JENGKOLAN
Siang itu,
Mbah Katmijan datang ke tempat praktik Dokter Hadi dengan wajah kusut.
Tangannya terlihat terus memegangi perut.
Buru-buru
Mbah Katmijan melangkah menuju pintu yang terbuka di mana.
“Kulonuwun,
Pak Dokter.” (Permisi, Pak Dokter).
“Masuk,
Mbah. Silakan masuk!” ucap Dokter Hadi begitu melihat Mbah Katmijan berdiri di
ambang pintu.
Mbah
Katmijan berusia 69 tahun lantas duduk pelan di kursi pemeriksaan yang ada di
hadapan Dokter Hadi.
****
JENGKOLAN
“Pak Dokter,
kulo bade berobat,” (Pak Dokter, saya mau berobat) kata Mbah Katmijan sambil meringis
kesakitan.
Dokter Hadi
mengambil bolpoin. “Sakit apa, Mbah?”
Mbah Katmijan
celingukan. Setelah memastikan tidak ada pasien lain, ia kemudian mendekatkan
wajah. Setengah berbisik, “Anu kulo loro, Pak Dokter.” (Anu saya sakit, Pak
Dokter).
Dokter Hadi
berhenti menulis. “Anu?”
“Nggeh,” (Iya)
jawab Mbah Katmijan.
“Anu? Anu
yang mana, Mbah?”
Mbah lantas Katmijan
menunjuk ke bawah. “Niki.” (Ini).
“Oh ...
bagian itu?”
“Nggeh,
niku, Pak Dokter.” (Ya, itu, Pak Dokter).
“Sejak kapan,
Mbah?”
“Sampun
telung dinten,” (Sudah tiga hari) jawab Mbah Katmijan lagi.
“Perih?”
“Kadang,”
jawab Mbah Katmijan.
“Kalau
kencing?”
“Perih.”
Sambil meringis seolah-olah menggambarkan sakitnya.
“Sering
kencing?”
Kali ini di
jawab oleh Mbah Katmijan dengan mengangguk. “Sak crit, sak crit.” (Sedikit).
“Keluar
cairan?”
Mbah Katmijan
bingung. “Cairan nopo?” (Cairan apa?).
“Selain air
kencing.”
“Nggeh uyuh
niku wau to.” (Ya hanya kencing saja).
Dokter Hadi
mengangguk-angguk sambil mencatat. Kemudian ia bertanya, “Mbah masih punya
istri?”
“Sampun sedo
dangu.” (Sudah lama meninggal).
“Berarti
duda?”
Lagi-lagi
Mbah Katmijan mengangguk.
“Sudah
berapa lama menjadi duda, Mbah?”
“Gangsal
welas warso.” (Lima belas tahun).
Dokter Hadi
berhenti menulis lalu ia menatap Mbah Katmijan dengan tatapan penuh arti. “Selama
jadi duda, apa Mbah sering jajan?”
Mbah Katmijan
langsung mengangkat kepala. “Jajan?”
“Iya.”
“Jajan nopo?”
(Jajan opo?).
Dokter Hadi
tersenyum tipis. “Jajan peyek, marning, kelanting! Ya, jajan, Mbah. Jangan
pura-pura tidak tahu begitu toh, Mbah. Paham apa tidak yang saya maksud?”
“Saestu.
Kulo mboten nate jajan peyek lan marning. Nopo maleh kelanting. Rompal sedanten
wojo kulo. Seastu kulo mboten nate ....” (Sungguh. Saya tidak pernah jajan
peyek, dan marning. Apalagi kelanting. Rontok semua gigi saya. Sungguh. Saya
tidak pernah ....).
“Jajan
perempuan maksud saya, Mbah,” potong Dokter Hadi memperjelas.
Mbah Katmijan
langsung tersinggung. “Lho! Kulo dateng mriki bade berobat. Kok malah dituduh ngoten
niku?” (Lho! Saya datang ke sini mau berobat. Kok malah dituduh begitu?).
“Bukan
menuduh. Saya sedang mencari kemungkinan penyebab sakit yang Njenengan alami,
Mbah.”
“Masio dudo,
kulo mboten nate jajan!” (Walaupun duda, saya tidak pernah jajan!).
“Baik, Mbah.
Baik.”
“Serius kulo,
Pak Dokter!”
“Oke, oke,
Mbah. Baik.”
“Ampun
sanjang baik nek Pak Dokter kiyambak mboten percoyo!” (Jangan bilang baik kalau
Dokter sendiri tidak percaya!).
Kali ini Dokter
Hadi menahan senyum. “Lalu menurut Mbah ... anunya Njenengan sakit itu penyebabnya
apa?”
Mbah Katmijan
menjawab cepat, “Jengkol.”
Dokter Hadi mengerutkan
dahi sejenak. “Jengkol?”
“Nggeh.” (Iya).
Dokter Hadi
menatap Mbah Katmijan beberapa detik kemudian bertanya pelan, “Jengkol itu ...
hem ... sebutan lain untuk siapa? Maksud saya itu istilah ....”
Mbah Katmijan
mengernyit. “Nggeh jengkol.” (Ya untuk jengkol).
“Maksud saya
... istilah.”
“Jengkol nggeh
jengkol!” (Jengkol ya jengkol!).
“Jangan
malu, Mbah. Saya dokter.”
“Kulo mboten
isin kok!” (Saya tidak malu kok!).
“Kalau Mbah
bilang anunya sakit gara-gara jengkol, saya mengerti.”
“Nggeh sae
to niku.” (Ya bagus itu).
“Tapi saya
perlu tahu istilah jengkol yang Njenengan maksud.”
Mbah Katmijan
mulai jengkel. “Nggeh mboten enten istilah lintune, Pak Dokter!” (Ya tidak ada
istilah lainnya, Pak Dokter!).
Dokter Hadi
semakin yakin. “Begini saja. Tidak usah disebutkan namanya. Saya sudah sering
menangani pasien yang mengalami sakit kayak Njenengan.”
“Nangani
pasien pripun?” (Menangani pasien bagaimana?).
“Banyak yang
memakai nama makanan untuk menyamarkan sesuatu, Mbah.”
Mbah Katmijan
melongo. “Contone?” (Contohnya?).
“Ya ... ada
yang bilang makan apem, ternyata bukan apem.”
Mbah Katmijan
mengangguk. “Lha terus?” (Lalu?).
“Ada yang
bilang minum tempe, ternyata bukan tempe.”
Mbah Katmijan
masih tidak paham arah pembicaraan. “Lha nek nek kulo sanjang jengkol?” (Kalau
saya bilang kengkol?).
“Nah, itu
yang saya tanyakan, Mbah.”
“Jengkol,
Pak Dokter. Jengkol!”
“Benar-benar
jengkol?”
Mbah Katmijan
malah geram, “Gusti Allah! Jengkol, Pak Dokter. Jengkol!”
Dokter Hadi
tersenyum. “Baiklah.”
“Kok Pak Dokter
tanglet dos ngoten?” (Kok Pak Dokter tanya begitu?).
“Saya hanya
memastikan saja kalau Mbah tidak jajan dan menyamarkan sakitnya dengan
jengkolan.”
Mbah Katmijan
mendengus. “Jengkol, Pak Dokter. Jengkol seng uwoh ten uwit lan ambune niku
kecing!” (Jengkol, Pak Dokter. Jengkol yang berbuah di pohon dan baunya
pesing!)
Akan tetapi,
Dokter Hadi malah semakin curiga. “Lah kok penjelasannya terlalu lengkap, Mbah?”
“Lho! Pripun
toh niki?” (Bagaimana toh ini?).
“Mbah, biasanya
kalau orang benar-benar jujur, tidak perlu menjelaskan sampai begitu.”
Mbah Katmijan
memukul pahanya sendiri. “Gusti Allah! Kok geting akuuuu!” (Tidak suka
akuuuu!).
Dokter Hadi
tertawa. “Sudah, sudah. Sekarang saya tanya, berapa banyak jengkol yang Mbah
makan?”
Mbah Katmijan
mulai menghitung dengan jari. “Selusin.” (Dua belas).
“Dua belas
biji?”
“Leres.”
(Betul).
“Sehari?”
“Hanggeh.”
(Iya).
Dokter Hadi
mengangkat alis. “Itu baru sehari?”
“Nggeh.”
(Iya).
“Besoknya?”
“Sedoso.”
(Sepuluh).
“Lusa?”
“Wolu.”
(Delapan).
Dokter Hadi
menggeleng-geleng. “Jadi, tiga hari Mbah makan tiga puluh biji?”
Mbah Katmijan
diam sejenak. Wajahnya terlihat sedang berpikir. Lalu .... “Leres.” (Betul).
“Pantas,
Mbah. Mbah. Tapi kok saya tetap belum yakin, nggeh.”
Mbah Katmijan
melotot. “Dereng yakin nopo maleh?” (Belum yakin apa lagi?).
“Jangan-jangan
jengkol itu memang istilah.”
“Istilah
nopo maleh to niki. Gusti Allah, mumet ndas kulo, Pak Dokter!” (Istilah apa
lagi toh ini. Ya, Tuhan, pusing kepalaku, Pak Dokter!).
“Ya istilah
untuk kegiatan Mbah sebagai duda.”
Mbah Katmijan
berdiri. “Pak Dokter! Kulo niki jengkolen!” (Pak Dokter! Saya ini sakit karena
jengkol!).
“Duduk, Mbah.
Duduk. Saya hanya memastikan sakit dan penyebab anunya Mbah sakit. Kalau saya
kasih obat jengkolan, tapi Mbah terkena raja singa karena jajan bagaimana?”
“Raja singa?”
“Iya, Mbah.”
“Dosomuko?”
(Rahwana?).
“Weslah,
Mbah. Susah menjelaskan sama Njenengan. Duduk, Mbah! Duduk!”
Mbah Katmijan
duduk lagi.
Dokter Hadi
kemudian menjelaskan, “Mengkonsumsi jengkol berlebihan dapat berkaitan dengan
gangguan pada saluran kemih. Saran saya, Mbah berhenti dulu makan jengkol untuk
sementara ini, serta memperbanyak minum air putih.”
Mbah Katmijan
mengangguk lega. “Dados sanes mergo jajan?” (Jadi, bukan karena jajan?).
Dokter Hadi berkernyit,
bingung. “Sepertinya bukan, tetapi kok ... eh, lha Mbah sendiri menduda lama,
jajan atau tidak? Kok tanya saya.”
“Lha
sanjange Pak Dokter wau?” (Lha katanya Pak Dokter tadi?).
“Aduh, Mbah.
Malah pusing kepala saya ini. Mbah ini sakit karena makan jengkol atau sakit
karena jajan, ha? Kalau Mbah jujur, saya tidak mungkin salah kasih obatnya, Mbah.”
“Nggeh
jengkol niku wau.” (Ya jengkol itu tadi).
“Lah mboh
lah, Mbah! Njenengan ini mbulet kayak entut!”
Dokter Hadi
lantas beranjak, melangkah menuju lemari yang berisi berbagai jenis
obat-obatan.
****
“Ini, Mbah.
Yang ini diminum pagi, siang, dan sore. Setelah makan, nggeh.”
“Nggeh, Pak
Dokter.” (Ya, Pak Dokter).
“Sudah paham?”
“Paham, Pak
Dokter.”
Mbah
Katmijan lantas merogoh saku bajunya, menyerahkan uang kepada Dokter Hadi. “Kagem
tumbas obate,” (Untuk beli obatnya) katanya.
“Tidak usah,
Mbah.”
“Kok ngoten?”
(Kok begitu?).
“Buat
Njenengan, gratis.”
“Saestu
mboten mbayar?” (Serius tidak bayar?).
“Gratis,
Mbah. Gratis.”
“Nggeh empun.
Matur nuwun nek ngoten.” (Ya sudah. Terima kasih kalau begitu). Lalu memasukkan
uang e saku baju.
“Tapi, Mbah?”
“Nopo maleh?”
(Apa lagi?) jawab Mbah Katmijan balik bertanya.
“Kenapa Mbah
begitu ngotot menyebut jengkol?”
“Nggeh
pancene jengkol kok!” (Ya memang jengkol kok!).
Dokter Hadi
mengangguk. “Baik.”
Mbah Katmijan
berdiri lalu melangkah menuju pintu. Namun, baru sampai pintu, ia menoleh. “Pak
Dokter.”
“Iya? Apa
lagi, Mbah?”
“Mangke nek
kulo loro maleh?” (Nanti kalau saya sakit lagi?).
“Datang saja
ke sini, Mbah.”
“Nek goro-goro
pete?” (Kalau gara-gara makan petai?).
Dokter Hadi
langsung menatap tajam. “Petainya berapa?”
Mbah Katmijan
tersenyum malu. “Dereng kulo nedo.” (Belum saya makan).
Dokter Hadi
menghela napas. “Jangan sampai saya harus membuat catatan baru ya, Mbah.”
“Catetan
nopo?” (Catatan apa?).
Dokter Hadi
mengambil buku rekam medis lalu menunjukkan kepada Mbah Katmijan.
Pasien: Mbah
Katmijan. Diagnosis sementara, kebanyakan jengkol. Diagnosis lain, mencurigakan.
Mbah Katmijan
terkekeh. “He he he. Pak Dokter kok pikirane jengkol mawon?” (He he he. Pak
Dokter kok pikirannya jengkol terus?).
Dokter Hadi
menjawab santai, “Karena dari tadi Mbah yang menyebutnya to?”
Mbah Katmijan
langsung menunjuk dirinya sendiri. “Lha kulo seng loro kok!” (Lha saya yang
sakit kok!).
Dokter Hadi
mengangguk. “Makanya saya periksa.”
“Lha kok malah
kulo dituduh jajan?” (Terus kenapa saya dicurigai jajan?).
Dokter Hadi
tersenyum. “Karena Mbah duda lima belas tahun. Wajar to kalau saya curiga Mbah jajan
hingga menyebabkan anunya sakit?”
Mbah Katmijan
mendengus. “Nek ngoten mbenjing kulo beto jengkole mriki!” (Kalau begitu, besok
saya bawa jengkolnya sekalian!).
Dokter Hadi
mengerutkan kening. “Buat apa?”
“Kersane Pak
Dokter ningali kiyambak nek jengkol kulo saetu jengkol!” (Biar dokter lihat
sendiri bahwa jengkol saya benar-benar jengkol!).
Dokter Hadi
tertawa. “Jangan dibawa ke sini, Mbah!”
“Nggeh
sampun. Ning eling, Pak Dokter. Kulo mboten jajan!” (Ya, sudah. Tapi ingat, Pak
Dokter. Saya tidak jajan!).
Dokter Hadi
mengangguk. “Iya, iya.”
“Jengkol,
Pak Dokter. Jengkol!”
“Iya, Mbah. Iya!”
“Jengkol!”
“Karepmulah,
Mbah!”
Mbah Katmijan
pun pergi.
Dokter Hadi
menatap pintu sambil tersenyum. “Duda lima belas tahun? Makan jengkol tiga
puluh biji? Kok saya yang jadi tidak percaya, ya?” END
Dukung Pakde Noto di Trakteer

No comments:
Post a Comment