian, Pakde Suroto masuk membawa semangkuk bubur lalu meletakkannya di
meja. “Bubur teko Sri.” (Bubur dari Sri).
“Ternuwun
wes sambang, Sri. Mbakyumu kudu onok konco ngobrol ben gak bosen.” (Terima
kasih sudah berkunjung, Sri. Mbakyumu memang perlu banyak teman bicara supaya
tidak bosan).
Sri
mengangguk.
Pakde Suroto
kemudian duduk di tepi ranjang. “Mak, dipakani masio seitik. Ben onok tenogone.”
(Mak, makan dulu sedikit. Biar ada tenaga).
Mbokde Murni
membuka mata. “Tidak lapar.”
“Jajal sek
tah sesendok ae.” (Coba beberapa sendok saja).
Mbokde Murni
tetap menolak, “Nanti.”
Pakde Suroto
menghela napas, lalu menoleh kepada Sri. “Yo ngono iku, Sri. Nek wes ngene,
angel nek kon mangan.” (Begitulah, Sri. Kalau sudah begini, susah sekali
disuruh makan).
Sri menatap
Pakde Suroto lalu kembali memandang Mbokde Murni. “Mbakyu, makan sedikit saja.
Biar cepat sehat, ya.”
Akhirnya
Mbokde Murni mengangguk.
Pakde Suroto
menyuapinya dengan hati-hati. Satu sendok, dua sendok, kemudian tiga sendok.
Setelah itu Mbokde Murni menggeleng, tidak sanggup melanjutkan.
Pakde Suroto
meletakkan mangkuk. “Yo, wes istirahat ae.” (Ya, sudah. Istirahat saja). Lalu
mengusap dahi istrinya. “Ndang mari yo, Mak. Omah iki rosone sepi nek awakmu
gak ngomel-ngomel.” (Cepat sembuh, ya, Mak. Rumah ini sepi kalau kamu tidak
cerewet).
Mbokde Murni
tersenyum tipis. “Katanya kalau aku meninggal, Njenengan mau menikah lagi.”
Pakde Suroto
langsung menoleh kepada Sri. “Lho, kok dibahas neh?” (Lha kok dibahas lagi?).
Sri
buru-buru berdiri, ada rasa tidak enak melihat keduanya mulai membahas itu lagi.
“Maaf, saya mau numpang ke kamar mandi
dulu.”
Begitu Sri
keluar, Pakde Suroto menggenggam tangan istrinya. “Mak, awakku njalok sepuro
nek omonganku wektu iko nglarani atimu.” (Mak, aku minta maaf kalau omonganku
waktu itu menyakitimu).
Mbokde Murni
memandangnya lama. “Njenengan benar-benar tidak punya niat menikah lagi to?”
Pakde Suroto
terdiam sesaat. Kemudian ia mengangguk. “Gak.” (Tidak).
Mbokde Murni
lantas mengalihkan pandangan. “Kalau begitu, jangan bicarakan soal kematianku
lagi.”
“Iyo.”
(Iya).
“Dan jangan
pikirkan menikah lagi.”
“Iyo, Mak.”
(Iyo, Mak).
Pakde Suroto
mencium punggung tangan istrinya. “Seng penting awakmu ndang mari.” (“Yang
penting sekarang kamu sembuh).
Mbokde Murni
memejamkan mata. Pakde Suroto duduk di sampingnya beberapa lama, sampai
akhirnya sang istri tertidur.
Ia kemudian
keluar kamar.
Di ruang
tengah, Sri sedang merapikan bawahannya. “Mbakyu sudah tidur?” tanya Sri.
Pakde
mengangguk. “Wes.” (Sudah).
Sri
memandang pintu kamar, bermaksud berkata pelan, tapi ....
Pakde
langsung menoleh ke kamar. “Wonge wes turu.” Orangnya sudah tidur).
“Ternuwun
wes sambang rene.” (Terima kasih sudah berkunjung ke sini).
Sri terdiam.
Setelah beberapa saat, ia pamit pulang.
Pakde Suroto
mengantarnya sampai pintu.
Setelah Sri
pulang, Pakde Suroto kembali ke kamar dan duduk di samping istrinya. Wajahnya
muram.
****
Hari-hari
berikutnya berlalu dengan lambat.
Kondisi
Mbokde Murni semakin lemah. Ia lebih sering tertidur dan semakin jarang
berbicara. Pakde Suroto beberapa kali membawanya ke rumah sakit. Dokter
melakukan pemeriksaan dan memberikan penanganan sesuai kondisinya, tetapi tubuh
Mbokde Murni tak kunjung pulih.
Pada suatu
malam, Mbokde Murni terbangun ketika suaminya sedang duduk di samping ranjang. “Pak.”
Pakde Suroto
segera mendekat. “Iyo, Mak.” (Iya, Mak).
“Kalau aku
benar-benar meninggal, Njenengan jangan sedih terlalu lama.”
Pakde Suroto
menggeleng keras. “Ojo ngomong koyok ngono tah lah.” (Jangan bicara begitu).
“Aku serius,
Pak.”
“Wes aku gah
ngrungokno.” (Aku tidak mau mendengarnya).
Mbokde Murni
tersenyum lemah. “Njenengan masih bisa hidup, masih bisa bekerja, masih bisa
bertemu orang-orang. Jangan sampai hidup Njenengan berhenti hanya karena aku
tidak ada, Pak.”
Pakde Suroto
menggenggam tangannya. “Wes to, Mak Seng wingi iko gur cangkemku. Awakku gak
bakal rabi meneh, Mak.” (Sudahlah, Mak. Yang kemarin hanya mulutku saja. Aki
tidak akan menikah lagi, Mak).
Mbokde Murni
menatap suaminya lama sekali. “Njenengan janji?”
Pakde Suroto
tidak segera menjawab. Akhirnya ia mengangguk. “Iyo. Awakku janji.” (Iya. Aku
janji).
Mbokde Murni
memejamkan mata.
Malam itu,
Pakde Suroto tidak meninggalkan kamar. Ia duduk di kursi sambil sesekali
memeriksa keadaan istrinya.
****
Menjelang
subuh, napas Mbokde Murni semakin lemah.
Pakde Suroto
memanggil bantuan. Namun, sebelum pertolongan datang, Mbokde Murni sudah mengembuskan
napas terakhirnya.
“Mak.” Pakde
Suroto memeluk tubuh istrinya sambil menangis. “Mak ... tangio, Mak. Ojo koyok
ngene tah lah. Gur guyon to iki, Mak? Hu hu hu. Tangi, Mak. Tangi. Hu hu hu.” (Mak
... bangun, Mak. Jangan begini. Ini hanya bercanda ‘kan, Mak? Hu hu hu. Bangun,
Mak. Bangun. Hu hu hu).
Akan tetapi,
Mbokde Murni tidak pernah menjawab lagi.
“Makkkk! Hu
hu hu.”
****
Kabar
meninggalnya Mbokde Murni menyebar ke seluruh kampung melalui pengeras masjid.
“Inalillahi
waina ilaihai roziun. Telah meninggal saudara, teman, tetangga kita, Murniyati
Bin Sentono Wirdjo ....”
Tetangga pun
berdatangan untuk membantu mengurus pemakaman.
Sri juga
datang, mengenakan pakaian hitam sederhana. Ia menangis di dekat jenazah Mbokde
Murni. “Mbakyu ... kenapa secepat ini? Hu hu hu.”
Beberapa
perempuan menepuk bahunya, Sri begitu kehilangan sahabat, tetangga yang sudah
ia anggap mbakyunya sendiri.
Pakde Suroto
sendiri tampak sangat terpukul. Sepanjang pemakaman, ia lebih banyak diam.
Ketika
jenazah istrinya diturunkan ke liang lahat, air matanya mengalir tanpa henti.
****
Seusai
pemakaman, para pelayat kembali ke rumah masing-masing.
Sri masih
tinggal untuk membantu membereskan rumah mendiang Mbokde Murni.
Menjelang
sore, ketika rumah sudah sepi, Sri melangkah ke ruang tengah sambil membawa
segelas teh manis untuk Pakde Suroto yang masih terlihat sangat terpukul atas
berpulang istrinya.
Tidak ada
lagi suara Mbokde Murni yang biasanya mengomel karena Pakde Suroto menaruh handuk
di atas tempat tidur, tidak ada lagi tawa dari dapur, rumah itu terasa begitu
asing kini.
Sri
menyodorkan segelas teh. “Kang, diminum dulu.”
Pakde Suroto
menerimanya dengan diam.
Lantas
keduanya terdiam cukup lama. Akhirnya Sri berkata, “Sekarang semuanya sudah
berbeda, Kang.”
Pakde Suroto
memandangnya.
Sri
menggenggam tangan Pakde Suroto.
“Lalu
bagaimana dengan janji Panjenengan, Kang?”
Pakde Suroto
meletakkan gelas. “Janji seng ndi?” (Janji yang mana?).
Sri menatap
Pakde Suroto, lekat-lekat. “Njenengan pasti tahu maksudku.”
Pakde Suroto
menghela napas panjang. “Awaku jek kelangan, Sri.” (Aku masih berduka, Sri).
“Aku tahu,
Kang. Tapi kita sudah membicarakan ini ‘kan?”
Pakde Suroto
menoleh ke arah pintu kamar yang tertutup.
Sri
tersenyum. “Sekarang tidak ada lagi yang akan mendengar kita, Kang?”
Pakde Suroto
terdiam.
Sri
melanjutkan dengan suara pelan. “Mbakyu sudah tidak ada. Kita tidak perlu
berpura-pura lagi, Kang.” Kalimat itu membuat Pakde Suroto menunduk.
Sri memberikan
sebuah amplop putih. “Ini.”
Pakde Suroto
mengambilnya. “Opo iki?” (Apa ini?).
“Buka saja,
Kang.”
Pakde Suroto
membuka amplop. Di dalamnya terdapat selembar kertas. “Opo iki, Sri?” (Apa ini,
Sri?).
Sri menghela
napas. “Itu hasil tes kehamilan, Kang. Aku tidak mau jadi omongan orang. Aku
janda. Janin yang ada di kandungan ini menagih janjimu, Kang.”
Pakde Suroto
memejamkan mata.
“Sebelum
meninggal, mbakyu pernah bercerita kepadaku tentang percakapan kalian soal
vasektomi.”
Pakde Suroto
masih diam.
Sri
melanjutkan, “Mbakyu Murni takut kehilangan Njenengan. Namun, aku juga takut kehilangan
Panjenengan, Kang.”
Pakde Suroto
menunduk.
****
Malam
itu, Pakde duduk di tepi ranjang yang kini kosong.
Di atas
meja, masih ada sisir milik mendiang Mbokde Murni, botol minyak kayu putih, dan
kacamata yang biasa dipakainya untuk membaca.
Pakde Suroto
mengambil kacamata itu. Air matanya kembali mengalir. Ia teringat ucapan
istrinya beberapa malam sebelum meninggal.
“Njenengan
janji?”
Saat itu Pakde
Suroto berjanji tidak akan bersedih terlalu lama, tetapi janji itu ternyata
lebih mudah diucapkan daripada dijalankan.
Pandangannya
kemudian jatuh pada amplop pemberian Sri, ada di meja.
Bayangan
pernikahan itu perlahan menjelma di pelupuk matanya, menikah dengan janda
pujaan hatinya.
Pernikahan
itu memang sudah direncanakan jauh sebelum Mbokde Murni jatuh sakit, jauh
sebelum percakapan tentang vasektomi, jauh sebelum Mbokde Murni mulai
memikirkan kemungkinan suaminya menikah lagi, bahkan, jauh sebelum Mbokde Murni
menyadari bahwa perempuan yang sering datang menjenguknya itu bukan sekadar
tetangga yang baik hati, tetapi Sri adalah perempuan yang selama ini menjadi selingkuhan
Pakde Suroto.
Pakde Suroto
menghela napas panjang, menatap foto pernikahannya dengan Mbokde Murni yang
tergantung di dinding. Dalam foto itu, mereka tampak bahagia. Mbokde Murni
tersenyum lebar, sementara Pakde Suroto merangkul bahunya. Ia teringat semua
tahun yang telah mereka lalui bersama ... lalu menoleh ke arah pintu. Di luar,
suara azan terdengar dari kejauhan. END
****
EPILOG
Belum
genap empat puluh hari dari meninggalnya Mbokde Murni.
“Saya terima
nikahnya Sri Handayani dengan emas kawin seperangkat alat salat dan uang tunai
sebesar seratus ribu rupiah, dibayar tunai!”
“Bagaimana,
Saksi?”
“Sah!”
“Sah!”
“Alhamdulillah.”
****
Malamnya.
“Kang?”
“Hem.”
“Pelan-pelan,
ya. Ada isinya.”
“Iyo, iyo. Bapake
lo gur kate endang-endang, Sri.” (Iya, iya. Bapak loh hanya mau menjenguk,
Sri).
“Ah, Kang.
Tak cubit loh nanti.”
“Wes gek
mapano.” (Cepat berbaring).
Dukung Pakde Noto di Trakteer

No comments:
Post a Comment