Dukung SayaDukung Pakde Noto di Trakteer

[Latest News][6]

abu nawas
abunawas
berbayar
Budaya
cerbung
cerkak
cerpen
digenjot
gay
hombreng
horor
hot
humor
informasi
LGBT
mesum
misteri
Novel
panas
puasa
sejarah
Terlarang
thriller

Labels

37 GAMBAR

Sekolah itu berdiri di ujung kampung, di antara sawah yang separuhnya sudah jadi tanah kaveling. Sementara itu, di belakangnya tampak belukar alang-alang tumbuh liar.

Cat dindingnya kuning pucat, mengelupas di beberapa bagian, seperti dinding yang terbakar.

Ini adalah hari pertama bagi Ratna, mengajar  di Kelas I sebagai guru honorer. Ia diterima di sekolah itu setelah mendapat info dari media sosial, walaupun terdengar aneh ... ada sekolah yang mencari tenaga honorer lewat akun pribadi di Facebook, tetapi nyatanya ia diterima setelah chat di Messenger dengan pemilik akun tersebut.

“Besok langsung datang saja dan mulai mengajar. Tinggalkan berkas lamaran lengkap seperti yang saya minta, taruh di ruangan saya.”

“Apa sebaiknya saya menunggu Bapak saja?” balas Ratna.

“Saya sedang di luar kota. Atau kamu titipkan kepada guru yang lain juga tidak apa-apa.”

“Baik, Pak.”

“Alamat sekolahnya sudah saya kirim ya tadi.”

“Ya, Pak. Besok saya akan langsung ke sana.” Setelahnya tidak ada obrolan, Ratna menutup chat dengan senyum gembira.

 

****


Sekolah itu terasa sepi saat Ratna datang, tidak ada guru yang lain, padahal waktu sudah menunjukkan pukul 06.30. Tidak ada pula murid-murid seperti umumnya sekolah-sekolah.

“Apa karena hujan?” gulat hatinya saat selayang pandang ia tak melihat satu pun guru atau murid-murid yang lain.

Memang pagi itu hujan turun sejak subuh. Air menggenang di halaman, Ratna terus melangkah melewati ruangan demi ruangan kelas yang terlihat kosong. Ia mencari Kelas I.

Di bagian ujung, ada tulisan yang menunjukkan Kelas I ... tepat di atas pintu yang tertutup.

Ratna membukanya dan mendapat anak-anak duduk di bangku. Ia melihat sebagian memeluk tas, sebagian menatap jendela tanpa ekspresi.

“Selamat pagi, Anak-anak,” sapa Ratna. Namun, tak terdengar satu pun murid menjawab.

Setelah memperkenalkan diri Ratna mencoba bernyanyi, tetapi tidak ada yang mengikuti, semua masih diam.

Ratna mencoba bercerita untuk lebih dekat dengan anak didiknya, tetapi tidak ada yang tertawa.

Ratna melangkah ke lemari yang ada di samping mejanya. Ia menemukan krayon dan kertas gambar

“Kita menggambar, ya,” katanya lembut sambil membagi krayon dan kertas gambar.

“Silakan gambar siapa saja yang sering kalian lihat,” imbuhnya.

Terbersit ada aneh di benak Ratna kenapa muridnya semua diam, tetapi ia mencoba menenangkan diri. “Mungkin aku terlihat aneh atau masih asing bagi mereka?” Lalu kembali ke meja untuk mengecek nama-nama muridnya di buku absen.

Tertera di buku absen nama-nama murid ... semua berjumlah 39 siswa ... Ratna terus membaca urutan nama-nama itu.

“Silakan gambar apa saja, ya,” ucapnya. Ia melihat murid-murid sudah sibuk mencoret-coret kertas gambar dengan krayon.

Suasana terasa hening, tidak ada yang bertanya, tidak ada yang minta contoh ... sungguh aneh untuk siswa Kelas I yang harusnya banyak bertanya dan menghasilkan suara gaduh.

 

****

 

Krayon mulai menggesek kertas.

Suaranya kering dan berirama, terdengar serempak, suaranya seperti hujan kecil di atap sekolah.

Ratna beranjak dan mencoba berkeliling.

Di meja pertama, Ardi menggambar rumah dengan pintu hitam. Di depan pintu ada bayangan tinggi tanpa wajah.

“Ini apa?” tanya Ratna menunjuk sosok yang digambar Ardi

“Teman,” jawab Ardi singkat.

Di meja kedua, Sinta menggambar pohon besar dengan mata di batangnya. Melihat itu Ratna tersenyum kaku.

Ratna ia berhenti di meja Dimas. Gambar itu langsung membuat dadanya mengencang.

Dimas menggambar seorang lelaki berdiri tegak, alisnya tebal dan melengkung, matanya turun, setengah tertutup, bibirnya melengkung sedikit, senyum tipis seolah merasa bersalah, menghadap lurus ke depan ... tidak tersenyum lebar, tidak juga marah, wajahnya datar, tetapi terlalu fokus, seolah menatap Ratna yang melihat gambar itu.

“Ini siapa?” tanya Ratna.

Dimas mengangkat kepala perlahan.

“Yang berdiri di belakang Ibu,” jawab Dimas.

Ratna tertawa pendek. “Jangan bercanda.”

Dimas mengerutkan dahi. “Aku gak bercanda.”

Ratna menggelengkan kepala lalu melangkah ke meja berikutnya.

Jantungnya mulai berdetak lebih cepat. Di meja Nisa, bocah perempuan itu menggambar sosok yang sama ... persis yang digambar oleh Dimas.

Ratna lalu melangkah lagi menuju meja Raka ... Menggambar sosok yang sama.

Di meja Putri ... sama.

Di meja Radita ... sama.

Kini Ratna dibuat takut saat mendapati 37 anak menggambar sosok yang sama ... sosok yang dibilang ada di belakangnya!

 

****

Tiba-tiba terdengar suara lonceng berbunyi.

Ratna menduga suara itu adalah tanda bagi Kelas I untuk pulang. Anak-anak berdiri serempak tanpa diminta, mereka keluar tidak berlarian, tidak ribut ... keluar kelas dengan rapi, satu per satu, sambil menoleh ke papan tulis.

Ratna lalu mengumpulkan semua gambar. Tangannya gemetar saat menghitung. “Tiga puluh tujuh?”

 

****

Malam itu hujan turun lagi.

Ratna menata gambar-gambar hasil muridnya di meja makan rumah kontrakannya. Ia menyusunnya berjajar, mencoba mencari perbedaan tiap gambar, tetapi Tidak ada. Semua sama persis ... gambar tentang sosok menyeramkan!

Yang membuat tengkuk Ratna merinding, bukan hanya wajah itu, melainkan cara sosok itu digambar, selalu proporsional, selalu menghadap depan, seolah anak-anak itu menggambar dari satu sudut pandang yang sama, dan di pojok kiri bawah setiap kertas ada coretan kecil, ‘Sudah bertemu’ bukan tulisan anak Kelas I SD ... goresannya terkesan ragu, seperti kuku-kuku yang digesekkan ke kertas.

“Sudah bertemu? Maksudnya apa?” Dahi Ratna berkerut menduga pesan yang tertulis.

Ratna tiba-tiba tersontak takut saat terdengar suara gaduh di samping rumah ... bukan suara teriakan, tetapi suara langkah ... seperti suara langkah anak-anak yang berlari berebut keluar.

Dengan tergesa Ratna mengintip dari celah jendela.

Samping rumah terlihat gelap, seketika sunyi, hanya suara rintik hujan yang jatuh ke tanah.

“Ah.” Ratna menghela napas panjang lalu menutup tirai jendela. Namun, setelah ia berbalik ... ia melihat tumpukan kertas gambar di meja bergerak ... seperti tertiup angin.

Lalu terdengar suara tepat di belakang telinganya.

“Ibu sudah bertemu kami.”

Kontan Ratna berbalik! Namun, tidak ada siapa-siapa.

Mendadak jendela terbuka dengan sendirinya.

Brak!

Membawa angin dingin yang menerobos masuk ... menerpa kertas gambar hingga berjatuhan di lantai.

Langit bak runtuh dan mengimpit saat Ratna dengan jelas melihat gambar di kertas berubah menjadi gambar dirinya sedang berdiri di depan kelas, mulutnya terbuka, matanya kosong, sementara di belakangnya lelaki beralis tebal itu berdiri sangat dekat ... terlalu dekat di belakangnya!

“Akh!”

 

****

Satu minggu kemudian.

Anak-anak tetap duduk tenang di dalam kelas ketika Desi bertanya, “Ada yang tahu Bu Ratna ke mana?”

Anak-anak saling menatap lalu serempak menjawab, “Bu Ratna ada di belakang Ibu.”

Desi yang diterima mengajar setelah mendapat lowongan mengajar di Facebook itu kontan maju ... sedikit lebih ke depan.

“Dulu yang mengajar siapa?” tanya Desi mengulang pertanyaan.

Mereka tidak menjawab kali ini, tetapi menunjuk ke depan kelas, “Yang berdiri di sana.”

Desi menganggap itu wajar ... anak Kelas I SD sering tidak paham waktu dan pergantian orang. Desi tidak memikirkannya lagi dan tetap menjalankan tugasnya sebagai guru pengganti.

“Anak-anak, sekarang ibu akan membagikan kertas dan krayon. Silakan gambar apa saja, ya.”

Desi lantas membagikan kertas dan krayon.

 

****

 

Anak-anak langsung menggambar.

Desi berkeliling, mengamati anak didiknya yang sedang sibuk menggambar, tetapi ....

Di meja Rivano. “Ini siapa?”

“Bu Ratna,” jawab Rivano dengan tetap fokus pada kertas gambar.

Dada Desi bergetar. “Bu Ratna?” batinnya.

Ketika sampai di meja Silvia. “Apakah itu ibumu?” tanya Desi ketika melihat Silvia juga menggambar sosok yang sama.

Silvia menggeleng, “Bu Ratna.”

Desi merasa ada yang aneh.

Di meja Aris juga menggambar sosok yang sama.

Di meja Alif, Tyo, Risma, Prama ... semua gambar sama!

Desi terus berkeliling hingga sampai di meja Arum. Bocah berwajah pucat itu juga menggambar sosok yang sama ... sosok Bu Ratna dengan wajah terlalu detail, matanya terbuka lebar, mulutnya sedikit terbuka, seperti ingin bicara.

“Kenapa menggambar Bu Ratna?” tanya Desi seketika.

Arum menjawab pelan, “Karena sekarang Bu Ratna yang sering kami lihat.”

Desi mengamati gambar Arum. Di sudut kiri bawah gambar, ada tulisan tangan orang dewasa ‘Terima kasih sudah melihat’ ... tulisan itu juga ada di bawah gambar anak-anak yang lain.

 

****

Jam pulang sekolah.

Desi menghentikan laju motornya ketika sudah sampai di halaman kantor kecamatan. Bergegas ia menuju sebuah ruangan.

Setelah basa-basi sebentar, Desi mengutarakan maksud kedatangannya sebab isi kepalanya sudah penuh dengan keanehan anak didiknya, tentang gambar Bu Ratna yang sampai kini belum ada kabarnya.

“Tidak ada sekolah Harapan Bunda. Sekolah itu sudah dihapus dari catatan kami.”

“Ha!” Mendengarnya tentu saja Desi terkejut.

“Tidak ada? Mak ... mak ... maksudnya?”

“Benar sekali, Bu. Sekolah itu sudah 12 tahun lalu kami ratakan sebab yang berdiri saat itu hanya sisa kebakaran.”

Desi tak bisa bersuara, lehernya bagai dicekik.

“Lahan itu sekarang hanya belukar alang-alang. Tidak ada berkas apa pun yang selamat dari kebakaran yang menewaskan 37 murid angkatan pertama.”

“Apa!” Desi langsung menutup mulutnya dengan tangan akibat syok!

“Yang kami temukan hanya 37 gambar. Sebentar.” Lelaki itu lantas menuju lemari kabinet.

“Ini yang kami temukan.” Meletakkan 37 map yang berisi kertas gambar.

“Kertas-kertas gambar ini tidak kami temukan di sekolah yang terbakar kala itu, tetapi kami temukan di rumah Bu Ratna.”

Desi mencoba mengambil satu map dan membuka isinya. Kontan ia menutup rapat mulutnya ... sungguh ia tak percaya terlebih kertas gambar itu menunjukkan hasil yang sama ... sama seperti yang ia lihat di kelas tadi ... sosok Bu Ratna!

“Di setiap map ada satu gambar, satu nama anak, satu tanggal, satu catatan, dan tidak ada laporan polisi mengenai kasus kebakaran sekolah itu.

“Pak, saya baru saja pulang mengajar di sekolah itu,” ucap Desi seraya meletakkan map.

“Ibu jangan bercanda. Mana mungkin ibu mengajar di sana. Sekolah itu sudah menjadi belukar selama 12 tahun lalu, Bu.”

“Apa yang terjadi sebenarnya?” Dada Desi masih berdebar hebat, sungguh ini tak masuk di otaknya.

“Siang itu, sekolah baru saja memulai aktivitas belajar ... hanya satu kelas, yaitu kelas satu sebab angkatan pertama, sekolah itu tidak punya izin resmi, tetapi selang sehari kemudian sekolah itu terbakar ....”

“Penyebabnya?” kejar Desi.

Lelaki itu menggeleng. “Tidak ada yang tahu pasti sampai detik ini.”

“Tidak ada foto korban?”

“Tidak ada. Hanya map-map yang kami temukan di rumah Bu Ratna ... ada di depan Ibu.”

“Kalau Bu Ratna?”

“Kasus kematian 37 siswa sudah ditutup karena polisi tak menemukan bukti baru ... dianggap murni sebuah insiden kebakaran. Bu Ratna sendiri seperti tak pernah ada ... dia menghilang sejak saat itu.”

“Kenapa anak-anak menggambar sosok Bu Ratna?”

“Maaf, Bu. Saya tidak bisa menjawab untuk pertanyaan ini. Sungguh saya tidak tahu.”

 

****

Dirundung rasa penasaran, Desi kembali ke sekolah itu.

Kakinya bak dipaku ke bumi, matanya bak dibuka paksa melihat kenyataan yang ada. Seperti yang diucapkan lelaki di kecamatan, sekolah itu tak pernah ada, yang ada di hadapannya hanyalah belukar alang-alang!

Ingin rasanya Desi menjerit, ingin rasanya ia menangis sebab semua terasa nyata bagi dirinya ... tentang isi chat dari pemilik akun yang menyebut dirinya kepala sekolah, alamat sekolah, hingga tadi ia benar-benar mengajar, tetapi kini ....

“Cari siapa?” tanya seorang lelaki, alisnya tebal dan melengkung, matanya turun, setengah tertutup, bibirnya melengkung sedikit, senyum tipis seolah merasa bersalah, menatap lurus ke Desi ... tidak tersenyum lebar, tidak juga marah, wajahnya datar, tetapi terlalu fokus.

Belum juga Desi menjawab, lelaki itu kembali berkata, “Sekolah itu sudah tidak ada ... dibakar!”

“Apa! Dibakar?” Kontan Desi mengernyitkan dahi.

“Iya. Dibakar.”

“Bertahun-tahun lalu, sekolah itu tidak pernah punya izin resmi gedung kelas tidak layak, kepala sekolah tahu itu, tetapi sekolah tetap dijalankan demi dana ... demi jabatan ... demi citra diri.”

“Seminggu setelah pendaftaran ditutup, hari itu dimulailah kegiatan belajar, belum ada guru, hanya satu ... kepala sekolah.”

“Hari itu hari yang naas ... terjadi insiden korsleting listrik.”

“37 anak saat itu sedang menggambar ... terkunci di ruang kelas dan api mulai membesar.”

“Saat itu, belum semua mati, anak-anak masih bisa diselamatkan, tetapi kalau diselamatkan ... izin palsu terbongkar, kepala sekolah akan dipenjara lalu seluruh hidupnya runtuh.”

Desi kian tercekat mendengarnya.

“Kepala sekolah membiarkan api membesar lalu menghilangkan bukti ... menghapus sekolah dari peta administrasi.”

“Lalu 37 anak?”

“Tidak ada evakuasi, tidak ada jenazah dipulangkan, dan kasus ditutup sebagai kecelakaan bangunan tak terdaftar,” jawab lelaki itu.

Mereka saling berpandangan sejenak.

“Sekolah itu tidak pernah tercatat, pulanglah!” kata lelaki itu mengakhiri ceritanya lalu pergi begitu saja.

“Pak, tunggu!” panggil Desi. Namun, lelaki itu sudah tak terlihat.

Tiba-tiba terdengar bunyi notifikasi dari ponselnya.

Ting!

Desi meraih ponsel yang ia bawa di dalam tas.

Ragu ia setelah melihat pengirim ‘unknow’ mengirimkan sebuah foto.

Akan tetapi, perlahan Desi membuka pesan dan melihat kiriman foto …. foto sebuah kertas gambar yang menampilkan sosok dirinya, digambar dengan krayon … mata melotot, mulut terbuka …. Di depan sebuah kelas! END


 

 

PAKDE NOTO

Baca juga cerita seru lainnya di Wattpad dan Follow akun Pakde Noto @Kuswanoto3.

No comments:

Post a Comment

Start typing and press Enter to search