Dukung SayaDukung Pakde Noto di Trakteer

[Latest News][6]

abu nawas
abunawas
berbayar
Budaya
cerbung
cerkak
cerpen
digenjot
gay
hombreng
horor
hot
humor
informasi
LGBT
mesum
misteri
Novel
panas
puasa
sejarah
Terlarang
thriller

Labels

JENGKOLAN

 

 

Siang itu, Mbah Katmijan datang ke tempat praktik Dokter Hadi dengan wajah kusut. Tangannya terlihat terus memegangi perut.

Buru-buru Mbah Katmijan melangkah menuju pintu yang terbuka di mana.

“Kulonuwun, Pak Dokter.” (Permisi, Pak Dokter).

“Masuk, Mbah. Silakan masuk!” ucap Dokter Hadi begitu melihat Mbah Katmijan berdiri di ambang pintu.

Mbah Katmijan berusia 69 tahun lantas duduk pelan di kursi pemeriksaan yang ada di hadapan Dokter Hadi.

 

****

 

JENGKOLAN


“Pak Dokter, kulo bade berobat,” (Pak Dokter, saya mau berobat) kata Mbah Katmijan sambil meringis kesakitan.

Dokter Hadi mengambil bolpoin. “Sakit apa, Mbah?”

Mbah Katmijan celingukan. Setelah memastikan tidak ada pasien lain, ia kemudian mendekatkan wajah. Setengah berbisik, “Anu kulo loro, Pak Dokter.” (Anu saya sakit, Pak Dokter).

Dokter Hadi berhenti menulis. “Anu?”

“Nggeh,” (Iya) jawab Mbah Katmijan.

“Anu? Anu yang mana, Mbah?”

Mbah lantas Katmijan menunjuk ke bawah. “Niki.” (Ini).

“Oh ... bagian itu?”

“Nggeh, niku, Pak Dokter.” (Ya, itu, Pak Dokter).

“Sejak kapan, Mbah?”

“Sampun telung dinten,” (Sudah tiga hari) jawab Mbah Katmijan lagi.

“Perih?”

“Kadang,” jawab Mbah Katmijan.

“Kalau kencing?”

“Perih.” Sambil meringis seolah-olah menggambarkan sakitnya.

“Sering kencing?”

Kali ini di jawab oleh Mbah Katmijan dengan mengangguk. “Sak crit, sak crit.” (Sedikit).

“Keluar cairan?”

Mbah Katmijan bingung. “Cairan nopo?” (Cairan apa?).

“Selain air kencing.”

“Nggeh uyuh niku wau to.” (Ya hanya kencing saja).

Dokter Hadi mengangguk-angguk sambil mencatat. Kemudian ia bertanya, “Mbah masih punya istri?”

“Sampun sedo dangu.” (Sudah lama meninggal).

“Berarti duda?”

Lagi-lagi Mbah Katmijan mengangguk.

“Sudah berapa lama menjadi duda, Mbah?”

“Gangsal welas warso.” (Lima belas tahun).

Dokter Hadi berhenti menulis lalu ia menatap Mbah Katmijan dengan tatapan penuh arti. “Selama jadi duda, apa Mbah sering jajan?”

Mbah Katmijan langsung mengangkat kepala. “Jajan?”

“Iya.”

“Jajan nopo?” (Jajan opo?).

Dokter Hadi tersenyum tipis. “Jajan peyek, marning, kelanting! Ya, jajan, Mbah. Jangan pura-pura tidak tahu begitu toh, Mbah. Paham apa tidak yang saya maksud?”

“Saestu. Kulo mboten nate jajan peyek lan marning. Nopo maleh kelanting. Rompal sedanten wojo kulo. Seastu kulo mboten nate ....” (Sungguh. Saya tidak pernah jajan peyek, dan marning. Apalagi kelanting. Rontok semua gigi saya. Sungguh. Saya tidak pernah ....).

“Jajan perempuan maksud saya, Mbah,” potong Dokter Hadi memperjelas.

Mbah Katmijan langsung tersinggung. “Lho! Kulo dateng mriki bade berobat. Kok malah dituduh ngoten niku?” (Lho! Saya datang ke sini mau berobat. Kok malah dituduh begitu?).

“Bukan menuduh. Saya sedang mencari kemungkinan penyebab sakit yang Njenengan alami, Mbah.”

“Masio dudo, kulo mboten nate jajan!” (Walaupun duda, saya tidak pernah jajan!).

“Baik, Mbah. Baik.”

“Serius kulo, Pak Dokter!”

“Oke, oke, Mbah. Baik.”

“Ampun sanjang baik nek Pak Dokter kiyambak mboten percoyo!” (Jangan bilang baik kalau Dokter sendiri tidak percaya!).

Kali ini Dokter Hadi menahan senyum. “Lalu menurut Mbah ... anunya Njenengan sakit itu penyebabnya apa?”

Mbah Katmijan menjawab cepat, “Jengkol.”

Dokter Hadi mengerutkan dahi sejenak. “Jengkol?”

“Nggeh.” (Iya).

Dokter Hadi menatap Mbah Katmijan beberapa detik kemudian bertanya pelan, “Jengkol itu ... hem ... sebutan lain untuk siapa? Maksud saya itu istilah ....”

Mbah Katmijan mengernyit. “Nggeh jengkol.” (Ya untuk jengkol).

“Maksud saya ... istilah.”

“Jengkol nggeh jengkol!” (Jengkol ya jengkol!).

“Jangan malu, Mbah. Saya dokter.”

“Kulo mboten isin kok!” (Saya tidak malu kok!).

“Kalau Mbah bilang anunya sakit gara-gara jengkol, saya mengerti.”

“Nggeh sae to niku.” (Ya bagus itu).

“Tapi saya perlu tahu istilah jengkol yang Njenengan maksud.”

Mbah Katmijan mulai jengkel. “Nggeh mboten enten istilah lintune, Pak Dokter!” (Ya tidak ada istilah lainnya, Pak Dokter!).

Dokter Hadi semakin yakin. “Begini saja. Tidak usah disebutkan namanya. Saya sudah sering menangani pasien yang mengalami sakit kayak Njenengan.”

“Nangani pasien pripun?” (Menangani pasien bagaimana?).

“Banyak yang memakai nama makanan untuk menyamarkan sesuatu, Mbah.”

Mbah Katmijan melongo. “Contone?” (Contohnya?).

“Ya ... ada yang bilang makan apem, ternyata bukan apem.”

Mbah Katmijan mengangguk. “Lha terus?” (Lalu?).

“Ada yang bilang minum tempe, ternyata bukan tempe.”

Mbah Katmijan masih tidak paham arah pembicaraan. “Lha nek nek kulo sanjang jengkol?” (Kalau saya bilang kengkol?).

“Nah, itu yang saya tanyakan, Mbah.”

“Jengkol, Pak Dokter. Jengkol!”

“Benar-benar jengkol?”

Mbah Katmijan malah geram, “Gusti Allah! Jengkol, Pak Dokter. Jengkol!”

Dokter Hadi tersenyum. “Baiklah.”

“Kok Pak Dokter tanglet dos ngoten?” (Kok Pak Dokter tanya begitu?).

“Saya hanya memastikan saja kalau Mbah tidak jajan dan menyamarkan sakitnya dengan jengkolan.”

Mbah Katmijan mendengus. “Jengkol, Pak Dokter. Jengkol seng uwoh ten uwit lan ambune niku kecing!” (Jengkol, Pak Dokter. Jengkol yang berbuah di pohon dan baunya pesing!)

Akan tetapi, Dokter Hadi malah semakin curiga. “Lah kok penjelasannya terlalu lengkap, Mbah?”

“Lho! Pripun toh niki?” (Bagaimana toh ini?).

“Mbah, biasanya kalau orang benar-benar jujur, tidak perlu menjelaskan sampai begitu.”

Mbah Katmijan memukul pahanya sendiri. “Gusti Allah! Kok geting akuuuu!” (Tidak suka akuuuu!).

Dokter Hadi tertawa. “Sudah, sudah. Sekarang saya tanya, berapa banyak jengkol yang Mbah makan?”

Mbah Katmijan mulai menghitung dengan jari. “Selusin.” (Dua belas).

“Dua belas biji?”

“Leres.” (Betul).

“Sehari?”

“Hanggeh.” (Iya).

Dokter Hadi mengangkat alis. “Itu baru sehari?”

“Nggeh.” (Iya).

“Besoknya?”

“Sedoso.” (Sepuluh).

“Lusa?”

“Wolu.” (Delapan).

Dokter Hadi menggeleng-geleng. “Jadi, tiga hari Mbah makan tiga puluh biji?”

Mbah Katmijan diam sejenak. Wajahnya terlihat sedang berpikir. Lalu .... “Leres.” (Betul).

“Pantas, Mbah. Mbah. Tapi kok saya tetap belum yakin, nggeh.”

Mbah Katmijan melotot. “Dereng yakin nopo maleh?” (Belum yakin apa lagi?).

“Jangan-jangan jengkol itu memang istilah.”

“Istilah nopo maleh to niki. Gusti Allah, mumet ndas kulo, Pak Dokter!” (Istilah apa lagi toh ini. Ya, Tuhan, pusing kepalaku, Pak Dokter!).

“Ya istilah untuk kegiatan Mbah sebagai duda.”

Mbah Katmijan berdiri. “Pak Dokter! Kulo niki jengkolen!” (Pak Dokter! Saya ini sakit karena jengkol!).

“Duduk, Mbah. Duduk. Saya hanya memastikan sakit dan penyebab anunya Mbah sakit. Kalau saya kasih obat jengkolan, tapi Mbah terkena raja singa karena jajan bagaimana?”

“Raja singa?”

“Iya, Mbah.”

“Dosomuko?” (Rahwana?).

“Weslah, Mbah. Susah menjelaskan sama Njenengan. Duduk, Mbah! Duduk!”

Mbah Katmijan duduk lagi.

Dokter Hadi kemudian menjelaskan, “Mengkonsumsi jengkol berlebihan dapat berkaitan dengan gangguan pada saluran kemih. Saran saya, Mbah berhenti dulu makan jengkol untuk sementara ini, serta memperbanyak minum air putih.”

Mbah Katmijan mengangguk lega. “Dados sanes mergo jajan?” (Jadi, bukan karena jajan?).

Dokter Hadi berkernyit, bingung. “Sepertinya bukan, tetapi kok ... eh, lha Mbah sendiri menduda lama, jajan atau tidak? Kok tanya saya.”

“Lha sanjange Pak Dokter wau?” (Lha katanya Pak Dokter tadi?).

“Aduh, Mbah. Malah pusing kepala saya ini. Mbah ini sakit karena makan jengkol atau sakit karena jajan, ha? Kalau Mbah jujur, saya tidak mungkin salah kasih obatnya, Mbah.”

“Nggeh jengkol niku wau.” (Ya jengkol itu tadi).

“Lah mboh lah, Mbah! Njenengan ini mbulet kayak entut!”

Dokter Hadi lantas beranjak, melangkah menuju lemari yang berisi berbagai jenis obat-obatan.

 

****

“Ini, Mbah. Yang ini diminum pagi, siang, dan sore. Setelah makan, nggeh.”

“Nggeh, Pak Dokter.” (Ya, Pak Dokter).

“Sudah paham?”

“Paham, Pak Dokter.”

Mbah Katmijan lantas merogoh saku bajunya, menyerahkan uang kepada Dokter Hadi. “Kagem tumbas obate,” (Untuk beli obatnya) katanya.

“Tidak usah, Mbah.”

“Kok ngoten?” (Kok begitu?).

“Buat Njenengan, gratis.”

“Saestu mboten mbayar?” (Serius tidak bayar?).

“Gratis, Mbah. Gratis.”

“Nggeh empun. Matur nuwun nek ngoten.” (Ya sudah. Terima kasih kalau begitu). Lalu memasukkan uang e saku baju.

“Tapi, Mbah?”

“Nopo maleh?” (Apa lagi?) jawab Mbah Katmijan balik bertanya.

“Kenapa Mbah begitu ngotot menyebut jengkol?”

“Nggeh pancene jengkol kok!” (Ya memang jengkol kok!).

Dokter Hadi mengangguk. “Baik.”

Mbah Katmijan berdiri lalu melangkah menuju pintu. Namun, baru sampai pintu, ia menoleh. “Pak Dokter.”

“Iya? Apa lagi, Mbah?”

“Mangke nek kulo loro maleh?” (Nanti kalau saya sakit lagi?).

“Datang saja ke sini, Mbah.”

“Nek goro-goro pete?” (Kalau gara-gara makan petai?).

Dokter Hadi langsung menatap tajam. “Petainya berapa?”

Mbah Katmijan tersenyum malu. “Dereng kulo nedo.” (Belum saya makan).

Dokter Hadi menghela napas. “Jangan sampai saya harus membuat catatan baru ya, Mbah.”

“Catetan nopo?” (Catatan apa?).

Dokter Hadi mengambil buku rekam medis lalu menunjukkan kepada Mbah Katmijan.

Pasien: Mbah Katmijan. Diagnosis sementara, kebanyakan jengkol. Diagnosis lain, mencurigakan.

Mbah Katmijan terkekeh. “He he he. Pak Dokter kok pikirane jengkol mawon?” (He he he. Pak Dokter kok pikirannya jengkol terus?).

Dokter Hadi menjawab santai, “Karena dari tadi Mbah yang menyebutnya to?”

Mbah Katmijan langsung menunjuk dirinya sendiri. “Lha kulo seng loro kok!” (Lha saya yang sakit kok!).

Dokter Hadi mengangguk. “Makanya saya periksa.”

“Lha kok malah kulo dituduh jajan?” (Terus kenapa saya dicurigai jajan?).

Dokter Hadi tersenyum. “Karena Mbah duda lima belas tahun. Wajar to kalau saya curiga Mbah jajan hingga menyebabkan anunya sakit?”

Mbah Katmijan mendengus. “Nek ngoten mbenjing kulo beto jengkole mriki!” (Kalau begitu, besok saya bawa jengkolnya sekalian!).

Dokter Hadi mengerutkan kening. “Buat apa?”

“Kersane Pak Dokter ningali kiyambak nek jengkol kulo saetu jengkol!” (Biar dokter lihat sendiri bahwa jengkol saya benar-benar jengkol!).

Dokter Hadi tertawa. “Jangan dibawa ke sini, Mbah!”

“Nggeh sampun. Ning eling, Pak Dokter. Kulo mboten jajan!” (Ya, sudah. Tapi ingat, Pak Dokter. Saya tidak jajan!).

Dokter Hadi mengangguk. “Iya, iya.”

“Jengkol, Pak Dokter. Jengkol!”

“Iya, Mbah. Iya!”

“Jengkol!”

“Karepmulah, Mbah!”

Mbah Katmijan pun pergi.

Dokter Hadi menatap pintu sambil tersenyum. “Duda lima belas tahun? Makan jengkol tiga puluh biji? Kok saya yang jadi tidak percaya, ya?” END

 

PAKDE NOTO

Baca juga cerita seru lainnya di Wattpad dan Follow akun Pakde Noto @Kuswanoto3.

No comments:

Post a Comment

Start typing and press Enter to search