Dukung SayaDukung Pakde Noto di Trakteer

[Latest News][6]

abu nawas
abunawas
berbayar
Budaya
cerbung
cerkak
cerpen
digenjot
gay
hombreng
horor
hot
humor
informasi
LGBT
mesum
misteri
Novel
panas
puasa
sejarah
Terlarang
thriller

Labels

REMINDER

“Tuku barang neh neng Sopi, Pak?” (Pesan barang lagi di Sopi, Pak?).

“Hok oh” (Iya).

“Rong minggu wingi tuku akuarium. Banjur tuku kipas laptop. Lha kok saiki malah tuku barang neh, ha!” (Dua minggu lalu akuarium. Seminggunya lagi beli kipas laptop. Lha kok sekarang malah beli barang lagi, ha!).

“Halah! Murah kok, Mak!”

“Aluwung disimpen duite ojo dibreh-breh!” (Mending disimpan uangnya daripada bei barang yang tidak berguna!).

“Sido nginep neng omahe anakmu, Mak?” (Jadi menginap di rumah anakmu, Mak?).

“Mantumu loh dapat tugas di Sumatra selama satu bulan, Pak. Saya kasihan sama Sekar. Paling nanti minggu saya pulang.”

“Yo, wes. Sak karepmu.” (Ya, sudah. Terserah).

“Lagipula, Njenengan diajak nginap di sana tidak mau.”

“Males, Mak. Penak neng omah” (Malaslah, Mak. Enak di rumah).

“Ya, sudah, Pak. Saya pamit.”



****

Pakde To bergegas meraih ponselnya begitu terdengar nada notifikasi dari pengingat kalender.


Tittt! Tiit ...!

Di layar tertera, “𝗣𝗘𝗠𝗔𝗞𝗔𝗠𝗔𝗡. 𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂,  𝟭𝟯 𝗝𝘂𝗻𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲, 𝗽𝘂𝗸𝘂𝗹 𝟭𝟬.𝟬𝟬.”

“Pemakaman? Sopo seng sedo?” (Pemakaman? Siapa yang meninggal?). Pakde To mendongak dengan menggigit bibir bawah, mencoba mengingat-ingat apakah ada yang meninggal hari ini.

Pakde To yakin tidak ada keluarga atau kenalan yang meninggal. Lebih aneh lagi, ia sama sekali tidak ingat kalau pernah membuat pengingat seperti itu.

“Sak elingku gak tahu masang pengeling neng HP, opo meneh judule pemakaman,” (Seingatku tidak pernah memasang pengingat pada ponsel, apalagi dengan judul pemakaman,) gulat batinnya.

Pakde To membuka aplikasi kalender.

Benar saja. Di kalender terdapat sebuah agenda.

Jelas Pakde To bingung. Dia bahkan tidak pernah memakai fitur alarm di kalender, terlebih untuk menghadiri pemakaman seseorang. Biasanya kalau ada warga meninggal, pengeras masjid yang akan menjadi alarm dengan suara cempreng ketua rukun kematian yang menyampaikan kabar duka.

Pakde To lantas meletakkan ponsel ke atas meja. “Ah, weslah!” Di pikirannya mungkin ponselnya sedang eror.

Dia berjalan menuju teras, menunggu Kang Paket yang datang hari ini untuk mengantarkan pesanannya sesuai estimasi yang tertera di aplikasi Sopi.

****
𝗗𝗶 𝘁𝗲𝗿𝗮𝘀

Baru saja duduk, tiba-tiba ponsel kembali berbunyi, nada notifikasi.

Tittt! Tiit ...!

Pakde To kembali masuk. Bergegas ia meraih ponselnya.

Layar menunjukkan, “𝗣𝗘𝗠𝗔𝗞𝗔𝗠𝗔𝗡. 𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂,  𝟮𝟭 𝗝𝘂𝗻𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲, 𝗽𝘂𝗸𝘂𝗹 𝟭𝟬.𝟬𝟬.”

Diburu rasa penasaran, Pakde To lantas mengklik pengingat yang ada di layar, tertulis,“𝗗𝗶𝗯𝘂𝗮𝘁 𝗼𝗹𝗲𝗵: 𝗣𝗮𝗸 𝗦𝘂𝗺𝗮𝗱𝗶.”

“Ha! Pak Sumadi? Kat kapan Pak Sumadi nyetel pengeling neng HP-ku?” (Ha! Pak Sumadi? Sejak kapan Pak Sumadi pasang pengingat di ponselku?).

“Pesti HP iki eror.”

Tanpa pikir panjang lagi, segera dia menghapus pengingat yang ada di kalender.

Kini tertulis di layar ponsel, “𝗬𝗮𝗸𝗶𝗻 𝗵𝗮𝗽𝘂𝘀 𝗽𝗲𝗻𝗴𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁 𝗶𝗻𝗶?”

Pakde To lantas menekan pilihan “𝗬𝗮” Kemudian meletakkan kembali ponsel ke atas meja.

Tiba-tiba terdengar suara sirene ambulan.

Wiuw ... wiuw ... wiuw.

Buru-buru Pakde To bergegas keluar.

Di atas meja, layar ponsel masih menyala. Tertera di layar, “𝟭/𝟯”.

****

Suasana duka menyelimuti rumah Pak Sumadi, tetangga Pakde To, hanya berjarak tiga rumah.

“Lha sedo kenopo, he?” (Lha memangnya meninggal karena apa, he?).

“Ditubruk truk. Iku jare bojone,” (Ditabrak truk. Begitu yang aku dengar dari istrinya,) jawab yang ditanya dengan suara setengah berbisik.

Pakde To jelas bisa mendengar suara itu. Dia masih duduk bersila di samping jenazah Pak Sumadi, pedagang  sayur keliling yang biasa ambil dari tengkulak di pasar dengan motor.

Bukan karena penyebab kenapa Pak Sumadi meninggal, tetapi isi kepala Pakde To dipenuhi tanya tentang pengingat yang ada di ponselnya.

“Lha jam piro kedadeane?” (Memangnya jam berapa kecelakaannya?).

“Nek ra salah, jam 10.00 jare seng ngetrno mayite.” (Kalau tidak salah, pihak pengantar jenazah bilang pukul 10.00).

Pakde To melirik dua perempuan yang terus membicarakan kematian Pak Sumadi. Dia melihat arloji kerepyak yang ada di lengannya, sekarang menunjukkan pukul 10.20.

****

𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂, 𝟮𝟴 𝗝𝘂𝗻𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲.

Mbokde Warsinah satu jam lalu pamit ke pasar, sementara Pakde To masih terlihat serius menatap layar laptopnya. Jari-jarinya terlihat terampil menekan huruf demi huruf di keyboard, rutinitasnya saat minggu, membuat cerpen untuk diposting.

Fokusnya pecah saat terdengar nada notifikasi dari ponselnya.

Tittt! Tiit ...!

Diraihnya ponsel yang tergeletak di samping laptop.

Betapa terkejutnya ia saat mendapati sebuah pengingat dari agenda kalender. “𝗣𝗘𝗠𝗔𝗞𝗔𝗠𝗔𝗡. 𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂,  𝟮𝟭 𝗝𝘂𝗻𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲, 𝗽𝘂𝗸𝘂𝗹 𝟭𝟬.𝟬𝟬.”

Lebih aneh lagi, tertera di layar, “𝗗𝗶𝗯𝘂𝗮𝘁 𝗼𝗹𝗲𝗵: 𝗦𝘂𝗴𝗶𝘁𝗼.”

Tak mau menghiraukan pengingat yang menurutnya muncul akibat ponsel yang eror, Pakde To lantas menghapus jadwal tersebut.

“𝗬𝗮𝗸𝗶𝗻 𝗵𝗮𝗽𝘂𝘀 𝗽𝗲𝗻𝗴𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁 𝗶𝗻𝗶?”

Tanpa ragu Pakde To lantas menekan pilihan “𝗬𝗮”.
Layar kemudian menampilkan, “𝟮/𝟯”.

“Kok aneh.” Pakde To lantas membuka aplikasi WhatsApp.

“Git.”

Langsung dibalas, tetapi bukan chat, melainkan ....

𝗦𝘂𝗴𝗶𝘁𝗼 𝗺𝗲𝗺𝗮𝗻𝗴𝗴𝗶𝗹 ....

Pakde To lantas mengangkat panggilan dari Sugito.

“Kang.” Suara perempuan sambil terisak-isak, istri Sugito.

“Onok opo, ha! Endi Gito?” (Ada apa, ha! Mana Gito?).

“Mas Gito ... Gito ... meninggal, Kang. Hu hu hu.”

“Ha! Kapan?”

“Tadi, Kang. Pukul 10.00.”

“Inalilahi waina’ ilaihi rojiun. Sedo kenopo?”

“Jatuh dari proyek, Kang.”

“Kok iso?” (Kok bisa?).

“Kata mandor proyek, seteger yang dipijak patah. Tubuh Mas Gito jatuh lalu menancap di besi.”

****

Pulang dari melayat, Pakde To tidak lagi menganggap pengingat yang menyala dengan sendirinya adalah sebuah kebetulan.

Sejak kematian Sugito ia mulai ketakutan setiap kali mendengar suara notifikasi.

Mulai hari ini Pakde To mematikan ponselnya, mencabut kartu SIM.

****

𝗦𝗲𝗺𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗸𝗲𝗺𝘂𝗱𝗶𝗮𝗻. 𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂, 𝟱 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲.

Saat ponsel dinyalakan, notifikasi itu sudah menunggu.

Tittt! Tiit ...!

Dengan tangan gemetar, Pakde To membuka aplikasi kalender.

Judulnya masih sama, yaitu‘𝗣𝗘𝗠𝗔𝗞𝗔𝗠𝗔𝗡’.

Perlahan ia menggeser layar ke bawah. Lalu ....

Jantungnya seperti berhenti berdetak. Dibuat oleh: “𝗣𝗮𝗸𝗱𝗲 𝗡𝗼𝘁𝗼”.

Wajah Pakde To seketika pucat. "Iki ... iki ... gak mungkin!” (Ini ... ini mustahil!).
Pakde To tidak pernah membuat pengingat itu. Tidak pernah!

Tangannya buru-buru menekan tombol hapus.

“𝗬𝗮𝗸𝗶𝗻 𝗵𝗮𝗽𝘂𝘀 𝗽𝗲𝗻𝗴𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁 𝗶𝗻𝗶?”

Lalu menekan tombol, “𝗬𝗮.”

Muncul sebuah kotak dialog. “𝗧𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗯𝗶𝘀𝗮 𝗱𝗶𝗵𝗮𝗽𝘂𝘀 𝗼𝗹𝗲𝗵 𝗽𝗲𝘀𝗲𝗿𝘁𝗮.”

“Ha! Peserta?”

Pakde To menelan ludah.

"Aku? Ak ... aku peserta opo?"
Belum sempat berpikir jauh tiba-tiba layar ponselnya meredup sendiri. Lalu muncul tulisan baru, “𝗦𝗮𝗺𝗽𝗮𝗶 𝗯𝗲𝗿𝘁𝗲𝗺𝘂 𝗱𝗶 𝗽𝗲𝗺𝗮𝗸𝗮𝗺𝗮𝗻”.

Tepat saat itu sebuah benda jatuh dari atas dan ....

Ponsel jatuh berbarengan dengan tubuh Pakde To.

Bruk!

****

Polisi datang setelah mendapat laporan dari Mbokde Warsinah.

Orang-orang yang berkumpul segera membuka jalan saat beberapa petugas menggotong tubuh Pakde To yang berlumuran darah. Di kepalanya masih menancap hiasan kepala rusa yang dipesan lewat aplikasi Sopi tempo hari, sebagian tanduknya menancap tepat di kepala Pakde To.

****

𝗦𝗮𝗺𝗽𝗮𝗶 𝘀𝘂𝗮𝘁𝘂 𝗵𝗮𝗿𝗶.

Seseorang membaca cerita ini.
Mungkin orang itu adalah kamu. Kalau memang begitu coba lakukan satu hal sederhana.

Buka aplikasi kalender di ponselmu.

Periksa semua pengingat yang ada.

Kalau semuanya memang kamu buat, maka tutup cerita ini. Lupakan! Anggap semuanya hanya fiksi, tapi kalau ternyata ada satu pengingat yang kamu yakin tidak pernah membuatnya jangan panik. Cek dulu bagian bawahnya.
Nama siapa yang tertulis sebagai pembuat? Hayo loh! 𝗘𝗡𝗗

#alarm #misteri #cerpen #pengingat

PAKDE NOTO

Baca juga cerita seru lainnya di Wattpad dan Follow akun Pakde Noto @Kuswanoto3.

No comments:

Post a Comment

Start typing and press Enter to search